Love at the tenth second (3)


“Kayanya Aku jatuh cinta sama kamu, Ra” Bagas tidak melihatku saat dia mengucapkan kalimat itu. Dia sedang termenung diam menatap jendela perpustakaan dan aku seperti biasanya sibuk mengerjakan tugasku. Kami sedang berdiam diri, tenggelam dengan kesibukkan masing-masing sampai bisikkan saru itu keluar dari bibirnya.

“Oo ya?” tanyaku dengan nada menyangsikan sambil menghiraukan sekilas degup yang seketika melintas.

“Hmm iya…”

“terus?” Degup sekilas itu kurasakan mulai merona hangat di sekujur tubuhku.

“Boleh minta nomor hape kamu?”

“Kalau ga boleh, gimana?” jawabku mengalihkan pandangan dari matanya, menyembunyikan degup itu baik-baik

“Ga boleh apa? Jatuh cinta?”

“Minta nomor hape, eh, tapi jatuh cinta juga deh. Ga boleh.”

“Oooh, yaudah ga pa pa. Kalau gitu aku minta email kamu”

“hah? Email?”

“Iya, email. Itu lho surat elektronik dimana kamu bisa berkirim pesan dengan orang lain dengan sambungan internet dan…”

“Aku tahu kaleee email apaan!” dongkolku

“Kan tadi nanya.” cengirnya

“You’re not in love with me” dengan lugas aku menatap matanya dalam-dalam

“Ooo ya?” Dia mengangkat alis, sedikit terkejut.

“iya”

“darimana kamu tahu? aku saja ga yakin”

” trus kenapa barusan kamu bilang, kamu jatuh cinta sama aku?”

“hmm… kenapa yah. karena waktu pertama kali aku lihat kamu, ada perasaan aneh gimana gitu lho. Makanya aku tertarik untuk duduk di sebelahmu itu. Mungkin love at the first sight kali yah! cieee… ”

” Errr… Bagas there’s no such thing like love at the first sight. I know exactly how it starts. Mata kamu melihat dan melekat kepada objek menarik ,dalam hal ini aku,  selama kurang lebih 10 detik . Detak jantung yang biasanya tidak terasa, mendadak berdentum dan kau pun merasa hidup seketika. Selama kurun waktu 0-8 detik, otakmu memproses dan menilai objek baru tersebut, dan detik sebelum kamu sampai pada angka 10, otakmu menyatakan seenaknya bahwa kamu telah ‘jatuh cinta’. Data ilmiah bahkan menyatakan bahwa hanya perlu 8,2 detik kontak mata bagi pria untuk mengklaim cinta. Well. I have a bad news, Mister.  You’re not in love. You just thought you’re in love. tapi bukan salahmu lah ya, aku kan memang menarik.” aku meyakinkannya.

“Idih sombong. tapi mungkin juga seh. Aku juga ga yakin koq aku jatuh cinta. Makanya aku bilang ‘kayanya’ tadi. Tapi kamu benar, kamu menarik di mataku sejak aku melihatmu bengong di depan jendela ini. Aku penasaran apa yang kamu pikirkan. Cerita mesum apa yang ada di otakmu saat itu.  Dan aku, sayangnya, neng Ara, blom nyampe di detik kesepuluh. Masih proses mencerna dan mencari tau.”

“aku ga bengong mikirin cerita mesum. Dan tarik kata-katamu itu.”

“kata-kata apa?”

“Kalo kamu jatuh cinta sama aku, yakin ga yakin. Tarik aja.”

“Kenapa ditarik?”

“karena itu ga benar dan Aku tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama. Well, oke, mungkin pernah, tapi kemudian aku belajar bahwa cinta pada pandangan pertama terlalu muluk untuk disebut cinta. Love at the first sight is not love, it almost always about lust. ”

“Darimana kamu tahu itu ga benar?”

“kan kamu sendiri yang bilang masih dalam proses mencerna. ga yakin.”

“Iya, kan belom keluar hasil, benar atau gaknya.”

“Jadi ga bisa dong langsung disimpulkan kamu jatuh cinta”

“kayanya”

“iya, kayanya”

“Itu kan kesimpulan sementara. Pro…Ses. Neng Ara”

Aku menarik nafas berat. “terserah deh, pada dasarnya kamu dah melewati detik kesepuluh dimana otakmu sudah mengklaim kalau kamu jatuh cinta sama aku. Which is false. Aku cuma objek yang menarik. itu saja. Beside, this conversation, well… let’s consider it never happened. dan hentikan saja pro…ses-mu itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah punya pacar. Kamu juga sudah. apa artinya jatuh cintamu itu nanti.”

