JuJur saja


Aku terkejut ketika kertas ulangan Bahasa Indonesia itu akhirnya dibagikan. Nilaiku 6,25. wow! Ternyata Tuhan tidak tidur. Aku tidak berharap banyak pada ulangan bahasa indonesiaku itu. Aku tidak belajar lantaran merasa pede akan berhasil menjawab soal-soal pilihan ganda itu. Yaa… bahasa Indonesia gitu lho… setiap hari bercakap dalam bahasa Indonesia, masa ulangan ga bisa seh. Begitu alasanku untuk membenarkan diri dari kemalasan belajar.

Namun ternyata ketika soal-soal itu dibagikan, aku lebih banyak memilih berdasarkan feeling daripada pengetahuan. dan feelingku berkhianat dengan mengatakan, dapat 5 saja sudah untung. Makanya ketika ulangan itu dibagikan dan aku mendapat nilai 6,25, aku terkejut juga. seketika aku menyadari bahwa guruku telah salah menghitung, dia salah menghitung jumlah soal yang benar aku jawab. Ntah bagaimana yang tertulis di kertasku adalah pembagian 25:4 = 6,25. Padahal aku menghitung kesalahanku dalam menjawab 40 soal  pilihan ganda adalah 21. Jadi nilaiku seharusnya 19 : 4 = 4.75. BERKAH TUHAN! Aku tersenyum simpul.

Tapi…tapi….tapi aku gelisah karena tidak sepantasnya aku diam dengan kelalaian guruku ini. Rasa-rasanya hati ini tidak lagi tenang tapi terus menggedor-gedor pikiranku. Ayo maju! bilang ke ibu guru kalo nilainya salah. Ah, buat apa, toh ini salah dia sendiri. Moniq, bilang ke ibu guru! Yaa… ga ada yang rugi juga kalo lo ga bilang. Udah simpen aja di rumah kertas ulangannya biar ga ada yang tahu. Moniq, bilang ke ibu guru. lo tahu lo harus jujur. Buat apa jujur? kan malah merugikan diri sendiri, ulangan berikutnya lo harus belajar lebih keras kalo nilainya tercatat sekian. Moniq bilang!

Terus bertarung seperti itu. sampai rasanya mendidih juga hati ini. Deep down inside aku tahu, aku harus bilang ke ibu guru. Memang aku tidak merugikan siapa-siapa dengan kesalahan guruku itu. Kecuali diriku sendiri. Maka demi ketenangan hati. Meski kakiku gemetar takut (entah apa yang aku takutkan saat itu, tapi yang aku ingat saat itu adalah aku ketakutan), seusai kelas Bahasa Indonesia, akupun maju menghampiri meja guruku.

Guruku sedang sibuk menulis, sehingga tidak menyadari kedatanganku.

“Bu”. panggilku.

Guruku menoleh dan tersenyum “ya, anakku? ada apa?”

“Ibu… nilai ulangan saya salah. seharusnya saya benar 19 dan dapat 4.75. Tapi ibu ngitungnya benar 25 dan saya jadi dapat 6.25”

“Ooo yah? coba saya lihat…” dia pun mengambil kertas ulanganku. dan memeriksa kembali jawaban-jawaban pada kertas ulanganku.

“wah iya benar. Kamu salah 21 ya.” dia pun mencoret  ganti 25  menjadi 19 .

“nah sudah”. Dia mengembalikan kertas ulanganku dan melanjutkan kesibukkannya.

Aku menatapnya bingung, karena dia tidak memperbaiki nilaiku yang 6.25.  jadinya di kertas ulanganku itu sekarang tertulis 25 19:4 =6.25.

“Bu,nilainya ga diganti?” tanyaku

Ibu guruku tersenyum dan mengatakan “Nilai ulanganmu memang 4.75 tapi nilai 6.25 itu kamu dapatkan sebagai bonus dari kejujuranmu”

Aku menatapnya tak percaya. Dan serta merta tersenyum seraya mengucap terima kasih.

Gelisahku hilang saat itu juga. Digantikan dengan rasa senang luar biasa. Aku pun menikmati Berkah Tuhan itu dengan lebih bersyukur. (^^)>. Matematika Tuhan memang selalu absurd

***

Entah bagaimana suatu hari dalam perjalanan gw menuju kantor. secuplikan kenangan itu muncul begitu saja. Saat itu gw masih SMP atau SMA gitu. Jujur saja,  nama ibu guru bahasa indonesia itu pun sudah gw lupakan (maap yah bu). Tapi nilai yang dia berikan masih melekat di kepala gw sampai sekarang. Ke depannya di berbagai titik kehidupan gw, ketika kejujuran gw dipertanyakan, entah bagaimana, setakut apapun gw akan resikonya, dengan keberanian seadanya, gw akan coba jujur. Terutama menyuarakan apa yang ada di hati ini. Dan terutama lagi kepada diri gw sendiri.

(^^)>. Karena somehow… kejujuran membawa ketenangan hati yang gw butuhkan untuk bisa berbahagia menikmati berkatNya.

Iklan

3 pemikiran pada “JuJur saja

  1. wowww… gw suka cara lo menyampaikan sepenggal kisah lo itu…
    mantap moniq!
    dan spt biasanya, habis baca tulisan lo, slalu aja gw terinspirasi utk menulis… makasih moniq!
    i’ll think about what i’ll write then!

  2. hmmm.. kejujuran
    seiring waktu dan bertambahnya usia kualitas kejujuran juga sangat di uji oleh dilematika kehidupan.. bukan tidak ingin jujur tapi kehidupan meletakkan kita di posisi dilematika.. ga tau itu ujian dan sang pencipta kehidupan buat hambanya.. atau kitanya aja yang masih betah menyandang sebagai ‘manusia labil’

  3. (^^)>. terima kasih sudah mampir…

    Kadang2 bahkan seringkali kejujuran memang membutuhkan keberanian. Dan dewasa ini, tidak semua orang punya keberanian untuk jujur. Lebih mudah menutupi atau bahkan berbohong. mungkin manusia memang tidak akan stabil. 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s