Story of them


Dear all… Hai!  Hmm… kali ini mungkin gw mau sharing sesuatu yang agak2 serius.. Semoga kalian ga bosan bacanya. Tulisan ini sebenarnya dah lama gw mulai… tapi baru sempat gw terusin dan kirim sekarang… hehehe… ini buat anak2 jsn dan magis… enjoy fella!

Well…  berapa hari belakangan ini, di kepala gw bercokol beberapa pemikiran yang hmmm… cenderung bikin pusing se tapi entah kenapa punya daya yang justru membuat gw makin terpacu untuk belajar, belajar dan belajar lagi. So … I would like to share it to all of you. Dengan harapan… mungkin perubahan yang lebih baik bisa kita lakukan bersama-sama.

Terus… gw emang belom nulis refleksi gw selama kegiatan Magis kemarin dan apa yg gw tulis sekarang ini mungkin adalah tema besar yang terus gw refleksikan dan pikirkan  sebelum, selama, maupun sesudah Magis. Eniwei… let’s just start it. I will start with the fact…

Hari minggu kemarin (5 Oktober 2008)… untuk pertama kalinya gw dan Jungsie (salah 1 teman JSN) berkunjung ke Muara Angke setelah terjadi kebakaran. Tujuan kami adalah untuk melihat kondisi TAMBA (taman bacaan) yang kami (JSN) pernah usahakan, pasca kebakaran. Beberapa minggu sebelumnya kami mendapat kabar dari Pak Marsudi mengenai kebakaran yang melanda hampir sebagian besar perkampungan nelayan di Muara Angke. Dan TAMBA yang baru beberapa bulan kami usahakan ada disana pun ikut terbakar. Dan dari sinilah semuanya tiba-tiba membuncah, menggerakkan gw untuk menulis sedikit kegelisahan gw. (^^).

Kegiatan Magis mengijinkan gw untuk melihat realitas dengan mata kepala sendiri, betapa jarak antara si miskin dan si kaya di kota bernama Jakarta, begitu jauh membentang. Ciliwung dan Bantar Gebang, adalah dua daerah yang dipilih untuk kami-para peserta Magis, mencecap sedikit realitas itu. Dan bersama anak-anak JSN, gw pun pernah mencecap sedikit realitas di Muara Angke & Muara Kapuk. Tapi bagaimanapun gambaran yang gw lihat dan gw rasakan selama live-in di Bantar Gebang dan berkunjung ke Muara Angke, gw yakin seyakin-yakinnya itu tidak akan pernah sama dengan Hidup yang harus mereka jalani hari per hari dengan kondisi yang bagi gw… menyayat hati.

Penduduk Kampung Nelayan Muara Angke hidup di tepi laut Jakarta. Mereka tinggal di pinggiran. Dan arti dr pinggiran disini adalah benar2 pinggir Jakarta. Baru pertama kalinya seumur hidup gw… gw melihat pantai yang tidak berbatasan dengan pasir melainkan berbatasan langsung dengan timbunan sampah. Dan gw tidak menemukan air laut biru dengan ombak berbuih putih melainkan air hitam pekat kental yang bahkan tidak berbuih, bergelombang seperti lumpur. Dan sebagai ganti pohon kelapa adalah pohon2 bakau yang hampir mati dengan rawa yang mengeluarkan bau busuk. Euh…. Jauh bgt dr yang namanya pantai! Sampah, sampah dan sampah dimana-mana. Belum lagi timbunan kulit kerang yang menimbulkan bau amis. Melihat aja malas, apalagi nyebur disana. Dan coba tebak… siapa yang tinggal di pantai sampah itu? Yep! Penduduk Muara Angke. (^^).     Jalan-jalan di kampung nelayan muara angke bukan jalan biasa berbalut aspal atau bahkan bukan tanah sama sekali, jalan-jalan disana terbuat dari tumpukkan sampah kerang.jadi setiap melangkah pasti kaki mengeluarkan suara ”kretik-kretik”, kaki-kaki kita lha yang menjadi mesin penghalus jalan itu sendiri.