“Iya seh. Tapi, Ra…”

“Ga ada tapi, Bagas. Titik. the end of conversation. Close the case.” jawabku sambil kemudian mulai sibuk membereskan barang-barangku yang terserak di meja.

“Tiga hari besok aku tidak akan ke perpustakaan.” aku mengumumkan padanya sambil memasukkan barang terakhir ke dalam tasku.

“Hmm… aku belum selesai bicara, Ra” katanya sambil memegang tanganku.

“Aku sudah” Kutarik tanganku dan beranjak pergi meninggalkannya.

***

Macam benar aja tuh laki, baru kenal ga sampai satu bulan, sudah mengaku-ngaku jatuh cinta. Aku menghela nafas, sambil menuruni tangga perpustakaan. Senyum kecil diam-diam merekah di wajahku. Kukulum sendiri manis yang tak diketahui darimana asalnya ini. Ah ini pasti karena aku akan bertemu Mas Rangga. Tentu saja itu alasannya. Tidak ada hubungannya dengan Bagas.

“ARA!”

ah, shit. ngapain sih dia. Aku mempercepat langkahku. Lalu tiba-tiba Bagas sudah menarik tanganku, menangkap pinggangku dan menciumku erat di depan semua orang. Di depan mas Rangga yang sudah sedari tadi menungguku. Mas Rangga langsung naik pitam dan menarik Bagas. Bogem mentah mendarat darurat di pipi Bagas. Tanganku kembali ditarik, kali ini oleh Mas Rangga. Kami bergegas meninggalkan Bagas yang masih merintih kesakitan.

“Lara” Seseorang menepuk bahuku dari samping dan bayangan aku ditarik Mas Rangga dan Bagas yang kesakitan seketika buyar. Itu imajinasiku, tentu saja. Terlalu dramatis untuk terjadi di kehidupan nyata. Oke, ini random. Hapus.

“Hi Mas” aku tersenyum menyambut pacarku. Bersamaan dengan itu Bagas kembali memanggilku. Kami menoleh dan mendapatkan Bagas berjalan santai ke arah kami.

“Ara! Nih ketinggalan.” Rupanya Bagas memanggilku untuk menyerahkan handphone dan bukuku yang ternyata ketinggalan di meja perpustakaan. Dahiku berkerut, padahal tadi aku sudah yakin semua sudah masuk ke dalam tasku. Mas Rangga sedang mengambil-ahli barang bawaanku, saat Bagas sampai dan menyerahkan barang-barang tersebut. Tak ayal adegan inilah yang kemudian terjadi.

“Rangga” kata Mas Rangga sambil mengulurkan tangannya kearah Bagas.

“Bagas” Mereka pun bersalaman.

Aneh rasanya menyaksikan pacarku dan pria yang baru saja menyatakan ‘kayanya’ cinta kepadaku, berkenalan.

“Hai, Bagas. Lo seangkatan sama Lara?”

“Gak mas, gw adek kelasnya. Tadi habis bimbingan sama Kak Lara” begitu mudahnya fakta buram itu meluncur dari bibirnya.

“Oh, pantesan muka lo asing. Koq kamu ga pernah cerita, Dek?” Kulihat dari sudut mataku, Bagas mengulum senyum.

“Bagas ga penting buat diceritain koq mas” Kataku sambil tersenyum dan melirik Bagas.

“Halah, kamu. Mentang-mentang senior.” Mas Rangga mengacak-ngacak rambutku. Bagas hanya nyengir salah tingkah di depan kami.

“Ha5. Kami  juga baru kenal koq mas. Kamu kan sibuk dan kita jarang ketemu, daripada ngomongin Bagas kan mendingan ngomongin hal lain yang lebih berguna seperti skripshitku.” Jawabku, tidak memperdulikan reaksi Bagas.

“Ya udah, Ra, Mas Rangga, gw cabut duluan yah. Nice to meet you, Bro! Gw juga mau jemput pacar dulu.  See you tomorrow, Ra.” pamit Bagas.

Tomorrow dari hong kong! Lagi-lagi dia menghiraukan pengumumanku. Aku hanya melambaikan tangan padanya.

“Jadi Dek Lara mau makan apa?” tanya Mas Rangga, sambil menggandeng tanganku yang sudah bebas dari barang-barang bawaan. Kami berjalan menuju parkiran.

“Hmmm apa yah…? Soto kayanya enak yah! Kamu mau?”

“Boleh, mau yang dimana?”

“Tempat biasa aja”

“Oke.”

Aku menoleh ke belakang, Bagas sudah menghilang entah kemana. Kueratkan genggaman tanganku pada Mas Rangga dan berjalan mengikutinya. Tanpa menoleh lagi. Degup tadi bukan apa-apa. Bagas bukan apa-apa.

***

(bersambung)

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Love at the tenth second (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s