Wrong Chemistry (5)


Mungkin biarkan saja kegilaan ini menjadi milik kita.  Mari menarilah bersamaku , diantara hujan yang akan menyembunyikan air matamu. Sementara  isak mengalir di pipi dan sekujur tubuh kita,  pun kau masih sanggup menyunggingkan senyum dan aku akan terus menangkapmu yang hampir jatuh lunglai. Dan inilah tarian kita, antara fantasi – realitarasa – logika, raga – jiwa . Di antara semuanya itu adalah kita. Dalam derasnya hujan, merasuk tarian yang belum berani sempurna. Hanya diantara kita.

***

Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip…..

“hmm… uh” Tanganku terulur mencari alarm yang gelagapan membangunkan lelapku. Kutangkap benda berisik yang bergetar, meronta seakan berusaha melepaskan diri dari genggamanku.

Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip…..

Berisik.

Mati.

Hening seketika menjajah dengan matinya alarm di tanganku. Mataku masih berat menyambut pagi. Terjaga dalam gelap, menambah berat kelopak mataku. Aku diam sejenak, mengangkat benda di tanganku dan menyalakannya. Lima dua belas. Ah, masih ada waktu. Lambat-lambat aku bangun dan mengerjapkan mataku. Mencari kesadaran, bersiap menyambut pagi.

Dua puluh menit kemudian, aku telah berjalan menyusur gang depan rumahku. Langit masih biru gelap bahkan bulan masih belum beranjak, satu-dua bintang masih mengerling padaku. Aku selalu menyukai udara sepagi ini, saat bulan perlahan menjauh, menerbitkan matahari. Antara dinginnya malam dan hangatnya pagi. Antara gelapnya malam dan terangnya pagi. Dua titik berbeda yang bersatu tepat di tengah.  Perubahan. Proses. Melebur. Seimbang.

Aku sampai di depan gerbang, tepat saat lonceng gereja pagi berbunyi. Lonceng yang menandakan kedatangan malaikat, berdentang menyambut kicauan burung. Bergegas aku membuka pintu besar gereja. Sementara aku menyusur koridor, mencari tempat kosong,  umat berdiri mendaraskan doa angelus.   Aku mengambil tempat di tengah, dengan demikian altar dan salib besar itu dapat kupandang lekat. Syahdu. Misa pagi selalu membawaku pada suasana itu. Kudaraskan doa Salam Maria, bersatu dalam doa dengan umat lain.

Mengikuti misa pagi adalah kebiasaan baru yang belakangan menarik hatiku. Suasana pagi yang berbaur dengan lantunan doa menciptakan kedamaian. Suatu hari di bulan-bulan lalu, aku terjaga hingga pagi tanpa merasa lelah sedikitpun. Mataku tak mau terpejam dan pikiranku melayang kemana-mana. Aku tak berkarya, hanya termenung asyik menjelajah jalan-jalan pikiranku. Tak kusadari jam berdetak membawaku ke subuh. Entah darimana, keinginan untuk pergi menghadapNya pagi itu kuat, sangat kuat. Maka aku beranjak, menyerah memaksa ragaku terlelap. Tiba-tiba saja aku sudah hadir dalam misa pagi di gereja terdekat. Kusampaikan semua gelisahku padaNya. Rasanya seperti menangis tanpa setetes air matapun dibiarkan jatuh tanpa makna.  Dan  sejak saat itulah aku mencandu suasana mesra matahari dan bulan di rumahNya.

Aku sejujurnya tak menyangka ada cukup banyak umat yang menghadiri misa pagi harian. Orang tua kebanyakkan, namun tidak sedikit juga orang muda. Dan yang paling manis tentu saja pasangan suami-istri berambut putih yang selalu duduk di tengah dan tak jauh dari pilar sebelah kiri altar. Sebisa mungkin, aku selalu mengambil tempat tak jauh dari mereka. Pertama kali aku melihat mereka saling mengecup pipi saat “salam damai”, aku terharu akan salam yang saling mereka berikan dengan lembut dan hatiku menangkap damai begitu saja. Ciuman antar kekasih yang saling setia, they grow old together. Dan setiap kali melihat mereka pula aku berdoa memintaNya mengijinkan cinta semacam itu hadir dalam hidupku. Sederhana. Setia. Berdua. Di hadapNya. Sampai mati.

Mungkinkah Mas Rangga?

***

“Ara! disini… ” panggil Bagas sambil menunjuk-nunjuk kursi kosong di sebelahnya.

Aku tersenyum dan langsung saja duduk di kursi kosong di depanku. Menghiraukan panggilan Bagas. Membuka buku-bukuku dan mulai membaca.

“ra…” Aku terkejut. Tiba-tiba saja muka Bagas sudah berada di sampingku. Berbisik dekat. Deg. Aku menghindar cepat dan otomatis menampar mukanya.

Plak . “ouch!” Bagas memegangi pipinya.

“ah, sorry…” aku panik dan terkejut sendiri dengan reaksiku.

