Titik nol


Sebelum kau hadir, aku terbiasa hidup sendirian. Ya. Terbiasa.

Jadi, mari kita duduk dan bicara. Temani aku menelusur kembali persimpangan yang mempertemukan jalan hidup kita. Iya, tentu saja bersamamu. Mengapa? Karena aku ingin tahu apa benar tidak ada pilihan lain selain menjalani semua ini bersamamu. Aku ingin tahu apa yang terjadi sampai kemudian aku tak lagi terbiasa hidup sendirian. Apalagi hidup tanpamu.

Darimana kita bisa mulai?

Mungkin dari sedegup yang tiba-tiba berdetak tidak pada waktunya itu. Degup yang kemudian mengacaukan seluruh ritme denyut aliran darah di sekujur tubuhku. Ya. Mari kita mulai dari situ.

Entah bagaimana aku tahu bahwa semenjak detak mendadak itu, hati dan pikirku akan menjadi sulit untuk sepakat. Tidak seharusnya degup itu hadir apalagi beresonansi. Ini gangguan. Dan otakku tidak menyukainya. Terlebih saat berbagai perintah sederhana mulai terabaikan indra.

Otakku seringkali mendapati mata ini tiba-tiba mengambil gambaran dirimu. Berhenti. Lalu tak lama, gambar itu terproyeksi secara random saat bagian lain berusaha untuk bekerja sesuai dengan perintah yang seharusnya. Begitu saja terahlikan. Begitu saja menguasai. Seenaknya.

Tentu saja pemberontakkan ini menggelisahkan. Diam-diam otakku bekerja menelusur segala yang terdeteksi salah ataupun tak biasa. Masalahnya segalanya terlihat baik-baik saja. Ini normal. Ini biasa. Ini hanya jatuh cinta.

Kamu, bukan manusia pertama yang pernah meledakkan degup yang tak pada waktunya itu. Bukan pula satu-satunya. Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Pada akhirnya aku akan terbiasa akan resonansi tak tentu, yang kerap hadir bersama rekaman gambarmu. Dan seperti biasanya cepat atau lambat degup itu akan berbaur seirama dan harmonis lagi. Dan tanpa kusadar, otakku akan kembali meraja. Mengendalikan. Mengetahui. Kemudian tak akan ada lagi perintah sembunyi-sembunyi melawannya. Semua terawasi. Semua kembali biasa.

Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Maka kunikmati saja. Degup mendebarkan itu, resonansinya yang memacu aliran darahku, dan riaknya yang kemudian membangkitkan percikan bahagia. Tak apa. Biarkan saja hadir. Biarkan saja meletup-letup. Lumat semua sensasinya. Rasakan. Ketahui. Kuasai. Lepaskan.

Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Mana kutahu bahwa aku akan begitu lambat sampai pada tahap melepaskan. Mana kutahu aku akan terbiasa bersamamu.

Sialnya, aku tak kenal gelagat rasa yang kau timbulkan ini. Aku tak paham sengat yang kau suntikkan ini. Aku tak menguasai jagat kecil yang kau berikan ini. Apakah maya? Apakah nyata? Mungkin tidak keduanya. Mungkin ini hanya tanya. Mungkin pada akhirnya tiada kata yang mampu membuatku puas akan makna yang tercipta dari aku dan kamu.

Ah ya. Akhirnya kita sampai di titik nol yang kucari. Ternyata aku selalu bisa kembali ke titik ini kapanpun kumau. Kapanpun aku bisa kembali terbiasa sendiri.

Tapi rasa ini belum juga selesai. Dan ya, aku masih ingin bertanya bersamamu. Mungkin aku masih mau belajar terbiasa bersamamu. Jadi mari kita mulai lagi perjalanan ini. Aku sudah tak lagi lelah. Sudah terlalu lama kita duduk dan bicara. Mungkin sembari melangkah, jawaban itu akan terkuak satu per satu.

Iklan

Satu pemikiran pada “Titik nol

  1. “…Tapi rasa ini belum juga selesai. Dan ya, aku masih ingin bertanya bersamamu…”

    ah, sedih.. mau ngutip lagunya mas john mayer:
    “Where ever I go.. What ever I do.. I wonder where I am in my relationship to you..
    Where ever you go.. Where ever you are.. I watch your life play out in pictures from afar..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s