Purnama Terdekat


Baiklah, aku menyerah.

Pada semburatmu yang diam-diam membayang.

Pada tekadmu yang membulat penuh.

Pada sahajamu yang meraja tanpa kentara.

Pada celotehmu yang terlanjur jenaka.

Pada ranahmu yang begitu lumrah terasa.

Tapi tak apa. aku menyerah bukan untuk menyatakan kalah.

Dan tak apa. Aku bukan berarti serta merta pasrah.

Hanya sudah tak mengapa membuka segala rahasia.

Karena malam ini, purnama terdekat.

Karena malam ini, tidak cukup gulita tersirat.

Maka menyerah sesungguhnya adalah niat yang tepat.

 

 

Biarlah semua yang hingga kini masih memikat

(kusimpan rapat-rapat dalam pekat)

Biarlah semua yang hingga kini masih mengikat

(kupenjara lambat-lambat hingga karat) 

Karena malam ini, purnama terdekat

dan waktu akan seperti biasanya berlalu cepat-cepat.

Tapi…

bagaimana jika aku sudah ingin melekat

bagaimana jika aku sudah rela terjerat

bagaimana jika aku sudah sepakat

padamu, hai keparat?

Karena malam ini, purnama terdekat…

dan sejarah akan seperti biasanya mencatat

tentang inginku mencinta tanpa cacat.

Maka menyerah adalah pilihan yang akhirnya kuperbuat.

Bukan sudah dapat, hanya (berusaha) tidak terlambat

Iklan

Satu pemikiran pada “Purnama Terdekat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s