Unimagine dream (1)


Akhirnya aku tiba di Jalur Letter E. Jalur ini memang jalur yang dikata orang terberat saat mendaki Puncak Rinjani. Jalur dengan lebar kurang dari satu meter dan berkiri-kanan tebing jurang ini memang tantangan terakhir untuk mencapai puncak. Hatiku mencelos. Seketika keraguan besar jatuh di hatiku, membuat sekujur tubuhku gemetar bertambah dingin. Aku sudah mendengar cerita mereka, hanya saat itu susah untukku percaya, aku yakin keinginanku pasti lebih besar dan bisa mengalahkan ketakutanku. Makanya aku pun terkejut juga saat hatiku tiba-tiba mencelos. Kurasakan sendiri keraguan itu, kurasakan sendiri kepercayaan diriku yang pecah tat kala melihat medan Jalur letter E(dan).

Kulihat pendaki lain  mulai menuruni jalur ini dengan cepat. Rupanya mereka sudah mencapai puncak. Padahal kami mulai berjalan pada waktu bersamaan, tapi mereka sudah sampai terlebih dahulu bahkan sudah berjalan turun, hal ini semakin mengecilkan hatiku. Aku menunggu temanku yang berjalan tak jauh di belakangku. Ketika ia sampai di titik pemberhentianku, kulontarkan raguku.

“yakin kita mau naik? jalurnya begitu” kataku menunjuk jalur berkelikir itu.

“yakin. Jalan selangkah demi selangkah aja. Pelan tapi maju. nanti sampai” katanya meyakinkanku. Aku tertular keteguhannya. Aku mengulurkan tangan, kami bersalaman saling memberi kekuatan. Aku mulai melangkah terlebih dahulu. Kami tidak bisa berjalan berdampingan, karena jalur itu hanya cukup dilalui 2 orang,  sedangkan di sebelah kiri kami, masih ramai orang-orang turun setelah mencapai puncak. Aku berjalan melangkah, kerikil dan pasir berjatuhan setiap kali aku melangkah maju.

Kakiku melangkah tertatih, debu dan pasir bercampur dengan udara yang kuhirup. Nafasku tersengal nyaris sesak. Sementara orang-orang yang berjalan turun semakin sedikit, aku masih berusaha melangkah naik.  Aku mulai mengeluh, semangatku turun, tak yakin aku masih ingin berjalan. Tak yakin aku masih punya kekuatan untuk melangkah.

ah, mengapa tak juga aku sampai. Apa yang kulakukan disini? 

Aku teringat saat-saat aku berlatih mempersiapkan ini semua. Aku tahu aku telah berusaha jauh sebelum aku sampai di tempat ini. Aku bangun pagi beberapa kali dalam seminggu untuk melatih kakiku berlelah-lelah melangkah, sambil membayangkan Puncak Rinjani yang kata orang indah.  Dan memang keindahan saja yang tampak. Kupandangi sekelilingku, keindahan bahkan mulai nampak menjemukan. Seharusnya keraguan ini tidak menjamahku. Tapi tak ayal nyaliku ciut melihat medan yang tak pernah kusangka ini. Rupanya keinginanku dulu masih naif dan kusadari betapa butanya mimpiku. Dan aku menjadi lupa apa yang menjadi tujuanku disini.

Aku berhenti, kedua kaki lelah terbenam kerikil. Aku melihat ke atas, tampak puncak masih juga terlihat jauh. Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengembalikan setiap tenagaku yang terkuras dan berhenti mengeluh dalam hati. Aku sudah berjalan cukup lama, tapi tidak juga aku sampai pada tujuanku. Tiba-tiba seseorang yang sedang turun dengan cepat, berhenti dan menyapaku:

“Mba, mau naik?”

Aku tertegun sebelum akhirnya menjawab “iya”

“ngapain?” Aku terdiam, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang daritadi juga kutanyakan sendiri ke diriku.

“Turun aja yuk!” Ajaknya tiba-tiba.

Aku kaget dan serta merta menggeleng.

“Cape kan?”

“iya…”

“Ngapain naik cape-cape, pemandangannya sama aja koq, kaya disini.”

“Tapi aku mau naik” Kataku dengan keyakinan yang entah darimana asalnya.

“Turun aja yuk sama saya, dari sini danaunya keliatan, diatas juga sama, ngapain cape-cape” Ajaknya lagi sambil tersenyum mengejek.

“Ga mau, aku mau naik” kataku berkeras.

“Masih jauh bisa sampe siang nanti sampai atas”

“Ga apa… aku mau naik!”

“Ya sudah mba, hati-hati yah, saya turun”

Dan dia pun kembali berlari turun dan dengan cepat meninggalkanku. Aku menoleh menyaksikan kepergiannya. Kutangkap mata temanku yang berjalan tak jauh di belakangku. Dia mengangguk, seakan menyetujui setiap langkah yang pelan-pelan kuambil. Aku balas mengangguk dan berbalik menatap puncak kemudian kulangkahkan kembali kakiku.

