Pengumpan RSS

Demikian

Posted on

Huft. Dan semudah itulah duniaku berbalik. Malas lagi. Letih lagi. Tidak semangat lagi.

Padahal baru kemarin aku merasa bahagia dan cukup dalam hidupku. Sekarang sepertinya pelan-pelan kekelaman merayap dan memberikan rasa yang tak pernah kusambut dengan baik.

Mungkin inilah titik jenuh yang kuharapkan. Mungkin akhirnya rasa bosan itu memuntahkan kemuakkannya akan ilusi dirimu. Aku tidak pernah memilikimu. Pun rasa yang terlalu kupuja ini.aku hanya bermimpi. Aku hanya menanamkan inginku pada sosokmu. Aku tak mencintaimu. Semakin sering aku mengucap kata cinta, semakin rasa itu terasa hambar dan palsu. Ah. Ini yang kunantikan. Ternyata benar. Pada akhirnya semua ini adalah kesiaan dan ketiadaan. Aku tidak membutuhkanmu

Lihatlah kini aku mencemooh segala yang dulu begitu kupuja. Aku tersenyum nyinyir menatap kehampaan. Kau hening. Aku diam. Dan kita saling berpaling. Sekali lagi aku menatap kosong aksara. Kali ini aku tak hanya bebal. Kali ini aku merana. Bukan. Bukan kamu sebabnya. Sebabnya adalah kebodohan ini. Sebabnya adalah kenyataan yang tak lagi semanis kali pertama.

Aku hanya ingin sendiri. Berhenti memikirkanmu yang hanyalah imajiku. Berhenti merasakanmu yang hanyalah milikku.

Sudah merasa. Hanya belum terbiasa. Aku bukannya sakit menahan derita. Justru tak sakit inilah yang menjadi keherananku. Mengapa kehilanganmu kini terasa baik-baik saja? Kemana perginya rasa takut. Kemana larinya candu yang membuatku erat melekatkan diri padamu. Sepertinya kieerkegaard benar. Aku terlalu takut kehilangan diriku lebih daripada takut kehilanganmu.

Sendiri

Posted on

Jari jemarinya berada dalam genggamanku, mengisi setiap ruang bercela. Hangatnya mengalir merasuk ke dalam degup jantungku. Senyata keringat yang membasahi kulit kami, senyata itulah dia ada di sisiku. Sambil menunduk, aku berjalan seirama langkahnya. Aku perhatikan satu per satu kakiku melangkah, menggenggam percaya di tanganku dan tangannya, aku tidak goyah apalagi letih.

Aku palingkan sejenak mataku dari langkah sepatu dan aku menoleh melontarkan satu tanya padanya. Tanya yang sedari tadi diam-diam terselip di setiap langkah kami.

“Bolehkah nanti aku melepaskan genggamanmu dan lari meninggalkanmu jika memang ternyata aku tidak lagi menyukai perjalanan ini?”

“meski bersamaku sekalipun?”

“justru karena bersamamu.”

Langkahnya kurasakan melambat, aku pun menyerta. Dia diam. ada sedikit kerut muncul di dahinya.

maaf… aku harus menanyakan ini.

langkah lambatnya terhenti dan dia menoleh padaku.

“Jika karena bersamaku, kau tidak lagi menyukai perjalanan ini, dan segala inginmu hanyalah melepaskan genggaman tangan kita ini. Aku… ” dia menarik napas berat dan melanjutkan “Aku akan melepasmu”

“begitu saja?”

“Maria… kau tahu. tidak begitu saja. Tapi apa arti perjalanan ini jika kau tidak bahagia?”

“bukankah sudah kukatakan, aku mencintaimu. dan aku bahagia kemanapun kau membawaku? mengapa kau membiarkanku melepasmu?”

“Maria… aku menggenggam takutmu dan percayamu disini, di tangan kita. Dan kau tahu, bahagia tidak ada diantaranya”

“tapi kita bahagia dalam genggaman tangan ini” hentakku sambil menghadapkan kepal kami di wajahnya.

Dia diam menatap kepal kami dan mataku yang membara. lalu tiba-tiba dia menarik tanganku dan setengah berlari dia membawaku ke tepi jurang.

