In between (4)


“Jadi, Neng Ara, what’s up?” Bagas menelengkan kepalanya ke kiri dan menatapku lekat, kali ini tak ada canda di kedua matanya.

Aku berpaling dari selidiknya dan kembali menekuri hujan dibalik jendela. Rupanya hujan semakin liar menyerang, tapi jeda diantara kami tak kalah liarnya. Bagas menunggu. Aku menunggu.

“I think I broke up with him” setarikkan nafas kuucapkan mendung itu.

“You think? Mas rangga?”

Aku mengangguk. Bagas terkejut.

“Kapan?”

“hmm… about 2 weeks ago…”

“how?”

“well… he texted me…”

“he TEXTED you !?! For god’s sake!” suaranya meninggi dan amarah tak disembunyikannya lagi. Tangannya tiba-tiba menggebrak meja dan membuat beberapa kepala menoleh.

Aku pun berpaling dari amarahnya. Memejamkan mata, menenggelamkan sekelebat perasaan yang mendadak muncul. Namun layaknya gabus, bukannya tenggelam,  perasaan itu malah makin mencuat timbul. Darimana? entahlah.

“Ra…”

“I’m fine”

“No, you’re not”

“Bagas! I’m fine!”

“Bullshit! You love him!” Kata-kata Bagas menikamku. Aku menatapnya tajam. Kurasakan kedua bola mataku membuka lebar. Terkejut. Dia pun hanya menatap mataku. Bukan mencari kebenaran, hanya menatap. Amarahnya tidak sungguh ada. Dan tidak, kata-kata itu tidak juga membuatku ingin menangis. Mendung ini belum waktunya tumpah.

“Apa yang salah?” tanyanya melembut.

“tidak ada yang salah” ucapku,  aku berpaling lagi menatap hujan. Bagas berpaling, juga menatap hujan. Sejenak kami hanya memandang derasnya hujan. Sejuta butir air yang cepat-cepat meluncur membasahi bumi. Ah, apa rasanya menari dibawah hujan sederas ini? hatiku bertanya lagi. Aku sadar, ada rindu  yang diam-diam merayap. Rindu yang entah dari mana dan untuk apa, hanya saja dia ada di setiap tetes hujan yang kusaksikan. Dan aku hanya ingin menari bersamanya.

“You know… sometimes love doesn’t enough. Sometimes people grow apart and that’s nothing to do with love. That’s nothing to do with these stupid feelings” aku mengisi jeda itu. Bagas, menarik mulutnya, tersenyum. Tapi ternyata bukannnya tersenyum seperti yang kuduga, dia malah berdecak.

“Ck. Did you hear yourself Ara? I can’t believe you’re telling me the truth before. You’re right. So damn right! You’re sick. Bukan cuma akan hidup tapi juga akan cinta.”

“Don’t judge me”

“I don’t, Aku hanya membenarkan ucapanmu di awal tadi”

“Sialan”

“Yeah, sialan!” Rupanya dia pun sebenarnya enggan membenarkan.

Kami terdiam, mencecap kebenaran. Well… setidaknya aku, yang berusaha mencecap kebenaran itu lagi. Yang rasa-rasanya sudah mulai hambar.

“How could you say that I love him?” penasaran aku bertanya kepada Bagas. Karena aku sendiri tidak meyakini pernyataan itu.

“Well… that was obvious” Ah. Past tense. Kusadari pemilihan bentuk lampau yang dipakai Bagas mengusikku. Lampau. Itu dulu. Dahulu. Lalu. Entah kenapa kata ‘dulu’ itu kemudian merasuk pikiranku dan bergema ke semua sudut kosong otakku.

“Kamu ingat ra? waktu pertama kali aku bilang bahwa aku mungkin jatuh cinta padamu?”

Aku mengangguk. pertama dan terakhir.

“Waktu itu …” Bagas mengajakku berenang di masa lalu. Dan setiap katanya menenggelamkanku lagi. Aku lupa. Ini pernah terjadi. Rasanya sudah lama sekali semua itu.

***

Drrr….rrr… Telpon genggam yang kuletakkan diatas meja bergetar. Sambil menyantap soto, aku mengambil telepon genggamku dan membuka pesan yang masuk.

From: + 621829397379123

Mas Rangga ganteng juga.

Dahiku berkerut. Ini apa ya? siapa?

“Kenapa Ra?” Tanya Mas Rangga yang duduk di sampingku.

“Ini ada nomor ga jelas, sms aku, bilang kamu ganteng” kataku sambil memperlihatkan sms aneh itu.

“Ooo Ya? Waa…. siapa ya? Temenmu ada yang naksir aku kali ya?” katanya sambil merapihkan rambutnya dan tersenyum mengedipkan sebelah matanya.

