JUMP!!!


Things happened in my life. sekali lagi gw harus berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup gw. (>,<). selipan curhat  diantara cerita2 Sawarna ini, lahir dari (lagi2) keinginan untuk berbagi. berbagi ketakutan dan disaat yang sama, keberanian menjalani hidup.

Big thing this december : Kontrak kerja gw – di the Partners – karena satu dan lain hal tidak berlanjut. maka semenjak awal desember kemarin, gw mulai giat mencari lowongan2 pekerjaan di tempat lain.  Dan Hari ini gw baru saja menutup satu pintu kesempatan. hari ini sebenarnya gw diundang untuk datang kedua kalinya oleh sebuah perusahaan x. but then I decided to not come.

di tengah segala ketakutan dan kekhawatiran gw akan ketiadaan pekerjaan ( yang tentu saja akan berdampak langsung pada pendapatan gw…),  ternyata masih ada suara-suara kecil mimpi di masa lalu yang mendorong gw untuk membulatkan tekad tidak melanjutkan proses perekrutan karyawan di perusahaan x tersebut. (hah). agak berat dan susah seh untuk sampai kepada keputusan itu, tp setelah dilakukan leganya luar biasa. Perusahaan X ini tengah  mencari tenaga design untuk mendukung promosi internnya. Dengan kata lain,jika gw bergabung, gw akan bekerja sendirian lagi dalam mendesign. In – House Designer gt deh.

Seandainya gw keterima di perusahaan ini mungkin gw ga usah takut akan kehilangan pendapatan lagi…ga usah takut kehabisan uang. Ga usah takut nganggur…dan ga usah takut… tapi….  hal-hal yang dulu gw  keluhkan di tempat kerja gw yang lama, akan terulang dan kekreativitasan gw akan kembali tersendat. ini hal utama  yang menjadi pertimbangan gw untuk memutuskan. Ketika akhirnya gw memilih untuk mengundurkan diri, banyak hal-hal bertentangan kecamuk dalam diri gw… and really it’s not an easy thing to do. Walopun gw belum tentu juga keterima… tapi gw rasa gw harus memegang kendali akan setiap keputusan sehubungan dengan mimpi gw. Jadi… here i am … telling you bout my decision and the risk that i must ready to take.

Dulu… bgt ketika gw memutuskan untuk melepas pekerjaan gw yang pertama… gw banyak menuliskan segala hal yang gw pikirkan dan rasakan di blog ini. betapa keputusan untuk pindah menjadi awal yang membuat gw kembali merasa hidup, merasa berjalan kembali menuju mimpi2 gw. saat itu gw siap untuk menerima tantangan baru, siap untuk kembali berjuang.Tapi saat ini… jujur saja… kekhawatiran dan ketakutan sedang menjadi teman gw di setiap waktu…. (>,<). I’ve been try to be brave…. dan pada waktunya nanti gw tahu gw akan bisa melalui semua ini(amin!). because i’m not alone fighting for my dreams. Gw tahu mungkin bekerja di perusahaan x merupakan jawaban untuk kantong gw yang bolong oleh kebutuhan. tapi jika saja gw bekerja disana, lagi-lagi mimpi gw akan tertunda. gpp kan sambil nunggu… well, no! that’s just another excuse to start fulfill my dreams. just another excuse! makanya kali ini gw akan sedikit keras kepada diri gw. karena meskipun gw tahu Dia menjaga dan memeluk mimpi2 gw, (^^), keputusan untuk membiarkan “keajaibanNya” terjadi, sepenuhnya ada di tangan gw. gw akan berusaha untuk bagian gw dan tetap berdoa memohon kebaikkanNya. (^^).

***

Selama dalam proses menghadapi segala ketakutan gw… saat-saat hati dan otak begitu berontak dan bertentangan satu sama lain… entah mengapa gw akan mengingat jelas segala rasa yang gw hadapi di Green Canyon ini.

JUMP!!!

