Melepaskan pegangan…


Teman, Ingatkah kau? Di salah satu tulisan saya, saya pernah menulis: “Dan entah mulai kapan, saya menggantungkan rosario berwarna pink di leher saya. Bukan untuk berdoa, bukan untuk itu. Saya hanya memakainya untuk “pegangan” disaat saya merasa goyah.Dan memang hanya itu yang bisa saya lakukan. Tanpa sadar seringkali saya kedapatan mengepalkan tangan kanan saya di rosario itu. Seakan dengan memegang salibnya saya dapat mampu mempercayaiNya.”

(^.^)>. Dan ingatkah kau, perjalanan yang terakhir saya lakoni adalah perjalanan mendaki gunung Papandayan? hari ini saya mau bercerita tetang sesuatu yang terjadi di Papandayan, yang hingga saat ini masih saya simpan baik-baik untuk saya cecap dan coba mengerti sendiri.

Apa hubungan kedua ingatan itu? hmm….Hari ini saya belajar dari Nietzsche, tentang “pegangan” hidup. Dan tiba-tiba saja kejadian di Papandayan dan seluruh pemikiran saya sebelum dan setelah pendakian meluap. Nietzsche memberikan jawaban yang selama ini saya cari. Menulis ini lagi-lagi adalah usaha saya untuk mengerti jawabannya.

Saya menutup perjalanan mendaki Papandayan kemarin, dengan terpaksa melepaskan pegangan yang selama ini saya pikir akan menguatkan saya. Hari itu adalah hari dimana akhirnya saya merasakan lagi keindahan hadir-Nya, setelah segala sesuatu dan banyak kejadian membawa saya dalam kondisi terdesolasi berkepanjangan. Sebentar saja, tapi rasanya haus dan lapar saya sedikit terobati. Papandayan kemudian memberikan saya perkejaan rumah yang tidak mudah.

Hari itu… saya harus kehilangan ‘pegangan’ saya selama ini. Rosario yang selama ini saya kalungkan di leher, putus dan seketika berantakkan terporak-porandakan. Itu kenyataannya. Saya tentu saja terperangah kaget saat kejadian. Saya percaya pertanda. Pertanda, bagi saya adalah salah satu cara Tuhan berkomunikasi dengan saya. Dan tentu saja saya bebas menentukan kejadian-kejadian dalam hidup saya yang bisa jadi Pertanda. Bebas pula saya tafsirkan segala pikiran yang muncul dari pertanda-pertanda yang saya pikir saya lihat dan berasal dariNya. Dan bagi saya, putusnya rosario pink itu adalah pertanda, yang tidak bisa saya kesampingkan begitu saja. Tentu saja, saya sadar bahwa putusnya rosario adalah hal biasa yang lazim. Mungkin karena terlalu sering saya lepas-pakai, maka talinya menjadi kendur dan ikatannya melemah. Secara rasio, rosario putus itu biasa dan saya tidak akan peduli lebih jauh, toh saya masih punya rosario lainnya. Tapi secara intuisi, saya tahu ada sesuatu yang hendak disampaikan. dan secara hati saya menyayangkan putusnya rosario itu, rupanya ada “ikatan” tersendiri antara saya dan rosario itu. Ikatan yang tidak bisa diterima putus begitu saja….

“Pegangan” saya selama ini lepas-putus bahkan berceceran tanpa arti lagi. Itulah metafora terbaik dalam menggambarkan hubungan saya denganNya belakangan ini. Masih tersisa hal-hal pokok untuk saya percaya, tapi bagaimanapun saya juga telah kehilangan butir-butir lainnya yang membuat rasa percaya saya tidak lagi utuh. Saya meragu. bertanya. mencari. dan kehilangan.

Tadinya saya mencoba untuk mengambil sisi positifnya. “Mungkin Tuhan melepas pegangan saya, karena Ia ingin saya belajar memperkokoh pijakkan sehingga tidak perlu lagi pegangan”. (^^). Lalu hari ini, saya diperlihatkan sudut pandang yang lain, dari seorang filsuf yang terkenal dengan jargon “Tuhan sudah mati, kita telah membunuhnya”. Friedrich Wilhelm Nietzsche.

