Mengorbankan tuhan…(1)


Selamat Paskah! (^^)>.

Mari kita bicara Tuhan, iman dan penderitaan manusia. Paskah selalu adalah waktu yang tepat untuk membicarakan semua itu. Dan kali ini saya mau masuk dari Ateisme. Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. (sumber: wikipedia).

Ateisme lahir dari teriakkan manusia yang lelah dan muak dengan penderitaan dan Tuhan yang diam saja. ‘Mengapa ini terjadi?’ adalah pertanyaan pertama yang keluar dari diri manusia ketika berhadapan dengan  musibah, bencana dan lain-lain yang menyebabkan penderitaan dalam hidupnya. Hidup sendiri sudah mengandung misteri, lalu kenapa juga harus dilengkapi dengan penderitaan? ‘Dimana Tuhan?’ adalah pertanyaan susulannya. Apa yang Dia kerjakan? mengapa Dia tidak melenyapkan penderitaan? Manusia selalu mempertanyakan Tuhan tepat disaat penderitaan mendera hidupnya. Jika benar Tuhan ada, mengapa ada penderitaan? Mengapa Manusia merasa sakit?  Di kelas “ateisme atas nama penderitaan”, saya mendapatkan lontaran-lontaran kemungkinan yang meragukan Tuhan. Apa Tuhan tidak mampu melenyapkan penderitaan? padahal dia Mahakuasa, Mahabesar. Apa Tuhan mampu namun membiarkan manusia menderita? padahal dia Mahabaik, MahaPecinta, lalu mengapa dia membiarkan? Dan kemungkinan yang terakhir, Apa Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan penderitaan? Padahal agama monoteisme menekankan bahwa Dia Mahasempurna.

And before you get bored with all these stuff… I’ll share a sweet clay animated movie, yang secara kebetulan saya tonton di tengah-tengah merampungkan tulisan ini (hahaha… iya, maaf melompat). Salah satu tokoh film ini seorang Ateis sekaligus penderita sindrom Asperger (Apa itu? silahkan googling atau  tonton filmnya). (^^)>. Saya tiba-tiba bosan sendiri dengan tulisan yang saya buat ini, lalu memutuskan untuk menonton saja Film “Mary & Max”, yang beberapa bulan lalu saya beli. Siapa sangka Film ini malah memberikan saya potongan rantai yang bisa melengkapi tulisan ini.

“Mary & Max”, berkisah tentang persahabatan manis yang terjalin antara Mary Daisy Dinkle – seorang gadis berusia 8 tahun yang tinggal di Australia dan Max – seorang laki-laki Yahudi berusia 44 tahun yang tinggal di New York. Persahabatan mereka dimulai ketika secara kebetulan Mary merobek lembaran halaman yellow pages New York city di Kantor Pos yang memuat alamat Max. Mary kemudian memutuskan untuk mengirim surat pada Max yang tinggal di Amerika, demi mengetahui darimana bayi berasal di Amerika? Rupanya Mary diberitahu bahwa di Australia bayi ditemukan dalam segelas bir. Film ini hanya berkisah tentang hubungan persahabatan yang kemudian terjalin dari surat-menyurat mereka. Sesederhana itu. Tapi bagi Mary maupun Max, satu sama lain merupakan sosok luar biasa, sosok yang akhirnya bisa mereka sebut “sahabat” secara nyata. Mary dan max mempunyai beberapa kesamaan, mereka sama-sama menyukai coklat dan the noblets, tapi apa yang menyatukan dan mengikat mereka adalah mereka sama-sama tidak mempunyai teman. Mary, seorang anak kecil yang kesepian dan tidak percaya diri. Max seorang penderita Asperger yang kesulitan bersosialisasi. Pada awalnya surat-surat Mary memberi efek menyakitkan bagi Max, namun akhirnya Max bersedia membuka diri dan belajar percaya bahwa Mary bisa menjadi temannya, ‘My only friend’. Sampai akhirnya Mary dewasa dan memutuskan untuk mendalami penyakit mental demi lebih mengerti kondisi Max sebagai penderita Asperger. Harapannya adalah menyembuhkan Max. Persahabatan surat-menyurat mereka bertahan dan berlangsung selama 20 tahun. (it make me wish I have a pen pal).