“Ini tujuanku. mari kita lompat.” Matanya menusuk ketakutanku. Dia paham aku tak sanggup berdiri di bibir jurang itu apalagi melihat ke bawahnya. Inilah puncak keraguanku dan kami hendak menaklukkannya. Tubuhku gemetar dan tangan bertaut kami banjir keringat. Aku merasakannya. Dia merasakannya.

“Maria?”

“tidak!”

“kalau begitu lepaskan aku, aku tidak takut sendirian”

“tidak!”

“maria!”

“hentikan! kau tidak bisa memaksaku melepaskan tangan ini pun menggenggamnya”

“memang tidak”

lagi kami bungkam.

“maria, dengarkan aku baik-baik karena aku hanya akan mengucapkan ini sekali. jadi sebelum akhirnya nanti kau benar-benar melepaskan tanganku. ingatlah ini. Aku tidak pernah berjanji bahwa kau akan bahagia bersamaku, aku memintamu ikut bersamaku bukan untuk mencari kebahagiaan. Aku bisa hidup tanpamu dan kamu bisa hidup tanpaku. Dengan atau tanpa hadirnya satu sama lain kita selalu dapat berbahagia.  Hanya saja… aku ingin berbagi denganmu. bahagiaku. bahagiamu. Aku dan kamu Berbagi. Bukan…bukan untuk mengisi ruang kosong pun melengkapi apa yang kurang dalam hidup kita masing-masing. Tapi untuk melatunkan lagu yang sama dengan cara kita masing-masing.  Cinta tidak rapuh, maria. Bersamamu ataupun tidak dalam perjalanan ini tiada bedanya bagiku.”

“aku tidak mengerti…apa maksudmu, aku tidak berarti?”

“Maria… arti keberadaanmu, tidak pernah ada dalam diriku. Semua itu hanya ada dalam dirimu semata dan kau tidak membutuhkan aku untuk sebuah pengakuan…”

Dia melepaskan tanganku. Tangan yang sedari tadi kugenggam sekuat tenaga.

“Jika cinta membuatmu ingin memiliki, lepaskan. Jika cinta membuatmu ingin menetap, larilah. Jika cinta membuatmu menginginkan apapun,  waspadalah. Mungkin saja, bukan cinta yang ada di hatimu itu. Mungkin saja, bukan cinta alasanmu menjalani ini semua denganku.  Cinta kita terikat, bukan untuk saling menjerat.”

***

Aku termenung mencerna semua perkataannya. Dia sudah lama melepasku dan pergi meninggalkanku. Tapi aku hanya kuasa memandang sosoknya yang perlahan menjauh. Tak ada setitik inginpun mengejarnya. Ia pun tak pernah menoleh ke belakang.

Aku kehilangan. Bukan… bukan… ini bukan tentang dirinya. Tapi aku…ya, ini tentang aku. Tanpa aku sadari, aku telah lama kehilangan diriku dan memakai topeng kita.

Tanganku gemetar ketika dengan segala yang tersisa aku menangkupkan kedua tanganku. Kurasakan segala takut dan percayaku berkumpul dalam genggamanku.  Sendiri, aku mendaraskan. Sendiri, aku mulai melangkah. Sosoknya telah menghilang dari segala sudut pandangku. Aku tahu, aku telah sendirian. Aku tahu, tapi baru kali itu aku paham makna sesungguhnya kesendirian.

Dia tidak takut sendirian. Apa yang aku takutkan dengan kesendirianku ini?

Pada Sebuah Pantai: Interlude

Posted on

Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Yakni ketika pasang berakhir,
dan aku menggerutu, ‘masih tersisa harum lehermu’;
dan kau tak menyahutku.

Di pantai, tepi memang tinggal terumbu, hijau (mungkin kelabu). Angin amis.
Dan di laut susut itu, aku tahu, tak ada lagi jejakmu.
Berarti pagi telah mengantar kau kembali,
pulang dari sebuah dongeng tentang jin yang memperkosa putri yang semalam mungkin kubayangkan untukmu,
tanpa tercatat, meskipun pada pasir gelap.

Bukankah matahari telah bersalin dan melahirkan kenyataan yang agak lain?
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang dan ruang rutin, yang setia,
seperti sebuah gambar keluarga (di mana kita, berdua, tak pernah ada)?