“Karena manusia adalah binatang yang memuja! Meskipun begitu, di situ dia juga tidak percaya begitu saja karena sebenarnya dunia ini tidak seberharga sebagaimana yang dipercayai sebelumnya. Itulah kurang lebih apa yang paling pasti dari ujung akhir kecurigaan kita.”

Dan ini uraian pertanyaan refleksinya yang saya ambil dari foto-kopian artikel EC filsafat “Kita para pembunuh Tuhan” oleh Dr. A setyo Wibowo hal 25.

Akar masalah nihilisme (kekecewaan manusia pencuriga bahwa ternyata dibalik pujaan yang ada hanyalah proyeksi antropomorfistiknya belaka) terletak dalam pertanyaan ini: “mengapa manusia butuh memuja?” Mengapa manusia butuh sesuatu untuk ia idealkan? Akar masalah yang didiagnosis secara genealogis akan memperlihatlkan bahwa dibalik itu semua ada kebutuhan akan pegangan. Pujaan adalah jangkar bagi perahu manusia yang teromabng-ambing lautan realitas. Dunia dan hidup itu tidak jelas, buram, amorf. Ia selalu mengalir menjadi, campur aduk hitam putih, singkatnya abu-abu. Bisakah kita hidup dalam abu-abu terus menerus? Inilah titik pertanyaan paling krusial. Tidak semua orang mampu menghadapinya. Orang membutuhkan pegangan untuk dijadikan orientasi dan patokan dalam hidup. Pegangan menjadi berguna karena membantu manusia memaknai kehidupan, dan dengan demikian membantunya hidup. Masalahnya apakah hidup itu sendiri sesuai dengan parameter pegangan yang ia cengkeram? Itulah pertanyaan yang membongkar si manusia itu sendiri. Posisi Nietzsche jelas mengatakan tidak: hidup, dunia, realitas tidak bisa dikotakkan dalam kesempitan pegangan antropomorfistik manusia.

Oleh karena itu manakala manusia memuja sesuatu, memegangi kepercayaan akan sesuatu (saintnisme, nasionalisme, komunisme, atheisme, atau apapun), pertanyaan genealogis nietzschean sangat menusuk : apa yang dimaui kehendak saat memaui sesuatu? Saat anda percaya kepada Tuhan, apa yang sesungguhnya dimaui dalam kepercayaan Anda tersebut? Tuhan sendiri? Betulkah? Jika Tuhan sendiri, maksudnya apa? Tuhan Kristen, Tuhan Muslim, Tuhan  dewa-dewi, Tuhan new age, Tuhan inklusif, Tuhan plural, Tuhan an sich, atau apa? Jika hanya Anda hanya percaya kepada salah satu Tuhan di atas, mengapa hanya kepada Tuhan tersebut dan bukan kepada lainnya? […] Pertanyaan genealogis menukik ke dalam diri kita sendiri: apa yang kumaui saat aku menghendaki sesuatu?

(^^)>. Buat saya, pandangan diatas dan pemikiran Nietzsche diatas sangat menarik dan tentu saja reflektif. Menarik karena sesuai dengan kecurigaan dan keraguan saya selama ini. Bikin gatal dan provokatif. hahaha. Saya adalah orang yang memuja dan tepat seperti yang digambarkan Nietzsche selalu membutuhkan sesuatu untuk dipuja. Saya sadar selama ini saya menitikberatkan “pujaan” saya pada tuhan dalam pikiran saya. Tuhan yang saya pelajari dari Alkitab dan alami dalam perjalanan hidup saya. Tuhan yang saya coba tafsirkan dengan membaca tanda-tanda “keberadaannya”. Dialah yang menjadi pegangan saya. selalu. bahkan sampai detik ini, disaat saya meragu dan tidak bisa memegangnya. Saya mau Dia ada. Saya ingin bahwa Dia ada. Setidaknya saya tahu saya butuh keber-ada-anNya. Mengapa? Karena tanpaNya, lalu apa arti hidup pula keberadaan saya, Anda, kita semua di dunia ini?

