Dance in the Pouring Rain (1)


Pukul 16.12,  hujan mulai menodai pemandangan di depanku. Belum juga satu menit sejak butir pertama mendarat, jendela di hadapku kini sudah diserbu butir – butir lain yang berebut mendarat darurat. Ada urgensi tersendiri yang kurasakan saat butir per butir kemudian menyarukan kenyataan di depan mataku. Aku beruntung atau mungkin sial, jendela tempatku bernaung melindungiku dari serangan yang sudah sedari tadi bersembunyi dibalik mendung. Memang sudah sedari tadi mendung menggantung di langit Jakarta. Dan sudah sedari tadi pula aku bersiap menantikan hujan menemaniku. Aku terpekur menatap pemandangan buram dibalik serangan hujan. Apa rasanya menari di bawah hujan ya? Hmm… iya ya, apa rasanya?

Suatu hari nanti, mungkinkah akan ada orang mau yang menemaniku menari dibawah serangan derai hujan. Suatu hari nanti, mungkinkah aku akan tahu jawabnya?

***

Masih satu jam lagi dari waktu yang kami sepakati. Aku memang datang lebih awal. Selalu. Aku tak pernah mau membuatnya menantikanku. Maka tak cukup bagiku untuk datang 15 menit lebih awal, atau setengah jam lebih awal atau bahkan satu jam lebih awal. Aku selalu datang dua jam lebih awal. Selalu.

Aku tidak pernah keberatan menunggunya, setiap detik kukunyah perlahan, setiap pikir kulumat lambat-lambat. Tawanya, tanyanya, tafsirnya, tanpa kecuali terutak-atik di kepalaku. Aku akan duduk dan memutar semuanya berulang kali, meneliti setiap detail dengan sesakma. Melamunkannya adalah kesukaanku, tak pernah bosan aku mencecapnya.  Tak pernah pula aku kesepian, meski aku duduk sendiri dengan secangkir coklat hangatku. Maka menanti adalah waktuku untuk menghayati ketidakhadirannya dan memahami ruang yang selalu kubiarkan kosong. Karena aku tahu, dia akan hadir dan mengisinya. Ya, hanya dia empunya dan hanya dia yang kuijinkan masuk menghuni ruang itu.

***

“Neng?” Dia mengayunkan tangannya keatas bawah tepat di depan mataku. “Hallooo…. bumi memanggil neng Ara.”

“Bagas” Senyumku melepas layang-layang pikiran yang sedari tadi kutarik ulur. Cepat kusadarkan diri dan mungkin akhirnya malah terlalu sadar.

“dah lama?”

“lumayan”

“lumayan, satu gelas abis yah? Padahal aku dah tiba lebih awal” gerutunya.

“Ah, kaya gitu aja direpotin. Yang penting kan kita ketemu”

“Ya, ya, ya” dia mengangkat pundak tak peduli. “Mas! Menunya”

“ga macet ya?”

“Untungnya sih gak yah”

Pelayan datang dan memberikan apa yang diminta Bagas.

“hmm… Espresso satu yah, Ara mau lagi?”

Aku menggeleng cepat.

“Cake?”

“hmm nope”

“Oke, itu aja mas” katanya sambil menyerahkan menu. “so…”

Aku menatapnya, dia menyisir rambut setengah basahnya dengan tangan dan mulai mencari posisi duduk yang nyaman.

“So, apa kabar Ara?” dia melanjutkan pertanyaannya

Aku tersenyum menjawabnya. “So far so good.”

“Betah?”

“Seems so”

“Yakin?”

“Yeah, I’ll try my best”

Dia tertawa. “baiklah, semoga lancar”

“amin” jawabku cepat.

“You look tired though”

“Well, I’m sick, Bagas.”

“Yeah, Right….”

“What if it’s true?”

“I’ll comfort you, of course.”

“Shit lha”

“hey!” katanya membela diri

Dan hening menyambut kedatangan Espresso yang dipesannya.

“Makasih mas”

“sama-sama” pramusaji menjauh, mengembalikan ruang milik kami.

“so, what’s up with you, Ara? a bit cranky, today.” Tanyanya lagi.

“you have time, right?”

“if I don’t have nor willing to spend it with you, I won’t be here”

“I’m sick, Bagas”

“of what?”

“Of life…”

Bagas tersenyum “Ara, come on, you’re such a lovely girl, you can’t be sick. Especially, sick of life.” Dia menyeruput Espressonya “ini pasti hanya mendung sesaat. But no worries, I’m here. So invite and allow me to dance in your pouring rain, neng Ara”

Deg. Lagi. It always his words that take the right place in my heart. Always.

“Go on, pour it, girl. Dah mendung gelap banget mukamu itu.” Katamu lagi saat aku hanya terdiam.

Kutarik nafas dan mulai meracau ” You know, that you mentioned it, I was wondering what it was like dancing in the pouring rain. I mean, we hear songs about it, but we never really do it. At least I never do it. And I wonder, how it feels like? daritadi aku mikir itu sambil liatin hujan di luar.”

“Well, kemungkinan besar rasanya sih sama saja ya kaya mandi di bawah shower, sambil nyanyi megang botol shampo. Beda tipis lha palingan. Tapi in my humble opinion, rasanya mesti kurang lebih sama, walaupun aku juga belom pernah sih nyoba nari-nari pas hujan. Kalo lari-lari pas hujan sih lumayan sering. OOO. Jadi itu yang bikin kamu tidak menyadari kehadiran Bagas ganteng.”

“jadi comforting me, tuh ini? koq rasanya lebih kaya dikomporin. ”

ah.Ringisanmu itu.

“Do you wanna try to do it now, Neng Ara?” .

“Don’t be mad, Bagas!”

“Why not? and why mad? it was your idea at first.”