Dan… bisa dong nebak sendiri… dengan timbunan sampah dan bau anyir dari sampah kulit kerang busuk… apa yang berterbangan menghiasi udara disana? YEP! Lalat2. itu bukan Cuma satu dua lho…! gw pernah liat… satu tempat yang seluruh permukaannya dikerebunin lalat.Dan coba tebak… siapa yang tinggal di pantai sampah itu bersama-sama lalat itu? Yep! Penduduk Muara Angke. (T.T). Perbandingan populasi lalat dan penduduk kampung nelayan itu mungkin sekitar 30:1. entah lalat yang menjajah tempat tinggal manusia, entah manusia yang menjajah tempat tinggal lalat.yah logikanya… antara… manusia sudah segitu kekurangan tanah untuk tinggal sampe harus menjajah tanah lalat atau manusia sudah segitu miskinnya sampe harus numpang di rumah lalat.ga tau yang mana yang benar… gw seh berharap semuanya salah. HAH! Tp itulah realitasnya. Memprihatinkan memang.

Oke! Itu satu gambaran dari pantai sekarang kita lari ke bukit…

Penduduk TPA Bantar Gebang hidup di daerah pergunungan Jakarta. Mereka tinggal diantara bukit-bukit. Bukan! Bukan gunung-gunung hijau dengan bukit2 kecil yang rindang seperti yang sering gw ceritakan dalam catper2 gunung gw… Bukit tempat penduduk TPA Bantar Gebang tinggal, terbuat dari sampah. Kertas-kertas bekas, sisa makanan, botol-botol kosong, plastik, ban bekas, dan segala macam hal lainnya yang dah punya gelar “bekas”, “sisa”, dan “sampah”, semua dikumpulkan di suatu lokasi untuk menafkahi penduduk TPA Bantar Gebang.YEP! hebat yah Jakarta! Segala sesuatu bahkan sampah, barang sisa, barang tidak terpakai bisa diolah dan disulap jadi duit. Siapa bilang kita miskin? Siapa bilang kita bodoh? Negara mana coba yang alamnya sebegitu produktifnya sampai2 gunung sampah pun masih bisa memberikan makan bagi penduduknya?
Kalau diatas gw cerita betapa ”eksotis”-nya pantai sampah di jakarta, sekarang coba gw lukiskan yah keindahan gunung sampah di jakarta. Sepanjang mata memandang bukit-bukit bertingkat lima setinggi kurang lebih (50 meter?) berdiri mengelilingi perkampungan. Bukit itu dibangun oleh mesin-mesin pengeruk sampah. Perutnya berisi sampah-sampah produksi industri rumah dan kantor di Jakarta.

Tau sendiri kan betapa penuhnya orang Jakarta, dan berapa banyak sampah yang bisa dihasilkan dari berbagai macam kegiatan? Nah kalo mau menghitung berapa banyaknya sampah penduduk kota jakarta, pergi saja ke TPA Bantar Gebang tanah seluas… berapa puluh hektar (gw pernah nanya tapi lupa berapa luasnya) isinya sampah dari seluruh kota Jakarta. Dan layaknya pabrik, di tempat ini… tidak ada kata istirahat. Sampah-sampah itu datang 24/7 dari seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya. ini pendapat gw aja seh…kenapa demikian? soalnya kalo ga demikian Jakarta udah ga Cuma banjir tiap 2 tahun sekali tapi tenggelam tiap hari. Yang artinya daerah jakarta di peta dunia ganti warna dari hijau suram gradasi abu-abu jadi coklat suram gradasi hitam, dan kita kan ga mau itu terjadi. Kurang colorful nanti. Indonesia kan terkenal sebagai manikam khatulistiwa, masa ibu kota negaranya diwarnai coklat suram gradasi hitam.Apa kata dunia? Terus nanti istana negara, gedung MPR, tempat petinggi-petinggi Indonesia mengeruk uang ”demi rakyat” harus dibangun diatas ketinggian 2989 MDPL…(setinggi gunung gede tuh) wuah… buang duit rakyat lagi nanti…no…no… kita ga mau itu terjadi!