Tidak aneh.
Tidak ada janji pada pantai yang kini tawar tanpa ombak (atau cinta yang bengal).
Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan, berberes dalam sebuah garis, dan berkata:
‘Mungkin tak ada dosa, tapi ada yang percuma saja.
‘Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Dan itulah soalnya.
Di mana ada keluh ketika dari pohon itu mumbang jatuh seperti nyiur jatuh
dan ketika kini tinggal panas dan pasir yang bersetubuh.

Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri, di mana mengentara bekas dalam hati
dan kalimat-kalimat biasa berlarat-larat (setelah semacam affair singkat),
dan kita menelan ludah sembari berkata: “Wah, apa daya.”
Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.
Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil
hanya ada satu dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!

Meskipun alam makin praktis
dan orang-orang telah memberi tanda DILARANG NANGIS.
Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang padaku.
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.

Kita memang bersandar pada mungkin
Kita bersandar pada angin
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk-apa.

Barangkali saja kita masih mencoba
memberi harga pada sesuatu yang sia-sia.
Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,
mungkin akan tetap juga di sana –apa pun maknanya.

(1973, Goenawan Muhamad)

I’ll never walk alone again.

Posted on

“kamu mau ikut aku?” tanyamu seraya berpaling menatapku. Angin mempermainkan rambutmu dan debur ombak mengiringi pertanyaanmu.

kupicingkan mataku berusaha fokus pada sosokmu yang membelakangi matahari. Latar tebing, laut yang bergolak, dan hamparan pasir putih. Angin mempermainkan rambutku bagai gila. Kamu mempermainkan waktuku bagai gila. disini. di tempat angin, laut, dan horizon bersatu mendamaikan hatiku.

“kemana?”

“itu bukan jawaban” katamu lagi.

Masih kutatap matamu.

“memang bukan. aku hanya ingin tahu dulu kemana kau akan membawaku?”

“Aku tidak akan mengatakannya padamu”

“Oh, kalau begitu, aku tidak bisa memberikan jawaban padamu”

“apakah itu artinya tidak?”

“itu artinya aku butuh penjelasan”

“penjelasan tentang apa?”

“tentang kemana kau akan membawaku”

“apakah kemana itu penting?”

“penting. karena aku mungkin tidak suka tempat yang kau tuju”

“meski bersamaku?”

aku terdiam.

kamu terdiam.

lama.

Kita.hanya.saling.menatap.

“jadi maukah kau ikut aku?” Kau lontarkan lagi pertanyaan itu.

Bagaimana mungkin aku menjawab tanyamu. tanpa aku tahu tujuan dan jalan seperti apa yang akan aku lalui? tanpa aku mengerti apakah aku akan sanggup menuju kesana? tanpa aku paham apakah aku akan bahagia melaluinya? Bagaimana dengan ketakutan ini?

Aku tatap lagi sosokmu. Kau balas menatapku. Yakin. Tanpa susah apalagi salah. Dan seketika aku paham.

“Kau tahu aku mencintaimu” jawabku.

“Jadi?”

“… aku bahagia kemanapun kau membawaku”

Meski…tanpa aku tahu tujuan dan jalan seperti apa yang akan aku lalui? tanpa aku mengerti apakah aku akan sanggup menuju kesana?

Setidaknya aku bersamamu.

“Ya atau tidak?” tanganmu pun terulur menuntut jawaban.

“Aku membawa takutku dan segala percayaku padamu… kuletakkan disini” jawabku sambil menyambut telapak tanganmu yang terbuka. Jari kita seketika bertemu dan saling mengisi.

“Aku tahu. Kita tidak akan menyesal.” katamu seraya tersenyum balik.

dan kini langkahmu beriring seirama langkahku.

ternyata kemana itu memang tidak penting. Karena bersamamu, setiap langkah inilah yang penting.

mata(hari)

Posted on

Setiap kali bulan menjauh dan bintang-bintang memudar. Aku selalu tersadar dalam kegelapan yang masih menyelimutiku. Dan hal pertama yang selalu kulakukan adalah berhitung. Menghitung setiap jengkal kelopak mataku yang pelan-pelan membuka, menyambut satu-satunya inginku dalam hidup, … terkabulkan.  Dan akupun merapalkan sebait ini untuknya.

Untuknya yang selalu menjadi alasan hatiku merekah berbunga.

***

Teruntuk Mata(hari)ku

Sepertinya akulah pertamamu. Di dunia ini tak akan ada yang memberiku rasa seperti yang kau titipkan ini.

