PAKAIAN BARU SANG RAJA (1)


Nun jauh di sebuah kerajaan hiduplah seorang raja. Ia sangat menyukai sekali menggunakan pakaian baru yang indah-indah sehingga untuk itu ia telah menghabiskan banyak uang. Ia memiliki banyak pakaian yang berbeda untuk tiap jamnya ! Dan ia senang memamerkan pakaian barunya itu kepada rakyatnya.

Suatu hari datanglah 2 orang penipu ulung.Mereka mengaku sebagai penjahit keliling.Dan mereka mengaku mengetahui bagaimana membuat pakaian yang baik, yang sangat indah bahkan memiliki keistimewaan yaitu hanya dapat dilihat oleh mereka yang pintar dan bijak.

“Oh alangkah senangnya jika aku bisa memiliki pakaian itu,” Pikir sang raja. “Dengan demikian aku dapat mengetahui orang-orangku, menteri-menteriku yang cocok dalam perkerjaannya, dan dapat memisahkan mana orang yang pintar dan mana yang bodoh.” Akhirnya sang raja percaya dan segera memberikan uang dan sebuah ruangan dalam istana kepada 2 penipu itu agar segera membuatkan pakaian tersebut.

Kedua penipu itu segera berpura-pura mengerjakan pakaian yang dipesan oleh sang raja. Mereka meminta benang sutra terbaik dan benang emas murni dan kemudian disembunyikan di luar istana untuk kemudian dibawa kabur.

Sang raja merasa tidak sabar, dan mengutus menterinya yang dianggap paling tua, bijak dan jujur untuk melihat pakaian tersebut. Akhinya, sang menteri mendatangi ruangan dimana para penipu itu bekerja. “Ya ampun, aku tidak melihat apa-apa!” Teriak sang menteri dalam pikirannya, sambil membuka matanya lebar-lebar.

Kedua penipu itu mengundang sang menteri untuk datang mendekat, dan bertanya kepadanya apakah warna pakaiannya sudah indah atau belum, sambil menujuk ke ruangan kosong. Dan menteri tua yang malang itu semakin melebarkan matanya.”Astaga, saya tidak bisa melihatnya, apakah saya memang bodoh ? Orang lain tidak boleh tahu akan hal ini.” Demikian pikir sang menteri.

“Bagaimana tuan menteri?” Tanya seorang penipu.

“Oh, luar biasa indahnya, sangat indah warnanya. Dan saya akan memberitahu raja saya sangat puas melihatnya.” Demikian menteri tua itu berbohong. Kemudian ia pergi untuk melapor kepada raja. Kedua penipu tersebut senang dan kembali berpura-pura melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.Dan mereka meminta lebih banyak sutra dan benang emas.

Sang raja kembali mengutus bawahannya untuk melihat sampai dimana pekerjaan penjahit palsu itu. Mereka juga terkejut karena tidak bisa melihat apa-apa.Mereka juga melaporkan laporan palsu dan mengatakan betapa indahnya pakaian itu. Dan akhirnya orang-orang di seluruh kota juga mendengar kabar akan keindahan dan keistimewaan pakaian tersebut.

“Selesai !” Kata salah satu penipu tersebut. Menandakan bahwa pakaian untuk sang raja telah selesai. Dan akhirnya mereka membawakannya ke hadapan raja dan para bawahannya. “Astaga, aku tidak dapat melihatnya, apakah aku raja yang bodoh ? Orang lain tidak boleh tahu akan hal ini” Demikian pikir sang raja sambil membesarkan matanya.

“Bagaimana tuan raja ?” Tanya salah satu penipu.

“Bagus…bagus…menakjubkan…luar biasa !” Kata sang raja berbohong.

“Silahkan anda memakainya.” Penipu itu kembali berkata.

“Oh…baiklah.” Kata sang raja, sambil berpura-pura mengenakan pakaian tak tampak itu.

“Raja kita memang hebat, ia bisa melihat pakaian itu” Pikir para menteri dan bawahan sang raja.

