Karena cinta tidak pernah usang


Saya pun bertanya, jika sepulang di Jakarta saya bisa menemukan Widari, apa pesan yang harus saya sampaikan? Widodo menjawab lirih, ‘sampaikan salam saya, dan katakan padanya, saya masih setia.’

(Kutipan dari artikel: Cinta yang terhalang di Kuba)

***

Sepenggal kalimat diatas saya temukan di salah satu link yang tertera di blog “Setjangkir Kopi dari Plaja”. Saya tersentuh tepat di kata-kata terakhir yang diucap Pak Widodo, “Saya masih setia”. Iya, mata saya tergenang,  hati saya tergelitik dan berdesir, seolah ada sihir yang mengalir relung dari kata-kata tersebut.  Siapakah gerangan Pak Widodo ini? Tidak, saya tidak akan menceritakan siapa dia disini, kunjungi saja blog “Setjangkir Kopi dari Plaja”  dan masuklah ke sebuah kisah cinta yang meski terjadi di masa lampau, getar cintanya masih bisa terasa hingga sekarang.

Betul, ini sebuah undangan…yang dibuat pertama kali oleh Papermoon Puppet. Seorang teman saya, Giasinta Angguni, adalah fans berat teater boneka dari Indonesia ini. Dan kecintaanya ini selalu dengan riang dibagikan kepada kami teman-temannya. (terima kasih, Gone). Salam Pak Widodo disampaikan dengan manis oleh Papermoon Puppet , tidak hanya kepada siapa salam itu ditujukan tetapi juga kepada khalayak. Salam ini kemudian sampai di hati Giasinta yang dengan sukarela membagikannya kepada teman-temannya, salah satunya saya. Maka sekarang, disini saya teruskan juga salam ini kepada pembaca blog saya… mari tersentuh bersama-sama. :).

Ini sebuah undangan … untuk ikut serta dalam sebuah perjalanan hati yang tidak kalah oleh waktu, yang tidak mengalah dengan keadaan, hati yang memilih tinggal dan mencinta.

***

Anda percaya jodoh? Soulmate? The one? Satu jiwa yang ditakdirkan lahir dan hadir untuk menemani hidup anda? Pada waktu yang tepat, anda dan orang yang tepat itu pun akan berada di tempat yang tepat, dan sejak itulah anda tahu, hidup anda tidak akan pernah sama lagi tanpa hadirnya. Apapun yang terjadi bersamanya anda bahagia.

Mungkin inilah yang pernah dirasakan Pak Widodo dan Widari. Mungkin. Entah berapa banyak dari kami kaum wanita yang akan bertanya spontan, “koq masih ada seh laki-laki kaya Pak Widodo?” setelah mengetahui ceritanya. Saya salah satunya. Demi apakah dia bertahan 40 tahun lebih tidak menikah? Benarkah karena cintanya mewujud dalam janji sekali ucap yang telah diberikannya pada Widari? Kekuatan macam apa yang membuatnya sanggup setia? Sanggup tinggal mencinta tanpa balas selama ini? Apa bukannya karena memang disana tidak bisa mendapat pasangan lain saja? *skeptis.

Tapi siapa yang bisa mendebat keinginan hati atas nama cinta yang tulus? Di bawah kakinya, semua yang logis terbantahkan, di bawah kehendaknya segala sesuatu yang mustahil tidak ada. Dan semua itu mewujud pada sosok Pak Widodo. Kita bertanya, tersesat dalam keraguan masing-masing, tapi satu salamnya adalah muara yang menyatukan kita. Kita sepakat merasakan getar, mendeteksi adanya cinta yang tulus tanpa curiga dan tepat disana kita memahami makna “setia” begitu saja.

