Mountain Fetish effect


Hi there. (^^). How was your holiday? i hope you all had a great time. well… i hope mine too. but apparently my holiday turned out to be almost awful boring holiday (><). hahaha… i’m writing not to complain about it … just… hmm… well.. express it perhaps (“p). Not much to tell about this whole holidayweek. almost everyday, my activity just consist: sleep, eat, and watch dvd, plus trying to do the book project (which is almost never). (T.T). Yep! My weight just risen up. i look really fat in the photo now.well… it’s all about lazy day effect. Anyway… i still have something to share here… and i promise I won’t complain anymore about my holiday (><). so please don’t shut the page and keep reading this post.

Ok… jadi gini… ceritanya kenapa gw bisa stay di rumah sepanjang liburan panjang kali ini. Sebenarnya banyak temen yang ngajakkin gw untuk liburan bareng. dr hari sabtu pertama libur sampai hari ini sekalipun, masih ada aja tawaran2 trip yang… menggiurkan nan perfect untuk mengisi liburan panjang gw. Dari Carita,Rinjani, Surken, Gunung salak, jelajah wonogiri, sampai Lampung. O well… i’ve been thinking each of the offer… tapi… BELIEVE me… this is hard to decide…akhirnya gw menolak semua ajakkan itu. dan memilih untuk TIDAK mengerjakan proyek buku dan getting drunk di hari lebaran. (^^)>. I’m not proud at all with my choice. But… i’m not regret it too. I’ve choose dan bukan waktunya menyesal tapi menganalisa akibat dr keputusan itu.

Jadi… akibat seminggu di jakarta tanpa bekerja, gw menemukan betapa kota bukan lagi tempat yang bisa memberi gw perasaan “hidup”. Gw pergi ke mall, felt nothing but bored. Yeah… walking around in the mall… really really nothing compare to walking around in the forest. HAH! dan kesadaran ini membuat gw berpikir bahwa gw tidak lagi layak disebut anak mall.(><). apa iya… gw sudah ga bisa “hidup” di kota lagi? dan i really want to know the answer… so gw “meliburkan” gunung dr hidup gw.  well… that’s only one of the reasons why i gave up all the offers, masih ada hal lain lagi yang lbh dominan dan ga bisa gw sebut disini tapi yang ngaku temen deket gw pasti kurang lebih udah dpt jatah dumel-an gw.(><). Gw…hmmm…. cm pengen tahu… kenapa gw ga lagi bisa menemukan Tuhan selain di gunung? kenapa Tuhan cuma terasa dekat di  Puncak? dan kenapa CintaNya terasa lebih nikmat diatas sana? because…. bukankah akan baik jika dimanapun gw berada gw bisa menemukan Dia? there’s something wrong with me addicted to mountain and become anti-city social life girl thing. so… i think i need to do something to balance it .

Well… i don’t know why… tapi pernah ga seh lo berpikir… betapa berbedanya benda2 alam di gunung dan di kota. for example: matahari. Di gunung matahari adalah sahabat yang selalu tersenyum ramah, bersinar menghangatkan jiwa sedangkan di kota, matahari adalah musuh yang gw benci keadaannya, begitu terik, panas menyengat,  dan menyebalkan. KOQ bisa yah? padahal matahari itu adalah matahari yang sama yang menyinari gunung dan kota bersamaan. Kenapa bisa terasa begitu berbeda keadaanya? itu adalah salah satu pertanyaan yang… jadi buah pikiran gw. (hasil salah satu mimpi di tidur siang hari liburan).

Matahari, bulan dan bintang… di kota, sekarang ini ga menarik di mata gw. entah kenapa. tapi kalo lg di gunung… begh… i’ll watch them directly, dalam hati ga berhenti merayu kecantikkan mereka. and actually more to… “can-not-take-my-eyes-off -you” sight.(**) sedangkan matahari, bulan dan bintang di kota akan menimbulkan “it’s-time-to-kiling-you” sight.(><‘) hahaha… hiper deh gw… tapi yah gt lha…entah kenapa. pdhal mereka ga brubah2, cm gwnya aja yang pindah-pindah tempat memandang mereka. so… to sum up… it’s my opinion and the way i love them, that had to be changed! am i right? gw ga mau jadi orang yang cuma bisa menikmati dan mencintai alam ketika berada di gunung atau pantai saja. tapi gw mau cinta gw ke alam, cinta gw ke Tuhan-specially- ga tergantung gw ada “dimana”. So… eksperimen lha gw… berusaha menikmati alam di kota dan mencintai mereka dari kota.

and it’s harder than i thought before. Padahal dulu sebelum gw mengenal gunung, kota udah menjadi rumah gw bertahun2, dan gw mencintai keadaanya. begitu kenal gunung… begh… kota itu dah kaya neraka yang bikin orang susah. hahahaha… ternyata gw bukan orang yang setia yah? (“p). So this holiday… gw berusaha lagi… menumbuhkan cinta untuk kota Jakarta ini. jadi… kemanapun gw pergi… gw akan selalu ingat bahwa rumah gw adanya di jakarta. (kan ga mau juga gw satu rumah sm jin2 gunung).beside esensi dr lebaran kan “berada di kampung halaman”, and Jakarta supposed to be my homeland. (^^). well… i think it might take some time to fall in love with jakarta again. but at least i try. dan satu hal lagi… yang bikin gw less love to the city… it’s because…my closest-almost-like-a-sister friends, is not live in the same city anymore. I guess… their presence around me was the reasonable things that make me want to stay, but when they’re gone… it left me a big hole that I never know until yesterday. The stars in city night sky looked brighter because i enjoy it with my friends, talking about our life, sharing our dreams, and else. Walking around in the mall was not boring at all because we shopped together, laughing, crictized the-girl-who-not-belong-to-that-guy, and else. maybe… i hate city nowadays, because it reminds me that the two of them is not that close anymore. I miss you… a lot… yoyo and nenek. (T.T). really hope when you girls come back, we can have enough time to had fun again…And of course… Holiday… is time when i miss my father the most.

