MY Ecstasy: Gunung kembar itu


Masih ingat gak, dulu waktu jaman TK – SD, di kelas gambar kita selalu diajarin untuk menggambar pedesaan dengan latar belakang dua gunung, matahari terbit di tengahnya, sedikit burung, jalanan perspektif yang berkelok-kelok, sawah di kanan dan rumah petani di kiri. Seingat saya , tiap kali pelajaran menggambar pasti gambar saya monoton itu-itu saja. Yah paling berkembangnya,gunungnya nambah, ga cuma 2 lagi. Waktu itu saya pernah pusing sendiri soalnya, kenapa juga gambar gunungnya hanya dua? Jadi saya memberontak dengan menambah satu gunung dan beberapa bukit.

Well, tadi pagi saya terbangun dengan pemahaman baru akan misteri dibalik “dua gunung” yang diajari pada kelas gambar itu. Beberapa gunung yang terdapat di Jawa memang mempunyai kembaran seperti “Gede – Pangrango” di Jawa Barat, “Merbabu – Merapi “ di Jawa Tengah, “Sindoro – Sumbing” juga di jawa tengah. Dan karena daerah pedesaan / pertanian identik dengan pegunungan makanya waktu kecil dulu, kita diajari untuk menggambar pedesaan dengan latar belakang dua buah gunung.

Hal ini tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya, ketika saya sedang mengingat perjalanan semalam saya mendaki gunung Merapi. Tahun lalu saya sudah mendaki gunung kembarannya yakni Merbabu.  Dipikir-pikir lima dari tujuh gunung yang pernah saya daki adalah gunung kembar, makanya tadi pagi saya menjadi “dong” dengan filosofi menggambar yang diajarkan guru TK / SD saya. hehehe… ternyata bukan karena gurunya pelit… tp emang rata2 gunung di jawa berdiri berdua atau sendirian, jarang ada yang rame-rame.

***

Merbabu & Merapi

17 Agustus 2008 lalu, bersama-sama teman-teman, saya merayakan Agustusan di puncak merbabu. perjalanan yang mempunyai banyak kenangan. dulu, jujur saja, begitu kagumnya saya melihat kebesaran merapi dari puncak merbabu. bisa saya lihat betapa gagah dan kokohnya dia berdiri dari kaki memuncak di langit. dan tidak terbayang bahwa suatu hari nanti saya akan bisa berdiri di puncaknya yang lancip menantang.

24 September 2009, saya berteriak “MERBABUUU….” dari puncak Garuda, Merapi. Ya, Merapi adalah puncak ketujuh yang saya pijak. Melihat Merbabu, dari Merapi… rasanya dahsyat, tidak kalah dengan perasaan melihat Merapi dari Merbabu. Merbabu dari Merapi, Merapi dari Merbabu, ahh… kembar inilah yang tak gagal membuat saya takjub dan menjadi kapok lombok mendaki gunung.

Merbabu dan Merapi adalah kembar yang serupa tapi tak sama, tanahnya lembut membius (a.k.a berpasir debu), tak heran setiap yang mendekati kudu pake pelindung, biar ga terbius. Tapi pengalaman naik merbabu ga akan lengkap jika tak pernah naik merapi dan juga berlaku sebaliknya. merapi dan merbabu saling melengkapi.

Saya akan sedikit bercerita, dulu ketika naik merbabu, saya sedang sumringah2nya ngunggah gunung. jadi semangat, persiapan pun dilakukan sematang mungkin, latihan fisik jauh2 hari pun dilakoni. Sebaliknya, kemarin ketika naik merapi semangatnya lebih bernuansa “asyik… naik gunung lagi…”, hehehehe… jadi persiapannya juga ngepas-aja. dan ini berakibat cukup fatal. dulu waktu naik merbabu, saya mengingatkan teman2 untuk latihan fisik sebelum naik, agar kuat, dan kemarin di merapi… Huaaahhhhh… kena batunya….!!! gara2 ga persiapan fisik… tertatih-tatihlah saya menuju puncak Garuda dan lebih tertatih lagi begitu turun. huah. ga lagi2 deh naik tanpa persiapan fisik. kuapok!!! Merapi mengingatkan saya itu. jangan nganggap remeh naik gunung.

