Diantara Tenggak Bir


Sebotol bir dingin berdiri diantara kami. Pembicaraan kami tak ubahnya benang kusut. Mungkin lebih tepatnya pikiranku tak ubahnya benang kusut. Sudah sedari tadi aku berusaha mengurai setiap simpul dan mencari ujung pangkal kekusutan ini.

“Sudah, biarkan saja kusut” katanya sambil mencekik leher botol dan mereguk isinya.

“Tidak bisa! Benang kusut ini harus kembali terurai!” aku bersikeras mempertahankan usahaku.

“Sia.”

“…” Aku diam tak peduli.

Dia hanya duduk di sebelahku, menemani sembari sesekali menenggak bir.

“Ini… minumlah dulu” katanya menawarkanku setelah entah berapa lama kami saling diam. Tanganku bekerja, mengira yang kulakukan adalah mengurai benang kusut. Dia… tentu saja hanya diam mengamatiku.

“aku tidak bisa mabuk. tidak boleh” tolakku.

“hanya setenggak dua tenggak bir, tidak akan membuatmu mabuk”

“…” lagi-lagi aku diam tak peduli.

sial. benang ini malah semakin kusut. sudah kutarik segala yang terjerat, mana ujungnya. mana pangkalnya. benarkah ini semua sia? 

Tiba-tiba dadaku sesak dan segumpal asa mendesak keluar. Air mata tumpah dan aku melempar segala usahaku.

“BANGSAT!” teriakku. Kurenggut leher botol dari tangannya, dan kutenggak isinya sampai tak ada lagi setetespun bersisa. Aku lempar kekosongan dan dia pecah berantakkan. Dingin. Pahit. Jenuh.

“kamu frustasi yah?” tanyanya.

“… … … ngga. Aku mabuk”

“ah, ini minumlah lagi” katanya seraya menyodorkan lagi sebotol bir yang entah darimana.

Kurenggut leher botol dari tangannya, dan kutenggak isinya sampai tak ada lagi setetespun bersisa. Aku lempar kekosongan dan dia pecah berantakkan. Makin dingin. Makin Pahit. Makin jenuh.

“kaaa…kaa… ka… muu…mu….Muuu…. fruuuss…frusss… ta… siiii yah… yah…yah?” tanyanya mulai susah payah kutangkap.

“aaa….kuh… mahhh…bhuk”

“ah… ini…  ini…. numm…gi” katanya seraya menyodorkan lagi sebotol bir yang entah darimana.

Kurenggut leher botol dari tangannya, dan kutenggak isinya sampai tak ada lagi setetespun bersisa. Aku lempar kekosongan dan dia pecah berantakkan. Lebih dingin. Lebih Pahit. Lebih jenuh.

“kaa…muhh…fam… ta… si…yah?”

Aku tersengat mencerna apa yang baru saja aku dengar. Susah payah aku memfokuskan telingaku mendengar tanyanya. Akhirnya aku lunglai, dan yang tersisa hanyalah gema suaranya.

“fan… si…. faa… faa… nnsi…. faa…faa…nttaa…taa…siii…. faaann….taaa…si… Fantasi.”

Fantasi. Fantasi. Fantasi. Fantasi. Fantasi.

Ini fantasi. Ini fantasi. Ini fantasi.

Jerat kusut ini hanya fantasi.

Dan aku sudah terserak oleh mabuk.

Ambruk.

Iklan

Satu pemikiran pada “Diantara Tenggak Bir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s