The Amoeba Pattern (6)


Jadi sudah hampir sebulan ini, aku semakin tenggelam dalam kesibukkanku menyelesaikan tugas akhirku. Tanpa Bagas.

Menghapus kehadirannya dalam hidupku,  hanya perlu menghindari perpustakaan. Ya, menghindari artinya sebisa mungkin tidak berada disana. Dan itu mudah. Mudah sekali.

Lihat kan, hidupku baik-baik saja tanpanya.

***

“Halo,  Mas Rangga…” jawabku sekedarnya saat telpon genggamku bergetar tak karuan, aku sedang berjalan keluar dari ruangan dosen pembimbingku. Tak sempat kulirik layar telpon genggamku.

“Ara?” seorang laki-laki yang suaranya tak asing memanggilku ragu, bukan mas Rangga.

“…” sh*t. Aku terpaku seketika.

“Ini papa” lanjut suara diseberang. D*mn, it is him.

“kenapa?” jawabku ketus.

“Papa lagi di Jakarta. Kita ketemuan ya?”

“Ara sibuk”

“Oh…”

“Sudah yah pa, Ara mau bimbingan dulu”

Klik! Aku tak menunggu jawaban dan langsung bergegas menuju perpustakaan. Persetan dengan dunia! Aku butuh sendiri.

***

Nafasku tersengal ketika tiba di meja yang biasa. Mejanya kosong. Syukurlah. Kuletakkan tasku dikursi sebelah kanan, buku dan telepon genggam di meja. Aku duduk, membuang nafas yang sedari tadi kutahan, mengambil handuk kecilku dan menghapus keringat di dahi. Aku kepanasan, tidak nyaman. Aku mengatur nafas dan menghitung mundur.

Sepuluh… mataku terpaku pada telepon genggamku, kurasakan mataku berkedip.

Sembilan… kejadian tadi berulang dalam benakku. Shit… Shit… shit.

Delapan… shit

Tujuh…Mataku panas dan hangat , tiba-tiba air mataku menetes. Aku menarik nafas panjang dan memejamkan mataku.

Enam… 

lima… tarik nafas, hembuskan… Ara… 

empattarik nafas, hembuskan…

tigatarik nafas, hembuskan…

duatarik nafas, hembuskan…

satutarik nafas…. hembuskan…

Tuhan

Aku duduk terdiam entah sampai berapa lama, berbagai macam pikiran berseliweran, di lubuk hati aku merasa… dan merasa. Berbagai hal mendadak muncul dalam diriku. Marah. Sedih. Dan entah campuran apalagi. Mataku masih terpejam, air mataku mengalir dan mengering dengan sendirinya. Sampai akhirnya aku membuka mata kembali, mengambil kertas kosong dan mulai menggambar amoeba. Aku penuhi setiap jengkal kekosongan dengan pola amoeba. Kurasakan tanganku bergerak, jariku membuat pola meliuk-liuk dengan cepat. Sebentar saja, kertas putih itu sudah penuh dengan amoeba. Aku ambil lagi kertas lain dan sama, kupenuhi kertas itu dengan gambar amoeba. Aku berkonsentrasi penuh dengan pola-pola ini, membiarkan apa yang tiba-tiba menguak kembali tenggelam. Menyalurkan semua energi perasaan negatif yang tak mampu kukontrol dan tak mampu kuberi nama.

Makin lama, makin banyak amoeba yang kugambar…

Makin lama, makin lambat tanganku bekerja…

Makin lama, makin sedikit pula pikiran  dan perasaan yang muncul…

“Ra!” Bagas memanggil dan menepuk pundakku. Suaranya kecil tapi di telingaku terdengar bagai teriakkan, aku tersentak kaget dan melonjak. Aku menoleh dan kudapati wajahnya yang tersenyum berubah seketika menjadi… ah, tidak, aku tak mengenal ekspresi mukanya itu, mungkin campuran terkejut dan bingung, entahlah. Selekas mungkin aku memalingkan muka.

kenapa kamu kesini gas? sekarang pula.

