Ketika Merapi berteriak


Merapi meletus! Itulah info yang saya dapatkan pada hari Selasa, 26 Oktober 2010. Berita ini mengejutkan dan membuat saya tambah semangat untuk berangkat ke Jogja di hari Jumatnya. Lima bulan yang lalu saya mendapatkan Promo Tiket AA Jakarta-Jogja. Lima bulan yang lalu saya tidak tahu dan menyangka bahwa saya akan mendapat bonus pemandangan Gunung Merapi yang sedang aktif di kaca jendela pesawat.

Menjelang keberangkatan, semangat saya rasanya memuncak. Saya sangat sangat ingin melihat Merapi beraksi. Terlepas dari segala bencana yang disebabkan dari aktivitas liar merapi, saya beranggapan bahwa pemandangan merapi pasti sedang keren-kerennya. Merapi lagi unjuk gigi, mana mungkin tidak gahar. Dan pemandangan gunung meletus bukan hal yang bisa setiap hari atau bahkan setiap tahun dilihat. Dan (maafkan) saya sangat ingin melihat pemandangan itu.

Merapi meletus! adalah tanda-tanda alam yang buat saya pribadi mengingatkan saya bahwa alam bukanlah benda mati. Bahwa bumi ini bukan hanya sekedar tempat tinggal yang bisa kita kuasai sedemikian rupa hingga manusia hidup nyaman. Bahwa ternyata bukan hanya alam yang harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi, tetapi juga kemajuan teknologi yang hrs bisa mengerti alam. Bahwa alam tidak diam untuk dikuasai dan dirusak begitu saja. Bahwa alam bergerak dan berubah seperti halnya kehidupan manusia.

Maka sebaris puisi Sapardi Djoko Damono, penyair favorit saya pun sekali lagi termaknakan:

” Mencintai gunung harus menjadi terjal”

Ya… saya adalah orang yang mengaku mencintai gunung dan isinya. Sekitar dua setengah tahun yang lalu, saya mendaki Gede dan jatuh cinta pada keagunganNya.  Saya belajar banyak hal dari gunung. Tidak hanya tentang alam tetapi juga tentang diri saya. Dan saya belajar bagaimana saya bisa menempatkan diri di alam semesta yang luas ini. Walaupun sampai detik ini saya masih belajar dan belum berani mengaku sudah tahu bagaimana caranya.

Saya tidak membenci Merapi.

Tidak bisa.

Terlebih saat ini, saat dia sedang sakit perut dan muntah-muntah dengan liarnya.  Bagaimanapun Merapilah yang mengajar saya untuk kuat dan bertahan disaat saya tidak mampu berjuang. Setahun yang lalu saya mendaki tanahnya. Dan dia mengajar saya dengan begitu keras dan serius. Di tanahnya saya berhadapan dengan batas diri sendiri. Bukan hal mudah untuk mendobrak batas itu dan saya sendirian tidak akan mampu. Terima kasih, Tuhan, saya tidak sendiri menghadapinya. Dan ketika batas itu terlampaui sudah, Merapi tersenyum dan memberikan segala yang hanya bisa diurai air mata takjub. Saya tidak lupa dengan segala yang saya kecap di ketinggian tanahnya. Melekat dan membekas. Makanya…

Saya tidak membenci Merapi yang meletus.

Tidak bisa.

Hanya saja… sayat dan miris, saya rasakan tatkala memandang ratus ribu orang diusir Merapi dari tanahnya. Merapi yang meminta waktu untuk sendirian berproses dalam siklus alam, tidak seharusnya menyakiti kita semua. (T.T). Siklus ini alami dan seyogyanya bisa diantisipasi sehingga tidak menjadi bencana.

Saya pernah berdiri sedemikian dekat dengan Merapi, makanya tatkala pagi dan sore itu saya melihat dia dari jendela pesawat, hati ini kembali bergetar. Merapi yang dekat mengungkap kebesaranNya, merapi yang jauh tak tersentuh pun masih mengungkap hal yang sama. Merapi bukan musuh untuk dilawan tetapi kawan untuk diterima dan dimengerti dengan segala perangainya.

Tapi apalah artinya semua pendapat dan rasa saya itu. Saya bukan orang yang berhadapan langsung dengan teror “wedhus gembel”. Debu vulkanik tidak menyelimuti rumah saya. Muntahan material tidak menghantui tidur malam saya. Juga tidak saya rasakan segala sakit kehilangan itu.

***

Teman, Minggu itu saya ke gereja. Ya, di hari terakhir saya di jogja, keinginan untuk berdoa dan datang ke gereja begitu kuat. Saya bangun pagi dan bertanya kesana kemari mencari gereja terdekat yang bisa saya kunjungi. Bus kecil kemudian mengantar saya ke Gereja St. Ignatius. Sepuluh menit terlambat kehadiran saya itu. Tapi tepat waktu untuk mendengar homili Romo.

