Sakit, tapi tidak menderita.



Sebentar, sakit? tapi tidak menderita? hah? Bagaimana bisa? Percayalah, saya sendiri masih sedikit sekali memahami konsep kebenaran dalam kalimat itu. Dan tulisan ini saya buat sebagai salah satu usaha saya meraba-raba konsep tersebut.

Jujur saja, saya tidak mudah memahami rasa sakit yang begitu saja muncul tatkala mata atau bahkan pikiran saya memvisualkan Salib Yesus, WajahNya yang bermahkota duri dan luka-luka di sekujur tubuhNya. Darah, keringat dan debu yang bercampur lengket, ah…tidak!  Saya tidak tahan.

Jujur lagi, saya baru sekali menonton film Passion of the Christ. Itupun baru Januari kemarin, di sebuah acara retret. Akhirnya saya memaksa diri saya menyaksikan deritaNya. Derita yang selama ini hanya bisa saya khayalkan, tervisual-audiokan secara nyata. Dahi mengernyit, bulu kuduk berdiri, hati getar-getir, mata menolak membuka, telinga sungkan mendengar. Tapi saya harus bisa. Saya rekam gambar-gambar yang saya saksikan dan setiap sakitnya saya simpan baik-baik. Saya tidak boleh lupa cintaNya yang sedemikian. Saya tidak boleh lupa, apa-apa yang dosa saya torehkan di tubuhnya. Maaf…maaf… dan maaf, Tuhan.

Manusia yang paling bahagia adalah manusia yang tidak mudah merasakan sakit. Sebaris kalimat ini  saya dapatkan di akhir tahun baru kemarin dari seorang romo. Kalimat ini langsung menghentak dan menancap, bisa dibilang Tuhan menjawab banyak pertanyaan saya hanya dalam satu kalimat itu. Sakit. hanya satu rasa itu yang muncul tatkala saya memandang salibNya. CintaNya menyakitkan sedemikian rupa, hingga saya tidak pernah mampu memandang salib lebih dari lima detik. Wajah saya selalu berpaling dengan mata berkaca-kaca. Ya, salib adalah lambang penderitaan yang ditanggung manusia dan yang dengan penuh cinta rela ditanggungNya. Mengapa? Agar manusia yang kesakitan tidak perlu menderita dan bisa menemukan kebahagiaannya.

Sudah lama saya sadar bahwa saya sangat peka akan rasa sakit. Bisa dibilang saya cengeng. Sangat cengeng. Hal ini terkadang membuat saya merasa lemah dan tak berdaya. Makanya kalimat “Sebab justru dalam kelemahanlah, KuasaKu menjadi sempurna”  adalah salah satu ayat favorit saya. Yesus adalah teladan kuat saya. Sepanjang saya menyaksikan deritaNya, saya sadari meski dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Dia tidak menangis. Ya, dia menangis darah di taman Getsemani, tapi tidak selama perjalananNya menuju Golgota.Bahkan Dia masih sempat-sempatnya menghibur wanita-wanita yerusalem di tengah perjalanannya. Dia sakit, tapi tidak merasa menderita.

Apakah sakit adalah penyebab kita menderita? Tergantung. Penderitaan adalah suatu keadaan sakit yang harus ditanggung (sumber: KBBI online). Merupakan keputusan setiap dari kita dalam merespon keadaan/rangsangan tersebut, menerima atau tidak tanggungan sakit itu. Namun, tidak bisa dipungkiri derita selalu berbanding lurus dengan rasa sakit. Respon pertama tubuh yang tergores adalah rasa sakit. Reaksi pertama hati yang terluka adalah rasa sakit. Kemudian atmosfer penderitaan akan serta merta melingkupi kita tatkala segala rasa sakit itu muncul ke permukaan. Tetapi apakah sakit ini tidak terobati dan derita ini tidak bisa diakhiri? Bisa! Ramuan obat menyembuhkan rasa sakit. Cinta menyembuhkan rasa sakit. Sakit-sakit itu semua bisa ditanggung dan kita tidak perlu menderita saat menanggungnya. Sebab derita itu telah ditanggungNya. Dia yang maha sempurna menanggung derita itu bagi kita semua, anak-anakNya.

***

Our real blessings often appear to us in the shape of pains, losses and disappointments.

– Joseph Addison.

Blessing in disguise. Berkah yang terselubung. Terkadang berkahNya memang terselubung dalam rasa sakit, semata agar hikmatNya tertanam dalam-dalam. Namun memang tidak mudah mengenali berkahNya dalam penderitaan kita. Hal ini membutuhkan iman dan rasa percaya yang sungguh kepadaNya. Rasa sakit, kehilangan dan kekecewaan terkedang mengurangi iman dan kepercayaan kita padaNya. Ketekunan dan kesetiaan adalah jawabannya. Yesus yang setia dalam proses kematiaanNya di kayu salib, bangkit dari kematian dan berkuasa atas maut. Itulah kemenangan bagi kita semua yang sakit dan menderita.

***

Selamat Paskah!

Tetap kuat dan semangat!

Iklan

2 pemikiran pada “Sakit, tapi tidak menderita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s