Pelarian


Apakah rasa ini yang kemudian dapat menalarkan arti Cinta bagi jiwaku? Di hadapNya aku adalah manusia, dengan segala laku dan pikir, mengecap udara dan berpijak tanah atas nama hidup. Sedikit waktu tersedia untuk berkelana mencari arti satu kehadiran. Satu jiwa yang dititipkannya dalam ragaku, memberontak tak ingin menyapa hampa. Adalah cinta yang telah memanggilku untuk berlari mengejar hadir-Nya. Segala penjuru kutuju…berlari… berlari… lelah…dan akhirnya menyerah…! aku pun menangis dengan sia yang telah berada di telapak tanganku.

Sia kemudian berujar kepadaku… “jiwamu memberontak menolak hampa… tanpa kausadari aku telah berada dalam genggamanmu…” Tangisku pecah… jiwaku bebas melayang…kemudian di hadapan lukaku, Sia memecahkan diri, menghangatkan relung yang ditinggalkan jiwa bebasku. Agh… Cinta. Mengapa kau hadir disaat jiwaku tak mampu menolak hampa yang menyapa?

“karena kau tidak perlu lelah mencariku ke seluruh penjuru… cukup disini… di dalam jiwamu …” bisik Cinta…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s