“Hidup harus lebih dari sekedarnya”


Pagi itu, kami melewati Salemba. Di tengah rindangnya pepohonan kampus UI salemba, terselip billboard bergambar dua orang laki-laki, dengan carrier di kaki-kaki mereka. Saya tertarik dengan gambar itu. “akh, jangan-jangan diskon peralatan mendaki”. Spontan saya berpikir demikian ketika melihatnya, maka saya naikkan arah pandang saya. Ternyata bukan diskon, alih-alih itu tagline-nya malah lebih mengejutkan saya. Gambar itu disatukan dengan tagline “Hidup harus lebih dari sekedarnya”. Selesai terbaca demikian, billboard itupun lewat dari jangkauan mata saya. Mobil melaju kencang. Demikian juga hati saya.

Kalimat itulah yang menemani sisa perjalanan hari minggu saya kemarin. Lagi-lagi Dia berbicara dengan cara yang tidak biasa. Dan tulisan ini saya buat dalam rangka menangkap apa yang ingin disampaikanNya pada saya.

Pagi itu, saya menumpang mobil Melita dan kami menuju Kanisius untuk kemudian bersama-sama Romo Jon berangkat menuju Gereja Santa Perawan Maria Ratu. Disana, komunitas maGis akan melayani umat dengan mengisi koor dan sharing pengalaman hidup. Kami semua sudah berlatih 2 minggu sebelum hari H. Bukan persiapan yang maksimal, tapi kami berusaha semampu kami memberikan yang terbaik, di sela-sela kesibukkan kami. Latihan sepulang kantor pun kami jalani seminggu menjelang pelayanan kami. Hampir setiap hari saya sampai di rumah pada pukul 23.00. Melelahkan. Itu pasti. Sulit. Iya, tapi tidak mustahil.

Rasa lelah itu sebanding dengan menatap dan mendengar teman-teman yang tergabung dalam magis bersatu menyanyikan segala pujian bagiNya. Entahlah, boleh bilang saya aneh, tapi bagi saya, melihat teman-teman datang dan hadir untuk latihan menyanyi setiap malam di kapel Kanisius kemarin ini, membuat saya yakin Tuhan sedang bekerja menggerakkan perubahan dalam komunitas seumur jagung ini. Dan menyanyikan lagu “Lord I offer my life”, “Here I am Lord”, dan “Yes, I thank You lord”  bersama di setiap latihan adalah saat favorit saya. Karena ketika itulah saya bisa berdoa tanpa harus menyusun kata-kata sendiri.

***

Jujur saja, bagi saya, minggu-minggu terakhir ini bukanlah minggu yang mudah untuk saya lalui. Bahkan pernah di suatu hari Minggu, tatkala saya sedang sendirian, tiba-tiba saja perasaan sedih menyakitkan menguasai tubuh ini, dan yang bisa saya lakukan hanya menangis sesenggukkan tanpa benar-benar mengerti darimana rasa itu muncul. Dan entah mulai kapan, saya menggantungkan rosario berwarna pink di leher saya. Bukan untuk berdoa, bukan untuk itu. Saya hanya memakainya untuk “pegangan” disaat saya merasa goyah. Dan memang hanya itu yang bisa saya lakukan. Tanpa sadar seringkali saya kedapatan mengepalkan tangan kanan saya di rosario itu. Seakan dengan memegang salibnya saya dapat mampu mempercayaiNya.

Apakah ini caraNya menyembuhkan saya? mungkin iya. Saya tahu saya terluka dalam, untuk alasan-alasan yang saya coba terima. Tapi untuk tahu dan paham saja saya tidak bisa, apalagi menerimanya. Maka yang terjadi hanyalah seperti ini. Kadang-kadang tangisan ini tak terbendung lagi dan sakit ini tak lagi bisa saya tahan. Hanya saya cecap dalam kesendirian. Saat-saat seperti itulah saya tidak tahu bagaimana rasanya dicintai. Seperti saat ini. saya hanya bisa menangis dan memanggil namaNya dalam kesakitan.

Bilang saja ini pembelaan diri, tapi mengerjakan magis disaat seperti ini, sungguh bukan perkara mudah. Buat saya magis bukanlah beban. bukan. Cinta saya padaNya lah yang membebani saya. Saya pernah merasakan betapa pikiran bahwa saya dicintaiNya adalah alasan saya untuk berjuang juga membalas cintaNya. Namun semenjak saya ‘marah’ padaNya… segala citranya hancur dan saya tidak yakin lagi bahwa Dia mencintai saya. Karena mungkin saja ini hanyalah pelarian saya akan kebutuhan untuk merasa dicintai. Dan inilah yang kemudian membuat saya begitu egois dan mementingkan diri sendiri.

Namun demikian entah mengapa saya juga tidak bisa melepaskan magis. ataupun kegiatan lain yang saya geluti. seberapapun besarnya ingin saya untuk lari dari semua tanggung jawab, entah bagaimana walau tersandung dan penuh rasa negatif saya lakukan juga apa yang saya bisa. Karena segala ingin inilah kekuatan saya satu-satunya. Maka saya mencoba bertahan.