Tapi merapi memang khas, gunung ini terbilang aktif, makanya puncaknya masih diptutupi bebatuan yang rapuh, jika kita tidak berhati-hati memilih pijakkan, alhasil satu-dua batu akan terbang ke bawah. dan ini berbahaya bagi kawan2 kita yang sedang mendaki di bawah. makanya selain harus memperhatikan pijakkan juga harus waspada dengan batu2 diatas, mana tahu ada yang menggelinding tepat diatas kepala. Keras disaat bersamaan ternyata rapuh, itulah merapi.

Dan itu juga yang berusaha saya contoh, sepanjang perjalanan pulang. akibat tidak latihan fisik sebelum naik, kaki kiri saya nyut2an sepanjang jalan. jadi setiap langkah ada 3 titik yang berteriak “nyut2”: Pangkal paha, lutut, dan pergelangan kaki. alhasil setiap langkah, ketiga titik ini mengirim signal merah ke otak, yang membuat langkah tertatih-tatih. huhuhuhu. untungnya saya ditemani seorang pendamping yang dengan sabar, menunggu langkah2 kura-kura saya menaiki puncak dan menuruni gunung. dia, membuat saya kuat untuk melawan dan menyangkal rasa sakit yang ada. jadi terima kasih, untuk dia. (^^). Saya harus keras kepala memaksa kaki untuk melangkah disaat yang bersamaan saya merasa rapuh merasakan sakit di kedua kaki.

Kaki saya melangkah dengan ganjil. dan begitu sampai di Puncak rasa haru sangat membanjiri. akhirnya. Lunas sudah rasa lelah dan sakit itu

tapi ternyata itu bukan akhir. masih ada perjalanan pulang. (T.T). baiklah. bisa naik, harus bisa turun. semangat! maka tertatih2 lha saya melangkah menuruni gunung. Dan percayalah setiap saya  melangkah hanya ada 1 pikiran yang bercokol “gw ngapain seh disini, ngapain seh tadi naik-naik sampai puncak?”. kuraaanggg kerjaaaaannnn….Gunung kok didaki. huf!!! dan begitu sampai di basecamp… melihat ketinggian gunung baik merbabu dan merapi dari bawah….sambil mengistirahatkan kaki, yang juga masih berteriak… timbul lagi rasa “aaahhhh… tadi gw dari atas sanaaaa…..NGAPAAAiiiinnnnn seeeehhhh gw??? foto2…cuma demi foto!!!” erghhh…. saya tiba2 tidak lagi menemukan alasan untuk berjalan naik ke atas puncak. dan tidak memahami mengapa saya suka naik gunung. CAPE TAUUUUU!!!!… (T.T)

Tapi….

hahaha… this is the worst thing about falling in love to the summit: you know it will take a lot of effort, and i mean … A LOT…to get there, but somehow late after you’ve done, after all the pain didn’t hurt you anymore, somehow you just forget about the cost especially after you saw the photos… and all you want to do is back… and you’ll MISS all those feeling. The “I’m here, Lord/ I MAKE it / Finally” feeling. and… suddenly the want rushingly become the needs you have to fulfilled. even if it will take days to be up there… just to spent about 30 minutes of your life standing at the top of the mountain , it… just…. worth…. it …. and it is an ECSTASY. My Ecstasy…

hahahaha… jadi berikutnya…. hmmm… naik sindoro belum lengkap klo belom naik sumbing yaaa….? (^^).

Ps: Pegal turun gunung akan lunas dibayar setalah pijat & pamer poto2. (”p)

Iklan

2 pemikiran pada “MY Ecstasy: Gunung kembar itu

  1. Wah hebat dah langsung ditulis kisah di Merapinya + kenangan masa kecil + Sindoro en Merbabu. Ak jadi terpacu tuk menulis refleksi di Sindoro Mon. Great Job. Lanjutkan.

  2. akhirnya mon…asupan bacaaan dr blog lo terpuaskan kembali…
    wewww….good job deh mon!

    “aaahhhh… tadi gw dari atas sanaaaa…..NGAPAAAiiiinnnnn seeeehhhh gw??? foto2…cuma demi foto!!!

    hahaha….what a good reason! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s