Hanya kamu.
Diam-diam.
Selalu.

Satu.

Aku mengetahui setiap jengkal lakumu. Hanya padamu mataku tertuju.

Dua.

Ah, aku hanya ingin selalu menikmati hadirmu. Dari sini. Dari tanah, tempat aku melekat dan menambatkan diri dalam-dalam. Cukup jauh dari hadirmu, cukup dekat dengan hangatmu.

Tiga.

Karena hanya jarak inilah yang memampukanku menatapmu tanpa menjadi buta.

Empat.

Karena hanya bentangan ruang inilah yang memberiku rasa aman dari sakit merindukanmu.

Lima.

Kukembangkan setiap inci dalam diriku ini, demi menyerap segala yang kubutuhkan darimu.

Enam.

Aku selalu. selalu. selalu ada disini. mencoba menjadi berarti untukmu. segenap mampuku ingin mereka melihat dirimu dalam keberadaanku. hanya saja, ini asa dan sia

Tujuh.

 Bahkan mega dan hujan  yang membuatku tertunduk, takkan kubiarkan membuatku lemah tak berdaya. Aku akan selalu kembali berdiri tegak menghadapmu. 

Delapan.

Bukan karena berani. Hanya karena, aku tak sanggup melalui hari-hari tanpamu 

Sembilan.

Dan tertunduk hanyalah bentuk permohonanku pada langit, untuk tidak memisahkanku dari sinarmu

Sepuluh.

Mata Hari ku. Biarkan kunikmati hadirmu yang hanya satu. 

Akhirnya.

Ketahuilah sebait yang kudaraskan ini. 

untukmu.

hanyalah makna yang kerap kuisyaratkan tanpa pernah kausadari.

terima kasih. untuk segalanya.

Dari

Bunga Matahari

***

Di ufuk timur dia akan muncul. Dan selimut kegelapan pun direngutnya perlahan. Sejak itulah selama dia bersinar, aku akan berada dalam keabadian. Tak mampu berpikir, tak mampu merasa. Aku. Hanya. Terpaku. Padanya.

 

Kenangan

Posted on

Jadi inilah awalnya. Waktu kita tak lagi terbentur. Aku dan kamu mulai berselisih ruang. Sampai nanti tak ada lagi alasan untuk bersua. Dan sekelebat ini menjelma kenangan. Entah apa maknanya bagimu.

Bagiku artinya selalu satu, kehilangan.

***

I don’t like that words. “Memories”

Remember that story in the elementary school reader?

What story?

The one called “what color was the girl’s dress?” You read it?

No.

Well, Person A and Person B are talking about the past. They start talking about a painting that was hanging on the hallpace of their elementary school. It’s a painting of a girl picking flowers during a bright red sunset. 

Person A says : “that brings back memories! The painting of that girl in a yellow dress, right?”

But B says: “You’ve got it wrong, the girl’s dress was bright red under the setting sun.”

But A insists… “Oh no, I’m sure of it. she was wearing a bright yellow dress shinning in the sunset!!”

Both are insistent.

“No, It was red!”

“No, It was yellow!”

“Okay then. Let’s go there and check what color it was.” And the two return to their good old elementary school in anticipation.

“What color was the girl’s dress?”

What color was it?

There was… 

… No color in the picture. The painting was in black and white. Itwas a painting with shads and shadows, the girl’s dress was completely black. But in their memories, both people believed that the painting was in color. Get it?

Human memories aren’t reliable. You can believe something without color was in color. Your brain will add something … or just glorify it. So I don’t believe in those so-called “Beautiful Memories.”

Then what do you  believe in?

(Source: A scene between Yano & Nana from Bokura Ga Ita by Obata Yuuki)

***

tidak ada kata indah

Posted on

tidak hari ini. tidak saat ini.

Aku tak punya banyak kata untukmu hari ini. Hanya diam dan pemakluman. Bukan berarti aku sudah mapan tanpamu, hanya saja terkadang kata-kata merusak apa yang aku geluti. Dan hanya diam inilah yang tersisa. Diam macam hati yang berteriak tak mengerti, mengapa bibir hanya bungkam dan enggan  meneruskan rasa. Atau mungkin ini semua hanya tidak terkatakan. Begitu saja pun, tak apa. Aku tak pernah keberatan, saat hening hadir diantara kita. Tidak dulu, apalagi nanti, saat mata kita bertemu dan yang ada hanyalah masa lalu belaka.