Kemudian sang raja memerintahkan pengawalnya untuk mempersiapkan kereta kuda untuk digunakannya pergi dan mempertunjukkan pakaian barunya kepada rakyatnya.

Orang orang telah berkumpul untuk melihat.Kumudian raja berjalan dijalan hendak mempertunjukkan pakaian barunya. “Luar biasa indahnya !” “Hebat, mengagumkan!” puji orang-orang dijalan.Tidak ada seorangpun yang ingin diketahui bahwa mereka tidak melihat apapun dan takut dibilang sebagai orang yang bodoh.

Tiba-tiba seorang anak kecil berkata,”Tapi sang raja tidak mengenakan pakaian apapun!”

Setelah orang-orang mendengar perkataan anak kecil yang masih polos itu, akhirnya mereka sadar bahwa bukan mereka tidak bisa melihat pakaian raja, tapi sang raja memang tidak mengenakan pakaian apapun ! Dan mereka akhirnya tertawa melihat sang raja tidak mengenakan pakaian. Dan sang rajapun menjadi malu, dan segera pergi kembali ke istana.

(1) Diterjemahkan dari “The Emperor New Clothes” karangan Hans Christian Andersen.Sumber:http://forum.wgaul.com/archive/index.php/t-25938.html

Berapa banyak dari kita yang menertawakan kebodohan sang raja dari cerita di atas?J.Saya juga tertawa ketika teringat cerita ini.Sebelum tertawa lebih lanjut, saya ingin mengajak pembaca melihat sisi lain dari cerita ini.

Kadangkala atau bahkan seringkali kita begitu mudah terpengaruh dengan jargon-jargon sebuah iklan ataupun pemberitaan media yang membuat kita percaya bahwa sebuah produk atau benda begitu bernilai dan berharga.Bahkan begitu besarnya pengaruh itu sehingga mampu menjungkirbalikkan persepsi kita secara umum.Bagi Saya cerita diatas adalah contoh ekstrem yang sempurna untuk mengilustrasikan bagaimana sebagian masyarakat/khalayakbisa dipengaruhi sedemikian rupa untuk “percaya” pada kualitas sebuah produk, bahkan ketika kenyataan yang terjadi di depan mata mereka tidak demikian. Hanya dengan pernyataan “pakaian yang baik, yang sangat indah bahkan memiliki keistimewaan yaitu hanya dapat dilihat oleh mereka yang pintar dan bijak.”Semua orang, dari raja dan menteri paling bijaksana hingga rakyat jelata menolak untuk menyatakan kebenaran bahwa sesungguhnya mereka sama-sama tidak melihat pakaian tersebut.Konyolnya mereka lebih memilih berbohong agar terlihat pintar, dan tentu saja yang paling konyol adalah sang raja, yang rela telanjang untuk membuktikan betapa pintar dan bijaksananya dia dalam balutan pakaian yang bahkan tidak nyata.

Ironisnya, dewasa ini melalui fenomena budaya popular,tanpa disadari kisah serupa terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sang Raja& menteri dapat mewakili kaum borjuis, yang dewasa ini memang cenderung didominasi kelompok menengah keatas.Sama seperti raja yang suka berganti-ganti pakaian, kaum ini menyukai budaya popular yang selalu berganti dengan cepat. Faktor-faktor pendukung citra Raja adalah hal terpenting melebihi persoalan apapun seperti kebijakkan negara, kesejahteraan rakyat dan kepentingan umum lainnya. Segala yang mendapat perhatiannya melulu mengenai citra diri dan bagaimana mempertahankan citra tersebut dimata orang-orang sekitarnya. Sifatnya yang gemar memamerkan dan bersolek membuatnya lupa bahwa dunia tidak berputar hanya untuk dirinya sendiri.Makanya para menteri dengan cepat berlomba-lomba menceritakan keindahan pakaian baru sang Raja.Makanya pengikut setia budaya popular berlomba-lomba menjadi yang ter-“up to date” untuk mempopulerkan trend terkini.