Batu Jamur  setinggi kurang lebih 4 meter adalah salah satu daya tarik dari Green Canyon. Di batu inilah kalian bisa uji nyali, dengan melompat. (^^). Dan untuk seorang yang takut akan ketinggian seperti gw, melompat dari ketinggian itu sungguh-sungguh sebuah terobosan. Dari bawah mungkin keliatannya tidak terlalu tinggi, tapi begitu nyampe di puncak batu, segala ke-excited-an tiba2 menjadi ciut dan nyalipun pergi entah kemana. gantinya adalah perasaan takut, ragu dan “anjrittt…. tinggi aja”. (>,<). begitulah. Diperlukan waktu kurang lebih 45 menit untuk gw akhirnya mengambil satu langkah melompat.

Semua anggota rombongan kami yang naik ke puncak sudah melompat. tinggal gw dan ai yang masih membulatkan tekad dan mencari2 keberanian di puncak batu jamur itu. MAU bgt nyoba tapi ketahan sama takut. belasan bahkan puluhan orang kemudian mendahului kami melompat, karena kami tak kunjung “Bernyali”. sambil menggigil kedinginan di puncak itu, kami melawan rasa takut, memberanikan diri. berulang kali menanyakan diri sendiri jadi lompat gak? semua orang yang menunggu kami, menyemangati… memberikan tips…menasehati….memancing candaan… untuk membantu menghilangkan rasa takut kami. tapi tetap rasa takut itu tidak bisa diusir dan gw tahu hanya gw sendiri yang dapat mengusirnya. It’s so true that your biggest enemy is yourself.

Dan setelah 30 menit kata2 penyemangat yang dilontarkan mulai berubah menjadi celaan… tertawaan…per-maklum-an dan lain-lainnya. Kata2 penghibur seperti ” turun aja dari samping… ga papa kalo takut loncat” mungkin terdengar bijak. tapi buat gw itu sebuah excuse lagi, yang gw bayangkan tidak akan pernah bisa mematikan rasa penasaran gw. gw ga mau pulang tanpa pernah merasakan lompat dari batu jamur. iya gw bisa datang lagi nanti, mungkin saat itu gw dah cukup berani. tapi kalo bisa sekarang kenapa musti nunggu nanti. meski demikian segala “mau” itu bertentangan banget dengan segaal ketakutan yang terbayang di otak. pemandangan dari atas benar2 menyiutkan nyali.gw takut… lompatan gw ga pas… terlalu jauh dan terbentur karang… terlalu dekat dan kepala pecah… tenggelam… gw kan ga bisa berenang… ntar gw luka…dan takut lainnya lagi.  Menyaksikan belasan turis remaja jerman melompat  hanya semakin membulatkan tekad untuk melompat tapi tidak memecahkan tembok rasa takut itu sendiri. Percayalah pikiran2 positif “tidak akan apa2” / “jangan takut” / “lompat aja” meski berulang-ulang dilapalkan dan didengar tidak memberikan daya yang cukup untuk melakukan SATU lompatan. Hingga akhirnya seseorang yang sudah ketiga kalinya bolak-balik melompat, memberikan saran yang amat sangat baik. “jangan lihat ke bawah, kalo lihat ke bawah makin kecut dan ciut, LIHATLAH KE DEPAN! rasanya tidak akan semenakutkan itu lagi….” mendengar kata2 itu, tekad bulat gw makin berdaya. dan akhirnya setelah 45 menit keberanian itu muncul, kecil… tapi cukup untuk SATU lompatan. (^^).