Saya masih tak habis pikir , bagaimana bisa Pak Widodo bertahan dengan cinta LDR-nya? Dan kemudian bertahan dengan cintanya yang tanpa komunikasi selama empat puluh tahun lebih bahkan sampai sekarang? Rasanya mustahil untuk percaya. Apalagi untuk saya yang hidup di jaman, dimana fasilitas komunikasi jarak jauh bukan lagi barang mewah. Jaman dimana ruang dan waktu bukan lagi halangan untuk dua hati bersatu. Jaman dimana Indonesia (katanya) sudah merdeka. Dan masih saja kita dengar banyak kisah perselingkuhan.

Mungkin kita begitu dimanjakan dengan teknologi dan kata merdeka. Saya pernah merasakan hubungan jarak jauh dengan pacar dan saya tahu persis rasanya kangen setengah mati tapi tidak bisa bertemu. Padahal rindu sedemikian dengan kekasih/orang terdekat bisa langsung segera diobati dengan Telpon, SMS, email, Skype, BBM, Whatsup, dll. Pun sudah seperti itu, masih saja keluhan keluar dari hati. Dan saya merasa ditampar oleh Pak Widodo. Dalam kepala ini saya bisa mendengar beliau berkata “Anak muda, hubungan dua hati tidak seharusnya bergantung pada teknologi. ”  Semewah-mewahnya fasilitas yang kita punya untuk berhubungan, mungkin yang paling mewah adalah hubungan batin kedua hati. Mungkin yang paling mewah adalah berada dalam satu ruang dan waktu tanpa dihubungkan media elektronik apapun. Pelukkan hangat, tautan tangan, kecup manis, tatapan mata;  “sebuah kehadiran”  adalah harta yang otomatis kita miliki bersama cinta di hati. Nyata dan ada secara fisik dalam diri orang lain.  Dan harta inilah yang menurut hemat saya sanggup menafkahi cinta Pak Widodo untuk bertahan selama ini. Harta yang sangat-sangat terasa berharga saat kerinduan menemani. Sekaligus terasa paling menyakitkan untuk dikenang. Kenangan indah dengan sang kekasih meski menyakitkan toh ternyata bisa menjadi keinginan yang membatu dan bertahan tak hancur digilas waktu.

Kehilangan adalah tragedi yang mau tidak mau, suka tidak suka, entah kapan akan menjadi bagian dalam kisah hidup seorang manusia. Tapi satu hal, saya belajar dari Pak Widodo untuk tidak pernah kehilangan harapan. Segetir apapun hidup, ibarat secangkir kopi, selalu ada manis yang pernah terasa. Saya mengagumi sangat pilihan hidup Pak Wi untuk tinggal dalam cintanya, pun menghormati pilihan hidup Widari yang akhirnya menikah dengan orang lain.  Sedih mungkin perasaan yang dominan muncul saat mengetahui bahwa kesetiaan Pak Wi tidak berbalas. Saya rasa pilihan itu sama-sama tidak mudah untuk diambil oleh kedua belah pihak, tapi tidak ada yang bisa disalahkan disini. Miris adalah mengetahui semua itu terjadi karena keadaan yang diluar kuasa mereka berdua.

Dulu saya percaya, bahwa kita masing-masing memiliki seorang “belahan jiwa” untuk menemani hidup kita . Ada sesuatu dalam diri seseorang itu yang membuat hidup kita terasa lengkap. Tapi banyak cerita, banyak kisah nyata terjadi, bahwa tidak selamanya “belahan jiwa” itu akan selalu bersama kita. Kisah Pak Wi adalah salah satunya. Takdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Bisa bertemu dengan belahan jiwa adalah anugerah terindah, apalagi jika bisa bertahan dalam cinta yang demikian mudah kita peroleh… ah tentu tak terkatakan indahnya. Saya hanya ingat untuk selalu menghargai dan menjaga apa yang sudah diberikan kepada kita sebaik mungkin selama yang diijinkanNya.

