Fear (7)


Aku berbaring dalam gelap, menatap langit-langit kamarku dengan cahaya seadanya. Kadang, di saat seperti ini, aku berharap aku mempunyai kekuatan gaib untuk bisa melihat menembus langit-langit. Lebih hebat lagi jika aku mampu terbang ke ruang hampa penuh bintang. Ruang hampa gelap yang dipenuhi benda-benda berkilauan. Mungkin disana aku bisa menitipkan masa lalu ini. Mungkin disana masa lalu itu bisa berkilauan sama seperti cahaya bintang. Cahaya yang sudah usang tapi tidak basi apalagi menyakitkan.

Aku takut menutup mataku, sekelibat-sekelibat pertengkaran masa lalu yang random kulihat belum sanggup kuhadapi. Maka aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh. 

Doa? kapa, aku sudah lelah berdoa. Untuk apalagi berdoa, berbicara pada sesuatu yang tidak akan memberikanku jawaban apalagi penjelasan. Dia hanya diam dan aku lelah menghadapi diamnya. Diam itu memaksaku bicara, berteriak marah, dan aku tahu aku akan kesakitan sendiri melakukan semua itu. Maka kali ini aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh.

Mungkin diam ini hanya mencontoh apa yang dia lakukan. Mungkin jika aku diam, akhirnya dia tidak lagi diam.  Mungkin begitu saja kapa. Malam ini aku hanya akan diam.

***

Aku membaca tulisan yang kemarin malam aku tulis dan segera aku menutup diaryku. *sigh. Kelam kali duniaku dari kemarin. Aku menatap langit biru dari jendela perpustakaan. Tak ada hati untuk mengerjakan tugas akhirku. Ya, sebenarnya aku tak ada hati bahkan untuk hidup.

Hah! Lara… did you hear that?

Yeah… I need to laugh. Ketawa sampe keluar air mata.

“Neng Ara, main yuk!” dari belakang suara Bagas menembus lamunanku.

Aku menoleh dan menjawab “Malas ah!”

“makan?”

“malas juga”

“ck… terus yang ga malas ngapain?” dia langsung duduk di sebelahku

“tidur” jawabku sekenanya sambil merebahkan kepalaku di meja.

“yaudah yuk, tidur bareng” Bagas tersenyum menaikkan alis, kepalanya direbahkan juga di meja.

Plak! tanganku melayang menampar pundaknya.

“aduh, kamu koq tangannya ringan banget seh, Ra”

“lo tuh mulutnya ringan banget, bisa gak seh kalo komentar ga pake ngerayu” balasku.

“yeee…. biasa aja kale”

“ini biasa koq”

“iya juga seh biasa. eh, kamu masih aja yah bawa buku ini kemana-mana. Tapi koq gak pernah keliatan dibaca seh”  Bagas bangun dan mengambil buku Doa Sang Katak-ku.

Aku segera merebutnya dari tangan Bagas.

“ga usah buka-buka”

“kenapa?”

“nanti kataknya jadi pangeran”

Bagas mengernyit mendengar jawaban asalku. “lebay”

Aku menyimpan bukuku itu ke dalam tas. Buku itu sudah penuh dengan coretan dan gambar. Entah mengapa aku suka membaca kisah-kisah di buku itu. Menggelitik dan memaksa anganku bekerja. Bahkan kadang membantuku menemukan rasa yang aku puja.

“Jadi mau ngapain neh? tampangmu koq masih kusut aja seh Ra dari kemarin lho…”

“iya…”

“Ada apa? Mau cerita?”

“Gak ah”

“kenapa?”

“belum cerita ke mas rangga, masa cerita duluan ke lo”

“buset dah… penting yah begituan?”

“penting buat gw. Pacar itu harus tahu lebih dulu dari siapa pun. Lagian mana mungkin gw minta peluk-peluk sama lo”

“yah kalo emang kamu butuh dipeluk, sini Ra…” Bagas merentangkan tangannya.

Aku hanya menatapnya dengan mata melotot.

“udah ga usah sok-sok melotot, ga serem. Malah keliatan kaya nahan kentut” kata Bagas sambil ketawa. Aku hanya diam, mengambil kertas dan menggambar.

“Ra?”

“hmm…”

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?” Pertanyaan Bagas menusuk kepalaku. Aku hanya diam dan terus menggambar.

“Bagas…”

“iya?”

