This time…


Akhirnya… gw bisa nulis2 juga. FUH! kali ini gw beneran ngambil jatah kerja kantor gw. sekarang masih jam 6 kurang 15an seh… dan gw harusnya masih ada kerjaan. tp daritadi ga bisa konsen. dan malah nyari2 hal2 lain untuk dikerjain. benernya ga pernah enak nulis blog di kantor. soalnya jadi muncul perasaan bersalah gt. walopun kecil. herannya… gw masih lebih gak merasa bersalah kalo chatting sepanjang hari ketimbang nulis blog. (^^). kalo nulis blog tuh rasanya gimana gt deh. hahahaha… yo wess.. dah terlanjur mulai. mari kita selesaikan satu postingan ini. dah terlanjur nyuri waktu kantor… sekalian aja… (“p).

Gw mo curhat! (><). kmrn ini… satu harian gw banyak dapat info2 seputar kantor, yang isinya rata2 ga jauh2 dr resign. dan… argh… feel so left out behind. Kemarin hari rabu, adalah hari dimana biasanya gw jogging di senayan. dan… lari kmrn… gw bener2 habis2an deh… memforsir kaki untuk terus lari/jalan. sampe satu badan basah berkeringat, kaki sakit2 dan nafas berasa putus2. tapi… gara2 itu… jadi sedikit melegakan gw. I’ve been trying so hard to cry. but somehow… ga bisa. jadi… Jogging kmrn gw pelampiasan bgt deh. (><). Dan kehabisan napas… selalu memberikan simulasi “berusaha hidup” buat gw. saat2 itu gw sadar bgt… setiap tarikan nafas… adalah sebuah usaha untuk hidup. dan mungkin somehow bisa lebih membuat gw menghargai udara. dan lagi lari kenceng2… merasakan kecepatan… selalu memberikan sugesti yang nyaman. I love speed. bagaimana angin membelai.

HAH! nulis apa seh niq? hehehehe… I hate farewell! HATE it!! HaTE it! HAtE it!!!! ERGHH!!!

————————-

“cium aku dong…”

“ga mau!” wajahnya mengerut

“Randy sayang… ayo cium aku…”

“ga mau!” dia mulai memberontak

“Koq kamu gt seh sama aku… ayo sini… cium aku dulu”

“ga mau!”

Dia melepaskan tanganku dengan kasar dan dia pun lari membawa kepingan hatiku yang terluka. Yah… ditolak laki-laki memang selalu menyebalkan. Apalagi bila laki-laki itu adalah salah satu hal yang kau anggap paling manis di dunia ini. Selalu begitu. Seenaknya datang menghampiri, minta cinta di hati, sudah dapat, pergi meninggalkan seakan semua itu hanyalah permainan. Aku menatap nanar punggungnya yang begitu cepat menjauh. Hanya satu ciuman perpisahan yang kuminta. Apakah itu terlalu banyak?Aku menengadah, matahari bersinar menyengat, langit biru berhias awan putih, dan seekor burung melintas diatas kedua bola mataku, ditolak di hari secerah ini? Sungguh hari yang sangat kutunggu.

”Kamu… lagian ada-ada saja. Randy kan sudah gede, mana mau dia cium-cium orang sembarangan lagi.” Aku menoleh, kulihat ibu Randy, Soraya, kakakku, mendekat.

”Makin gede makin jual mahal gt?”

“Dia tahu bahwa dirinya makin berharga, makanya jual mahal”

“kecil-kecil dah berani nolak cewe. Emang mba mau anak mba jadi berandalan yang kerjanya cuma mainin cewe?“

„Cowo ganteng gt lho. Siapa dulu ibunya?“

„yeee…… malah bangga“

„hahahaha… ngambek. Kamu ngapain kesini pagi-pagi?“

„Iseng.“ Aku berjalan melewatinya, menuju ruang makan kakakku yang penuh dengan remah-remah roti dan gelas-gelas setengah kosong berisi kopi dan susu, sisa sarapan keluarganya. Sesampainya di depan kulkas, aku mengambil susu dan sekotak sereal, berjalan ke lemari, mengambil mangkuk dan sendok. Setengah ngedumel kakakku masuk menyusul. Duduk di sebelahku, hanya menonton. Suara dengung kulkas dan bising jalanan menyusup ke telingaku. Aku makan dalam diam ditonton Soraya.