Jadi hasil dari liburan di kota gw kali ini adalah… gw jadi sadar bahwa betapa selama ini yang membuat gw merasa “hidup” di kota adalah teman2 dan keluarga gw. dan betapa selama ini dengan egoisnya gw telah menelantarkan  mereka hanya untuk memuaskan ego gw di gunung. Jadi di luar kegiatan makan-tidur-nonton  di hari libur, gw menyediakan waktu untuk kumpul2 lagi sm keluarga, nengok anak temen gw yg baru lahir (this cute baby girl… named Carine Jovela Oetomo… usianya br seminggu… tp adorable bgt), minum-minum sambil ngobrolin kehidupan & cinta sm teman2 gading gw, nonton… and else. O yeah… trying to finish the “book”…*sigh*. Sometimes i had fun. but i can not lie that i don’t miss mountain. last night… i cried just because i miss it so much. (yeah… i know it’s weird). somehow it’s hurt me, and… well… it made me pray… (><)>. Tapi emang ada waktunya… untuk memperhatikan orang2 terdekat atau belajar mendekatkan diri dengan teman dan keluarga agar perasaan “ini rumah gw” ga hilang lagi. I still need someone to tell me “welcome to the real life, it’s sucks but you will love it”. gw masih butuh perasaan “i belong here”. Tempat dimana orang-orang gak hanya tahu nama gw, tapi juga hidup gw. Tempst dimana gosip adalah faktor penting untuk dekat satu sama lain. tempat dimana semua orang sok cuek tapi sebenarnya memperhatikan. Dan untuk itu semua… gw akan rela menolak gunung. I hope it’s not too late…

Anyway… akhirnya hari ini gw iseng ngajak salah satu temen baik gw juga untuk pergi ke ancol memuaskan HBA (haus belaian angin) gw. dan itu mengembalikan mood gw banget. Duduk di dermaga, dengan kaki bermain ombak, dibelai angin, dihibur ubur-ubur, didendangkan duta “sheila”, dicintai matahari… well… who can resist that? not me of course. hahahaha… gw nolak hari2 di surken, gunung salak, carita, wonogiri atau lampung hanya untuk 3 jam duduk di dermaga pantai carnaval, mengamati betapa kotornya laut jakarta … What a bitch! My God… i must LOVE Jakarta so much or just a stupid ordinary girl.(and i hope it’s not counting to “complain thing” during holiday) (^.-). eniwei… i survive though. (^^). And clearly i’m strong enough to reject the mountain fetish….

To sum up… I guess… it’s so easy to love every-nature-thing in the mountain, because, they naturally there, live in honesty and “not trying to look beautiful” at all, hence do look-beautiful, it’s the true real God’s artwork. While in the city, every-nature-thing it’s not really real, it’s all human made based on God creation, hence the soul of the nature-thing also not really real. That’s why it’s so easy for me to find His Soul in the mountain, and as beautiful as it is, I really “can’t-take-my-eyes-off” it.It’s love at first sight.(^.-).Tapi tetep bukan alasan buat gw untuk terlena dan melupakan hal lain. While in the city… i need outside factor called FAMILY and FRIENDS to help me feel the Soul of His Love. Because…In City that’s the only thing which is closest to His Image. (^^). And i need all of it in my life.  Someday… I hope… these two kinds of love can be united. Enjoy the summit with several family and close friends… I think… it’s when and where i feel closest to heaven. (^^)>. And then that’s how i got inspiration to get marry at the mountain.(^^).

Tapi dipikir2… itu lha gunanya liburan yah.hahahaha… hari dimana lo bisa menikmati alam bersama teman dan keluarga…take a day off dari kota tempat beraktivitas. so kenapa di gw hasilnya kebalik gini yah? hmmm… there’s something still wrong here… o well mungkin dengan ketidakpergian gw… bisa menambahkan space di tempat2 wisata jadi yg lain bisa liburan dan having fun. gantian nanti giliran hari kerja… gw yang jalan2, hahaha… is this reasonable?  …(^^)eniwei  my pray, Lord… I hope i Can Love you everywhere, anytime my Lord. Feel Your love beyond everything and everyone in my life wherever i am. Amin. (^^)

Iklan

2 pemikiran pada “Mountain Fetish effect

  1. thats why… u belong to me…. kqkqkqkq….

    gw juga kangen banget monce…. akhrnya lo menyadari kalo gw lbh berarti daripada gunung2 itu… heheheh… peace… ^^

    counting days kok… tunggu pyo di jakarta… (lagu sheila on 7 kan???… hehehe…)

  2. yah niq…. gw rasa salah satu yg perlu lo ubah adalah cara berpikir lo… so that u can feel Him not only on the mountain….

    …u will love ur life if u know how to live….

    “…..gw masih butuh perasaan “i belong here”. Tempat dimana orang-orang gak hanya tahu nama gw, tapi juga hidup gw. Tempst dimana gosip adalah faktor penting untuk dekat satu sama lain. tempat dimana semua orang sok cuek tapi sebenarnya memperhatikan….”

    Kutipan yg di atas ini bener2 mirip film seri gossipgirl banget, niq! Para sobat2 di film itu ga pernah men-judge apa yg dilakukan sahabatnya tp mereka selalu care n siap menolong klo sahabatnya kesulitan. itulah yg gw suka dr film gossipgirl!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s