Pada akhirnya kita bisa saja menyerah pada takdir, menyerah pada keadaan, tapi menyerah bukanlah pilihan satu-satunya. Dengan atau tanpa “belahan jiwa”, kita masih diberikan hidup, dunia di sekitar kita masih berjalan. Anugerah paling besar bukanlah memiliki cinta yang paling kita inginkan dalam diri seorang “belahan jiwa”, tapi kehidupan itu sendiri. Dan diluar itu semua selalu masih banyak hal yang bisa kita syukuri, kita hargai. Pada dasarnya kita tidak pernah kehilangan cinta. Jadi buat saya adalah konsekuensi logis, jika Widari akhirnya memutuskan untuk menikah dan melanjutkan hidupnya.

Dari kisahnya Pak Wi kita tahu betapa berharganya cinta yang pernah mereka miliki. Dan keadaan,waktu, bahkan kekuasaan tidak sedikitpun dapat mengurangi nilai cinta itu. Demi cintanya yang lebih besar untuk Indonesia, Pak Wi dan Widari berkorban. Dari cintanya itu, kesetiaan Pak Wi lahir.  Nilai yang begitu langka  kita temukan dewasa ini. Banyak cerita perselingkuhan dan perceraian berdengung dewasa ini, dan jujur saja, sedikit banyak ini menggerus kepercayaan kita pada cinta.  Berkat Pak Wi yang begitu setia, kita masih boleh percaya bahwa cinta yang setia dan tanpa syarat bisa diwujudkan,  keteguhan hati akan memampukan kita. (amin). Tentu saja semua ini harus dijalani, dialami dan dirasakan sendiri. (”p), berteori memang mudah, melakukan itu yang tidak selalu mudah.

Entah darimana kutipan “Cinta tidak harus memiliki” berasal, saya seringkali mendengar kutipan ini terlontar terutama pada saat patah hati. (”p). Saya tidak setuju dengan kutipan ini. Cinta harus memiliki, bukan pertama-tama memiliki objek cinta kita, karena itu berarti hanya pemenuhan ego. Tapi yang terutama adalah memiliki cinta itu sendiri di hati kita. Pak Wi mungkin pada akhirnya tidak bisa memiliki Widari dalam hidupnya, tapi dia memiliki cinta di hatinya. Cinta yang berjalan bersama waktu dan bukannya berkarat, bukannya menjadi usang, tetapi semakin indah meski harus bertahan sendirian. Sehebat itulah ketulusan cinta mampu melahirkan getaran di hati. Dan getaran itulah yang diteruskan ke banyak orang oleh Papermoon Puppet.

Love never grows tired, it never grows old and weary, but becomes even more treasured as the years pass like antique lace

Karena cinta tidak pernah usang.

***

Tulisan ini adalah ungkapan terima kasih untuk Gone, yang sudah meneruskan apa yang dirasakannya ke saya. Lalu tentu saja dipersembahkan untuk Papermoon Puppet. Terima kasih mba Ria sudah menghidupkan kembali cerita cinta ini. Saya masih berharap besar bisa menyaksikan pertunjukkan ini langsung. Dan tentu saja berharap sangat pertunjukkan “Setjangkir Kopi dari Plaja” bisa dipentaskan di Jakarta.

Teman-teman, Papermoon Puppet sedang menggalang dana untuk Pesta Boneka dan tulisan saya ini adalah salah satu bentuk dukungan saya untuk #supportpestaboneka. Saya terenyuh dan kagum dengan karya-karya Papermoon Puppet dan merasa perlu membaginya. Terutama karena Indonesia  membutuhkan banyak cinta. Cinta seperti Pak Wi  dan Widari yang rela mengorbankan apa yang paling berharga demi negara ini. Dan entahlah saya koq merasa, melalui pertunjukkan bonekanya, Mbak Ria sudah menyebar benih-benih cinta yang kita semua butuhkan, cinta untuk orang-orang yang kita kasihi dan cinta untuk Indonesia. Jadi ayo kunjungi blognya dan dukung Pesta Boneka di Jogjakarta akhir tahun nanti.

🙂

Iklan

3 pemikiran pada “Karena cinta tidak pernah usang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s