“Buset dah, apa salahku Ra?”

“Lagian ngapain deket-deket gitu. Aku kan kaget”

“Kamu nyuekkin aku”

“Iya, emang”

“Kenapa?”

“karena” jawabku singkat.

“Maaf?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

“Ga perlu” Aku memalingkan muka dan melanjutkan membaca.

“Kemarin aku telpon kamu, ga diangkat”

“Aku sudah tidur”

“Ra…” Bagas memanggil namaku. Namun aku hanya diam, tidak menghiraukannya.

“Ra, I got it. You have a boyfriend. Masih bisakah kita berteman?”

“Tiga bulan lagi, gas. Baiknya kita jaga jarak sampai semua rasa yang kau pikir cinta itu hilang”

“Kalau ga hilang?”

“Itu deritamu, bukan urusanku”

“Kamu segitu cintanya yah sama mas Rangga?”

“…” Aku terpekur dengan pertanyaan itu.

“Duniamu sesempit itu yah, sampai berteman dengan laki-laki lain saja tidak bisa. Atau jangan-jangan kamu juga ada rasa sama aku, makanya takut kalo kamu akhirnya selingkuh dari Mas Rangga. Ra, aku juga punya pacar kali. Ga usah ke-GR-an. Mo temenan aja koq susah. You know what, you need to get out from your world once in a while. Biar ga sempit tuh otak sama hati. ” Bagas melengos pergi dan meninggalkanku.

Tanpa berpikir, aku lempar pensil di tanganku sekuat tenaga ke arah Bagas yang sedang bergegas pergi. Aku tak menyangka reaksiku mendengar kata-katanya akan segitunya. Pedas sekali rasanya. Ini kejutan kedua.

Tahu apa dia tentang aku! Aku marah. Tapi Bagas tahu. Dan aku tahu, dia tahu. Pensil yang terlempar itu ibarat kebenaran yang kutolak mentah-mentah. Bagas tidak berhenti ketika pensilku mendarat kencang di lehernya, dia terus bergegas keluar. Aku tidak mengejarnya, hanya memandangnya dengan tatapan marah.

Gebleg apa yah dia? Mana bisa kita temenan, kalau ada kemungkinan segala yang aku anggap perhatian sahabat diterjemahkan sebagai “cinta juga”. 

Aku mengerutkan dahi tanpa sadar, sambil berusaha fokus untuk kembali membaca. Ah! Sialan! Aku menyerah, pikiranku tak bisa dibelokkan ke buku-buku ini. Aku tahu saat ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menulis dan menelusur rasa dan pikiran mengganggu ini.

Perpus, 23.04.2010

Oke, Kapa. This is the only rational thing to do right? I need to avoid him. Bukan karena sekedar kemungkinan yang dia bilang jatuh cinta itu, ….. tapi…. O gosh, i hate to admit this! He is damn right! Aku takut dengan segala rasa yang dia timbulkan. But I love mas Rangga. And i don’t need this happy feelings, this butterfly effect, this stupid rushing heartbeat,  from other man. From Bagas. Shit! I hate him. And I hate how he makes me feel and think this way. What the hell is this? I’m a loyal girlfriend. Tapi rasa ga bisa bohong, ra. 

Rasa juga ga perlu ditanggapi kan, kapa? Can i just be friend with Bagas? aku dah terlanjur suka dengan apa yang kami punya, dan ini bahkan cuma tanda-tanda jatuh cinta. bukan cinta. 

Memang cinta itu apa, ra?

KUPRET!

***

Aku menutup buku catatanku, jengah dengan segala rasa dan pikir dalam diriku. Ah sudahlah… Ga semua rasa harus ditanggapi. Aku mengambil hapeku dan segera menelpon Mas Rangga. I need to hear his voice.

“Yes, ra?”  Mas Rangga menjawab dengan sedikit terengah dan berbisik.

“Mas, lagi sibuk?”

“Iya neh lumayan. Ada apa?”

“Ga pa pa. aku cuma mau denger suaramu?’

“eh? kangen yah?”

“iya…”

“kan baru ketemu kemarin malam, ra”

“terus kenapa? ga boleh kangen?”

“ha5. manja!”

“biarin”

“ya nanti makan siang aku telpon lagi yah ra. aku selesaikan kerjaanku dulu”

“iya mas. Semangat ya. dagh”

“dagh”

There you go. Rasa dari Bagas sudah seharusnya diisi oleh Mas Rangga. Apa yang Bagas timbulkan sudah lebih dulu ditimbulkan Mas Rangga. No new feelings, no need to worry. Aku dan Mas Rangga ga serapuh itu. Aku tersenyum dan mulai berkonsentrasi dengan tugasku.

(bersambung)

Iklan

2 pemikiran pada “Wrong Chemistry (5)

    1. ooops! waaah terima kasih dah dikoreksi…. (^^). ha5… semoga suatu hari nanti terwujud sha. thanks sudah baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s