Kasus Lama : Kemiskinan.


Tulisan di bawah ini adalah tulisan refleksi lama yang saya temukan dalam gudang komputer saya. Mungkin sudah tidak begitu valid, tetapi apa yang saya tulis dulu secara jujur dan saya  baca kembali rupa-rupanya menyadarkan saya hari ini, untuk terus mencari apa yang bisa saya perbuat untuk perubahan yang lebih baik. Ternyata sampai hari ini saya masih merenungkan. (>,<)>. Sedikit cerita latar belakang saya menulis refleksi ini: refleksi ini saya tulis setelah selesai mengikuti modul sosial-ekonomi di Kampus Orang Muda Jakarta. Waktu itu saya dan teman-teman mendapat tugas observasi (Laporan Observasi Tukang Ojek Sepeda)

dan diharuskan menganalisa masalah terstruktur dalam sosial-ekonomi berdasarkan hasil observasi tersebut. Insight-insight yang saya dapatkan terangkum dalam refleksi dibawah ini. Ini mungkin kasus lama dan bukan barang baru, tetapi masih kita perangi hingga hari ini.

enjoy.

(^^)

***

Kemiskinan bukan merupakan suatu hal baru di muka bumi ini. Bahkan sejak jaman Perjanjian lama pun mereka yang kekurangan, perbudakkan, dan penindasan terhadap kaum yang lebih lemah sudah terjadi. Dan apakah permasalahan-permasalahan sosial-ekonomi itu berhasil diatasi? Hingga sekarang pun, permasalahan itu tidak selesai dibahas dan terselesaikan. Sebenarnya siapa yang memelihara kemiskinan di muka bumi ini? Apakah mereka yang kaya raya? Ataukah ketidakpedulian manusia? Entahlah, yang jelas kemiskinan itu ada dan masih menjadi momok dalam sejarah manusia.

Melalui Modul KOMJak 1 ini, saya diarahkan untuk memahami kemiskinan secara lebih jauh. Saya dipertemukan dengan realitas ketika observasi, kemudian dari observasi kami diminta menggali lebih dalam lagi realitas-realitas yang terjadi di sekitar kita untuk melihat akar permasalahan. Yang mana akhirnya membawa kami semua pada masalah yang jauh lebih global. Kisah hidup seorang miskin kemudian menimbulkan banyak skenario yang ternyata dibuat atas campur tangan keegoisan banyak orang. Kekuasaan dan kekayaan menjadi tuhan yang menulikan telinga dan mendinginkan hati terhadap sesama. Keserakahan dan ketidakpedulian membuat orang-orang bejuang melakukan apa saja untuk mencapai kekuasaan tertinggi sehingga mudah memperkaya diri sendiri secara materi. (Mungkin sebenarnya inilah yang memelihara dan menyuburkan kemiskinan)

Berbagai teori, pernyataan, dan pendapat dinyatakan dalam diskusi kelompok. Semua berusaha mencari penyebab tunggal kemiskinan, sayangnya penyebabnya ternyata tidaklah tunggal melainkan plural dan organis pula. Naasnya lagi… seperti benang kusut yang coba diuraikan oleh para ahli ekonomi dengan berbagai teori dan kemungkinan yang ada, semua penyebabnya akan berpulang kepada hati nurani setiap manusia yang memegang tonggak kekuasaan dan harta. Teori diuraikan dan dijabarkan, semuanya menjawab benar atau salah realitas yang terjadi. entahlah… semuanya mencoba memecahkan bagaimana caranya supaya surga dimana tidak ada lagi orang yang kekurangan dan miskin, bisa diwujudkan di dunia. Kesejahteraan bagi semua orang adalah mimpi setiap sistem ekonomi. Hanya saja teori tidak sejalan dengan realitas, dan teori  juga tidak memegang hati nurani penguasa juga. Selama masih ada manusia yang tidak pernah puas, egois, tidak peduli,  mungkin selama itu juga kemiskinan akan tetap ada.

Lalu apa yang bisa saya lakukan dengan semua pengetahuan dan wawasan yang telah saya dapatkan? Kesadaran yang dibukakan dari hasil obsservasi dan diskusi bersama, entah bagaimana membawa saya pada perenungan panjang tentang minat dan passion saya dalam dunia periklanan. Saya jadi melihat dunia periklanan dari sudut pandang yang berbeda dan cenderung negatif. Rasanya dunia periklanan tidak lagi menarik hati  karena bagi saya sekarang segala produksi periklanan adalah komersil sifatnya, bahkan kampanye-kampanye kemanusiaan yang didukung oleh produk-produk tertentu, bagi saya menjadi menjijikan sekarang. kenyataannya… kampanye itu ada untuk membangun image yang baik di mata masyarakat, tapi ternyata semua itu bisa saja hanya topeng. Dunia periklanan yang dulu saya anggap kreatif, sekarang terlihat hanya mengejar keuntungan semata. Membuat saya berpikir ulang untuk terjun di dunia periklanan.

Saya tidak yakin mampu menjual produk-produk tersier dengan copy “hanya Rp 10 juta” padahal diluar sana, ga semua orang menganggap 10 juta itu “hanya”. Ada dan banyak yang menganggap 10 juta itu adalah “segalanya”. Pernah saya menanyakan pendapat saya ini dengan seorang teman sesama designer, dia mengatakan demikian kepada saya “lo ga bisa idealis hari gini, mau idealis? Lo kumpulin duit dulu, jadi bagian pengeruk keuntungan semata, nanti kalo dah tajir, baru deh lo boleh idealis kaya gt”. Hahahaha. Well, saya masih mencari cara untuk tetap pada bidang yang saya sukai, tetapi sesuai dengan idealisme saya. Bagaimana caranya? Hmm… kekreatifan bisa disalurkan ke banyak hal, dan jika produk-produk komersil membuat hati nurani berteriak protes, mungkin saya akan mencondongkan karya-karya saya ke kampanye-kampanye sosial masyarakat.

Masih banyak hal yang harus dipelajari untuk mencapai mimpi-mimpi. Dan berproses dalam komjak membuat saya menyadari, betapa menyenangkannya mempunyai teman-teman yang mempunyai keprihatinan bersama, betapa mengasyikkannya berdiskusi tentang hal-hal yang menarik, dan betapa susahnya menyatukan pendapat.  Hmm… dan yang lebih membuat bersemangat lagi , ketika semua sudah disatukan, kita semua bisa bergerak bersama menuju visi yang telah kami impikan bersama. Teman-teman dalam KOMJak adalah orang-orang luar biasa yang begitu kritis bersikap dan berkata-kata, segalanya itu membuat kami satu sama lain kaya. Dan saya sangat berterima kasih bisa ikut serta dalam KOMJak.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kasus Lama : Kemiskinan.

  1. whoooo….satu lagi seorang idealis!
    saya suka itu… money isnt everything!
    but well yeah, we really need it sometimes…
    tp lebih baik lagi kalo kita semua mau berbagi… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s