Alice in Wonderland, Women in Reality


My God, how much I love this movie…. (>,<). All thumbs up for it.

***

Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di rumah setelah menonton Alice in Wonderland, adalah mencari link untuk mengunduh skenario film ini. Saya menyukai setiap baris kalimat dan setiap simbol yang muncul dalam film ini. Saya harus punya skenarionya. Terima kasih om google, yang memuaskan saya sementara dengan hasil unduhan “First draft” Alice in wonderland yang ditulis Linda Woolverton pada februari 2007. dan hanya itulah referensi yang saya punya ketika menulis ini. O iya, satu lagi referensi dari preview halaman kata pengantar buku “Alice’s Adventures in Wonderland and Through the Looking Glass” oleh Lewis Carroll, John Tenniel, Tan Lin. Buku ini merupakan sumber inspirasi Linda dalam menulis skenario film ini. Hanya dengan membaca bagian kata pengantarnya saja, saya merasa harus memiliki buku ini. Wajib.

Alice in wonderland the movie oleh Tim Burton, bagi saya pribadi memberikan kesan mendalam tentang hidup yang dipertanyakan, tentang remeh temeh dunia sosialita, dan tentu saja topik favorit sepanjang hidup saya – tentang impian. Menonton film ini  seperti diberikan contekan refleksi, contekan yang jelas memberikan petunjuk untuk menggali lebih dalam lagi makna dibalik segala yang keliatan tidak bermakna. Cerita dan visualisasinya begitu penuh filosofi hidup. Sementara dialognya penuh dengan kalimat-kalimat menyentil yang terkemas ringan. Hal – hal inilah yang mendorong saya untuk segera memiliki skenario filmnya. dan tentu saja kemudian mengarahkan saya untuk memiliki buku “alice in wonderland and through the looking glass”. Tapi sepertinya saya harus sabar menunggu, saya sudah mencarinya di http://www.imsdb.com – portal website skenario film terlengkap, namun tidak menemukannya.

***

“who are you?”

“I’m not who you think I am.”

“Who do I think you are?”

***

Siapa kamu? adalah pertanyaan filosofis yang paling banyak ditanyakan sepanjang film ini kepada alice. Dan jawaban singkat Alice, adalah jawaban yang paling sering muncul di kepala saya ketika seseorang menyatakan pendapatnya tentang saya. Saya dan barangkali kita seringkali lekas percaya dengan pendapat orang lain dan bahkan pendapat kita sendiri tentang bagaimana melengkapi kalimat “saya adalah seorang…”. Saya sadar betul setiap kali menonton Absolum yang mempertanyakan Siapa Alice, Alice selalu memberikan jawaban yang ternyata malah semakin menyesatkan dirinya sendiri dari pengetahuan akan siapa diri Alice. Tidak setiap pertanyaan dapat dijawab dalam kata-kata.

Jadi Bagaimana anda ingin orang lain berpikir tentang siapa anda? anda bisa memilih banyak kata untuk mengarahkan pikiran orang lain sesuai dengan yang anda ingin mereka pikir. but. why bothered? sedikit banyak saya percaya bahwa yang sesungguhnya benar-benar akan puas pada kalimat-kalimat jawaban pertanyaan itu pada akhirnya hanyalah diri kita sendiri. Karena Alice hanya perlu yakin siapa dirinya untuk akhirnya bisa meyakinkan apa yang diragukan banyak orang.

***

ALICE : Hamish, have you ever wondered, what it would be like to fly?

HAMI S H : I don’t waste my time wondering about impossible things.

ALICE : My father says… (catching herself) …used to say…believing in the impossible is the only way to make it possible.

***

Diceritakan bahwa Alice hidup di lingkungan dimana  tata tertib, sopan santun dan tata krama mengatur kehidupan manusia. Masa depan seorang wanita, di masa itu adalah menikah dan berkeluarga. Tidak ada pilihan lain selain menjadi istri dan membina keluarga secepatnya. O, tentu saja, maaf saya lupa, ada pilihan tragis lainnya, menunggu pangeran impian dan menjadi perawan tua. Itulah dua pilihan hidup yang kiranya disuratkan bagi hampir semua gadis seusia Alice di masa itu. Alice pun telah mencapai waktu untuk akhirnya menentukan pilihan itu. Dan film ini memberikan alternatif pilihan lain yang menurut dugaan pribadi saya adalah sebuah penyampaian ide feminimisme yang tersamar.

Ide bahwa Alice ditakdirkan untuk menjadi “ksatria” penyelamat Underland, jelas merupakan ide baru yang membelokkan segala cerita dongeng tentang “ksatria tampan” kekasih putri teraniaya. Wanita tampil sebagai ksatria adalah hal yang dianggap mustahil pada jaman kehidupan Alice. Dan bagi saya, film ini sukses menggambarkan pergulatan dan transformasi Alice dari kemustahilan mimpi menjadi kejadian sejarah tak terlupakan. Bahwa seorang Alice mampu menjadi ksatria utnuk menyelamatkan kehidupan negara adalah pemberontakkan nyata akan dominasi heroik maskulinitas. Sekaligus pernyataan terbuka bahwa seorang wanita tidak perlu menunggu laki-laki bergerak memperjuangkan kebahagian hidupnya. Alice terbukti mampu memperjuangkannya seorang diri. Dia lemah dan tidak yakin tapi ketakutan yang dilawannya memberikan kekuatan yang dibutuhkannya untuk menjadi pemenang bagi hidupnya dan hidup orang lain.

