Lawu (3265 mdpl)


Tawangmangu, 23 Maret 2008.
Malam itu aku berbisik sayup kepadaNya… di antara renyah dedaunan, di dalam kerlingan bintang, di bawah tatapan bulan, di tengah celoteh serangga, hatiku meminta ‘suatu hari nanti, aku akan hadir dihadapmu… di tanahmu aku akan berpijak, menapak serpihan jiwa bumi, kau akan memberiku napas dari anak-anak yang kaulahirkan, bermain dan bercengkrama dengan luas, bermanja dengan hening dan kemudian aku akan dapat mencintaimu apa adanya lagi…layaknya Kau yang selalu mencintai adanya jiwaku. Berikan aku restu dan aku akan melesat ke pangkuanmu, tanpa ragu memeluk indah dunia.’

Apa arti puncak?
Semua orang tahu mencapai puncak bukanlah hal mudah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, dilakukan , bahkan dikorbankan untuk kemudian sampai di sebuah puncak. Lalu apa arti puncak itu sendiri bagi setiap perjalanan mendaki gunung? Mungkin puncak adalah tujuan yang harus kita capai, mungkin puncak adalah kemeriahan pesta setelah lelah berjuang. Mungkin puncak adalah ”akhir”nya. Mungkin puncak memang segalanya. Mungkin puncak tak berarti apa-apa kecuali kepuasan sesaat yang diperjuangkan untuk memuaskan ego manusia. Mungkin puncak hanyalah puncak, kata tanpa makna yang dimaknai agar perjalanan mempunyai makna (halah) (^^). Hehehehe…

Well… the only reason that i wrote about this …is because… i want to share something that i thought i only have when i was on the top of the mountain. Something that then have driven me, no matter how hard, no matter how tired, no matter how people think  and no matter whatever happened in the middle of the journey. I’ll keep walking until i make it to the summit.

Karena di atas puncak semua ”mungkin” menjelma menjadi rasa yang menyempurnakan setiap langkah. Dan Lawu… adalah sahabat yang mengajarkan bahwa mencapai tujuan berarti menggenapi mimpi dengan mata terbuka.

 

Argo Dumilah (3265 mdpl), 19 Mei 2008
Siapa sangka hampir dua bulan kemudian, bisikkan itu sampai ke telingaNya. Dan disinilah aku berdiri menatap luas, dalam sekejap menjatuhkan hati pada kebesaran cintaNya. Dalam doa kutiitipkan dua puluh enam aksara yang tak mampu kurangkai untuk dipatrikan disetiap ciptaNya. Aku dan Dia hanya saling menatap, Aku ke indahNya, Dia ke jiwaku dan entah bagaimana aku paham bagaimana kemudian cintaNya bekerja.

Milyaran syukur membanjiri hati, setiap teguk luruskan lekuk, setiap rengkuh kuatkan rapuh, setiap aliran didihkan asa, setiap desir meriah sempurna. Dia ada dan Dia mendengar setiap doaku. Pemahaman terindah diantara aku dan Dia terjadi sedemikian cepat, sedemikian mudah, sedemikian sederhana…sedemikian nyata meragai jiwaku. Dan aku hidup di dalam Dia yang sejatinya adalah segala yang kucari dalam kehilangan, segala yang kutemukan dalam pencarian, dan segala yang penuh dalam kehampaan dunia. Di kemudian hari nanti, aku tahu ‘percaya’ telah tumbuh dengan sendirinya menjajah keraguan yang kerap hadir menemani jiwaku.
Terima kasi Lawu, yang telah memeluk hangat mimpiku dan membuka jendela surga agar manusia hina ini melihat betapa beruntung dirinya yang sepenuh hati dicintai oleh Maha besar.

 


By an explorer of mount Kanchenjunga:
“I climbed the highest mountain in my land, and could see the whole world around it. While I was there, I could see more that I can put into words, and understood more than I can express.

“If, however, I were to better define what those moments high up on Kanchenjunga really meant, I would say: seen from high up, all things – rivers, trees, snow, grass – seem as one, and my heart was filled with joy, because I was part of everything. When I understood this, even alone on the top of a mountain, I understood that I was close to all things on this Earth.”

(sumber: http://www.paulocoelhoblog.com)

Iklan

3 pemikiran pada “Lawu (3265 mdpl)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s