“shut up”

“ya ga bisa lah ra”

“bisa ga seh kamu ga ikut campur urusanku” ketusku

“I wish I could. Tapi aku hanya ingin coba bantu ra. Mukamu itu lho…”

Aku mengambil kertas lagi di tasku dan mulai menggambar bulatan wajah, melubangi bagian matanya dan memakainya di wajahku.

“There. Aku ga pa pa, gas. ” jawabku sambil memegangi kertas di depan mukaku sambil cekikikan kecil.

Bagas merengut kertas yang kupegang dan meremasnya.

“Kamu ga mau cerita ga pa pa. tapi jangan pernah pura-pura baik di depanku, saat kita berdua sama-sama tahu kamu ada masalah. I don’t want fake ara.” Bagas membuang bola topeng  kertasku ke meja.

Aku terkejut juga dengan reaksinya.

“why do you care so much anyway Gas? can you just let me go, leave me alone”

Bagas menatap mataku dalam, mulutnya terbuka hendak bicara saat telpon genggamku bergetar-getar di meja. Aku segera mengangkatnya.

“ya mas? He-eh. Di perpus neh sama Bagas….. Iya, dah makan. Hah? Ngapain kesana? … oh. Sama siapa aja? … oh. oke. he-eh. dagh” Aku tercenung, lagi-lagi terganggu dengan bayangan mas Rangga pergi bersama teman wanita kantornya.

“Gas…”

“Yes, Ra?”

“Gue sayang Mas Rangga.”

“I know Ra. We both know”

” Gue cuma mikir… salah satu cara untuk membuat dia paham betapa dia seorang yang istimewa buat gue, adalah dengan cara menjadikannya orang yang pertama tahu tentang segala hal yang terjadi di dunia gue. Sedih gue, bahagia gue, segala hal yang berarti buat gue cuma bisa gue bagi ke dia. salah. koreksi. Gue bisa bagi ke banyak orang, tapi gue cuma mau bagi ke dia duluan.”

“kenapa cuma dia, ra?”

“karena gue percaya dia, Gas” Aku berbisik tidak yakin.

Kalau kamu percaya dia, kenapa kepalamu masih saja mempertontonkan bayangan dia bersama wanita lain, ra? kenapa masih saja cemburu itu ada?  

“Ra… kamu kan tidak perlu menutup duniamu hanya untuk satu orang. Bagaimana jika suatu hari nanti Mas rangga pergi? Kamu akan sangat kehilangan.”

Bola mataku membesar.

Kehilangan. Ya, tentu saja aku takut kehilangan Mas Rangga, Dia satu-satunya yang bisa kupegang erat di duniaku saat ini.

“Iya, Gas. Pun sekarang… meski gue barusan bilang kalo gue percaya sama dia, ntah kenapa kata-kata itu terasa kosong. Gue takut. Dari dulu gue takut. Gue selalu takut kehilangan orang yang gue sayang atau yang sayang gue. People leave, whatever the reason is. Dan entah bagaimana… seberapa pun besarnya gue percaya sama mas rangga, hantu bernama takut itu masih ada disini” Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku ke pelipis menghilangkan bayang wajah ayahku yang tiba-tiba muncul. Entah kenapa.

“kamu selalu punya pilihan koq, Ra. masih ada banyak cara lain untuk membuat mas Rangga paham bahwa dia orang yang istimewa buat kamu. Kamu tidak perlu menutup duniamu rapat-rapat hanya untuk dia. ”

“Saat ini dia duniaku, Ngga. eh! Gas, maksudnya. ha5. koq bisa jadi Ngga seh. Sorry. Udah seh Gas, malas serius mulu. Santai aja. Gue oke koq”

“Oke? itu amoeba kenapa masih banyak digambar dan ngabis-ngabis-in kertasmu? Well, kalau kamu memang cuma bisa cerita ke mas rangga saat ini. Do it.”

“Dia di luar kota”

“Teleponlah, neng ara! ya ampun, emangnya kamu tinggal di jaman batu apa yah? Ini hp fungsinya untuk komunikasi jarak jauh. You need him, call. Pacaranmu dah berapa lama seh, kaya masih pedekate aja deh.”

Aku hanya melanjutkan gambarku. Karena aku takut dan aku belum berhasil menghadapinya. Takut apa, Ra?

(bersambung)

Iklan

2 pemikiran pada “Fear (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s