“Jangan bertanya dimana Tuhan saat bencana ini terjadi, tetapi tanyalah dimana aku berada saat bencana ini terjadi”  Kurang lebih begitulah kalimat yang dilontarkan Romo. Saya tergetar lagi. Sepanjang 10 menit homilinya itu, Romo mengajak kami semua jemaatnya yang hadir di misa minggu itu untuk berbuat dan menghadirkan Tuhan secara nyata dalam perbuatan kami masing-masing. Maka menulislah saya disini.

Pemandangan Merapi dan Wedhus Gembelnya mengantarkan kepergian saya dari Jogja sore itu. Dan sepanjang minggu inipun, berita tentang Merapi saya konsumsi dan kunyah sepanjang waktu. Sampai malam ini pun saya masih terus berusaha update dengan kondisi disana.

Ya… Merapi sedang jadi bintang yang menuntut perhatian kita semua. Dengan keras Merapi berteriak mengajak kita semua untuk prihatin dan saling berbagi. Sudah lama saya geregetan hanya bisa menjadi penonton pasif. Hal kecil yang masih mungkin saya lakukan sekarang adalah menyumbang dan berdoa.

Tapi…tapi..tapi… koq rasa-rasanya KURANG yah? sepanjang  membaca dan menonton berita, berulang kali saya membayangkan diri menjadi relawan disana. Koq sepertinya, kalo saya jadi relawan, keprihatinan dan empati saya lebih tersalurkan ketimbang hanya menyumbang dan berdoa. Bisa apa saya disana? ah… pasti banyak yang bisa dilakukan. Saya bisa masak, mengajak anak-anak bermain, mengupdate data, dll.

Beberapa teman saya sudah berangkat dan berbuat. Sedangkan saya, sampai hari ini masih disini melakukan hal-hal kecil dari jauh. Kemudian saya mencoba berpikir realistis, keadaan disana tidak mungkin semudah yang saya bayangkan. (>,<). Maka mungkin jarak ini bukanlah halangan bagi saya untuk berbagi dan berbuat cinta bagi sesama di TKB (Tempat Kejadian Bencana). Masih ada hal-hal lain yang bisa kita lakukan bersama dari sini.

Saya lanjutkan doa saya dengan menulis di blog ini. Tulisan ini hanya salah satu usaha kecil saya untuk membantu meringankan bencana merapi. Saya tahu dan melihat sendiri, berbagai kalangan masayarakat di Jakarta, berbondong-bondong membuka posko dan mengumpulkan bantuan untuk Mentawai dan Merapi. Tak putus dan mengalir. Semoga saja diterima dengan baik bagi mereka semua yang membutuhkan disana.

Mbah Maridjan adalah sosok yang begitu mencintai Merapi dan menerima segala yang diberikan Merapi untuknya. Entah itu dimasa bahagia maupun dimasa susah dan sakit. Diterimanya dengan rela dan besar hati segala keadaan Merapi. Bagi saya sikapnya yang begitu setia, sangat membekas.  Teman, saya tidak mengenal beliau secara langsung, tapi berita dan sepenggal cerita tentang sosoknya pernah sampai di mata dan telinga saya. Dan dari sikapnya kita bisa belajar tentang kesetiaan. Dan… saya berharap cinta dan semangat berbagi untuk saudara-saudara di Merapi, Mentawai dan Wasior disertai juga dengan kesetiaan dan komitmen. Seperti mbah Maridjan.

Setia kepada siapa? ke-“manusia”-an. itu saja. Tak perlu identitas apapun. Tanpa embel-embel. Tanpa curiga. Saya bukan orang pertama dan satu-satunya yang menulis dan bicara soal berbagi untuk Merapi, Mentawai dan Wasior. Saya hanya berharap semangat berbagi itu disertai dengan kesetiaan dan bukan menjadi “trend topic” sesaat. Apalagi menjadi sarana untuk citra baik berkedok kepentingan. Tolong. Jangan. Memperkeruh. Keadaan.

Merapi menyadarkan dan mengajarkan kita untuk tidak egois.  Saudara-saudara kita membutuhkan bantuan tidak hanya sekarang dan tidak hanya materi tapi juga dukungan moral kita. Lakukan apa yang kita bisa dan mampu.

Dan dari jauh sini… kita juga bisa mulai bersiap-siap menyumbangkan apa saja yang kita bisa untuk pasca bencana nanti. Untuk membantu saudara-saudara kita bangkit berdiri dengan tegak lagi. Kita semua dibutuhkan dan dipanggil untuk berbagi.

***

Gerakkan Satu Cinta Merapi.

Gerakkan Satu Cinta Mentawai.

Iklan

Satu pemikiran pada “Ketika Merapi berteriak

  1. dan lagi saya sudah membacanya lho niq!
    makin cinta saya sama tulisan kau… 🙂

    ditunggu nih crita lengkap petualangan di jogja-nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s