The day he came into my world (2)


“mbak, kursinya kosong?”

Aku mendongak dan mendapati seorang mahasiswa sedang menunjuk kursi sebelah yang diduduki oleh tumpukkan bukuku. Rupanya aku terlalu asyik mengerjakan tugas dan tidak menyadari bahwa perpustakaan ini telah penuh. Kebanyakkan memang tidak begitu berniat untuk mengerjakan tugas, beberapa malah terang-terangan asyik berbisik. Tapi perpustakaan memang tempat yang tepat dalam usaha duduk berdekatan dan sekedar bisa berbicara lembut menjinakkan hati. Orang tidak akan mempertanyakan kedekatan yang ada atau bahkan risih.

Di perpustakaan semua tunduk pada satu perintah “Jaga keheningan” dan dengan demikian memaklumkan percakapan dalam jarak intim. Ada kesepakatan umum bahwa besarnya jarak berbanding lurus dengan kerasnya suara. Demikian hening tidak pernah benar-benar tercipta disini, selalu ada jarak yang cukup untuk bercerita. Selalu ada bisik. Selalu ada kersik. Dan selalu ada yang terselip diantaranya.

Mahasiswa itu datang membawa setumpuk buku tentang hukum di tangannya dan matanya mendesakku untuk menyingkirkan buku yang kutumpuk di kursi sebelahku sebagai usaha menjaga ruang pribadiku. Dari kemeja putihnya aku tahu dia adalah penghuni baru kampus ini.

“Terima kasih” jawabnya saat aku lantas memindahkan buku-bukuku tanpa berkata apalagi rela.

Aku mengangguk dan kembali menekuni tugasku. Aku masih berkutat mencari komposisi warma terbaik untuk tugas akhir-ku.

“Mbak, anak design yah?” sapa mahasiswa di sampingku.

” hmm iya…” Aku menjawab seadanya tanpa beranjak dari apa yang kutekuni.

“Suka meditasi?”

Kulihat dia belum juga membuka buku-buku yang sudah diambilnya dan terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Kepalanya hampir terbenam dalam usahanya itu. Aku mulai curiga dia duduk di sebelahku atas perintah seniornya.

“Hah?” balasku terkejut dengan tanyanya yang asing.

“mbak, suka meditasi?” dia mengulang sambil tiba-tiba menoleh ke samping menangkap mataku. “Atau suka bengong?” lanjutnya setelah aku tidak juga memberikan jawaban dan malah terpaku pada kedua bola mata hitam besar yang entah mengapa tampak berkilauan. Kecurigaanku hilang bersama kesadaranku.

“halooo… mbak?” dia mengayunkan telapak tangannya keatas bawah, di depan mataku.

“Ah… oh… meditasi apa?”

“hahaha. Ini bukunya Anthony de Mello, Doa Sang Katak, Meditasi dengan cerita.” jawabnya sambil membaca sampul buku teratas di tumpukkan bukuku. “Suka meditasi?” tanyanya lagi.

“Oh, hmm… cuma suka baca-baca ceritanya saja.” Jawabku.

Dia sudah berhenti mencari sesuatu dalam tasnya dan cuma meringis mendengar jawabanku.

“Bagas” Dia menunjuk dirinya dan mengulurkan tangan.

Aku tidak tahu harus bagaimana dan reflek aku menyambut namanya masuk dalam hidupku.

“Lara” tawarku menjabat balas.

“Salam kenal, kak Lara” Dan senyumnya melunaskan keasingan kami.

Semenjak itu tiba-tiba aku kerap bertemu dengannya di perpustakaan. Dari sapa sopan, basa-basi belaka, sampai akhirnya dia bukan lagi orang asing tak dikenal. Semua itu tak memakan waktu lama, pada dasarnya Bagas adalah seorang yang supel dan dia selalu dapat menarikku keluar dari duniaku. Lebih daripada yang orang-orang lain mampu lakukan. Sedikit banyak, entah bagaimana aku menjadi lebih mudah terbuka padanya.

***

Sejak aku menyandang predikat sebagai mahasiswi  baru dan menginjakkan kaki di perpustakaan ini, Aku selalu duduk di kursi yang menghadap jendela. Sudut itu langsung menarik hatiku. Posisi meja tulis tunggal dengan dua kursi itu tepat di depan jendela yang menampakkan pemandangan lalu lintas jalanan, berbingkai rindangnya pepohonan, dan berlatar birunya langit. Kursinya persis membelakangi rak-rak buku. Sempurna. Manakala aku bosan ataupun sekedar menunggu kuliah,  aku akan berada di tempat yang sama,  memperhatikan kenyataan di balik jendela sambil melayang-layangkan pikiranku ke langit yang nampak. Perpustakaan kemudian menjadi tempat sakral untukku mengasingkan diri sejenak.

Tiga tahun kemudian Bagas menyandang predikat sebagai mahasiswa baru dan mulai menempati kursi kosong di sebelahku, yang biasanya diduduki tumpukkan buku.  Aku lebih suka sendirian bermain layang-layang imajiku. Menyasar, bertanya arah dan kemudian menyusuri setiap jalan yang mungkin kutemui di rimba pikiranku. Aku suka melakukannya dalam kesendirianku. Terutama di perpustakaan, gudang yang menyimpan semua petunjuk yang kubutuhkan dalam pencarianku.  Tentu saja, semua itu sebelum Bagas hadir dalam hidupku.

