Percakapan Maya


Maya sedang duduk diam saat aku datang menghampirinya. Ia tersenyum begitu melihatku. Senyum Maya  selalu mengingatkanku pada apa yang Adam Levine lantunkan sebagai “the girl with the broken smile” di lagu “She will be loved”. Aku membalas senyumnya dan duduk di kursi hadapannya, baru saja pantatku mendarat, tanpa tendeng aling-aling Maya langsung menghujamkan tanyanya.

“Kamu tahu siapa Yudas Iskariot?”

“Tahu”

“Siapa dia?”

“Dia… murid yang mengkhianati Yesus” Jawabku tanpa ragu. Sebagai seorang yang dibesarkan dalam agama Katolik tentu saja pertanyaan itu tidak sulit untuk dijawab. Aku sudah mengetahui kisah tentang Yudas sejak SD, namanya tak pernah tak disebut dalam kisah sengsara Yesus.

“Menurutmu apa yang dia rasakan saat Yesus membasuh kakinya di malam perjamuan terakhir?”

Diam saja aku mendengar pertanyaan Maya,  spontan menarik nafas panjang. Lagi-lagi Maya memberondongku dengan pertanyaan anehnya. Apa aku harus menjawab pertanyaan itu? Darimana aku bisa tahu jawabannya?

Aku memang sudah tahu Yudas Iskariot si pengkhianat sejak SD, tapi bukan berarti aku mengenalnya. Bukan berarti aku bisa memberikan gambaran bagaimana perasaannya saat Yesus membasuh kakinya di malam pengkhianatannya. Maka aku hanya menatap Maya, mencoba menebak darimana pertanyaan ini berasal dan akan kemana percakapan ini berakhir.

“Aku sedang memikirkan Yudas sebelum kamu datang. Yudas si pengkhianat.”

Memang begitulah Maya, pikirannya melayang dan mendarat pada hal-hal yang tak pernah mampu kuduga. Dia, memang sahabatku yang unik. Hanya itu kata yang bisa kupakai untuk menggambarkannya. Meski demikian, aku selalu tertarik ke dunianya. Dunia yang seperti ini, dunia dimana tidak ada jawaban pasti benar atau pasti salah. Dunia “mungkin”.

“Mungkin… dia ragu” Aku mulai mencoba mencari jawaban.

“Ragu?” Maya bertanya.

“Iya. Aku bukan Yudas, tetapi seandainya aku berada di posisi dia. Sepertinya itu yang akan aku rasakan saat orang yang akan membuatku mendapatkan tiga puluh uang perak, membasuh kakiku.”

“Apa yang kau ragukan?”

“Tentu saja diriku,” aku diam sebentar. “Aku pikir, Yudas sangat yakin bahwa dia membutuhkan tiga puluh uang perak itu dan entahlah semuanya masuk akal dan mudah. Imam-imam itu menginginkan Dia dan Yudas akan mendapatkan imbalan besar dengan menyerahkan Yesus. Yudas butuh uang itu, entah untuk apa. Pasti ada sesuatu yang mendesak dia berbuat demikian. Mungkin untuk keluarganya. Mungkin juga ide memiliki uang sebanyak itu membuatnya senang. Tapi apapun yang ada di kepalanya saat menyerahkan Yesus, semua alasan adalah benar adanya. ”

Maya tertawa mendengar jawabanku. “Baiklah Yudas, jadi apalagi yang dikatakan iblis dalam kepalamu itu?”

Pertanyaan Maya memaksaku menelusur jalan si pengkhianat. Maka aku merenung sebentar dan mencoba menghidupkan pikiran Yudas.

“Maka mungkin Yudas meragukan kembali semua alasan tersebut, ketika Yesus membasuh kakinya. Dia tidak mengerti apa yang Yesus lakukan, tapi begitu juga murid lainNya. Yesus tahu apa yang Yudas telah lakukan dan Yudas tahu bahwa Yesus mengetahui pengkhianatannya. Apakah kemudian Yudas merasa Yesus memakluminya? Entahlah, mungkin iya. Dia tidak mengakui perbuatannya meski Yesus sudah memperingatkannya berulang kali di hadapan murid lain pada malam itu.”

Kami diam sejenak. Maya seperti menerawang ke dalam diriku. Lalu rasa takut itu muncul. Mendadak aku ketakutan.

“Maya mengapa kau menanyakan ini? Apakah ada yang mengkhianatimu?”

“Mungkin” dia menjawab setengah berbisik dan seperti tidak sadar.

“bukan aku kan?”

“engkau sudah mengatakannya” jawab maya menatap dalam-dalam ke mataku.

Aku tersentak. Maya tahu.

 

***

Di dunia ini mungkinkah ada seseorang yang tidak pernah mengkhianati dirinya sendiri? mengkhianati perasaan dan pikirannya sendiri sekali waktu dalam hidupnya ?

Siapa diantara kita yang tidak pernah bersembunyi dibalik topeng pembenaran?  

Kini aku tidak lagi mencari kebenaran pun alasan dibalik sebuah pengkhianatan. Setidaknya satu hal aku tahu….. segenap pikir dan rasaku berusaha jujur di hadapNya dan diriku sendiri. Dia yang tidak pernah menghakimi, tahu betapa beratnya menanggung sari buah pengetahuan antara yang baik dan jahat. Aku hanya ingin berhenti mengkhianati diriku sendiri lagi. Itu saja.  

Jika kamu harus memilih diantara 30 perak dan seseorang yang kau pikir paling mencintaimu… Siapakah yang akan kamu pilih?  dan mengapa?

Iklan

Satu pemikiran pada “Percakapan Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s