Be a leader for yourself, then for others


Well… hehehe… seperti yang telah diketahui minggu lalu gw pergi sm anak2 JSN ke pangrango… dan… fuh… dr sekian byk hal yg gw harapkan… ternyata-ternyata… kejadian satu hal yang sama sekali tidak pernah terlintas di kepala gw. Dan akibatnya sungguh2 membuat gw berpikir bahwa kejadian seperti di pangrango hanya boleh terjadi sekali itu saja. Gak lebih. Karena … well IT’S SUCKS bgt!!!

Hahaha… gw…! dah kejadian seminggu lalu berlalu pun masih aja lho emosi dengan segalanya.=p. Emang ada apa di pangrango? Well… Gw dan teman2 tidak berhasil mencapai puncak. Dan kejadian itu benar2 membuat gw berpikir ulang tentang puncak, tentang pendakian gunung yang belakangan ini jadi kegiatan yang bikin gw addict.

Somehow, entah bagaimana… naik gunung selalu menjadi hal yang spiritual buat gw. Naik gunung selalu membuat gw semakin kenal Dia dan diri gw. Dan setiap kali naik gw tahu gw selalu mendapat sesuatu. Dan untuk yang kali ini, gw rasa, Dia mau mengajarkan betapa pentingnya melihat sebuah tujuan, betapa pentingnya mimpi2 dalam hidup kita. Well… at least gw she menganggapnya demikian. Dari awal, kerinduan gw untuk mencapai mandalawangi adalah bahan bakar penting yang memacu semangat gw berjalan. Dari semenjak di kaki gunung… gw sdh mengucapkan… “eh nanti kita ngecamp di mandalawangi yah…” dengan semangat 45. tapi… yah… gw lupa… kalo gw pergi berduapuluh orang, gw ga sendirian, dan ga semua punya kerinduan dan mimpi yang sama dengan gw. Yang… maaf2 neh… sangat gw sesalkan… D*mn…! I know… the summit is not everything but… the journey is not complete without it. And… menyebalkan lho rasanya kmrn ini, karena ga samapi puncak…(>. ga enak bgt pulang dengan rasa penasaran, dengan janji2 yang tidak berhasil dipenuhi, tanpa foto2 di puncak…(>. Pahit bener… rasanya.

3 jam sudah kami berjalan mendaki pangrango semenjak dari kandang badak. Di sebuah tempat agak lapang, kami ber12 berkumpul untuk mendiskusikan langkah selanjutnya. Situasi saat itu adalah… Jam sdh menunjukkan jam 5 sore dan gerimis masih turun rintik2, semua orang lelah dan sebagian bahkan merasa tidak kuat lagi untuk berjalan. Kami tertinggal jauh dari kelompok pertama. Teriakkan2 untuk berkomunikasi dengan yang diatas tidak terdengar. Tidak ada satupun dari kami yang bisa menjawab “Berapa lama lagi kami harus berjalan untuk sampai puncak? Medan seperti apa yang akan kami lalui untuk sampai puncak?” Jadi kami disini di tempat lapang yang kemudian kami namakan “puncak 12…” mencoba memutuskan apa yang terbaik… bagi semua.

Awalnya ide yang pertama tercetus adalah, sebagian yang merasa sdh tidak kuat untuk berjalan lagi… ngecamp di puncak 12. Tenda satu2nya di kelompok kami akan ditinggal untuk mereka, dan sisanya melanjutkan perjalanan. Entah kenapa pada saat itu, gw teringat cerita teman gw yang jika melakukan pendakian bersama teman2nya, mereka selalu berkomitmen, ‘jika satu orang muncak, semua muncak, satu turun semua turun”. Dan kata2 itulah yang tepat gw ucapkan pada mereka yang tinggal di puncak 12. gw pikir saat itu, bukan waktunya bagi kita untuk terpecah lagi. Kita sdh terpecah. Kehilangan 4 org yang ngecamp di bawah (kandang badak), dan 5 org yang berjalan duluan ke puncak. Akan lebih rumit jadinya jika kami ber12 membagi diri lagi. Karena itu artinya. Mereka yang tinggal dengan satu2nya tenda yang ada, harus mempunyai logistik yang cukup smp besok pagi (well…ini seh bukan masalah besarnya) dan sisanya… kelompok yang mungkin memutuskan melanjutkan perjalanan harus, kudu, musti, wajib, berkomitmen apapun yang terjadi, mau sejauh apapun lagi perjalanan, mau seberapa lama lagi mereka berjalan, mereka harus terus maju sampai bertemu dengan teman2 yang sdh diatas. Karena mereka tidak membawa tenda untuk ngecamp. Semua itu sdh gw ungkapkan untuk menjadi bahan pertimbangan teman2.

