LAPORAN OBSERVASI TUKANG OJEK SEPEDA


LAPORAN OBSERVASI TUKANG OJEK SEPEDA
LOKASI : STASIUN KOTA
Oleh: Monica Wibowo
MINGGU, 11.01.2009

Pram, Hanny, dan saya sendiri Monica melakukan tugas observasi kami pada hari Minggu, di Stasiun Kota. Kami berkumpul di Halte Harmoni Transjakarta pukul setengah 8. Saya sedikit terlambat datang tiba di harmoni. Nampak Pram sudah menunggu di salah satu kursi. Saya pun menghampiri dan langsung menyalaminya. Kami langsung bertukar kabar. Saya menyampaikan kabar berita tentang pengunduran diri Chitra dari KOMjak. Pram sangat terkejut mendengar berita itu. Sambil menunggu Hanny tiba, kami bertukar pikiran soal keikutsertaan kami dalam KOMjak. Beberapa hal menjadi pertimbangan, terutama yang menjadi kendala kami adalah pembagian waktu untuk KOMjak. Namun Pram dan saya sepakat bahwa kami akan mencoba dahulu sampai akhirnya benar-benar sudah tidak bisa melanjutkan. Tidak lama, hanny pun datang, kami segera berangkat menuju Glodok. Cuaca pagi itu mendung tipis dan kelabu, kami sudah takut akan hujan. Perjalanan Transjakarta dari Harmoni ke glodok memakan waktu yang sangat singkat. Karena kami keasyikkan ngobrol, halte tempat kami seharusnya turun, malah terlewat dan jadilah kami berhenti di teminal akhir, stasiun Kota. Kami pun mengubah rencana, dan mencari ojek sepeda dari Stasiun Kota. 

Tidak sulit menemukan Ojek Sepeda di daerah seputar Kota, Kami langsung ditawari para tukang Ojek Sepeda, untuk diantar berkeliling Museum Fatahillah. Tarif yang ditawarkan Rp. 5.000,-/orang. Kami pun langsung setuju dan naik ke sepeda. Sejujurnya baru pertama kali itu saya memakai jasa ojek sepeda. Bahkan setelah sekian lama, sebenarnya saya baru tahu bahwa ada projesi ojek sepeda di jakarta. Tukang Ojek yang memboncengi saya dengan sepedanya bernama Wahyu, dia berumur 25 tahun. Dia sudah lima tahun melakoni profesi tukang ojek sepeda. Biasanya dia selalu mangkal di depan stasiun Kota. Jam operasionalnya dari pukul 05.00 – 19.00. Wahyu tinggal bersama istrinya di sebuah kontrakkan. Biaya kontrakknya Rp. 300.000,-/bulan. Istrinya bekerja sebagai pelayan di sebuah kantin dan juga bekerja sampingan sebagai pembantu cuci. Gaji yang diperoleh istrinya dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sedangkan pendapatan Wahyu digunakan untuk membayar kontrakkan. Pendapatan Wahyu per hari berkisar Rp. 15.000,- s/d Rp. 50.000,-. Pelanggannya biasanya adalah orang-orang yang baru saja turun dari kereta. Biasanya tarif yang ditetapkan oleh Wahyu adalah Rp. 5.000,- untuk sekali jalan. Kadang-kadang ada beberapa pengguna jasa yang tega menawar tarif sampai Rp. 2.000,- untuk sekali jalan. 