Cerita manis ini masih berlanjut, tapi saya singkat saja karena yang ingin saya kutip hanyalah isi salah satu surat Max pada Mary, terkait ateisme:

‘I was born Jewish and used to believe in God but I’ve since read many books that have proven God is just a figment of my imagination. People like to believe in God because it answers complicated questions. Iike where did the universe come from, do worms go to heaven…and why do old ladies have blue hair? Even though I’m an atheist, I still wear my yarmulke as it keeps my brain warm.’

Max menjalankan hidupnya tanpa Tuhan dan dia baik-baik saja. Dan tahukah anda, bahwa Max hanya mempunyai tiga tujuan dalam hidupnya:

‘People often think I am tactless and rude. I cannot understand how being honest can be…improper. Maybe this is why I don’t have any friends of course except for you. A real friend has been one of my three goals in life. The other two are to own every Noblet and a lifetime supply of chocolate.’

Max menciptakan teman imajinatif bernama Mr. Ravioli. Tapi jauh di dalam hatinya dia ingin memiliki seorang sahabat ‘nyata’.

Well… Teman apa kaitan semua ini? Saya pernah tenggelam dalam pemikiran yang sama dengan pemikiran Max dan ateis lainnya mengenai Tuhan. Tapi tidak lama. Saya sedang berada dalam tahap pergulatan meragukan Tuhan dan  eksistensi diri. Saya mendapat banyak insight dari ilustrasi film ini, menambah apa-apa yang telah saya pelajari dan renungkan selama mengikuti kursus filsafat “menalar Tuhan”.   Selain film ini dan kursus yang jalani, ada satu buku yang juga memberikan pengaruh dalam permenungan panjang saya: “Beriman untuk hidup dan beriman untuk mati” karangan John Powel, Sj. But the thing is…Saya sudah lama mendapat banyak hal dari luar diri saya. Maka sudah waktunya saya melihat ke dalam diri, mencerna apa yang telah didapat dan memilih untuk diri saya sendiri. Dan beberapa hari terakhir ini saya menelusuri kembali jawaban-jawabanNya dalam hidup saya. Mengambil jarak dan memunguti tanda-tanda keberadaanNya di hidup saya. Semua itu kemudian menyadarkan saya bahwa pengalaman-pengalaman saya akan Tuhan adalah nyata dan jauh lebih berarti ketimbang Tuhan yang hanya saya dengar, baca dan mengerti dari orang lain. Saya sendiri punya konsep Tuhan yang saya percaya. Saya sendiri punya pengalaman tentangNya. Dan saya tidak mau lagi menghabiskan waktu untuk tidak percaya pun tidak beriman padaNya.

Hmm… I always want to have someone with whom I can be free and honest. Dan seperti Max dan Mary, saya juga menginginkan ‘A real friend’, dengan siapa saya bisa jujur tanpa harus takut, tanpa resiko untuk terluka. Awalnya saya pikir Yesus lah, teman sakti tersebut. Saya menulis banyak hal kepadaNya… menceritakan hal-hal yang tak berani saya ungkap kepada siapa pun. Dan Dia tentu saja hanya diam. Yang terjadi adalah saya membayangkan, mengimajinasikan Yesus membalas tulisan saya. Saya membaca Alkitab, membaca banyak buku untuk membentuk karakter “Yesus” dalam kepala saya. Hingga… suatu hari, saya berhadapan dengan Yesus ciptaan saya dalam kemarahan yang amat sangat. Ternyata saya masih harus berhadapan dengan resiko yang selama ini saya pikir tidak akan pernah saya terima dariNya. Terluka.

Waktu itu, kebetulan saya sedang makan siang dengan salah seorang sahabat saya. Kami sedang berjalan-jalan di seputaran Universitas Indonesia. Saya suka sekali kampus ini. Hijau dan rindang. Ketika kami makan, seorang anak kecil yang menggendong adiknya datang menghampiri meja kami. Dia menangis, saya terenyuh. Lalu saya menanyakan apakah dia sudah makan? Belum, katanya. Maka saya suruh dia memilih makanan yang dia suka dan duduk makan bersama kami di meja. Dia memesan semangkuk Mie Goreng dan es teh manis. Sambil makan, kami mengobrol. Dan yang saya temukan dalam fakta-fakta hidupnya yang masih seumur jagung sangat mengganggu saya. Selesai makan, kami berpisah. Saya mendoakan yang terbaik baginya, namun rasa tak berdaya untuk menolongnya sudah menyelimuti saya. Saya tahu dia bukan satu-satunya anak jalanan. Masih banyak ratusan atau ribuan anak2 jalanan di jakarta ini yang juga terlantar. Siang itu kemudian saya menghadiri pertemuan komunitas maGis, dimana pada pertemuan itu saya belajar mempraktekkan doa kontemplatif . Kali itu, kami diminta untuk mengkontemplasikan masa kecil Yesus, apa yang kira-kira Dia lakukan sampai dengan umur 30, kisah hidupNya sebelum tercatat dalam alkitab. Saya bebas, sebebas-bebasnya untuk berimajinasi dan menafsirkannya.

