Sejenak Senja


Ah! itu kamu. Mataku menangkap sosokmu yang sedang duduk di tepi pantai memandang entah laut, entah langit, entah keduanya. Kamu tidak bergeming. Segera aku memarkirkan sepedaku dan berlari menabrak angin menuju sosokmu. Kamu berada jauh, tapi aku yakin itu kamu. Yakin sekali. Semakin dekat aku padamu, semakin cepat degup jantungku berpacu dan semakin lambat langkahku. Aku berusaha menenangkan kakiku, tapi terutama menenangkan debar bertalu-talu di dadaku. Aku menarik nafas cepat-cepat. Mengaturnya hingga tidak menyesakkan dan aku siap berhadapan denganmu.

Aku berhenti tepat di jarak lima langkah dari sisi kananmu. Kamu tidak menyadari kehadiranku. Matamu tetap terpaku ke satu titik. Diam saja. Apa yang kamu pikirkan ? Ya, betapa inginnya aku menyusup ke sela-sela pikirmu, mencari tahu kemungkinan menemukan diriku disana. Aku menatapmu beberapa lama, membiarkan angin membelai geraian  rambut panjangku, telingaku seluruhnya menangkap bisikan laut.

Matahari lambat-lambat menuju garis pertemuan langit dan laut. Ah, betapa mayanya garis itu, langit dan laut tak pernah bersatu. Meski terlihat dekat dari kejauhan, serta merta langit dan laut akan terasa sangat jauh dari dekat. Seperti aku dan kamu, dari kejauhan kita selalu bersatu, nyatanya kamu langit dan aku laut, selalu terbentang jarak diantara kita.

Langit dan laut tidak pernah bersatu. Kecuali kala ini.  Kala matahari mulai mencelupkan kakinya ke genangan laut. Kecuali sejenak ini. Sejenak saat matahari yang hendak beranjak dari langit,  semakin lama semakin tenggelam ke dalam laut. Sejenak gelap dan terang. Sejenak pagi dan malam. Sejenak biru dan merah. Sejenak langit dan laut. Sejenak aku dan kamu.

Aku menuntaskan jarak lima langkah diantara kita, tepat di sisi kananmu aku duduk pelan-pelan. Kamu menoleh padaku. Terkejut namun kemudian tersenyum menawarkan bahumu padaku. ah ya! tentu saja aku tak kuasa menolak, memang ini yang kuinginkan. Bermanja padamu. Aku letakkan kepalaku nyaman di bahumu. Tanganmu besar memeluk dan menyambutku. Lengkap sudah.

Sudah hampir setengah badan matahari tenggelam di laut. Kakinya menari-nari bersama ombak  namun tangan-tangannya masih melukis mega di langit, mencampur biru, merah, jingga dan emas. Tiada bentuk apalagi makna, hanya indah. Kemudian kita diam menikmati sejenak matahari yang menjejaki langit dan laut. Asin dan celoteh laut, manis dan lembut langit. Kita.  Hanya ini yang selalu kurindukan. Matahari yang sedang menjejaki langit dan laut, seperti Tuhan yang hadir diantara aku dan kamu. Sejenak senja selalu terasa seperti hidup bagiku.

Aku menarik nafas, lalu kubisikkan padamu apa yang sejak lama telah kusimpan rapat-rapat dalam hatiku.

“Kamu tahu, seumur hidupku belum pernah aku merasa begitu dekat dengan seseorang seperti apa yang kurasakan padamu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan saat aku pertama kali melihatmu, saat itu aku tahu, aku akan mati ketika aku kehilanganmu. Tidak, aku tidak berani menamakan semua ini cinta, mungkin ini hanyalah keinginan yang begitu yakin kubutuhkan. Apapun, aku ingin kamu tahu ini, pun dengan segala ketakutan yang ada padaku, aku tahu bahwa aku harus siap untuk kehilanganmu. Maka kupanjatkan doa padaNya memohon Dia memberikanku kekuatan untuk mencintaimu seperti Dia tulus mencintaimu.

Tidak, aku tak ingin melekat padamu. Aku tak ingin cinta yang takut kehilangan. Aku tak ingin cinta yang selalu was-was dan khawatir. Aku ingin cinta yang bebas.

Seperti laut yang tidak pernah peduli apakah langit mendengar senandungnya dan layaknya langit yang tidak pernah peduli apakah laut melihat goresan lukisannya, seperti itulah aku ingin mencintaimu. Tanpa pamrih dan setia.

Seperti laut  yang selalu menyembunyikan kandungan hatinya  sedalam-dalam perut bumi dan layaknya langit yang selalu menyembunyikan nyala bintang asmaranya segelap-gelap ruang hampa, seperti itulah aku ingin mencintaimu. Tidak perlu diaku namun nyata.

Aku hanya ingin menikmati sejenak senja ini bersamamu. Hingga senja menjadi sejatinya terwujud di ruang waktu kita. Entah kapan akan sudah.”

Aku mengangkat kepalaku dari bahumu dan kaupun melepas pelukmu. Tapi apa yang dikatakan kedua mata kita diantara jarak yang tiba-tiba terbentang ini seperti pengertian diantara langit dan laut. Pengertian yang hanya milik laut, yang selalu memantulkan kembali lukisan  biru dan merekam setiap goresan  dalam tari-tarian ombaknya. Pemahaman yang hanya milik langit, yang selalu membawa senandung laut ke daratan agar makhluk lainnya bisa terbuai lelap nyanyian laut.

Dan mataharipun menghilang memisahkan langit dari laut. Memisahkan kamu dari aku. Aku duduk sendiri menatap gelap yang sedari tadi diam-diam menyergap kita. Aku tahu… meski kegelapan membutakanku,  kamu masih menorehkan lukisanmu untukku. Jadi, terimalah kasihku ini, seperti aku menerima kasihmu. Dan lagi, hanya dalam kegelapan seperti inilah aku mampu melihat nyala bintang asmaramu yangkau simpan rapat di segelap-gelapnya ruang hampa dan aku cukup beruntung bisa melihatnya.

***

teriring rindu untuk laut dan kandungan isinya …

teriring sayang untuk langit dan goresan warnanya…

Iklan

Satu pemikiran pada “Sejenak Senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s