Maka putusnya rosario itu kini saya maknai, “Beranikah saya melepas pegangan saya dari pikiran saya tentang Tuhan?” Membebaskan Tuhan dari pikiran manusiawi saya? Ya, Hikmah yang bisa saya ambil dari terpaksa lepasnya diri ini dari pegangan “rosario” adalah bahwa saya harus membebaskan tuhan dari pikiran saya. bahwa Dia lebih dari apa yang bisa saya pikirkan. Dan apa yang saya pikirkan tentangNya bukanlah hal yang bisa saya jadikan tuhan. Mungkin Tuhan tidak mau saya membunuhNya dengan pemikiran-pemikiran sempit saya itu, maka Dia dengan dramatis pula memutuskan benda yang saya metaforakan sebagai ‘pegangan’ saya. (setidaknya saat ini saya akan bertahan dengan pikiran ini. sampai Dia memberikan pegangan lain yang membawa saya lebih dekat padaNya). Dan saat itu, saya tahu, saya terlalu takut melepaskan pegangan saya padaNya. Dia adalah segala yang saya percayai selama ini. Kalau saya tidak memegangNya, saya yang tidak berpijak akan jatuh dalam kekosongan tanpa arti. Mungkinkah teori awal saya benar, bahwa Dia tidak ingin saya berpegangan tapi mendirikan pijakan iman yang kokoh dan kuat agar saya dapat berdiri meski tanpa pegangan? hahaha… saya tidak tahu. Saya belum berani bilang apa yang benar dan apa yang salah, hanya berani bilang apa yang saya tafsir benar dan saya tafsir salah. dan itu artinya ketidakpastian. Sesuatu mungkin benar atau juga mungkin salah.

Otomatis, kondisi ini membawa saya berada dalam posisi sebagai manusia yang resah dan bingung.  Kata filsafat, pergulatan ini bernama nihilisme. dan di mata Nietzsche, nihilisme itu  dapat ditanggapi dengan dua cara pergulatan : aktif atau pasif. Ciri yang pasif akan tampak : apatis, loyo, lelah, terserak bingung dan akhirnya jatuh dalam ungkapan-ungkapan serba meratap. Sedangkan nihilisme aktif ditandai dengan keinginan manusia untuk menerima realitas apa adanya, seperti “bayi yang sedang bermain”. Hmmm…. saya seh cenderung mau memilih menggulatinya dengan cara yang aktif. So let’s begin the journey. Ga tau kemana pemikiran ini akan membawa saya. Yang jelas saya akan dengan senang hati berpetualang mencariNya. Saya tidak ingin takut menalar dan merasiokanNya.  Maka saat ini saya ingin membuka mata, hati dan pikiran saya selebar-lebarnya untuk keraguan tentangNya. Bagi saya, keraguan akanNya suatu hari nanti justru akan membuat saya lebih dewasa mengimaniNya. Saya hanya tidak ingin menjadi buta dalam iman. Saya ingin di tengah semua keraguan itu justru saya masih dapat menemukan 1-2 hal yang bisa saya imani dariNya.

Sekarang ini biarlah saya bermain dulu dengan pertanyaan-pertanyaan tentangNya… dengan tafsiran-tafsiran saya tentang keberadaanNya. *posmodernisme mode On*. Sampai batas waktu dimana saya nanti akhirnya bisa berpegangan atau berpijak pada sesuatu yang kuat, pasti dan bisa menjadi dasar keseluruhan hidup juga pemaknaan saya akan hidup.

*(^^)>. ini teori saja… cuma mau sok-sok berfilsafat. dan mengendapkan apa yang telah saya dapat. tidak perlu disetujui apalagi dipercaya. Saya tutup postingan ini dengan kalimat salah satu idola saya:

“Hidup adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya” – Gie.

Iklan

Satu pemikiran pada “Melepaskan pegangan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s