Awalnya, sepeda yang dipakai Wahyu untuk beroperasi merupakan pinjaman dari koperasi dengan tarif Rp. 5.000,- per hari. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Wahyu mampu memiliki sepeda sendiri. Dia mengaku tidak tertarik untuk beralih menjadi ojek sepeda motor karena selain mahal, dia juga perlu menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membeli bensin. Sedangkan dengan sepeda dia tidak perlu mengeluarkan biaya macam-macam lagi, selain untuk perawatan. Perawatan sepeda pun cenderung lebih murah ketimbang perawatan sepeda motor. Walaupun sekarang ini sudah banyak kendaraan umum yang beroperasi di sekitar Kota, Wahyu tidak takut kehilangan pelanggan karena sepeda mempunyai kelebihan sendiri. Selain tidak bepolusi, di jalan raya tidak ada aturan khusus bagi pengguna sepeda, jadi mereka bebas berkeliaran kemana saja. Polisi pun tidak pernah mempermasalahkan pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna sepeda. Di tempat wahyu biasa mangkal pun, diakunya tidak ada preman yang menagih iuran. Jadi Wahyu dapat dengan leluasa beroperasi tanpa perlu merasa khawatir.

Lucunya Istri Wahyu tidak pernah mau berkeliling kota dengan sepeda yang dimiliki wahyu. Wahyu berkata bahwa istrinya malu berjalan-jalan di kota besar seperti Jakarta menggunakan sepeda. Oleh karena itu mereka tak pernah menggunakan sepeda jika sedang berekreasi. Biasanya mereka berkendara umum untuk berpergian. Jadi sepeda hanya digunakan wahyu untuk bekerja saja. Dulu sebelum menggeluti pekerjaan ojek sepeda, wahyu bekerja sebagai petani di kampungnya. Namun penghasilannya sebagai petani tidak mencukupi kebutuhan hidupnya dan tidak setetap penghasilan ojek sepeda. Ia belum berkeinginan untuk berganti profesi karena masih nyaman dengan pekerjaanya sebagai tukang ojek sepeda. Jika bekerja dengan orang lain, cenderung tidak nyaman karena tidak bisa sebebas jika bekeja sendiri. Sakit, harus ijin dan penghasilanpun baru didapat di akhir bulan. “daripada hanya tidur-tidur di rumah tidak bergna, lebih baik ngojek sepeda, walaupun penghasilan tidak seberapa, tapi yang penting halal” begitu kata wahyu, ktika ditanya mengapa memilih profesi sebagai ojek sepeda. 

Wahyu menceritakan ini semua sembari memboncengi saya di seputar kota. Pagi itu, dari museum fatahilah, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai perjalanan kami ke tempat-tempat lain. Jujurnya kami belum punya rencana tempat2 yang ingin kami kunjungi. Maka dari itu lah di warteg tempat kami sarapan, kami berbincang-bincang dengan tukang ojek yang kami sewa. Pram yang berasal dari Solo, dengan seketika akrab dengan ketiga tukang ojek sepeda itu. Mereka berbicara dalam bahasa jwa dengan lancarnya. Dan saya dengan hanny hanya bisa makan sambi mendengarkan menebak isi pembicaraan mereka. Jujur pada saat itu saya sangat iri dengan Pram yang bisa dengan mudah berkomunikasi dan mendpatkan informasi dari para tukang ojek. Ah… Seandainya saya mengerti bahasa Jawa. Setelah bercakap-cakap, tukang ojek sepeda yang membonceng Pram dan Hanny, mengijinkan kami untuk mampir ke kontrakkannya. Jadilah kami semua mengunjungi kontrakkan mereka. 