ehemmm… eniwei…back 2 lukisan kata gw soal TPA bantar gebang, Yah dengan sampah sebanyak itu datang setiap hari… akan mudah membayangkan sebuah lokasi dengan bukit-bukit berisi timbunan sampah.ok. tahan bayangan bukit-bukit sampah itu yah. Terus sekarang… pernah lewat deket truk sampah kan? Kecium aromanya? (^^). Apa wanginya? Campuran bau bangkai dan anyir yang akan membuat lo berpikir “oh… jadi gini wangi bunga cantik besar bernama Rafflesia…” walaupun lo belom pernah ketemu si bunga raksasa ini. Yah… bayangkan lagi… lo harus hidup setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, setiap mengambil nafas… mencium aroma tersebut. setarikkan nafas… bau bangkai… setarikkan nafas bau bangkai lagi… setarikkan nafas masih bau bangkai…  kalo 5 menit menghirup aroma bangkai itu bikin perut mual, nah… kalo seumur hidup menghirup aroma tersebut, suatu hari lo akan mual setiap kali menghirup oksigen bersih. Bisa-bisa pengharum ruangan lo nanti berjudul seputar “aroma bangkai” dengan tag line…. nikmati udara kampung halaman TPA Bantar Gebang anda, semudah ini…. Hahahaha dodol! Can u imagine that? Pengharum ruangan beraroma bangkai.and people buy that? Wuah pasti saat itu dunia ga punya bunga lagi…! oooppss… sorry … gw menyeret kalian terlalu dalam ke imajinasi gw yah… hahahaha… maaf terbiasa berimajinasi dalam konteks iklan. (“p).yah I hope you do can imagine the smell… nah! Sekarang apalagi yah yg bisa gw ceritakan? Hmmm perihal lalat? Ya iyalah ada lalat disana. Masa ada ladong (halah…) hmm… yah… bukit sampah… jalanannya masih lebih baik lha disini… bukan kulit kerang tapi gundukkan sampah… bercampur tanah. Asal lo jalan dengan alas kaki, beling ga akan nusuk kaki lo koq. Agh… gw punya fotonya… mgkn nanti gw lampirkan deh… (pasti disini kalian mikir… drtd keq kan gw jadi ga usah ribet2 baca lukisan kata lo yang ga penting seputar pengharum ruangan beraroma bangkai… in my defence… you’re reading my write… what do you expect? tulisan penting yg bisa mengubah hidup lo? (“p)>. Mwuahahahaha… ketipu sama paragraph pembuka gw yah? Kasihan…)

OK! Gw sampe mana tadi? D*mn gw lupa mo nulis apa… yah intinya… itu kurang lebih realitas yang ada disana.sekarang refleksi gw…
Pertama kali gw melihat realitas-realitas itu… gw ga percaya ada manusia yang hidup dalam lingkungan separah itu. dan sampai sekarang gw menghormati mereka dengan sangat. Kekuatan daya tahan hidup mereka terhadap lingkungan yang tingkat hidupnya berada dibawah garis kemiskinan kalo bahasa keren yang dipakai di magis: “dimarginalkan”… mengagumkan buat gw. Pertama kali gw jalan-jalan ke muara angke dan bersinggungan langsung dengan kehidupan yang begitu jauh berbeda dengan apa yang seumur hidup gw kenal, gw berusaha memahami sudut pandang mereka. Dan yang gw pertanyakan pertama-tama adalah… apa yah kira-kira yang terlintas dalam pikiran mereka ketika di suatu malam yang indah bertabur bintang, udara beraroma anyir, dan lembab dalam rumah tripleks mereka, menonton seorang artis-artis seperti Chinta Laura berujar “dari kecil papa sudah punya banyak mobil waktu di German kita punya 5 mobil tapi karena garagenya tidak cukup jadi papa menjual mobil-mobil itu tinggal 2. tapi aku paling suka yang Audi A4… “.. yeah Chinta kamyu meymangh inspairing… we all sooo… need that kinda of crab!

Ehem… eniwei… saat itu gw membayangkan… betapa ironisnya kehidupan yang begitu gemerlap dalam kotak TV mereka (mrk blom sampai pd tahap flat TV, kawan), dengan kehidupan mereka sendiri yang notabene dibangun diatas timbunan sampah orang2 gemerlap itu. kalo jadi mereka mungkin gw akan mungutin sampah sambil mikir… “kyaaa…. Ini sampah dari rumah Chinta laura yang katanya dulu punya audi a4…kyaaa……” dengan mata terharu saking stressnya. Makanya gw salut mereka masih bisa bertahan waras disana.

