Berlalu begitu saja


” Ya, mas?”

Akhirnya kutemukan juga telpon genggam yang sedari tadi bergetar memanggil di dalam tas. Sekilas kulihat di layar, wajahnya yang sedang tersenyum. Aku tersenyum balik dan menekan tombol untuk menyapanya.

“Koq ribut, kamu dimana dek?”

“Ini mampir ke Mall dulu, mas. Aku tadi… … … ” Langsung saja aku menceritakan hariku padanya, sambil berjalan santai membelah keramaian.

“Kamu gimana, mas?” Sesakma aku mendengarkan harinya. Mengangkat wajah dan menoleh kesamping.

Blast. Laki-laki itu.

***

Sekejap mataku terpaku menangkap sosok laki-laki yang baru saja melewati sisi kananku.Aku menoleh terkesima. Dia tidak banyak berubah. Dia sudah lebih dewasa. Dan tidak sendirian. Sekilas. Sekelibat, anganku segera berlari mengejar rasa yang sudah terlalu basi.

“oh…iya? lalu?” tanggapku spontan hampir tanpa sadar. Suaranya mulai sayup di telingaku. Mataku masih berusaha menangkap kebenaran. Aku menoleh kebelakang. Punggungnya makin menjauh membelakangiku.

‘Ivan!’ hatiku berbisik memanggilnya.

Tangkap mataku!’ Spontan aku mengingat rupaku malam itu. Tidak buruk, walau terasa letih.

Ya ampun!‘ dan jeritan hatiku ini yang melepas sosok masa depannya. Laki-laki itu yang sepuluh tahun lalu pernah kucinta. Cinta pertama yang sudah lama kulepas. Tak kusangka nyata-nyata berlalu begitu saja.

***

Aku hanya diam mendengarkan celoteh kekasihku. Sesekali mengguman “hmmm…” di tengah-tengah ceritanya. Untung dia berceramah dan tak menyadari diamku. Kakiku hanya melangkah pelan tak menentu. Anganku masih berputar menyaksikan sepotong demi sepotong gambar tentang laki-laki yang baru saja berlalu. Maaf. Maksudku yang sudah sepuluh tahun berlalu dari hidupku. Aku ingat, kali pertama dia menggenggam tanganku. Rasanya sudah basi sekali semua itu. Dulu hanya dengan melihatnya berlalu saja, tubuhku akan bereaksi seakan gempa mengguncang dunia. Seminggu dua kali aku bertemu dengannya, dua hari termanis dalam minggu, dua jam terdekat antara Aku dan dia. Kenyataan yang kini kukenang manis. Selebihnya hanyalah tentang aku mengangankan dirinya. Selebihnya hanyalah imajinasiku yang terlalu keras bekerja mendambanya. Selebihnya hanyalah tentang seribu bintang yang kulipat bersama cinta tak bertepuk.

Lalu tanpa sadar aku tersenyum. Rasa itu sudah basi. Dia sudah tidak lagi menjadi alasan air mataku mengalir. Rindu yang kurasakan pun kali ini tidak berteriak kesakitan. Hanya berbisik, ‘ah semoga kamu bahagia, van’.

***

“iya, mas. Ini aku dah di rumah koq.”

“He-eh.”

“Mau mandi dulu… Ok. Bye, love”

Segera kulempar telpon genggamku ke atas tempat tidur. Kulepas segala yang melekat. Termasuk bayang dirinya.

‘Tuhan, cukupkan dia dengan kasihMu. Semoga kamu bahagia, van’

Doaku ini tulus untukmu. Cinta yang sudah usang. Sepuluh tahun sudah berlalu begitu saja, sejak aku memutuskan tidak akan berhubungan lagi denganmu. Sepuluh tahun sudah.

‘Ah, waktu… kau terlalu cepat berlalu’ 

Byur!

***

Iklan

4 pemikiran pada “Berlalu begitu saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s