Selangkah. Selangkah lagi. Selangkah lagi.

Pikiranku melayang kepada kejadian barusan, hatiku dongkol bukan buatan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan si Guide dan godaan-godaannya yang mengajakku turun. Dongkol terutama karena apa yang dia lemparkan padaku adalah juga apa yang suara dalam diriku sendiri lemparkan sedari tadi. Aku meragu. Aku tak percaya pada kemampuanku. Akan mudah bagiku untuk menyerah dan memaklumi segala alasan. Dan jujur saja, kata-kata si guide tadi, sangat masuk akal. Segala alasan itu akan menyelamatkanku dari kesusahan melakukan perjalanan yang berat ini.

Aku pun terheran-heran sendiri dengan keteguhan dan kemantaban suaraku ketika menjawab ajakkannya. Suara siapa yang berbicara, mengapa kata-kata itu keluar dari mulutku? Kata-kata yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan saat ini. Dan bahkan setelah Guide itu pergi, aku masih kembali meragu dan mengaduh dalam setiap langkahku, tak percaya pada kata-kata yang aku sendiri ucapkan. Rasanya seperti bukan aku yang berbicara tadi. Aku tak tahu aku punya keinginan sebesar itu, tapi toh jawaban itu sedikit banyak menguatkanku, maka aku hanya ingat berdoa. Tak banyak yang aku doakan, aku hanya merapal doa bapa kami, sesekali salam maria, untuk sekedar mengalihkan diriku dari mengeluh. Tak berhenti aku berpikir, merasa, berdoa dan tak berhenti juga aku melangkah, sesekali berhenti untuk duduk dan menarik nafas keindahan.

Sekali waktu seorang guide lain berpas-pasan denganku, dia berjalan menuntun seorang gadis asing. Aku berhenti untuk memberikan mereka jalan terlebih dahulu. Rupanya merekalah rombongan terakhir yang meninggalkan puncak ini. Guide itu menatap dalam mataku dan tanpa ekspresi mengucap “hati-hati”. Aku tersenyum dan mengangguk, merasakan kekuatan baru. Setelah mereka lewat aku kembali berjalan. aku kembali menunduk, berpikir, sambil melihat kakiku bergerak melangkah pelan, satu per satu, bertahan. Semakin keatas semakin angin kencang menerpa, seakan menguji setiap langkahku.

Selangkah. Selangkah lagi. Selangkah lagi.

Tanpa sadar, aku sampai di batu besar yang sedari tadi terlihat begitu jauh dimataku. Aku terkejut, melihat keatas dan betapa seketika sekelebat perasaaan berebutan menyesak dadaku. Kulihat ujung jalan berkerikil ini. Puncak! Mataku melebar dan segera kucari temanku dibelakang, aku berteriak padanya. Dia menggangguk lagi, merespon teriakkanku.

Tuhan! 

Tergagap aku melirih memanggil namaNya. tertatih aku kembali melangkah. Segala rasa masih berebutan dan berdesakkan dalam hatiku. Seisak haru pecah. Tanganku gemetar menyentuh batu besar itu. Aku rasakan sekujur tubuhku mulai gemetar.  Sedikit lagi. Sedikit lagi.

Tuhan! 

Tak ada kata yang mampu kuucapkan, hanya isak dan air mataku seketika berderai memeluk rasa-rasa yang membuncah tanpa bisa kucegah. Kakiku lemas seakan tak berdaya, aku berlutut, terkesiap. Pertama karena surga di depan mataku. Kedua karena aku sungguh berada di tempat ini. Diatas puncak rinjani. Puncak rinjani! Ya, Tuhan!

Aku terduduk seorang diri, angin bertiup membelai rambutku dan berbisik menyambut. Aku nikmati segala rasa syukur dan kagumku padaNya.  Keraguan yang berceceran di setiap langkahku, berhasil kumenangkan. Aku kini memiliki mimpi yang tak pernah terbesit sedikitpun sepuluh tahun yang lalu. Indah.  Tak berapa lama kulihat temanku datang, aku  berdiri dan menyambutnya.

“Puncak Rinjani! Proficiat, mas! Akhirnya kita sampai!” seruku mengulurkan tangan bersalaman. Tersenyum lebar.

Rasa lelah tak berdaya itu hilang menguap entah kemana. Inilah tempat yang kurindukan, inilah tanah tertinggi, tempat aku ingin memanjatkan doa-doaku untuk orang-orang yang kucintai dan berarti dalam hidupku. :). Terima kasih telah menguatkanku. Terima kasih telah bersamaku melalui semua ini. Terima kasih.

Puncak Rinjani. 14082012. Doaku padaNya yang telah menciptakan ini semua. Disinilah aku mengucap syukur untuk CintaNya dan memohon kemampuan untuk selalu  memilih tinggal dalam CintaNya. Teruntuk kalian keluarga dan sahabat-sahabatku, cintaNya yang indah.
Iklan

Satu pemikiran pada “Unimagine dream (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s