Kontrakkan Pak xxx adalah tempat pertama yang kami kunjungi. Karena letaknya paling dekat dengan warteg tempat kami sarapan. Tempatnya agak masuk ke dalam sebiah gang sempit. Tempa ini nampaknya disewakan dan dikontrakkan untuk berbagai orang. Kiri kanan gang terlihat orang-orang sibuk melakukan aktivitas, kamar-kamar kecil dan kumuh terbuat dari tripleks. Jalanan masih becek oleh karena hujan turun pagi tadi. Di seberang kamar pak xxx nampak parkiran sepeda dan memang terlihat beberapa sepeda diparkir disana. Setelah Pak xxx mermakir sepedanya ia mengajak kami masuk ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Kamarnya gelap dan terlihat sumpek, tidak ada barang berharga nampak di kamar itu. Hanya ada sebuah lemari dan beberapa pakaian digantung di pinggir tembok. Sebuah kipas angin kecil tergantung di langit-langit, penerangan seadanya, dan tumpukan obat nyamuk bakar terlihat di pojok kamar itu. Kamar itu berukuran kuarng lebih 2×3 meter dengan sekat di tengahnya. Di kamar inilah Pak XXX dan keenam temannya tinggal menetap. Saya kaget sekali ketika diberi tahu bahwa mereka tinggal bertujuh orang disana. Kamar itu begitu kecil, bahkan mungkin lebih kecil dari kamar saya. Tapi Pak xxx menyewa kamar itu dan berbagi dengan 6 orang dewasa lainnya. Semuanya berprofesi sebagai tukang ojek sepeda, dan semuanya berasal dari kampung yang sama. Di tempat ini kami kemudian ngobrol dan berbagi informasi. Pram bercakap dalam bahasa jawa. kadang2 saya ikut nimbrung bertanya apa maksud pembicaraan mereka.    

Dari apa yang saya tangkap, Pak xxx bercerita bahwa sudah hampir 10 tahun dia bekerja sebagai tukang ojek sepeda. Berawal dari tahun 1998, pak xxx datang ke jakarta, untuk bekerja sebagai tukang bangunan dalam sebuah proyek bersama teman-temannya. Namun proyek itu tidak bertahan lama. Akhirnya pak xxx pun bekerja sebagai tukang ojek sepeda. Awalnya dia meminjam sepeda dari koperasi, tapi sekarang ia telah memiliki sepedanya sendiri. Rata-rata pendapatannya sama dengan wahyu, sekitar Rp 15.000,- s/d Rp.50.000,-. Pak XXX pun mengaku sudah nyaman dengan pekerjaannya sebagai  tukang ojek sepeda. Walaupun penghasilannya pas-pasan, namnu semua itu masih lebih baik ketimbang bekerja di desa. Setiap 1 bulan sekali pak xxx pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi anak-istri. Uang untuk keluargapun biasanya dikirim dengan wesel atau menitip teman sekampung. Untuk pengiriman uang dengan wesel mereka dikenakan biaya sekitar dua puluh ribu rupiah untuk sekali kirim. Pak xxx bercerita sedikit tentang anak-anaknya.  Ia mempunyai 2 orang anak. Salah satu anaknya bersekolah di sekolah dasar. Dia sempat mengeluh bahwa biaya sekolah untuk TK sekarang besarnya hampr sama dengan biaya sekolah untuk SMP. Padahal tingkatnya berbeda. Untuk berkomunikasi dengan keluarganya biasanya pak xxx meminjam handphone milik temannya. Mereka berkelompok satu sama lain saling membantu. 

Dari kamar kontrakkan pak xxx, kami melaju ke rumah tukang ojek satu lagi yang bernama pak yyy. Kontrakkannya pun tidak jauh dari daerah seputar kota. Kami tidak berlama-lama disana. Hanya melihat keadaan lingkungan dan bertanya satu-dua hal. Pak yyy nampak enggan memperlihatkan kamar kontrakkannya yang disewa bersama 2 orang temannya. “berantakkan, masih kotor” begitu katanya. Makanya ia malu memperlihatkan kamarnya. Kami pun tidak memaksa, jadi kami hanya melihat dari pintu saja. Kamarnya masih lebih besar dar kamar pak xxx. Harga sewa perbulannya Rp. 150.000,-. Isinya memang berantakkan, berbagai barang tergeltak di dalam. Lebih nampak seperti gudang sebenarnya ketimbang sebuah kamar tinggal. Ia sudah tinggal di tempat itu bertahun-tahun lamanya. Sama seperti pak xxx, pak yyy telah berprofesi sebagai tukang ojek sepeda puluhan tahun lamanya. 
Dari tempat pak YYY, kami bertiga pun meminta untuk diantar kembali ke stasiun kota. Sesampainya disana kami berpamitan dan berpisah. Selesai sudah observasi kami.