So women, Are you ready to be a champion?

***

Mad Hatter: “Stay with us ”

Alice: “I wish I could. But there are questions I have to answer. And things I’m late for doing.”

***

Wanita tidak hidup hanya dengan pilihan menjadi istri atau perawan tua. Di luar cinta dan keluarga, masih ada pilihan lain yang memungkinkan wanita untuk menggapai dan menapaki jalan menuju mimpi-mimpinya. Sekilas memang di film ini tersirat bahwa ada romansa antara Alice dan Mad Hatter. Bahkan setelah kemenangannya, Alice dihadapkan pada pilihan untuk menetap di underland atau kembali ke realitasnya. Pilihan akhir ini dilontarkan Mad Hatter tepat ketika Alice hendak meminum cairan yang akan membawanya kembali ke dunianya. Tapi nampaknya (setelah membaca draft pertama skenarionya dan membandingkan perubahan di film yg tadi ditonton) percikan-percikan romantis diantara keduanya telah banyak dikurangi dan bukan menjadi suatu bagian penting dalam film. Hal ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa ide feminimisme berdiri di balik ceritanya.

***

Berbekal  pengalamannya di Underland, Alice  pada akhirnya memilih untuk tidak tunduk pada “kebiasaan masyarakat” dan menjalani mimpi yang telah diturunkan ayahnya. Berkeliling dunia. Jujur saja hal ini sungguh-sungguh memberikan tambahan asupan kuat bagi saya untuk memaknai lebih dalam film Alice in Wonderland dari Tim Burton. Rasanya impian alice adalah juga bagian dari impian saya. Dan pergulatannya adalah juga pergulatan saya. dan mungkin juga pergulatan wanita.

(^^)

***

Well… ada banyak hal yang belum tertulis disini… tapi gw rasa apa yang paling penting telah gw tuliskan. rasanya yang lain dapat gw tulis belakangan setelah gw dapet skenario dan buku yang kini masuk priorty list gw. hehehehehe. semoga gw ga jadi spoiler bagi yang belum menonton film ini. You should watch it! High recommanded. dan nikmatnya film ini… lo bisa menerjemahkan sendiri simbol2 filosofisnya.

Inspired… (^^)

Dan to be honest, gw takut juga sebenernya menulis segala apa yang gw pikirkan selama nonton film ini tadi (yes! gw br nonton tadi). This Movie is great,obviously. Fuh… well… forgive me to write this without any reference. pasti akan jauh lebih berbobot jika saja gw menunggu sebentar dan meluangkan waktu unuk mencari apa2 yang masih bolong gw pahami. tapi i can’t wait any longer. so here I am… writing the bothering stuff ,after watched the movie.

hehehe… dah beberapa waktu gw khawatir dalam menlis. Ada beberapa hal yang pengen gw bagi dan ekspresikan dengan tulisan gw, tapi somehow kekhawatiran (again) “would it be good? would it be okay? and else” telah memenjarakan gw. dan yang terjadi adalah gw ga berhasil menuangkan sedikitpun, menatap kekosongan layar putih semata. dan pelan2 gw menjadi benci dan malas banget menulis. yang bisa gw lakukan setiap hari hanyalah menciptakan sebuah kalimat tentang apa yang gw lakukan dalam 1 hari ke dalam diary gw. that’s all. i don’t write a story. it bothered me much.

Satu keberanian dimunculkan selama gw menonton film Alice in wonderland. dan sekarang menulis lha gw. melawan segala kekhawatiran dan membebaskan diri gw sendiri dari segala yang memenjarakan gw.

Ok… That’s all i guess. Good nite, fella.

Iklan

6 pemikiran pada “Alice in Wonderland, Women in Reality

  1. oh niq…akhirnya gw baca saat ini jg….
    you know what, td gw cuma mau log out dr fb gw
    dan….sekilas gw liat link ke blog lo ini…
    and the rest is history…hahaha…

    dan skr gw bener2 tambah pengen ntn alice dan pny skenarionya jugaaaaaaaa……. argghhhh…..

  2. inspired…
    baru nongol bukti otentik setelah km ikut kursus di STF…he2…
    IGNATIAN adalah spiritualitas yang takpernah lekam dimakan jaman…
    Congrat !!!!
    Nice text,,with great refleksion,…
    Keep on move….

  3. aku gag nyesel nonton alice dua kli
    ak happy banget
    because i like story alice in the wonderland so i like alice in the wonderland forever

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s