Tadinya gw berharap bgt dengan mengucapkan kalimat :”satu ngecamp, semua ngecamp, satu muncak semua muncak”, gw akan bisa membawa keputusan kelompok untuk tetap berjalan bersama sampai puncak. Siapa sangka, kata2 itulah yang kemudian menjadi senjata makan tuan bagi gw. Gw gak bisa menjawab pertanyaan “berapa lama lagi kita harus berjalan?” Gw tidak bisa menjamin bahwa jika kami melanjutkan perjalanan itu sekarang, mereka yang sakit akan dapat turun ke bawah dengan tidak terseok2. akhirnya diputuskanlah untuk ngecamp. Dan detik itu juga jutaan perasaan kecewa membajiri hati gw. Gw langsung nyesel mengucapkan kata2 itu. Gw msh brusaha untuk mengubah keputusan kelompok… tapi… disaat yang sama… gw melihat bahwa gak semua orang mempunyai keinginan untuk muncak hari itu juga, dan bahkan ada orang2 yang memang secara fisik sdh tidak dapat lagi melanjutkan perjalanan. ARGHH!!!… ini pergulatan hebat yang terjadi dalam diri gw saat itu. Ego untuk muncak dengan toleransi kepada si sakit bertarung mati2an dalam diri gw. Berbagai pikiran dan perasaan muncul. Disaat yang bersamaan gw brusaha meredam ego dan ambisi gw untuk tetap berjalan sampai puncak, di saat itu pula gw brusaha menumbuhkan toleransi dan brusaha tetap berpikir rasional sehingga dapat melakukan sesuatu untuk membantu teman2 gw. Selagi gw brusaha menetralisir diri gw dalam diam dan seketika itu juga entah kenapa dingin yang merasuk bener2 mebuat gw beku…=p… sekeliling gw sdh ada yg sibuk mendirikan tenda. Dan berasa bgt disitu teman2 pun masih tidak dapat berpikir jernih seperti gw.

Untungnya ada seseorang yang kemudian, begitu keputusan untuk ngecamp diambil, mengambil kendali, dan memimpin kami semua untuk bekerja. Gw langsung kagum dengan kekuatan yang dia punya. Bersyukur bgt, dia ikut dalam perjalanan kami kmrn. Ketegasan dia dalam memimpin di puncak 12 saat itu, sedikit menentramkan gw, meskipun tidak mengahpus keingina gw untuk muncak. Dan meski… sambil sekali2 melirik ke atas, gw.. brusaha mencari tahu apa yg bisa gw lakukan untuk teman2 gw. Tapi emang dasar bodoh yang belom tau apa2… mo bikin api untuk teman2 yang akan tidur di luar pun gw gak bisa. ARGHH!!!… duh… itu bener2 deh perasaan kalah yang dicampur perasaan tidak berguna belom lagi ditambah perasaan menyalahkan orang lain , baru pertama kali itu gw rasain bercampur aduk, dan rasanya gak enak…(><).suatu hari nanti akan tiba waktunya masa2 dimana kita hrs mimpin org lain. Dan semua orang akan mengalami itu, ntah di kerjaan, ntah di lingkungan, ntah di keluarga dan terutama di keluarga gw rasa. Suatu hari nanti akan tiba waktunya kita menjadi ayah/ibu yang bertanggung jawab memimpin anak2… So i guess… akan baik apabila kita smua mau belajar menjadi seorang pemimpin yg baik. Setidaknya untuk memimpin keluarga kita sendiri nantinya. Jadi jangan nolak deh kalo ada kesempatan untuk jadi koordinator ato mungkin dipercaya untuk memegang sesuatu, jangan takut dengan apa yang tidak bisa lo lakukan, tapi pikirkan berbagai kemungkinan yang ternyata dapat lo lakukan. Dari pengalaman gw… emang seh jadi seorang pemimpin itu berat, tapi pelajaran dan pengalaman yang lo dapatkan so worth it. Rugi seribu, untung sejuta soalnya. (^^).