Mungkin akhirnya kita tiba di suatu masa yang selalu kutunda dan tak kunanti. Aku, kamu, satu dan dua. Satu ego, dua jiwa. ‘Beda’, yang sama-sama telah kita jelajahi dan usahakan melebur dalam sisa waktu. ‘Beda’ yang terlalu memikat dan membuatku lekat.  Dan entah kapan aku akan pernah siap menghadapi keasinganmu lagi. Menghadapi waktu tanpa adanya kamu. Apakah saat itu, hening masih akan terasa indah?

Tak habis pikirku mengumbar rela. sudah, berjanjilah saja bahwa kita akan selesai dengan tanpa kata dan dalam hening yang panjang.

Dan seperti biasanya, rahasia ini yang akan membuatku gila. aku sudah cukup bahagia dengan ini semua. cukup.

itu saja.

ps.mungkin ini hanyalah jelmaan gelisah

Darah Desolasi (1)

Posted on

Pernah merasa tenggelam dalam kesedihan mendalam yang ga jelas asal usul musebabnya?  Pernah merasa tiba-tiba satu dunia seakan jadi musuh yang cuma cari ribut dan segala sesuatu yang terjadi serba salah dan berantakkan? And out of nowhere, cuma denger satu kata terima kasih saja (dari orang asing pula), mata bisa berkaca-kaca saking berasa itu satu-satunya hal baik yang bisa terjadi di dunia dalam satu hari itu. Tapi secepat angin berlalu, rasa terharu itu berganti lagi dengan rasa tertekan dan sedih, dan tiba-tiba saja lo dah sesenggukkan kaya anak kecil yang tidak mendapatkan keinginannya. Sedih sangat tanpa tahu darimana kesedihan itu berasal. Dan kelelahan pun melanda tubuh dan jiwa. Badan rasanya mau rontok, pinggang sakit, perut ga enak, berasa memadat dan tegang. Lelah. Malas. Tidak bergairah. Hidup segan, mati enggan. Teriakan hati suma satu: “Just leave me alone, world!”

Girls, familiar with this? Yes, I don’t ask you boys.

Iya lagi. kali ini postingan seksis. Why? Sederhana, karena kalian para cowo tidak tahu rasanya mengalami semua yang gw ceritakan diatas maksimal satu kali dalam sebulan.

Sudah lama banget pertanyaan soal ini mengendap dalam diri gw dan sampai sekarang gw masih penasaran sama jawabannya. Pertanyaannya apakah? hehehe…. well… gw bingung juga neh jelasinnya. (”p). hmmm… Intinya… semua ini berawal dari gejala PMS yang seringkali mengganggu hari-hari gw. Ga setiap kali seh, tapi 3 bulan sekali lha pasti ada ngalamin. And I know I’m not alone, karena beberapa kali gw pun mendengar keluhan yang sama dari teman-teman cewe gw. So what’s up with PMS?

ehem… berhubung belakangan ini gw lagi kental-kentalnya dengan spiritualitas ignatian, so bahasan kali ini pun ga akan jauh-jauh dari sana. Apa hubungannya PMS dengan spiritualitas? well… *nyengir*. soalnya … ini cerita agak2 lucu tapi seriusan seh. krn gw terganggu akan fenomena alam ini. Jadi pernah kan tuh yah waktu kapan, crtnya gw ngikut ret2 online. nah… somehow waktu masa ret2, ada periode… dimana gw ga bersemangat ngikut ret2, dan bawaannya sedih gt. gw ga bs jelasin sebabnya ke pembimbing gw, krn yah gw sendiri struggle mencari tau alasan dibalik kenapa gw sedih. walopun neh yah di otak gw sudah terlintas “akh palingan lagi PMS” tapi I couldn’t help it untuk larut dalam rasa2 sedih itu. Pada saat itu rasanya semua nyata-nyata bermasalah. Sampai2 yg bimbing bingung dengan penjelasan gw yang abstrak (gw ga blg kmgknan gw pms dan rasanya waktu itu gw sendiripun menolak klo gw PMS, lagian let’s face it, it’s ridiculous reason) jadi dia jelaskan lha soal pembedaan roh baik dan roh jahat beserta ciri2nya.