„Aku putus“

„sama Irwan?“

„Bukan… Sama pacarku.”

”iya…. Irwan kan pacarmu.”

”itu… dulu”

”…”

Aku mengunyah serealku perlahan. Tidak menatap kakakku yang kutahu masih menonton, menunggu.

”kenapa?”

”…”

”kamu…” dia mulai..

”dia selingkuh” aku menengahi.

”what? How come?”

“…”

“Shit!”

Aku menoleh, akhirnya menatap mata coklat kakakku “Seorang ibu tidak seharusnya bicara seperti itu.” Soraya, kakakku, sahabatku, berdiri dan memelukku erat. Sakit. Aku behenti menguyah.Sendok terlepas dari tanganku. Pelukkan Soraya membuatku sesak. Ah… bukan… pecahnya hatiku yang membuatku sesak.

Seminggu sudah aku berusaha memahami semua. Dan di pelukkan kakakku, aku malah semakin menyadari betapa kehilangan Irwan, adalah apa yang paling tidak aku butuhkan saat ini. Aku mengerjap. Mataku basah. Akhirnya. Seminggu aku menunggu tetes-tetes kehilangan itu jatuh. Seminggu aku berlari memutari waktu, membiarkan segala sesuatu berjalan seperti biasa. Bangun pagi, berangkat ke kantor, bekerja, makan siang yang hambar, menunggu sms atau telpon dari Irwan, menghela napas, tidak berpikir, kembali bekerja, melupakan waktu, melupakan Irwan. Aku mengerjap lagi. Aku tidak akan menangis, tidak waktu Irwan menceritakan segalanya, tidak juga sekarang.

Soraya melepaskan pelukkannya. Dia tidak bertanya-tanya seperti hatiku. Dia tidak menyalahkan aku seperti isi kepalaku.Dia hanya menerima dan memelukku lagi.Aku pun terisak menumpahkan segalanya. Membebaskan jiwaku.

————————-

”Lo nangis?”

”gak… gw kelilipan”

”ooohhh… gw pikir lo kelilipan”

”emang gw keliatan nangis?”

”hhmmm… iya.kenapa?”

”kelilipan”

”Irwan” dia mengulurkan tangan, meminta namaku.

Aku hanya menatapnya. ”…”

”eh… koq pergi?”

————————–

Mungkin seharusnya waktu itu aku terus berlari. Sehingga awal tidak akan menjadi akhir. Dan kemudian aku bisa menutup mata, jauh dari bahagia, jauh dari nestapa. Sendirian dalam hampa.

CUKUP!

Sekarang, aku akan memaki diriku yang terus berlari, dan menyoraki dia yang sanggup mencintai busuk dunia hingga tetes terakhir. Karena… aku ingin hidup atas nama cintaNya dan mempersembahkan meski sekeping… senyuman untuk dia yang kucintai.Aku tidak menyesal. kisah ini berawal untuk diakhiri. bukan dengan tangis.

Aku masih bersyukur karena Dia memberiku kesempatan untuk melihat cinta yang hidup, mati, dan bangkit kembali. (^^). Semua awal tidak terjadi tanpa akhir. smua akhir tidak terjadi jika tidak diawali. dan hidup adalah tentang perjalanan dari sebuah awal kepada akhir. Bagaimanapun akhirnya nanti…. semua ini sudah berawal.

————————-

Mungkin seberapapun sebalnya gw akan sebuah farewell… pada akhirnya… gw akan berterimakasih karena semua pernah berawal. Thanks for being such a good friends. i dedicated this to all of my friends. i hope… you understand how much i treasured all the time that we’ve spent together. (^^). thank u.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s