“Because…”

“Well, it’s just an excuse to me” Dia memotong jawabku, tanpa merasa perlu mendengar kelanjutannya.

“Don’t care” aku memalingkan wajah, menopang dagu dan kembali menatap derasnya hujan.

“I know you’re dying to do it” dia menoelku jahil dengan tampang menggoda

“Not with you dan jangan sok tahu. Aku ga sekarat pengen nari-nari sekarang. Ga gila, masih waras.” Bukan sama kamu, Bagas. Bisik hatiku melanjutkan.

“I can see it in your eyes, Neng Ara. You’re dying to release those madness.” Matanya mulai berkedip-kedip.

” Ya, Bagas! Aku super duper sangat ingin melakukannya. Let’s do it” tantangku

“Let’s” kamu bersemangat dan siap beranjak.

“Tapi ga sama kamu dan ga sekarang” malah aku yang menciut.

“kenapa?”

Karena kamu punya Nanda. “Karena aku ga mau basah sekarang”

“Hahahaha.Araaa…. katanya penasaran gimana rasanya nari dalam derasnya hujan. koq ga mau basah? Ini kesempatan seumur hidup, hujan deras ga selalu datang dan aku ga selalu ada menemanimu lho.” Kau mulai tertawa renyah.

Iya, Bagas. Aku tahu kamu tidak selalu ada menemaniku, tidak seperti hujan di musim sekarang yang masih lebih mungkin selalu menemaniku. Justru karena itu.

“yah… untuk sementara, aku coba caramu saja. mandi di bawah pancuran sambil nyanyi megang botol shampo. Setidaknya aku latihan dulu.” jawabku sekenanya.

“Can I join you?”

“In your dream, Bagas!”

“Well, that’ll be a beautiful wet dream indeed”

Kutendang tulang keringnya di bawah meja. “ouch! Ara, that’s Hurt”

“sopan ya, makanya!”

“hahaha. Si tante marah”

“Lagian dah punya pacar masih goda-godain yang lain”

“Namanya juga usaha. Yang penting aku berhasil”

“Berhasil apa?”

“Membuktikan kamu gak sakit. Itu tendangannya, sehat betul”

“sialan!”

“Aku Bagas, bukan si alan”

Aku menyipitkan mata, menyunggingkan senyum datar nan remeh.

“ha…ha…ha. Bagas ngelucu.”

Dibalasnya dengan wajah konyol. Tak dianyal wajah konyolnya membuatku tertawa. Ah, inilah Bagas, yang selalu menari riang di derasnya hujanku. Tak pernah kehabisan irama apalagi daya. Selalu yakin dan mampu menembus sederas apapun badai yang kuciptakan. Atau mungkin di hadapnya, badai bagaimanapun akan menjadi jinak dan memang tak pernah bisa memporak porandakan apapun. Duniaku memang kerap baik-baik saja dengan hadirnya Bagas. Hanya dengan hadirnya Bagas. Ya, hadirnya Bagas.

Aku ralat, hadirnya tidak sekedar “hanya” tapi mencakup “segala”. Maka aku tak pernah meminta lebih dari apa yang bisa kudapatkan darinya. Aku tidak ingin serakah. Cukup bagiku, bahwa Tuhan berkenan mempertemukan kami. Waktu itu. Sekarang. Dan kuharap nanti.

(bersambung…)

***

Sepatah kata tentang “Dance in The Pouring Rain”

Dari kemarin, kepala gw penuh dengan kedua tokoh ini. Nama Ara tiba-tiba saja muncul lagi di kepala gw. Dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, gw pernah mencoba mengisahkan hidup Ara dalam buku harian gw. Ada ketertarikkan tersendiri, dalam diri gw yang selalu menyukai lafal A-R-A. Entah angin apa yang kemarin malam berhembus dan menggerakkan kedua tangan gw untuk menarikan jari-jari diatas tuts dua puluh tujuh aksara dan mulai menceritakannya lagi.

Yes. Desir-desir itu muncul kembali. Dan satu-satunya cara yang gw tahu dapat memerangkapnya adalah dengan mengejewantahkannya dalam tulisan. Maka muncullah Ara. Maka hadirlah Bagas. Mungkin kali ini hujan yang telah lama menggantung awan di kepala dan hati gw akhirnya tercurah dan memuntahkan juga apa yang selama ini gw coba tahan. Entahlah. Gw hanya tahu, gw menikmati desirnya dan ingin mengikuti larinya. Karena mungkin dia akan membawa gw, ke tempat yang selama ini gw rindukan. So this is for the first time, gw publikasikan cerita bersambung di blog ini. Seribu kata per posting. Jadi setiap “bersambung” adalah batas seribunya. (^^)>.

Teriring juga salam buat sahabat baik gw, Lingga, di hari ulang tahunnya. Happy Birthday, nek. I wish you all the best. Maka gw pikir akan sangat tepat menerbitkannya di hari ini. This first chapter is begin in your birthday. Kita lihat apa cerita ini akan seseru hidup lo, nek. (”p).

I don’t know how it will go. Will it be good or bad. Truth is I don’t really care. Gw dah cukup menikmati dan senang dengan menuliskannya. And I am inviting you all to join the process. Semoga sedikit rasa ini tersampaikan pada kalian juga. Ha5. tapi temanya tetep lha yah ga bisa jauh dari cerita cinta. (”p). Semoga gw akan bisa setia menulis dan menyelesaikannya. So help me, kalau gw berhenti, in case you like the story,  ditagih yah.

Let’s dance in this pouring rain, people!


Iklan

4 pemikiran pada “Dance in the Pouring Rain (1)

  1. Mon crita lo slalu ngena yah! ha3..the day u have ur own book, I’ll come to ur place n force u to sign it..=p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s