Awalnya saya bingung harus memulai darimana karena masa-masa itu memang tidak diceritakan dalam Alkitab. dan saya baru saja mulai membayangkan masa kecil Yesus, yang orang tuanya adalah  Santa Maria dan Santo Yusuf. Entah darimana, ketika saya membayangkan segala kasih sayang orang tua yang dilimpahkan di masa kecilnya, kemarahan luar biasa muncul dalam diri saya. Mata saya langsung terbuka dan berair. Badan saya gemetar tak tertahankan… dan detik itu juga saya tidak bisa mengontrol emosi-emosi yang muncul. Saya berlari keluar meninggalkan ruangan diam-diam, tak lagi mempedulikan praktek doa kontemplatif tersebut dan mencari tempat sembunyi untuk kemudian menangis marah. Marah pada Yesus dan masa kecilnya yang dalam bayangan saya begitu bahagia. Saya bilang pada Yesus, bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang penderitaan. Dia tidak tahu rasanya harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Saya marah untuk diri saya sendiri dan anak kecil yang saya temui sebelumnya. Anak kecil itu bahkan harus mencari makan sendiri padahal tinggi badannya tidak sampai seperut saya. Dimana orang tuanya? yang seharusnya menyediakan makan, memberikan pendidikan. Mengapa dia yang sekecil itu sudah diberi tanggung jawab untuk merawat adiknya? Dan Yesus tidak akan mengerti semua itu, jika ibunya seorang Santa dan ayahnya seorang Santo. Yesus bukan anak yang diterlantarkan. Meski mungkin miskin, setidaknya dia tidak terlantar. Setidaknya dia punya orang tua yang mendekati sempurna. Saya tidak. Anak kecil itu tidak. Dan juga jutaan manusia lain tidak.

Dan mata saya tidak lagi melihat keajaiban salib. Penderitaan Yesus di kayu salib hanyalah sehari Dia rasakan. Tapi penderitaan saya, penderitaan anak-anak kecil lainnya harus kami tanggung seumur hidup. Saya yakin saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang bahkan kisah hidupnya lebih menyesakkan. Terlalu romantis dan naif jika saya masih berpikir bahwa Dia melakukannya hanya untuk saya semata. Tidak, Dia tidak berkorban hanya untuk saya saja. Dia berkorban untuk jiwa-jiwa sebelum Dia dan ribuan tahun setelah Dia hadir. Jiwa sebanyak itu dibayar hanya dengan mengorbankan satu tubuh saja?  Satu kematian saja? You’ve got to be kidding me, god. Ketika saya melihat segala derita itu saya tidak tahan dan percaya saya padaNya pecah berantakkan. Saya tak sanggup menatapNya. Dalam bayangan saya saat itu, Dia hanya diam dan melihat saya. Melihat saya dalam-dalam. Dan saya terus meneriakkan amarah saya, saya dorong Dia. Terlalu sakit untuk diterima. Saya menangis sejadi-jadinya. Dari ujung kepala hingga kaki gemetar dan kesemutan. Tubuh saya sibuk mengirimkan tanda bahaya ke otak dan rupanya tepat disitulah pertahanan diri saya hancur. Hubungan Saya dan Tuhan tidak pernah sama lagi sejak saat itu. Sejak saat itu, saya berhenti menulis padaNya. Saya tahu ada kalanya saya merindukan perasaan aman yang dulu pernah saya punya. Rasa aman bahwa Dia peduli dan mencintai saya. Perasaan bahwa Dia mengerti. Hanya saja saya butuh waktu untuk membangun kembali segala rasa percaya itu. Saya butuh waktu untuk mengertiNya. Dan segala perasaan ini tidak saya bawa dengan riang gembira… Nietzsche dengan jelas menuliskan segala rasa yang saya punya sejak saat itu.