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut. Aku menghiraukannya dan kembali menekuni  gambar pola amoebaku. Menunduk dan tenggelam dalam perasaan dan kegiatan rutin yang baru kutekuni beberapa saat ini. Rutin sesaat ini menenangkan. Rutin sesaat ini membuatku merasa aman. Rutin sesaat ini aku kenal dengan baik. Tidak seperti perasaanku. Tanganku kembali bergerak cepat memenuhi kertas kosong dengan gambar amoeba.

“Ra… ” panggil Bagas lagi. Aku hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh. Tanganku mulai melambat menggambar pola amoeba dan kurasakan Bagas masih berdiri dan menatapku. Hei, ternyata tangannya masih memegang pundakku dan mengusap lembut. Akhirnya aku menengadah, aku tepis tangannya perlahan dan tersenyum memaksa.

“Apa gas?” bisikku pelan.

“Ga apa, Ra. Ini susu coklat…” katanya sambil mengulurkan sekotak susu kesukaanku.

Aku menatap tangannya yang terulur memegang sekotak susu berkeringat dan menengadah ke wajahnya lagi. Aku menangkap matanya. Bagas tersenyum dan mengangguk. Ada hangat yang tiba-tiba mengalir kecil di pipi dan hatiku. Aku spontan menunduk dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Tersedu tanpa bersuara. Bagas berlutut dan merangkulku. Tidak erat hanya sopan. Tidak juga berkata apa-apa. Diulurkannya handukku. Aku mengambilnya dan menghapus tangisku dari wajah.

Aku dorong Bagas. “Ga apa, gas… ga apa… Kasih gw ruang.” kataku sambil duduk terdiam, menarik nafas pelan-pelan dan entahlah hanya terdiam. Merasa. Aku lihat pantulan samar wajahku di jendela hadapanku. Mata dan hidungku merah.

“aku duduk yah… ?” Tanyanya meminta ijinku. Aku menoleh sebentar dan mengangguk pelan.

Tidak terburu, dia mengangkat tasku yang tadi kuletakkan di kursi kosong sebelah kananku. Bagas duduk. Tidak mengambil buku, tidak berbuat apa-apa. Dia hanya duduk dan ikut menatap pemandangan di jendela.

Selang entah berapa lama, aku akhirnya bersuara.

“gw… ga mau cerita” kataku berpaling tiba-tiba padanya dan memecah hening diantara kami. Tidak ada yang bisa kuceritakan.

“Kamu dah makan?” balas Bagas tanpa kusangka.

Aku menggeleng.

“Makan yuk. Kamu ga lapar yah liatin burung lewat daritadi? Aku dah kaya lihatin ayam goreng terbang-terbang menggoda…”

Aku bengong, seketika membayangkan, absurd. “Dodol!” kataku seraya tersenyum.

“Makan dodol, ga kenyang. Ayam goreng aja yuk. Tuh ayam gorengnya lewat lagi…” Seru Bagas sambil menunjuk seekor burung yang melintas.

“Jadi pengen nimpuk gak seh?” lanjutnya sambil cengengesan kepadaku.

Aku memutar mata dan tiba-tiba saja perutku berbunyi. Aku lapar juga rupanya.

“nah tuh…. dah bunyi alarmnya. Yuk! berangkat!” Bagas tersenyum,  menyerahkan tasku dan berdiri.

Aku memasukkan kertas-kertas berpola amoebaku, buku, kotak pensil, telpon genggam ke dalam tas ranselku dan berjalan mengikutinya.

***

Bagas makan dengan lahap. Aku makan dengan diam. Sekali-kali tersenyum mendengarkan cerita Bagas tentang apapun. Kurasakan getaran di kursi, segera saja aku meraih tasku dan mencari telpon genggamku, mengangkat jari telunjuk meminta ijin pada Bagas.

“Halo, mas Rangga.” sudah kupastikan itu memang dia.

“Kamu dimana dek?”