Dan penjelasan itu bikin gw menerima bahwa mungkin gw lagi dalam pencobaan. masuk akal juga lha penjelasannya, ciri-cirinya pun cocok. jadi gw banyak doa tuh. hahaha… trus jeng… jeng… besoknya gw ‘dapat’, langsung seketika mengertilah klo gw gejala PMS dan bukan lagi dikuasai roh jahat.    ( -.- !) *daaa…..

Intinya seh, masa PMS gw tuh mengganggu dan ga lucu lg. krn di masa itu gw seakan berasa jauuuhhhh bgt sm Tuhan. dan belom lagi rasa sensi, sedih, depresi mendalam yang tidak terkontrol.bukannya mengeluh dengan kodrat yah, cuma krn belakangan ini berpola dan sedikit banyak mempengaruhi hidup gw,  gw berniat menaklukkannya dong. dua minggu kemarin adalah masa2 depresi gw….. trus karena semua rasanya real, gw menolak kalo alasannya cuma karena gw PMS. Rasa-rasa itu muncul karena hormon yang sedang bergejolak? Meeen… alasan macam apa itu! okelah mungkin itu ilmiah, tapi kaaan…. gw ngerasain. and it’s so god damn real. pasti ada alasan yang LEBIH dari sekedar biologis.

Sayangnya, begitu “dapat”…ya memang seh semua rasa sedih itu hilang, depresi itu ilang dan ga mengganggu gw lagi. -.- ! trus gw kayanya gimana gitu seketika, kaya dibodohi dan dikhianati sama badan sendiri. tapi gw juga ga tau seh ini mekanisme perlindungan otak gw kah dr rasa sakit sehingga… yaa… you know lha…pake alasan PMS. ga lucu kan. krn gw jadi ga bs bedain yg mana luka batin beneran dan yg mana karena PMS. Ato memang krn gw lagi PMS, maka segala rasa sakitnya jadi lebih berasa to the max ya? tapi eniwei… setelah masa itu lewat gw baik2 aja seh. Hidup jadi indah lagi. dan semua kembali ramah penuh cinta.

Tapi yah gt… gw sebel lha sm versi PMS diri gw. *TETEP. Btw buat yang belom tau, (jadi dah baca sampe sini, lo drtd bingung PMS apaan? -.- !) PMS itu Premenstrual Syndrom atau bahasa indonya Sindrom Pra Haid. For more info you can read it here: PMS .  Dan ini sedikit gw ambil pengetahuan soal PMS:

PMS memang kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan haid. Sindrom itu akan menghilang pada saat menstruasi dimulai sampai beberapa hari setelah selesai haid.

Penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas. Beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormonal yakni ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Teori lain bilang, karena hormon estrogen yang berlebihan. Para peneliti melaporkan, salah satu kemungkinan yang kini sedang diselidiki adalah adanya perbedaan genetik pada sensitivitas reseptor dan sistem pembawa pesan yang menyampaikan pengeluaran hormon seks dalam sel. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita.

Bikin esmosi jiwa ga seh bacanya? BELUM JELAS PENYEBABNYA. *ambilkursibantingkelantai. Jadi gw nangis-nangis itu apa? jadi gw depresi itu apa? benarkah semua rasa itu ga nyata? benarkah semua itu GA JELAS?

Yes, brothers and sisters! this knowledge does irritating for me.

Dan membahas ini dalam blog gw… somehow adalah usaha gw mencari penjelasan. Dan gw akan buat ini berseri (baik seri yang berarti berurut maupun yang berarti agak gembira) (”p). hahaha. karena tulisan di posting ini dah hampir 1000 kata, dan bahkan gw blom sampai pada teori gw. jadi drpd bosen, gw putuskan untuk dibagi-bagi saja.

Yak, karena gw sudah lama terganggu dengan hal ini, sedikit banyak gw memikirkan dan terus mencari tahu soal fenomena kodrat ini. Kenapa ga nanya ke yang ahlinya? errr…. karena saya suka mencari tahu sendiri. Dan gw belum pernah nemu tulisan yang ngebahas PMS dan Spiritualitas Ignatian. (kl ada yang tahu bisa sharing lho) so… next posting yah dilanjutkan lagi. Let’s find God even in PMS Period. And I welcome you girls to share the emotions you barely feel on your own period. *caritemenmodeon.