“Itu ngapain yah ngibas-ngibas poni? kedip-kedip?”

“Ga pa pa.” Mas Rangga mengulum senyum. “kelilipan”

“eh, jangan ge-er dulu yah. Dasar!” kataku sambil mencubit pinggangnya.

“hahaha…” Mas rangga tertawa kecil.

“jangan-jangan ini selingkuhanmu” kataku sambil menyuap nasi.

“O ya. bisa jadi.” Jawabnya.

“jadi ini siapa?” tanyaku dengan lebih tajam.

“ga tau. coba neh cek nomornya di hapeku” mas rangga memberikan telpon genggamnya.

Aku memeriksanya tapi nomor itu pun tak ada dalam daftar kontak mas rangga.

“hmm… selingkuhanmu takut ketahuan kayanya, mas, dia pakai nomor baru mungkin ya”

“hmm… nanti aku bilangin dia deh. jangan ganggu kamu”

“mas rangga!” spontan aku mencubitnya.

“hahaha…. sakit tau!”

“lebih sakit mana dari di-sms-in selingkuhanmu?”

“halah! itu kan persepsimu. Kamu dapat sms dari orang tak dikenal, dek! koq tiba-tiba labelnya jadi selingkuhanku”

“kan dia muji kamu”

“yaudah harusnya bangga dong, pacarnya dipuji. berarti seleramu bagus”

“…”

“Iya kan? koq cemberut? Sotonya dingin ya”

“kamu tuh yang dingin!” cetusku.

“lha… koq malah marah?”

“abisnya…” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku tahu ini konyol dan Mas Rangga  bercanda. Hanya saja. Aku… Well. Yah mungkin aku terlalu berlebihan.

“aku ga mau diselingkuhin”

“Aku juga gak mau, Dek Ara…  aku ga selingkuh, oke? sms itu bukan dari kenalanku. Kan kamu dah cek sendiri.” jelasnya sambil menandaskan soto.

Aku memperhatikannya. Mas Rangga mengambil gelas dan menghabiskan es teh manisnya. Lalu aku berpaling dan menghabiskan sotoku dalam diam. Aku memutuskan untuk membalas SMS. Dan tidak membuang waktu dengan cemburu lagi.

To: + 621829397379123

‘Ini siapa?’  kirimku.

Cemburu. Insecure. Kenapa perasaan tidak aman ini tiba-tiba muncul?

***

From: + 621829397379123

Ini Bagas yang ga kalah ganteng.

Dahiku berkerut membaca balasan SMS yang kuterima satu jam kemudian. What! How come?! Terkejut adalah susulannya dan langsung disambut sedikit amarah. Aku pun membalas cepat.

To: + 621829397379123

Ga kenal. 

Tiba-tiba layar telepon genggamku berkelap-kelip.

Incoming call

+ 621829397379123

Aku rasakan dahiku makin berkerut. Spontan ku-reject. Ngapain sih dia. Aku mulai terganggu. Mungkin seharusnya tidak perlu, jika saja dia tidak tiba-tiba bilang ‘mungkin’ jatuh cinta. Ah, aku tidak suka hal ini. Aku menjadi penuh curiga pada seseorang yang tadinya kuanggap ‘teman yang baik’. Segala yang diberikannya mulai membuatku tidak lagi bisa memandangnya secara netral. Ada maksud yang sayangnya tidak bisa kuanggap biasa.

Aku meletakkan telepon genggamku di meja belajar, lalu bersiap untuk tidur. Setelah menarik selimutku, tanpa bisa kucegah, pikiranku pun melayang pada Bagas. Pada pembicaraan kami. Ah, Bagas seandainya kamu perempuan, tentu kita akan bisa jadi sahabat baik tanpa perlu khawatir akan kemungkinan jatuh cinta. Eh, ga menutup kemungkinan juga seh yah…sebenarnya… kalo perempuan terus ga bisa saling jatuh cinta. Aku tersenyum sendiri dengan pikiran konyolku. But yeah… of course it would be much easier if you were a girl. We could be a very good friend. Semoga kita masih bisa berteman yah, Bagas.  Seharusnya kata mungkin itu tidak terucap. It would change us. padahal aku mulai menyukai kita. teman. sahabat. tak bisakah? *sigh. Aku menarik nafas. Jatuh cinta yang tidak tepat waktu. Mataku terpejam dengan kalimat terakhir tersebut di kepala dan bayangan Mas Rangga tersenyum yang selalu muncul saat mataku tertutup di setiap penghujung hari. Aku sudah terbiasa dengan senyum itu sejak kami memutuskan untuk berbagi waktu dan ruang sekitar dua tahun yang lalu.

(bersambung) 

Iklan

Satu pemikiran pada “In between (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s