Dan kalimat “hidup harus lebih dari sekedarnya” pagi itu menampar saya seketika. Apa itu hidup sekedarnya? dan mengapa hidup harus lebih dari sekedarnya? Bukankah Dia mencintai saya bahkan ketika saya tidak mampu berbuat apa-apa. Layaknya seorang ibu mencintai bayinya yang hanya bisa menuntut. Bukankah Dia tetap mencintai saya meski yang saya lakukan hanyalah sedikit. meski yang saya korbankan hanyalah minimal dari talenta saya. Bukankah Dia tak menuntut balasan akan cintanya? lalu mengapa segala ingin dalam diri ini bersikukuh membalasnya dan menuntut untuk memberikan yang terbaik disaat saya tidak mampu memberikan?

Ya. Saya tahu saya dicintai sedemikian. Baik jahat maupun baik diri ini, saya pikir Dia tetap mencintai saya. Dan mungkin inilah saat-saat saya menguji kebenaran pikiran saya itu. Saya berbuat sekadarnya melakukan yang hal-hal kecil bagiNya. Ala kadarnya melayani. Dan ala kadarnya pula kemudian saya merasakan cintaNya. Dan ini menyiksa saya lebih dari apa yang saya pikirkan. Saya menjadi begitu kesakitan. egois. dan yang lebih parah, saya membenci diri saya sendiri yang demikian. Segala hal yang saya lakukan saya anggap salah dan tidak cukup baik. Saya merasa tidak layak dicintai karena tidak mampu mencintai. Saya berpikir bahwa diri saya jahat karena menakar setiap pengorbanan saya untukNya. Saya merasa tidak cukup memberikan yang terbaik.

Tapi toh tetap saya sodorkan juga segala yang saya mampu beri. Saya tahu semua itu tidak cukup baik, tapi bukan saya yang menilai. Dan bukan juga orang lain. Dan saya pun berhenti menakar. Hanya berusaha melakukan yang terbaik. (^^)>. Mungkin sampai saat ini kadang-kadang saya masih berpikir segala yang saya lakukan belum cukup baik. Tidak apa. Biarlah hal ini memecut saya untuk hidup LEBIH dari sekadarnya. Tapi saya juga tidak mau lagi menegatifkan segalanya. Saya belum sempurna. Makanya saya berbuat salah, untuk mengetahui kebenaran. Yang terpenting adalah saya bisa menyadari kesalahan itu dan belajar untuk tidak terjebak melakukan kebodohan yang sama.

Lalu tahu-tahu kisah tentang tiga orang hamba yang dipercayakan talenta tuannya melintas di kepala saya. Akh! mari saya carikan ayatnya, dan kita baca bersama. (^^)>. Matius 25 : 14-30 (perumpamaan tentang talenta). Ayat 15,21, 23, dan 27. Sudah ketemu? saya tidak paham maksudnya. Apalagi ayat 25. Akh! tapi lihat … ternyata Lukas pun bercerita tentang ini. Lukas 19 : 11-27. Baca ayat 22? kesan yang saya dapat : ternyata teman saya benar, Yesus itu galak bener. Hahaha. Ya… setidaknya sekarang kita tahu bahwa Dia pun menitipkan talenta sesuai kesanggupan masing-masing orang. dan yang perlu kita lakukan adalah setia dalam perkara kecil, alih-alih menyimpan dan tidak memberikan apa-apa. Karena sekecil apapun laba yang kita hasilkan, dia tetap mengetahui keinginan baik kita untuk membalasNya.

Jadi… bisakah saya simpulkan, menjadi maGis artinya berusaha hidup lebih dari sekedarnya? Meski kita tahu bahwa dengan dituntut “lebih” kita akan semakin menyadari kekurangan kita. (^^). Tapi jangan terpuruk dan jatuh, bangkitlah untuk berubah. Mungkin lagu ini bisa menguatkan…

“Tak Menanti Sempurna”

Kita diutus pergi berdua-dua.

Bawa kabar damai dan sukacita bagi dunia.

 

Kadang kita ragu, apa kita mampu?

Sering malu-malu, selalu ngomong “akh-akh nanti dulu”

Merasa diri tidak berarti, tak pantas untuk memberi

(padahal)

 

Dia tak menanti kita sempurna,

Tuk turut dalam karya pembebasannya

Dia tak menuntut kita jadi suci

Tuk boleh mengatakan yang benar di hati.

***

Tulisan ini saya persembahkan untuk komunitas maGis. Untuk orang-orang muda yang selalu merasa kurang dan ingin hidup LEBIH dari sekadarnya. Terima kasih untuk segalanya.

 

 

Iklan

4 pemikiran pada ““Hidup harus lebih dari sekedarnya”

  1. wow makin lama makin dalem dan ‘berat’ (buat otak gw) tulisan lo… hehe..
    btw, makin asik lagi klo lo tulis juga teks lagu “Lord I offer my life”, “Here I am Lord”, dan “Yes, I thank You lord”… soale gw oengen tau hehe…

    ayo kita berjuang supaya hidup kita bs menjadi berkat untuk orang lain dan diri kita sendiri! GBUs… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s