Sendiri


Jari jemarinya berada dalam genggamanku, mengisi setiap ruang bercela. Hangatnya mengalir merasuk ke dalam degup jantungku. Senyata keringat yang membasahi kulit kami, senyata itulah dia ada di sisiku. Sambil menunduk, aku berjalan seirama langkahnya. Aku perhatikan satu per satu kakiku melangkah, menggenggam percaya di tanganku dan tangannya, aku tidak goyah apalagi letih.

Aku palingkan sejenak mataku dari langkah sepatu dan aku menoleh melontarkan satu tanya padanya. Tanya yang sedari tadi diam-diam terselip di setiap langkah kami.

“Bolehkah nanti aku melepaskan genggamanmu dan lari meninggalkanmu jika memang ternyata aku tidak lagi menyukai perjalanan ini?”

“meski bersamaku sekalipun?”

“justru karena bersamamu.”

Langkahnya kurasakan melambat, aku pun menyerta. Dia diam. ada sedikit kerut muncul di dahinya.

maaf… aku harus menanyakan ini.

langkah lambatnya terhenti dan dia menoleh padaku.

“Jika karena bersamaku, kau tidak lagi menyukai perjalanan ini, dan segala inginmu hanyalah melepaskan genggaman tangan kita ini. Aku… ” dia menarik napas berat dan melanjutkan “Aku akan melepasmu”

“begitu saja?”

“Maria… kau tahu. tidak begitu saja. Tapi apa arti perjalanan ini jika kau tidak bahagia?”

“bukankah sudah kukatakan, aku mencintaimu. dan aku bahagia kemanapun kau membawaku? mengapa kau membiarkanku melepasmu?”

“Maria… aku menggenggam takutmu dan percayamu disini, di tangan kita. Dan kau tahu, bahagia tidak ada diantaranya”

“tapi kita bahagia dalam genggaman tangan ini” hentakku sambil menghadapkan kepal kami di wajahnya.

Dia diam menatap kepal kami dan mataku yang membara. lalu tiba-tiba dia menarik tanganku dan setengah berlari dia membawaku ke tepi jurang.

“Ini tujuanku. mari kita lompat.” Matanya menusuk ketakutanku. Dia paham aku tak sanggup berdiri di bibir jurang itu apalagi melihat ke bawahnya. Inilah puncak keraguanku dan kami hendak menaklukkannya. Tubuhku gemetar dan tangan bertaut kami banjir keringat. Aku merasakannya. Dia merasakannya.

“Maria?”

“tidak!”

“kalau begitu lepaskan aku, aku tidak takut sendirian”

“tidak!”

“maria!”

“hentikan! kau tidak bisa memaksaku melepaskan tangan ini pun menggenggamnya”

“memang tidak”

lagi kami bungkam.

“maria, dengarkan aku baik-baik karena aku hanya akan mengucapkan ini sekali. jadi sebelum akhirnya nanti kau benar-benar melepaskan tanganku. ingatlah ini. Aku tidak pernah berjanji bahwa kau akan bahagia bersamaku, aku memintamu ikut bersamaku bukan untuk mencari kebahagiaan. Aku bisa hidup tanpamu dan kamu bisa hidup tanpaku. Dengan atau tanpa hadirnya satu sama lain kita selalu dapat berbahagia.  Hanya saja… aku ingin berbagi denganmu. bahagiaku. bahagiamu. Aku dan kamu Berbagi. Bukan…bukan untuk mengisi ruang kosong pun melengkapi apa yang kurang dalam hidup kita masing-masing. Tapi untuk melatunkan lagu yang sama dengan cara kita masing-masing.  Cinta tidak rapuh, maria. Bersamamu ataupun tidak dalam perjalanan ini tiada bedanya bagiku.”

“aku tidak mengerti…apa maksudmu, aku tidak berarti?”

“Maria… arti keberadaanmu, tidak pernah ada dalam diriku. Semua itu hanya ada dalam dirimu semata dan kau tidak membutuhkan aku untuk sebuah pengakuan…”

Dia melepaskan tanganku. Tangan yang sedari tadi kugenggam sekuat tenaga.

“Jika cinta membuatmu ingin memiliki, lepaskan. Jika cinta membuatmu ingin menetap, larilah. Jika cinta membuatmu menginginkan apapun,  waspadalah. Mungkin saja, bukan cinta yang ada di hatimu itu. Mungkin saja, bukan cinta alasanmu menjalani ini semua denganku.  Cinta kita terikat, bukan untuk saling menjerat.”

***

Aku termenung mencerna semua perkataannya. Dia sudah lama melepasku dan pergi meninggalkanku. Tapi aku hanya kuasa memandang sosoknya yang perlahan menjauh. Tak ada setitik inginpun mengejarnya. Ia pun tak pernah menoleh ke belakang.

Aku kehilangan. Bukan… bukan… ini bukan tentang dirinya. Tapi aku…ya, ini tentang aku. Tanpa aku sadari, aku telah lama kehilangan diriku dan memakai topeng kita.

Tanganku gemetar ketika dengan segala yang tersisa aku menangkupkan kedua tanganku. Kurasakan segala takut dan percayaku berkumpul dalam genggamanku.  Sendiri, aku mendaraskan. Sendiri, aku mulai melangkah. Sosoknya telah menghilang dari segala sudut pandangku. Aku tahu, aku telah sendirian. Aku tahu, tapi baru kali itu aku paham makna sesungguhnya kesendirian.

Dia tidak takut sendirian. Apa yang aku takutkan dengan kesendirianku ini?

Iklan

2 pemikiran pada “Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s