Seratus dan satu bintang


Rectoverso
Seratus sempurna, kamu seratus satu lebih… lebih… sempurna.

“96…97…98…99…100… seratus… seratus” abang menghitung bintang

“abang, bintangnya yang ga kelihatan juga dihitung yah bang, itu tuh ada satu yang ga kelihatan…. dihitung bang, kasian kalo ga dihitung” jawab Leia

“seratus satu…. seratus satu” ulang abang berhitung.

***

Seratus sempurna, kamu  satu lebih… lebih… sempurna.

#suratabanguntukleia

***

Buat yang sudah menonton Rectoverso, pasti tahu cuplikan dialog antara Abang dan Leia diatas. Adegan abang dan leia menghitung bintang adalah adegan favorit saya dan cerita “Malaikat Juga Tahu” adalah cerita favorit saya. Paling menyentuh dan paling mengurai air mata.

Saya suka adegan ini, simply karena saya suka bintang dan tidur di rumput sambil melihat bintang adalah konsolasi tersendiri. Saya tahu indahya berbaur dengan malam dan dimanja semesta alam (apalagi berbagi dengan orang yang paling istimewa di hidup kita). Dan entahlah, semenjak keluar dari bioskop, kepala saya membawa cuplikan adegan itu kemana-mana. Gambar Abang dan Leia menonton bintang bercokol kuat di kepala. Sampai akhirnya tangan-tangan saya tak kuasa lagi menahan diri. Maka lahirlah ilustrasi diatas. Dan bersamaan dengan itu lahir jugalah pengertian yang tanpa saya sadari telah bersembunyi dibalik adegan itu. Yang tertangkap mentah-mentah di hati dan membawa saya pada titik ini.

***

Abang adalah seorang autis yang jatuh cinta. Saya tidak tahu banyak soal autis, jadi silahkan koreksi saya, bila pengertian saya ini salah. Yang saya tahu, seorang autis mempunyai dunianya sendiri. Dunia yang mungkin tidak mampu dibagi/diceritakan / dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak dipahami orang lain. Pun mampu dibagikan, orang lain hanya akan tahu bahwa mereka melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Tidak seperti pada umumnya. Dunia Abang tidak terikat pada aturan yang baku berlaku umum, Abang punya aturannya sendiri. Abang tidak mengerti dunia yang dikenal banyak orang dan banyak orang tidak mengerti dunia Abang. Salah paham. Konflik.

Jadi tinggallah abang di dunianya sendiri.

Sampai Leia hadir dan  masuk dalam dunianya.  Leia dengan segala kebaikkannya,  hanyalah seorang gadis yang kebetulan menyewa kamar di rumah bunda abang. Dia baik dan entah mengapa dia peduli pada Abang. Simpati? Yup, hal pertama yang terlintas dalam kepala saya tentu saja hal itu. Simpati pada situasi dan kondisi abang. Tapi bukankah simpati seharusnya bisa menjadi modal yang cukup untuk membenturkan dua dunia yang berbeda dalam satu ruang dan waktu tanpa konflik. Tanpa salah paham.

Akhirnya saya tahu, mengapa saya suka sekali adegan Abang dan Leia menghitung bintang. Karena bintang ke seratus satu adalah sebuah kompromi. Karena bintang ke seratus satu adalah irisan dua dunia. Dunia Abang dan dunia Leia yang  berbeda tapi menyatu dalam satu ruang dan waktu. Mungkin itulah pertama kalinya Abang bisa menerima bahwa setelah seratus, ada seratus satu. Untuk pertama kalinya lah abang berani melangkah satu langkah keluar dari dunianya. Satu langkah lebih jauh dari yang mampu dia jalani selama ini. Satu keasingan yang dengan berani menawar nalar dan hatinya.  Satu keasingan yang Abang sendiri tidak tahu dimana harus diletakkan dalam hidup yang baginya sudah sempurna.

Tapi….. satu itulah…. satu-satunya hal dalam dunianya yang melampaui kesempurnaan. Melampaui nalarnya. Melampaui hatinya. Melampaui musik-musik klasik yang disukainya. Melampaui dunianya sendiri. Melampaui dirinya.

Saya tahu… disini saya hanya bisa memberikan kata-kata muluk  untuk mengisi keheningan yang memang seharusnya kosong. Tetapi disinilah saya dengan usaha saya yang sia-sia untuk menceritakan segelumit rasa itu. Rasa yang sudah menyentuh ranah-ranah halus dasar hati saya. Rasa tentang cinta yang tak terucap.  Yang memang tak perlu diucap karena dia hadir bukan dalam kata-kata. Yang memang tersembunyi rapat-rapat di kedalaman. Cinta yang bebas dirasakan setiap hati di dunia apapun seseorang tinggal.

Mungkin bagi leia… satu bintang itu tidak kelihatan. Tapi bagi Abang… satu bintang itu adalah Leia. Bintang paling terang dan nyata di dunianya.

Maka bersama Abang, saya pun menangis. Mengurai cinta dalam kesedihannya saat satu irisan itu ternyata tidak cukup mampu meleburkan ego kedua dunia yang berbeda. Dan tepat disitulah dunia  saya dan dunia abang beririsan. Saya juga rindu. Sama seperti abang, saya juga  menginginkan satu. Satu orang yang ketika dunia berbeda kami beririsan, bersama kami dapat melampaui kesempurnaan. Satu yang untuknya saya rela berkompromi, supaya dia nyaman berada di dunia saya. Satu yang  karena saya, dia rela berkompromi supaya saya nyaman berada di dunianya.

Saya hanya mau satu. Satu irisan yang menyempurnakan dua dunia yang berbeda.

***

Iklan

2 pemikiran pada “Seratus dan satu bintang

  1. “Sama seperti abang, saya juga menginginkan satu. Satu orang yang ketika dunia berbeda kami beririsan, bersama kami dapat melampaui kesempurnaan. Satu yang untuknya saya rela berkompromi, supaya dia nyaman berada di dunia saya. Satu yang karena saya, dia rela berkompromi supaya saya nyaman berada di dunianya.

    Saya hanya mau satu. Satu irisan yang menyempurnakan dua dunia yang berbeda…”

    Saya juga ingin!….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s