Saat ini, Saya memang sedang senang-senangnya melahap pemikiran Nietzsche.  Dan bisa dibilang saya jatuh cinta pada pemikirannya tentang tuhan. Nietzsche adalah filsuf dari Jerman yang terkenal  berani oleh karena pernyataannya “Tuhan sudah mati, kita telah membunuhnya”. Dan mari saya ajak kalian membaca sepenggal refleksinya setelah dia melontarkan kalimat itu:

“Aku akan mengatakannya kepada kalian. Kita telah membunuhnya – kalian dan saya. Kita semua adalah pembunuh-pembunuhnya. Tetapi bagaimana mungkin kita telah melakukannya? Bagaimana mungkin kita mengosongkan lautan? Siapa yang telah memberikan kepada kita spon untuk menghapus seluruh horizon? Apa yang telah kita perbuat dengan melepaskan bumi dari matahari? Ke mana bumi sekarang berputar? Ke mana gerak bumi sekarang membawa kita? Jauh dari segala matahari-matahari? Tidakkah kita terperosok dalam kejatuhan tanpa henti? Terperosok ke belakang, ke samping, ke depan, kemana-mana? Masih adakah atas atau bawah? tidakkah saat ini kita menyasar-nyasar melewati kekosongan tanpa batas? Tidakkah kita rasakan hembusan kekosongan? Bukankah rasanya lebih dingin? Tidakkah rasanya menjadi malam dan semakin lama semakin malam?  […]

Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! dan kitalah yang telah membunuhnya! Bagaimana kita menghibur diri kita, pembunuh dari para pembunuh? Apa yang paling kudus kudus dan paling berkuasa yang dimiliki dunia telah kehilangan darahnya di bilah pisau kita – siapa yang akan membersihkan darah itu dari tangan kita? […]

Tidakkah kedahsyatan tindakan itu terlalu besar bagi kita?”

(^^)>. menarik yah. Dia membunuh Tuhan… namun kebimbangan, keresahan dan juga kegelisahan hidupnya tidak selesai sampai disana. Demikian juga saya. Saya memang tidak seradikal Nietzsche. Tapi saya paham benar perasaan-perasaan setelah membunuh tuhan yang dituliskannya.

Perasaan hancur yang sama juga saya temukan pada saat Max menerima surat Mary tentang buku yang dikarangnya. Mary membuat buku tentang penderita Aspeger berdasarkan surat-surat Max. Mary pikir itu akan menjadi hadiah terbaiknya untuk Max. Namun ternyata Max marah sangat, hingga bahkan dia tidak bisa menuliskannya dalam surat. Dan di hari Mary akan berangkat menemui Max, Mary menerima bagian besi mesin ketik berhuruf ‘M’. Hanya huruf itu saja. Kesedihan mendalam menghantam Mary. Dia pun memutuskan untuk menghancurkan semua kopi bukunya dan membatalkan penerbitan buku tersebut. Dia mengirim “I’m Sorry” pada max, namun tidak pernah lagi mendapatkan balasan. Diceritakan bahwa Mary tenggelam dalam depresi berkepanjangan sejak saat itu. Suaminya meninggalkan dia dan Mary sampai pada titik dimana hidupnya tidak berarti dan memutuskan untuk mengakhirinya.

Teman, Saya terharu dengan surat yang ditulis Max untuk Mary ini …

Dear Mary,

Please find enclosed my entire Noblet collection as a sign that I forgive you. When I received your book, the emotions inside my brain felt like they were in a tumble dryer, smashing into each other.

The hurt felt like when I accidentally stapled my lips together. Ow!

The reason I forgive you is because you are not perfect. You are imperfect, and so am l. All humans are imperfect, even the man outside my apartment who litters.

When I was young, I wanted to be anybody but myself. Dr Bernard Hazelhof said if I was on a desert island then I would have to get used to my own company just me and the coconuts.

He said I would have to accept myself, my warts and all, and that we don’t get to choose our warts. They are a part of us and we have to live with them. We can, however, choose our friends and I am glad I have chosen you.

Dr Bernard Hazelhof also said that everyone’s lives are like a very long sidewalk. Some are well paved. Others, like mine, have cracks, banana skins and cigarette butts. Your sidewalk is like mine but probably not as many cracks. Hopefully, one day our sidewalks will meet and we can share a can of condensed milk.

You are my best friend. You are my only friend.

Your American penpal,

Max Jerry Horowitz.