 

Sejujurnya, saya baru memperhatikan keberadaan ojek sepeda ini, gara-gara tugas komjak ini. Sebelum-sebelumnya mungkin cenderung tidak peduli. Berkat observasikemarin saya jadi memperhatikan dan sedikit memikirkan tentang keberadaan ojek2 sepeda ini. Sebenarnya agak aneh memang di jaman dengan kemajuan teknologi seperti ini, masih dapat ditemukan tukang ojek sepeda apalagi di kota metropolitan seperti Jakarta. Perjuangan tukang ojek sepeda di tengah belantara Jakarta memang tak mudah, mereka harus bersaing dengan angkutan umum lain seperti motor, bus, transjakarta, mikrolet, KWK, bajaj, bahkan taksi. Jika dilihat dari tingkat kenyamanan, kecepatan, dan efektivitas, ojek sepeda akan terletak pada strata terendah dalam tingkatan angkutan umum. Bagaimana tidak, secara penumpang, ojek sepeda hanya mampu mengangkut satu penumpang, maksimal 2 orang anak kecil. Dari segi kecepatan, jelas sepeda tidak melaju secepat angkutan umum lainnya, karena kayuhannya masih tenaga manusia. Dari segi kenyamanan,mungkin masih bisa bersaing tapi tetap sepeda tidak akan diletakkan sebagai tiga pilihan teratas. Dengan segala “kekalahan” ini, nyatanya Ojek sepeda sampai saat ini masih bertahan. Walaupun menurut saya ketahanan ojek sepeda melawan jaman sekarang ini juga pas-pasan. Yah.. Di tengah persaingan memperebutkan semangkuk nasi setiap harinya memang tukang ojek sepeda masih lebih menang dari pengemis. Tapi tetap saja kan… Mereka-mereka yang bekerja sebagai tukang ojek sepeda tidak dapat menaikkan tingkat kesejahteraannya. Mereka hidup menerima keadaan, mengadaptasikan diri dengan pendapatan pas-pasan, dan bertahan hidup bersama sepeda mereka. Tidak menuntut kesejahteraan yang lebih baik yang seharusnya menjadi hak mereka. Mereka terbiasa puas dengan pendapatan mereka sehingga tidak lagi mempunyai keinginan untuk menaikkan tingkat kesejahteraan mereka. Atau mungkin keinginan itu ada hanya saja kesempatan untuk itu tidak terbuka lebar bagi mereka.

Tiga orang yang kami jadikan narasumber mengaku bahwa mereka telah nyaman hidup sebagai tukang ojek sepeda, meski dengan pendapatan seadanya setidaknya uang yang mereka dapat halal.Rata-rata lebih dari lima tahun mereka menggeluti profesi sebagai tukang ojek sepeda.ini artinya mereka terbuai oleh kenyamanan mereka. Dan yang membuat saya juga agak kaget, rata-rata dari mereka berasal dari daerah luar jakarta. Tiga orang narasumber kami ini saja, langsung akrab dengan pram karena satu lidah. Saya sempat menanyakan, mengapa datang jauh-jauh dari desa untuk bekerja sebagai ojek sepeda di jakarta? Pertanyaan ini saya lontarkan, karena menurut saya ojek sepeda itu bisa kan dilakoni dimana saja, dan lagi bukankah di desa ada lebih banyak pekerjaan dengan pendapatan yang mungkin hampir sama dengan pendapatan tukang ojek sepeda. Lalu mengapa harus jauh-jauh bela-belain diri berjuang di jakarta dengan berprofesi sebagai tukang ojek sepeda? Mungkin sebenarnya pertanyaan ini tidak khusus bagi mereka, tapI juga bagi perantau-perantau lain yang juga mencari kesempatan dan peluang hidup di jakarta. Dan pertanyaan ini dijawab demikian oleh mereka: bahwa di desa pekerjaan tidaklah sebanyak di jakarta, dan lagi yang bisa mereka lakukan hanyalah menjadi buruh tani ataupun buruh pabrik. Pekerjaannya jauh lebih berat tapi penghasilannya sama saja dengan  menjadi ojek sepeda. Secara umum kemudian saya menyimpulkan bahwa diantara pilihan-pilihan profesi yang bisa mereka jalani untuk menghidupi diri dan keluarga, bagi mereka, profesi tukang ojek sepeda adalah yang terbaik. pekerjaan yang bisa dan mampu mereka lakukan dengan baik.