Well… I can write more and more about this… all the things that happen there… somehow touch my heart… dan gw yakin gw ga sendiri ketika perasaan2 itu muncul, selama tinggal disana. Peserta dan panitia bahkan cinta laura sekalipun akan tersentuh menangis membabi buta dengan pemandangan realitas seburuk itu. Dan seberapa banyak pun kata-kata yang gw tulis untuk menggambarkan betapa menyedihkan dan menyayat hatinya realitas itu ga akan sama dengan perasaan sebenarnya. I guess… experience it by yourself… than you’ll know how it feel otherwise it just the hearsay.lalu  Biarlah kata-kata itu menjadi rasa yang kita semua diam-diam rasakan… dan percakapan hati itu hanya terjadi antara hati kita masing-masing dengan Tuhan si empunya kehidupan. .(well… mgkn ini cm alasan gw blom siap sharing aja… atau dengan kata lain malas nulisnya… hahaha…) Kita bisa marah… kita bisa sedih… kita bisa ga peduli dengan semua itu… itu urusan kita masing-masing… tapi… hmmm gw ga bisa menggambarkan dengan baik… tp kutipan di bawah ini… bener2 merangkum dan sedikit menjawab pertanyan2 gw. So… here is…

I would like to express a question that makes life rather unhappy. What would we say to a child born ill in a poor country with a practically inexistent national health system? A child that has the dream that one day he/she will become a scientist, a singer, a dancer, a poet, a writer …


“Life” is generous with some people and hard with others. It makes people desire things and at the same time it removes from their hands the power to realise them.
Does “life” looks favourably some and treats others with contempt?

Injustice exists and I can’t pretend to have an answer for that. I’m not a guru and I can’t explain why bad things hapen to honest, innocent people.
Nevertheless I think that we are all responsible if the world is the way it is. That’s why instead of looking for the guilty or for the weak, we should rather focus in our attitude.
We cannot set out to change the world without first changing ourselves. If we are capable of that – mending our ways, being generous towards life – then we will leave a trace of goodness in this world. There’s a wide range of heroes that work in silence and that try to enhance the state of the world.
We are the building blocks of “life” – change is in our hands.
(kutipan dari Paulo Coelho, penulis Buku best seller international “The alchemist”.sumber: http://www.paulocoelhoblog.com)

Yup… berita baiknya kawan… di lingkungan seburuk gunung sampah TPA bantar gebang… matahari masih terbit setiap paginya menyinari dunia… matahari masih membagi cintanya dengan rata.memberikan nafas kehidupan di berbagai lingkungan. So… kita masih punya harapan2. Selama matahari tidak menyerah menerangi bumi… gw rasa… kita juga ga boleh nyerah berjuang. Hehehehe.

Buat temen2 magis:
Hehehe… so terkait dengan pertemuan magis kita yang berikutnya… dream vs reality… I just want to share something… yang mungkin bisa kita renungkan bersama dan kemudian bisa dibawa dalam magis circle kita.yah… I write no more words… dan gw nantikan sepak terjang kita semua selanjutnya nanti. Ini realitas sosial kita… bagaimana menjembati mimpi kita untuk menjawab masalah-masalah itu? bagaimana menyatukan mimpi  dengan realitas? Bagaimana memanfaatkan kesempatan yang diberikan hidup pada kita-kita yang masih beruntung memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita? Andrea hirata sudah memulainya… berikutnya … I would like to say… Monica Wibowo? Hahaha… narsis mode on…

Buat temen2 jsn:
So… inilah realitas alam yang terjadi di sekitar Jakarta. Buat gw sendiri mengerikan membayangkan gunung2 dan pantai2 yang seringkali kita kunjungi berubah menjadi sampah… jadi gw harap kita semua masih bersemangat berjuang untuk lingkungan.

Buat semuanya:
Mungkin bisa bikin satu acara gabungan magis dan jsn… secara kita mengusung spiritualitas yang sama. Gimana? Hehehe.. Cuma usul. It will be great… I guess… sharing kita bs lebih penuh dan kaya nanti.
O ya selamat hari sumpah pemuda… 28 oktober yang lalu yah. 100 tahun yang lalu pemuda Indonesia bersatu membuktikan diri bahwa mimpi mereka bisa terwujud. Kita lho yang mewarisinya…mau dipakai untuk apa warisan itu? (hahahaha… another question…haduh gw emang ga pernah habis ngomongin masalah beginian… maaf yah jadi panjang…intinya gw cm mo bilang Kita sebagai pemuda-pemudi justru yang paling bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan indonesia dan suatu hari nanti… dunia.so would we stand together as a hero today? There’s only 2 choice… yes or YEAH!!!…)

With love
Monicantiq.

Iklan

Satu pemikiran pada “Story of them

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s