Aku lupa, sejak kapan kami menjadi terbiasa untuk bertemu di perpustakaan. Aku mengerjakan tugas akhirku, Bagas entah apa alasannya ada di perpustakaan. Terkadang dia membawa banyak buku, tapi seringkali buku-buku itu hanya tergeletak di meja tanpa pernah dibuka. Terkadang dia hanya tertidur di sampingku. Terkadang dia duduk dan mendengarkan lagu, entah apa yang ada di pikirannya. Seiring berjalannya waktu dia bahkan tak repot-repot lagi mengambil dan memajang buku di meja kami. Dia belajar tahu, aku tak pernah kekurangan buku untuk dibaca.

Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama, berbicara, bertanya, berjawab, berbisik, berdiam, berdua. Sejam. Dua jam. Tiga jam. Hanya di perpustakaan itu. Tak pernah di tempat lain. Karena di luar kami punya kehidupan lain yang tak bersinggungan. Bagiku saat itu, inilah satu-satunya tempat, dimana dunia kami bisa bertabrakkan dengan bebas. Menabrakkan segala tanya dan tafsir kami. Perpustakaan bukan lagi menjadi tempat sakralku seorang diri, perpustakaan menjadi tempat sakral kami. Di dunia ini hanya sedikit temanku yang betah menemaniku bermain layang-layang pikiran di perpustakaan.  Bagas yang pertama setia.

***

Bagas pernah bilang, namaku terlalu sedih dan muram untuk digunakan dalam hidup sehari-hari. Aku menampiknya tentu saja. Setelah googling dan mendapati bahwa arti nama Lara dalam bahasa latin adalah pintar. Aku mencoba meyakinkannya bahwa tidak ada yang sedih dan muram dengan nama itu. Tapi dia berkeras.

“Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah pelipur LARA, Pelipur artinya penghibur, Lara artinya sedih, jadi namamu itu akan selalu terkesan sedih. Bagusan Ara. Tuh lihat… artinya juga ga kalah keren koq, Burung Elang, cocok buat mata sipitmu yang suka melirik tajam dari samping kaya sekarang” Katanya membela pendapatnya sambil meringis dan menunjukkan hasil pencariannya di google.

Aku memutar bola mataku dan melengos. “Whatever, dude. Aku suka namaku, Lara. Pintar.” kataku sambil memperbaiki posisi kacamata netral di wajahku. “Dan yang paling penting, mas-e suka namaku”

Gantian Bagas yang memutar bola matanya. “Ya deh, Neng Ara, yang penting mas mu ga ‘Lara hati’ punya pacar macam kamu.” dia menyebut lara hati dengan jeda dan gerakkan dua jari mengutip diantara kepalanya.

Aku menonjok bahunya. “bocah, bawel! panggil Lara!”

“Eh, ada lalat nemplok” balasnya sambil menepis tangan terkepalku yang mendarat di bahunya.

“Jadi Ara punya pacar?” tanyanya, tak mempedulikan protesku dan seenaknya mengeleminasi ‘L’ dari namaku. Pertanyaan itu muncul karena ini pertama kalinya aku menyelipkan ‘mas-e’ dalam percakapan kami.

“Jadi  Bagas punya pacar?” tanyaku balik.

“Aku tanya kamu duluan. Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan”

“Aku jawab, kalau kamu jawab duluan”

“Kan aku yang tanya duluan”

“Kan kamu yang butuh jawaban”

“Siapa namanya?”

“Kamu tidak kenal.”

“Darimana kamu tahu, aku tidak kenal?”

“Dia sudah bekerja dan tidak pernah kuliah disini”

“So? kan bukan berarti aku tidak kenal. Mana tahu ternyata kami saudara jauh. ”

“Ngarep?”

“Nggak sih, aku ga mau juga jadi calon saudara ipar kamu. Maaf ya”

“Sama-sama”

“Jadi siapa namanya?”

Aku menghela nafas dan menjawab enggan “Aku manggilnya mas.”

“Masdikun? Masmono? Masing-masing? Masa sih?”

“Masak-memasak”

“Ooo… Masturbasiii…  Aw..aw. Ara! sakit!” Dia menepis cubitanku.

“Ssssttt! jangan berisik” tegur seseorang di belakang kami.

Aku kembali menekuni bacaanku. Bagas menoleh dan memohon maaf.

“Kamu sih.” tuduhnya.

“makanya sopan”

“makanya jawab”

Aku melotot padanya dan seperti biasa ringisan itu muncul di wajahnya.

“Tiga pertanyaan yang sama. kamu jawab, aku jawab. Selesai” tantangku.

“oke. Nama lengkap?”

“Rangga Dwi Mulyono”

“Asal?”

“Jogjakarta”

“Pekerjaan?”

“Akuntan”

“Berapa lama jadian?”

“Sudah tiga. Gantian.”

“ah! ga mau! Belum puas. Aw…aw… Ara!”

“Jangan berisik, Dek Bagas” Aku tersenyum tajam, berbisik memberi penekanan di setiap kata yang kuucap tanpa melepas cubitanku di lengannya.

“Maharani Arum Ananda, asal Jakarta, mahasiswi kedokteran gigi di sebuah Universitas Negeri”

Kulepas jari cubitan dari lengannya dan kembali menekuni bacaanku. Dia hanya mengelus-elus lengan atasnya dan kembali duduk dalam diam.

“Sadis” ujarnya tiba-tiba.

“Sudah layak dan sepantasnya” balasku sambil tersenyum manis ke arahnya.

Begitulah kami berhubungan. Definisi kekasih sejak awal tidak pernah menjadi pilihan. Aku sudah memilih Mas Rangga sebagai kekasih. Bagas sudah memilih Nanda sebagai kekasih. Jadi kisah cinta Ara – Bagas, seharusnya tidak pernah terjadi apalagi tercipta. Seharusnya.

(bersambung)

Iklan

Satu pemikiran pada “The day he came into my world (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s