I want this!

Posted on

Recognizing the “in-love” experience for what it is- a temporary emotional high-and now pursuing “real love”. The kind of LOVE that is emotional in nature but not obsessional. It is a love that unites reason and emotion. It involves an act of the will and requires discipline, and it recognizes the need for personal growth. Our most basic emotional need is not to fall in love but to be genuinely loved by another, to know LOVE that grows out of reason and choice, not instinct.

- The 5 Love Languages

***

I found this quote on my dashboard of Tumblr 

And I love the quote and the picture. so I can’t help posting it here too. (^^)>.

Thanks icecreamisbetterwithafork

The Only Exception

Posted on

When I was younger, I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart and I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore that
She would never let herself forget
And that was the day that I promised
I’d never sing of love if it does not exist

But darling, you are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception

Maybe I know, somewhere deep in my soul
That love never lasts
And we’ve got to find other ways to make it alone
Or keep a straight face

And I’ve always lived like this
Keeping a comfortable distance
And up until now I had sworn to myself that I’m content with loneliness
Because none of it was ever worth the risk

But you are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception

I’ve got a tight grip on reality
But I can’t let go of what’s in front of me here
I know you’re leaving in the morning when you wake up
Leave me with some kind of proof, it’s not a dream, oh

But you are the only exception
You are the only exception
You are the only exception
You are the only exception

And I’m on my way to believing
Oh, and I’m on my way to believing

By: Paramore

***

It’s been almost two days, I let my body and soul listening to this enchanted song over and over and over and over. (>,<). And up until now, I have not find a way to get out from the spell.

Yes, it’s the chronic melancholic part of mine.

The reason why… berdasarkan analisis mendalam mengenai rasa-rasa yang ditimbulkan, akhirnya disini saya mencoba menerjemahkannya menjadi sesuatu yang (semoga) logis atau minimal membantu saya “muak” dan bisa lepas bebas. setidaknya dari keadaan diri saya yang melankolis kronis ini.

I won’t deny it, Lagu ini berhasil menjawab perasaan yang sudah cukup lama mengendap jauh di dalam diri saya. Perasaan takut untuk mampu percaya pada cinta yang bertahan dan menetap. Lagu ini romantis sangat menurut saya. I know how hard to at least admit someone as ‘the only exception’. Especially to someone who commit herself to the loneliness. No wonder, she keep spelling “you are the only exception” over and over in this song. I think it is necessary in order to assure herself and defeat the fear. And she is brave enough to finally take the way to believing. I wish someday i have enough courage  to do that, perhaps this is the main reason I keep listening to this song over and over.

Dan satu lagi, lagu ini mengingatkan saya akan cita-cita masa remaja saya. Menemukan seseorang yang hanya kepadanya, saya berani bertaruh, berani mengambil segala resiko kehilangan dan sakit hati mendalam karena mencintainya. (anjirrr…. super romantis lha ya). Tapi… mungkin karena itu saya menjadi penuh syarat menentukan kriteria orang tersebut. Ah… tapi yang sebenarnya yang saya inginkan hanyalah satu. Satu orang yang memampukan saya mengambil jalan itu. Yang berhasil meluruhkan semua tembok pertahanan diri saya seutuhnya. Satu orang, kepada siapa saya menujukan surat-surat cinta pertama saya. The owner of my happy thought, my dream, and for sure my heart. Seseorang, yang saya tahu sejak pertama kali kenal kata “cinta”, telah saya cari. Bahkan menuliskan ini semua pun sekarang masih belum cukup mengurangi rasa takut yang telah lama menjajah. But somehow I want him. More than words can explain.

I know how selfish I am. And I blame all the fairytales and the romantic novels, which put the idea  in my head. I don’t believe in love at the first sight or even the concept of the soulmate. But I do believe it took forever to really know what love is. And i want to begin the journey with you. Begin with the sparks between us, that makes me able to spell the mantra. Let’s hope the magic never fade away. At least, we won’t let it fade away.

I dedicated this for you, my dear. The only exception in my life. I don’t need you to be the best of all , just stay with me in my loneliness and let’s create our own happiness. just the two of us. Shall we?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 163 pengikut lainnya.