Gw hentikan segala pikiran. jangan tanya lagi soal hati… rasanya dah karuan, ga terdeteksi lagi apa aja yang muncul. gw hiraukan juga segala tawa, cemooh, celaan, bujukkan yang sedari tadi terdengar. gw fokus lihat ke depan gw… tanaman2 di seberang. dengan ancang-ancang seadanya… gw pun melompat tanpa pikir panjang lagi. 4 detik kemudian SPLASH!!! sakit mendera pantat.. air menangkap seluruh badan dan jiwa gw. dan angin melepaskan segala beban takut gw. PUAHHH!!! begitu muncul ke permukaan lagi… kegembiraan meluap. seluruh badan gemetar, tapi puas banget. (^^). hahaha… akhirnya selama 4 detik dalam hidup gw, gw pernah juga merasakan terbang  dan merasakan bagaimana gravitasi bekerja. lama sesudah itu badan gw masih gemetar…tapi masih teringat jelas… sekelibat bayangan “takut” yang gw lihat dari air, tertanggalkan di puncak batu Jamur dan menghilang seiring gw ucapkan salam perpisahan “bye fear”. segala ketakutan dan kekhawtiran gw terbukti tidak terjadi.

Itulah saat paling mendebarkan dan salah satu pencapaian berarti buat gw di tahun ini. berkesan banget. satu lompatan sejuta makna bagi gw. Satu lompatan itu adalah dobrakkan “penyangkalan diri” dan sekaligus penyerahan diri sepenuhnya. the moment that i jumped… yang ada di pikran gw hanya satu kalimat “terjadilah seturut kehendakMu” dan ketika itulah gw tahu gw telah melepaskan ego gw dan membiarkan “keajaibanNya” terjadi. rasanya…. yaaa…. dahsyat dan mengguncang. berpuluh2 kali lebih hebat dari yang gw bayangkan. (terbukti lama setelah itu gw masih gemetar dan masih bisa membayangkan segalanya). Keluar dari zona nyaman, tdk pernah mudah… tapi gw memerlukan itu semua untuk berkembang. terlihat bodoh dan cupu, tapi even Jesus was a Kid.

***

Berbekal pengalaman inilah gw pun kali ini ingin melawan monster yang telah lama menghuni dalam diri gw, “ketakutan”. Gw akan FOKUS kepada apa yang ada di depan gw dan berhenti melihat ke bawah lagi. dan sekali lagi berdoa…”terjadilah seturut kehendakMu”.

Tuhan, aku tahu… Engkaulah penjaga mimpi-mimpi kita. aku masih mau berjuang… berjuanglah bersamaku. karena sungguh tidak akan kumampu tanpa campur tanganMu. Bukalah segala kemampuanku untuk menangkap tanda-tandaMu. dan apapun yang terjadi, jangan biarkan aku menyerah. Menangkan diriku. menangkan hidupku. amin

***

(…)

Terror in each one of those persons on that lovely beach at a sunset that would take your breath away. The terror of remaining alone, the terror of the dark that filled their imagination with devils, the terror of doing something not included in the manual of good behavior, the terror of God’s judgment, the terror of the comments of men, the terror of justice that punished any fault, the terror of the injustice that left the guilty free and threatening. The terror of risking and losing, the terror of winning and having to live with the envy of others, the terror of loving and being rejected, the terror of asking for a raise, of accepting an invitation, of going to unknown places, of not managing to speak a foreign language, of not having the ability to impress others. The terror of growing old, of dying, of being noticed because of your defects, of not being noticed because of your qualities, of not being noticed neither for your defects nor your qualities.

“I hope that this has made you calmer,” concluded the devil. “After all, you are not alone in your fears.”

“Please don’t go away until you hear what I have to say,” answered the man. ”We have the incredible capacity to detect pain, remorse, wounds – or terror, as you prefer to call it. But my father once told me the story of an apple-tree that was so laden with apples that its branches could not sing in the wind. Someone passing by asked why it did not try to call attention like all the other trees did. ‘My fruits are my best advertisement,’ answered the apple-tree.

“Of course, I am no different from anyone else, and my heart is filled with many fears. But despite everything, the fruits of my life speak for me, and if some day a tragedy happens, I know that I have not spent my life without taking risks.”

And the devil, disappointed, left him to try to scare other – weaker – people.

(sumber: http://paulocoelhoblog.com/page/7/ )

Iklan