Max masih ateis saat dia menuliskan semua itu. Lalu darimana dia mendapatkan semua pengertian itu? (^^)>. Apakah Tuhan berbicara padanya? apakah Dia mengimajinasikan Tuhan berbicara dalam kepalanya? Tidak. Dia mendapat pengertian itu tatkala dia marah teramat sangat pada seorang pengemis yang membuang puntung rokok sembarangan. Tiba-tiba saja pengertian itu muncul. Dezinggg! Tiba-tiba saja kesadaran itu muncul. Pencerahan itulah yang memampukan Max menulis surat itu untuk Mary. dan Surat Max itulah yang juga menyelamatkan Mary dari keinginannya untuk bunuh diri. It’s a happy  yet warm ending. (tears all over my face, but my heart feel so warm) You may say this is bullsh*t, tapi buat saya… itulah Tuhan yang berbicara pada Max. Tuhanlah yang melayangkan “Dezinggg!” di kepala Max. Sikap Max berubah sejak saat itu. Dia menerima dirinya, menerima ketidaksempurnaannya dan dengan demikian bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain. Dia menghembuskan napas terakhirnya dengan penuh kebahagiaan. Dan saya yakin, meski dia ateis, Tuhan pun menerima dia. Dan entahlah saya merasa ketika menyaksikan proses Max, saya entah bagaimana bisa menerima segala yang selama ini menyakitkan saya. Dan mata saya mulai terbuka lagi akan jejak cintaNya dalam hidup saya. Dia tidak lagi terasa jauh.

Penderitaan memang selalu membuat kita bertanya Untuk apa kita hidup? tapi mungkin begini… Segala rasa menderita itu membuat kita tidak lagi menerima “hidup” sebagai anugerah. Kita berkeluh kesah. dan sebenarnya itu penolakkan kita untuk merasa ‘hidup’. Menderita dan sakit hanya semakin menyadarkan bahwa kita hidup dalam ketidaksempurnaan, dalam kesia-siaan. And I am proud enough to write this… Saya beruntung , karena saya punya sahabat yang rela menjadi korban, yang rela menanggung segala derita hidup saya dan orang-orang lainnya yang percaya padaNya. Dan saya lebih beruntung lagi karena saya bisa mengenalNya secara pribadi. Dan setiap Paskah, saya diingatkan. Setiap Paskah saya merayakan pengorbanan Sahabat terbaik saya ini. Sahabat yang telah terbukti nyata “sakti”.

Tuhan tidak diam melihat penderitaan saya. Dan Dia jelas mau dan mampu menghilangkan penderitaan saya dan juga manusia lainnya… selama saya  mau kembali percaya…selama saya mau membuka hati dan pikiran saya lagi untukNya. Tuhan jelas memberikan saya waktu untuk membunuhNya. Untuk membebankan segala penderitaan saya padaNya. Menyediakan diriNya menjadi “kambing hitam” manusia berdosa seperti saya. Sayalah yang menyalibkannya di golgota dan hidup saya tidak selesai dengan mengorbankan tuhan. Yesus sendiri tidak selesai hanya dengan mengorbankan diriNya di kayu salib. Yesus  bangkit dan mewartakan kabar gembira bahwa saya tidak perlu mati dalam penderitaan. Justru hidup dimulai saat saya mengorbankan tuhan dalam imajinasi saya dan belajar terbuka untuk menerima hidup dan keadaan saya kemudian percaya lagi padaNya. Saya pun memilih untuk bangkit dan percaya lagi padaNya. Saya bersyukur untuk segala sakit dan derita yang saya rasakan dulu dan kini saya tahu jika satu kematian Tuhan tidak sanggup membuktikan betapa besar cintaNya bagi manusia, maka Dia memanggil dan memilih saya, kamu, kita sebagai orang percaya untuk berani mati dan berkorban, membuktikan pada dunia, Cinta SejatiNya. Mengisahkan secara konstan dan mewujud-nyatakan hadirNya di dunia. Yesus bukan satu-satuNya bukti Cinta Allah di dunia, Dia jelas yang pertama… tapi sekali lagi bukan satu-satunya.

Beranikah kita menjadikan hidup kita sebagai bukti CintaNya ?

Iklan

Satu pemikiran pada “Mengorbankan tuhan…(1)

  1. hey moniq.. saya juga sudah ntn lho film mary & max…
    btw, dulu saya jg pernah pny penpal, jaman masih surat2an pake pos… tp sayang sekarang udah ga pernah surat2an lg sama mereka…

    niq, tulisan lo dalem…
    anyway, thanks for sharing your thoughts ya niq!
    always good to read those all.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s