Penipu ulung dan “pakaian kasat mata bagi si bodoh” ibarat produsen dan produk yang dipasarkan dengan jargon-jargon persuasif. Racun manis dalam kalimat “pakaian ini hanya bisa dilihat oleh mereka yang pintar” tak ubahnya kalimat-kalimat iklan yang dewasa ini berkembang menjadi “ibu bijak memakai produk XYK”, “Kulit putih milik si cantik”, “Orang pintar minum jamu TAQ”, “kami hanya menjual kopi terbaik” dan lain sebagainya. Penipu ulung dengan ahli menyiratkan berbagai hal untuk mendukung orang-orang mempercayai bualan mereka. Produsen beriklan untuk memperkuat pengaruh dan menghidupkan produk. Penipu ulung meminta benang emas dan sutra terbaik untuk menghasilkan pakaian istemewa. Produsen meminta konsumem rela membayar produk mereka dengan harga tinggi, karena kualitas produk berbicara dengan lugas. Menteri-menteri menyatakan penghargaan atas karya penipu. Media memuja-muji produk. Raja percaya. Konsumen membeli. Raja semakin bangga memakai pakaian istimewa yang hanya bisa dilihat orang pintar. Konsumen semakin bangga memakai produk-produk ‘semakin mahal semakin berkualitas’. Rakyat membicarakan pakaian raja meski tidak ada yang terlihat. Masyarakat menjadikan produk ikon budaya popular meski tidak rasional.

Hahaha.

Pada kisah pakaian baru sang raja, sangat jelas terlihat betapa sesungguhnya manusia begitu membutuhkan pengakuan dari sekelilingnya dan hal ini dengan sangat lihai dimanfaatkan oleh penipu ulung untuk mendukung produk ilusinya. Sama halnya yang dilakukan produsen kepada calon konsumen mereka. Ilusi kualitas-kualitas diri kini diperjualbelikan dalam produk-produk sekongkrit pakaian, sepatu, kopi, alat teknologi, dan lain sebagainya. Pakaian kasat mata itu kini dikenal dengan nama Brand.

Pakaian kasat mata menentukan siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.Brand mengambil ahli tugas itu, hanya saja dengan kategori yang lebih luas namun masih dengan sangat halus tersirat.Brand memposisikan manusia dalam kotak-kotak imajiner yang dipercaya sebagai nilai kualitas yang tertanam dalam diri pemakai. Pelakunya masih sama si penipu ulung, kaum kapitalis. Untuk apa? Tentu saja untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Jika saja kita tidak bersikap seperti anak kecil yang tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, kita akan terlihat sama bodohnya dengan sang raja dan rakyat yang melihat pakaian ilusi indah nan menawan di tubuh telanjang sang raja.

(^^)>.tulisan diatas ini, saya tulis selain sebagai bentuk refleksi juga untuk tugas penulisan ilmiah. Semenjak bertemu dengan narasumber, Ignatius Hariyanto,di wisma pondok labu, serta menyimak dan mendalami budaya popular dalam modul multicultural kisah pakaian baru sang raja ini sudah sangat mengakar dalam kepala saya. Kisah ini membantu saya merefleksikan profesi di dunia periklanan yang sedang saya coba jajaki, dan entahlah kisah ini muncul begitu saja memetaforakan dengan sangat baik apa yang menjadi pergulatan saya.

Lantas apakah saya bersedia menjadi kaki tangan kaum kapitalis dalam memperdaya masyarakat?Hahahaha… saya hanya bisa tertawa. Pertanyaan ini masih pertanyaan yang sama yang saya coba jawab semenjak modul pertama. Apakah saya sudah menemukan jawabannya?Jujur saja saya belum dapat menjawabnya. Hanya sajasekarang ini saya menjadi lebih percaya bahwa setiap kali saya melangkah saya menuju sesuatu. Dan…kalau saya boleh memilih tokoh mana dalam kisah pakaian baru sang raja yang paling mewakili diri dan mimpi saya, maka saya akan memilih menjadi anak kecil yang dengan lugunya menetralisir racun manis dengan meneriakkan kebenaran, ketika semua orang memilih untuk menguburnya demi citra diri. (^^).

Iklan

Satu pemikiran pada “PAKAIAN BARU SANG RAJA (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s