Dan kesimpulan itu membuat saya terpaku juga. Memang menjadi tukang ojek sepeda tidak memerlukan ijazah atau bahkan surat ijin mengemudi, hanya dengan bermodalkan kemampuan mengayuh sepeda dan sebuah sepeda, mereka sudah dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk makan sehari. Dan syukur-syukur bisa menyekolahkan anaknya, sehingga tidak bernasib sama dengan ayahnya. Tadinya saya berpikir bahwa kenyamanan mereka menjadi tukang ojek sepeda, membuat mereka malas untuk mencari pekerjaan lain yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka. tapi kemudian, saya rasa terlalu cetek juga jika mengambil kesimpulan “malas” keluar dari comfort zone sebagai penyebab mereka kehilangan motivasi untuk berjuang memperbaiki taraf hidup. Pada kenyataanya bisa saja mereka memang tidak mempunyai modal (pendidikan, kesempatan, wawasan,dll) yang cukup untuk melakukan pekerjaan lain. Sehingga mau tidak mau harus bertahan menjadi tukang ojek sepeda. Lagi-lagi, kalau boleh, saya mau menyalahkan pendidikan yang tidak merata, sebagai penyebabnya. Seandainya mereka punya pengetahuan dan wawasan yang lebih, tentu mereka akan lebih bisa didayagunakan untuk menunjang perekonomian kita di daerah asal mereka. Lihat saja wahyu, umurnya tidak jauh berbeda dengan saya tapi belum-belum, dia sudah merasa nyaman dengan pekerjaanya sebagai tukang ojek sepeda. Apa iya dia mau setiap hari pergi paling pagi pulang paling petang tapi penghasilan pas-pasan seumur hidup? Dia masih muda lho, harusnya masih bisa mendapatkan bekal yang cukup sehingga lebih bisa meningkatkan taraf hidupnya. Dan…disinilah saya menemukan ketidakadilan itu. Betapa tidak meratanya pendidikan di indonesia. Dan betapa ketidakmerataan itu kemudian diatasnamakan sebagai nasib yang harus diterima setiap orang. Kesempatan berkembang bagi mereka yang berada di garis kemiskinan selalu tidak sebesar mereka yang kaya. Mereka harus berjuang lebih untuk mendapatkan sedikit atau cukup. Padahal kadang-kadang, bagi saya perjuangan hidup mereka, tidak senilai dengan uang yang mereka dapatkan…

Iklan

3 pemikiran pada “LAPORAN OBSERVASI TUKANG OJEK SEPEDA

  1. “Jika bekerja dengan orang lain, cenderung tidak nyaman karena tidak bisa sebebas jika bekeja sendiri. …. walaupun penghasilan tidak seberapa, tapi yang penting halal”

    Tul banget, mas!!!!
    enakan kerja sendiri…. yg penting halal…..

    keliling jkt naek sepeda?…why not?…
    klo smua naek sepeda kan asik!
    ngurangin polusi…..

    gw sih fine2 aja naek sepeda…tp tolong yaaa…. itu polusi dikurangin tho!!!

  2. wah aq senang nama q di sebut, om aq nanya donk , masih aktif ndak JSN, bagaiman jadi partisipan supay saya bisa ikutan berkegiatanbersama kalian, tanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s