Banyak hal yang tadinya gw pikir tidak bisa gw lakukan, ternyata bisa juga kalo dicoba…dan akhirnya malah membuat gw berani untuk mencoba berbagai macam hal dan mengalami hal2 yang ga biasa, yang akhirnya memperkaya gw secara pribadi rohani. Dan itu menyenangkan lho….(^^) mengetahui apa yang mungkin bisa lo lakukan dan ketika ternyata bisa lo lakukan, lo bakal bangga setengah mati.well… at least gw seh gitu. Makanya gw paling anti dengan kata “gw gak bisa”… don’t you ever say that before you try it. Karna lo gak pernah tahu sampai lo pernah nyoba (kata2 harjo neh). You might think you know… but actually you don’t really know, so why don’t you give it a trial. Dari magis, gw belajar konsep yang membuat gw selalu merasa bisa “lebih”, yakni bahwa sesungguhnya…bukan pikiran “melakukan sesuatu yang melewati batas diri” atau “mengalahkan diri sendiri” yang akhirnya memampukan kita, tapi bagaimana menyadari bahwa dari awal sebenernya ga ada batas apa2, bahwa dari awal bukannya “mengalahkan diri” tetapi menerima kekurangan diri kita, unutk kemudian mengubahnya menjadi sebuah potensi. Itulah yang kemudian memampukan kita melakukan hal2 magis.

Dengan kesadaran itu, semua talenta yang ada dalam diri kita ntah kenapa dan ntah bagaimana selalu punya cara untuk tetap menyala dan memberi kita modal untuk terus maju. Trus bagaimana kalau suatu hari nanti ternyata kita sadar bahwa segala sesuatu terbatas? Well… idealnya… gw akan berkata.. BANGUN! Dan sadarlah bahwa pikiran “inilah batasnya” yang dengan sendirinya membuat semua menjadi terbatas. Jadi… gmpgnya she tinggal bilang: bukan ini bukan batasnya masih ada jalan lain.trus tinggal cari deh apa “jalan lain itu” Hahahaha… gak pernah puas yah jadinya? Yup… kalo kata steve jobs, stay foolish, stay hungry. maka lo akan belajar bahwa lo punya talenta yang ternyata bisa dikembangkan. Kalo gw mikirnya… ternyata tangan kecil gw dipakai Tuhan untuk pekerjaann besarNya lho. Dan dengan demikian gw ga akan berhenti terpesona akan keajaiban2 yg dilakukanNya dalam diri gw. Gitu…

hahaha… gw jadi panjang. Jadi lupa intinya deh…yah intinya gt deh. Gw mo belajar jadi pemimpin yang bisa melihat sebuah visi/mimpi dan melakukan apa saja yang bisa gw lakukan untuk mencapai visi/mimpi itu. memimpin diri sendiri dan kemudian dapat memimpin orang lain. DAN, yang terakhir itu adalah salah satu hal BESAR yang gw pelajari dari kemaren itu. agar suatu hari nanti gw bisa memuaskan ego gw, yakni membawa orang2 untuk dapat melihat visi gw dan melakukan misi bersama, metaforanya waktu naik gunung adalah puncak. Tp dalam hidup, gw tahu benar yang Dia maksud adalah mimpi gw. And I will fight for all my dreams in Him.

