Hujan Bulan Juni.


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.


Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni,

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.


Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

(Oleh: Sapardi Djoko Damono)

***

Entah dimana saya memungut sepenggal puisi itu. Yang jelas waktu itu saya begitu tergugah membaca kedalaman maknanya, dan tanpa ragu  segera mencatatkan baris-baris -puisi tersebut di sehelai kertas yang dapat saya temukan. Catatan kecil ini saya temukan kembali setelah tersimpan rapat di lembaran-lebaran buku harian saya dulu. Saya tahu pasti dimana saya menyimpannya, makanya ketika saya mencari catatan kecil ini, dengan mudah saya bisa menemukannya. Saya jatuh cinta pada bacaan pertama terhadap puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Siapa yang tidak? puisinya bagi saya selalu sedikit, padat dan dekat. Manis dan magis. Setiap kata, setiap makna.

Tak ragu saya memilih puisi diatas untuk memulai tulisan pertama saya ini di bulan Juni. (^^)>. Sudah sekian lama kata-kata berhenti mengalir. Tiba-tiba saja angin datang dan hati terbujuk ingin mencurahkan lagi kalimat yang sudah terlalu lama menggumpal awan. Jadi inilah Hujan di bulan Juni.

***

Mari bicara cinta.

Cinta yang bagaimana? hmmm…. Cinta yang telah banyak didownload, disaksikan dan dihebohkan beberapa minggu belakangan ini? Cinta diantara dua insan yang sama-sama berada dalam sorotan mata publik? Ah, maaf… saya tidak akan membahas cinta yang satu itu. Saya mau bicara sesuatu yang lebih nyata daripada gambar-gambar “mirip” nyata yang beredar di dunia maya itu. Sudah cukup untuk mereka. Lebih baik saya berkutat  menjelajahi rasa yang tak pernah tuntas dipuaskan.

Masih soal cinta.

Belakangan ini, saya secara sadar mengkonsumsi segala macam bentuk tulisan yang bertemakan cinta. Jiwa ini seakan lapar dan haus akan pengertian dan pengetahuan soal cinta. Saya membaca banyak hal, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta berakhir bahagia, cinta orang tua-anak, cinta pekerjaan, putus cinta, cinta lama bersemi kembali, cinta, cinta, dan cinta. C.I.N.T.A.

Yah… dari semenjak saya bisa membaca, puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kisah cinta sudah saya baca dan saksikan. Begitu banyak cerita cinta yang telah terjadi di dunia ini. Rasanya mungkin sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Cinta adalah kejadian mutlak yang ada dalam siklus kehidupan seorang manusia. Layaknya Lahir dan Mati, diantaranya selalu ada “cinta” untuk diceritakan. Dan bagian itu tidak pernah gagal menjadi bumbu kehidupan dengan aneka rasa.

Sesering saya membaca kisah cinta diantara dua insan, sesering itulah saya memikirkan kehidupan cinta saya. (^^). Setiap kali saya selesai membaca satu cerita, saya akan teremenung dan mulai menyaring apa-apa yang saya butuhkan untuk menciptakan keadaan ideal kisah cinta saya. Kisah dan cerita yang sungguh-sungguh hanya milik saya. My very own happily ever after fairy tale.

Hanya saja ini bukan sekedar dongeng tetapi sungguh merupakan bagian dari hidup saya. Bagian yang membentuk hati dan pribadi saya. Yang bukan sekedar bacaan atau tontonan semata tetapi sesuatu yang bisa saya sebut kenangan, yang bisa saya ceritakan kepada banyak orang sebagai bagian sejarah hidup saya.

Saya menemukan begitu banyak cerita cinta dalam perjalanan waktu saya.  Bukan hanya di satu hati tetapi di banyak hati. Dan saya telah jatuh cinta puluhan bahkan ratusan kali. Berulang kali tertawa bahagia, berulang kali tersedu-sedan. Setiap kepingan hati yang saya temukan membantu saya menemukan Cinta sejatiNya bagi saya. Saya tahu. Tahu cinta seperti apa yang saya inginkan.Dan yang bagaimana itu? hmmm… saya ingin cinta yang tak terkatakan, berulang kali terucap dan tertulis takkan habis dijejalkan dalam hidup saya. Jujur dan melihat. Bukan yang selalu dewasa namun yang terkadang kanak. Setia seperti detik yang mewaktu. Bukan yang sempurna namun yang bersama-sama ingin sempurna. Apa adanya. Bukan ilusi semata. Nyata-nyata terasa. Bukan yang rasa-rasanya nyata. (”p). Untuk singkatnya, saya ingin segala Cinta dibalik kata “cinta”.

Saya tahu yang saya inginkan. Tahu bahwa saya dicinta seperti yang saya inginkan.Bagaimana saya bisa tahu? karena Dia mencubit hati saya setiap kali satu cerita cinta terbaca. (^.^). Tapi tahu bukan berarti sudah mampu melakukan lho. Saya masih belajar menciptakan cinta yang saya inginkan itu. Agar nantinya dapat saya berikan dengan tulus dan tidak tertolakkan. UntukNya yang selalu mencinta.

Begitulah. Jika kamu pernah bisa mencintai seorang manusia lain sebegitu dalam, tanyakan seberapa dalam CintaNya bagi kita, manusia. Kumpulkan segala cerita cinta itu, yang dimulai dari adam dan hawa… dan mulai telaah setiap senyum dan tangis dalam senyawa bernama manusia…Apakah bisa kamu temukan jawabNya? dalam kisahmu? dalam kisahku? dalam kisahnya? dalam kisah mereka?

Sedalam apapun hati manusia mencinta, setinggi apapun pikir manusia menalar ….selalu…Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni (dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu). Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni (dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu). Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni (dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu).

***

Selamat menikmati hari-hari hujan di bulan Juni, kawan. (^^).

Terima kasih Puisinya Pak Sapardi Djoko Damono.

***

Cheers untuk rasa yang tak pernah puas dengan tuntas.

Ps: Cinta yang bagaimana yang kau inginkan dalam hidupmu?

Iklan

2 pemikiran pada “Hujan Bulan Juni.

  1. hey moniq!
    keren kali tulisan kau ini…

    and so pertanyaannya:
    cinta bagaimana yg saya inginkan dalam hidup saya?…

    ehehmmm…
    sulit untuk dijawab..
    tapi yg pasti, saya ingin cinta yang mau berbagi di setiap waktu.. saat senang maupun susah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s