“Lagi makan mas, sama temanku”

“Kamu kenapa? koq suaranya tidak bersemangat?”

“Hmm… ga apa.”

“Yang bener?’

“Nanti yah mas, kalau ketemu aku ceritakan.”

“Oke deh. O ya, tapi kayanya kita baru bisa ketemu selasa depan, dek. Aku ada training di Surabaya, berangkat besok.”

“Oh… koq baru cerita?”

“Iya, baru dikasih tahu kalau aku mesti berangkat tadi. Kamu bener ga apa? Suaramu beda…”

“Yaudah minggu depan saja kalau kita ketemu, aku cerita.”

“Dek…”

“Ya mas?”

“baik-baik yah… maaf aku belum bisa nemenin kamu”

“Iya…kamu dah makan?”

“Udah neh, sama teman-teman kantorku tadi”

“ooh…oke” Seketika gambaran Mas Rangga makan siang dengan gadis-gadis cantik nan dewasa menggangguku. Bukan waktunya cemburu buta, Ra. 

“yaudah yah dek, baik-baik. nanti aku telpon lagi. Kalau perlu cerita, kasih tau aja yah. Dagh”

“dagh” aku menutup pembicaraan dan kembali makan.

Bagas sudah selesai makan. Sedari tadi, dia sibuk memainkan telpon genggamnya. Hening kembali menemani kami. Aku menyelesaikan makan siangku yang terlambat ini dalam diam.

“Ra…” panggil Bagas.

“Hmm…”

“jangan terlalu banyak mikir. Dahimu bakal lebih cepat berkeriput kalau dikerut-kerutin terus kaya gitu. ”

“…” aku diam saja. Mengunyah pelan-pelan dan menelan.

“Bagas… Thanks yah”

“Buat apa?”

“Traktirannya…”

“Lah ra… kapan aku bil…”

“dan sudah ditemani” kataku memotong.

Bagas tersenyum, “Jadi… buat dapat predikat temanmu cukup dengan traktir ayam goreng doang yah? Tahu gitu dari kemaren-kemaren aja, kan kita jadi ga perlu drama-dramaan di perpus. hahaha….” Bagas tertawa.

Aku juga tertawa.

“Nah gitu dong, ketawa. senyum. Ga susah kan.” Bagas tersenyum padaku.

Tiba-tiba aku merasa jengah menangkap matanya. “aku… kita… maaf ” jawabku tiba-tiba gugup dan menunduk.

“Aduuh, udah Neng Ara. ga usah dipikirin. Kamu tuh terlalu banyak mikir tahu gak seh. Soal kita, soal kemungkinan jatuh cintaku, let’s just forget it. Aku suka kamu, ga berani bilang ini cinta. Kamu sudah punya mas Rangga. Aku sudah punya Nanda. Selesai. Kita temenan, tanpa beban perasaan. Kadang-kadang ada hal yang tidak perlu dijelaskan atau perlu kita ketahui sekarang juga. ”

“…” aku diam. Dia lebih muda tapi rasanya lebih dewasa dariku.

“dan ga usah pake nangis-nangis segala karena kangen sama aku”

“Gila, ge-er bener. aku nangis bukan gara-gara kamu.”

“Terus kenapa?”

“Ga mau cerita”

Bagas mengangkat bahu. “Ya sudah. So? Teman?”

Aku diam memandang tangannya yang terulur. Menarik nafas dan…

“Teman! Tanpa Mesra!” kujabat erat tangannya dan tersenyum.

“Tapi… maksudmu!” Bagas meralat dan mempererat jabatannya. Aku mendelik dan menendang tulang keringnya di bawah meja.

“Ouch…Iya… iya… Teman tanpa mesra. ga perlu pake nendang kali Neng!”

(bersambung)

Iklan

Satu pemikiran pada “The Amoeba Pattern (6)

  1. “Kadang-kadang ada hal yang tidak perlu dijelaskan atau perlu kita ketahui sekarang juga….” <—- setuju banget lhooo!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s