Trus apa akhirnya mimpi adalah ego terbesar setiap orang? Sepertinya iya. tapi sekali lagi menurut gw, punya ego tidak berarti buruk, jelek, atopun jahat. Karena di dalam Dia, gw percaya, ego yang dikandung setiap orang adalah egoNya juga… (^^). Iya gak seh? Dan gw percaya bgt Ego Dia adalah ego untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, yang membawa kebaikkan bagi semua. So… i guess… suatu hari nanti gw pengen sekali2 menjadi pemimpin kalo naik gunung, buat latihan…=P. Tapi… setelah gw memperlengkapi dan mencukupkan diri gw dengan pengetahuan2 survival, manajemen perjalanan, cinta yang lbh besar, mental yang lbh byk, dan kepekaan yang lbh sensitif dan lainnya (hahaha… kayanya masih jauh deh gw jadi pemimpin yang ideal…=p) hahaha… ini ambisi yang berlebihan gak seh? Gw takut dengan berpikir demikian, suatu hari nanti gw akan gelap mata dan menjadi buta menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan gw.

Ya Tuhan… semoga jika suatu hari nanti aku menjadi sedemikian…. itu karena aku mengemban tugas dariMu, dan semoga… aku paham benar bahwa semua itu untuk kebaikkan banyak orang. Biarlah aku menjadi buta oleh cahayaMu, tapi tidak buta krn egoku pribadi.Dan… jika… suatu hari nanti aku tidak lagi meninggikan namaMu melainkan diriku sendiri… jatuhkan aku ya Tuhan.dan ajarlah aku untuk berdiri lagi. (^^) Aghh… Tuhan…pokonya jgn sampe… deh… aku keluar dr jalanMu. Amin.

Jadi… jadi… teman2.. ayo ajarkan gw yang bodoh ini hal2 yang dapat membuka pengetahuan gw… soalnya menjadi pemimpin yang baik sepertinya berarti mengetahui lebih banyak tentang berbagai hal, biar bisa mengambil keputusan terbaik… dan hummm…. dengan segala keinginan dan kebodohan ini… gw mo bgt lho belajar baik secara teori maupun praktek apapun yang bs membantu gw menjadi lebih baik dan berguna bagi sekeliling gw, dan terutama supaya dr hidup gw, banyak orang belajar betapa hebat dan dasyatnya Dia. Sehingga lagi… semakin byk org percaya… dan mau bekerja dan berkembang bagi Dia. Biar satu dunia saling memperkaya satu sama lainnya…. biar … akhirnya surga diwujudkan di dunia ini. Dan biar Ego Pribadi Dia yang menguasai kita semua, Amin. (^^).

Well… gw nulis ini sebenarnya agak2 dilema gimana gt… soalnya berasa… yg tiba2 sok atau yah gt deh… tp di lain pihak ada juga pikiran yg mengatakan… “well… ini seh semua org jg dah tau kali niq. Basi lo….!” hahahahaha… yah… gt deh… tp ntahlah… rasanya kalo gak nulis ini kayanya gak afdol gt. So then i decided to write it on. For myself. And hopefully by share it to you, bisa berguna juga buat yg lain. Ya…. Hehehehe… this is just my thought. Semoga berguna… kalopun gak guna semoga terhibur….=p. nanti ada lagi yg mau gw tulis.tentang pangrango yang ganteng… Tapi untuk saat ini, itu dulu kali yah…

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak diatas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan diatas kaki dian sehingga menerangi semua orang dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5: 14-16″)

So, we’re all born to be a leader. AMDG! (^^)

Regards,

Monicantiq

(^^)

Gbu

Iklan

2 pemikiran pada “Be a leader for yourself, then for others

  1. Artikelnya panjang sekali mbak moniq….tp aku senang sekali membacanya…sungguh berguna sekali! I’m proud of you…. Bangga krn lo berhasil menahan diri dan mau bertoleransi dgn mengorbankan ‘impian’ lo sampe ke puncak… masih ada waktu lain, mbak! Mengalah bukan berarti kalah… Seorang pemimpin yg baik adalah seorang pelayan yg baik… Remember it!… GBU…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s