(;) Titik Koma (8)


Aku meletakkan pensilku dan mengambil telpon genggamku lagi, memijat sembarang tombol untuk menyalakan lampu layarnya. Nihil. Tidak ada apa-apa. Menghela nafas, aku singkirkan telpon genggamku. Mengambil pensil dan kembali mencoba menggambar. Aku tarik garis lengkung, tidak sempurna, hapus. Tarik garis, tidak sempurna, hapus. Demikian terus entah sampai berapa lama. Kertasku sudah kotor dan serpihan halus penghapus memenuhi mejaku.

Aku gelisah. Semua yang kulakukan tidak ada artinya, aku tidak bisa menghilangkan cemasku. Takutku.

Apa yang salah? *sigh. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menyerah pada segala pikiran yang membuatku tidak nyaman ini.

kamu lagi apa, mas rangga? mengapa tidak juga memberi kabar?

Baiklah, aku tahu apa yang salah. Dalam kepalaku mendengung kembali suara Bagas

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?”. 

“Kamu koq… sesempit itu… seh pikirannya?”

“ sesempit… itu… seh … pikirannya?”

Berulang kali, makin lama, makin lambat. Hatiku mendadak gelisah.

Baiklah mari mengurai ini semua, putusku dalam hati. Entah apa yang akan aku temui… aku sedikit ragu tapi aku tetap mengambil pensilku, membuka buku catatanku dan mulai menulis lambat-lambat.

Akhirnya suara itu datang juga. Kebenaran yang telah lama bersembunyi diam dan kuabaikan keadaannya. Telah lama kuketahui ada yang salah diantara kita. Apa yang tidak berani kubedah, apa yang tak mau kupertanyakan, apa yang tidak mau kuakhiri… pada akhirnya melontar dengan sendirinya. Tak terelakkan, tepat sasaran.

Dan bukankah telah lama kedua kutub itu mulur, menegosiasikan jarak yang menyatu dan merutin. Mungkin pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa diulur. Mungkin sudah waktunya ketapel itu membuang jauh-jauh apa yang membuat kita berdua tegang. Kesana. Ke tempat yang sudah lama kita telusuri diam-diam. Ke lorong panjang dimana waktu hanya ada untuk aku dan kamu. Ke masa lalu yang tidak mau kita tinggalkan begitu saja. Dan biarlah ia bergulir hingga ia tiba di masa sekarang, saat ini, hari dimana aku meragukan diriku, meragukan kita dan menyalahkan kau yang tak kunjung datang meyakinkanku. Sedikit saja keberanian ini muncul, aku tahu, sudah tidak ada lagi kita. 

Di tanganku sekarang ini, aku dan kamu tidak menyatu. 

Buk! aku tutup seketika buku catatanku. Terkejut sendiri dengan apa yang baru saja aku tuliskan. Aku bereskan semua barang-barangku, sembarangan kumasukkan ke dalam tas. Yakin tak ada yang tertinggal, terburu-buru aku keluar dari perpustakaan. Lari sejauh-jauhnya dari kebenaran yang baru saja dinyatakan tangan kecilku. Lari dari apa yang belum berani aku hadapi.  Di luar hujan.

***

Mas Rangga adalah orang yang mengenalkan gunung padaku. Dia menarikku keluar dari dunia kota tempatku terbiasa tinggal.

Aku lahir di kota metropolitan bernama Jakarta, sudah dua puluh tahun lamanya tumbuh di belantara tembok dan gedung-gedung tinggi saat bertemu Mas Rangga. Mas Rangga lahir di desa kecil, di kaki gunung Merapi, dia tumbuh dimanja alam. Demikian kami sudah pasti berbeda. Tidak hanya sekedar berbeda kelamin, tetapi juga berbeda karakter. Perbedaan yang seperti kedua kutub magnet, namun ternyata menarik satu sama lain. Itulah kami.

Bagaimana kami bertemu? Takdir? Omong kosong. Bukan takdir yang mempertemukan kami. Tapi rokok.

Aku membenci asap rokok. Mas Rangga perokok. Aktif. Saat itu dia sedang duduk di kantin bersama temannya. Aku duduk di sebelahnya bersama teman karibku, Tya. Kantin sedang ramai-ramainya. Aku dan Tya terpaksa duduk di kursi itu karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Di tengah diskusi serunya, Mas Rangga merokok. Aku tentu saja terganggu. Asap rokok menjajah udara segarku. Aku terbatuk-batuk. Sengaja.

“Tya… bagi minumnya yah” pintaku pada Tya.

Kode batuk-batukku menyadarkan Mas Rangga bahwa asap rokoknya menggangguku.

Dia menoleh dan berkata, “Maaf Mba” kemudian mematikan rokoknya yang tinggal setengah dan melanjutkan obrolannya kembali. Aku dan Tya pun asyik dengan pembicaraan kami sendiri. Tak lama aku dan Tya bersiap meninggalkan meja. Baru saja berdiri, Mas Rangga memegang tanganku dan menarikku duduk kembali. Aku terkejut dan langsung menoleh padanya.

“Bentar mba, saya mau kenalan.” katanya tanpa basa-basi.

Aku bengong dan hanya menatapnya. Orang gila. 

Tya yang langsung semangat menyambar “Namanya Lara, mas” Aku langsung melotot marah padanya. Tya malah senyum-senyum ga jelas.

“Lara ya. fakultas mana?”

“Desain grafis” Masih Tya yang menjawab.

“Lara. Desain Grafis. Saya Rangga.” Katanya lagi.

Aku masih diam dan hanya melepaskan tanganku darinya, yang rupanya masih dipegangnya. Tya malah sibuk berjabat tangan dengan teman-teman Mas Rangga yang  langsung mendadak ramah dan memanfaatkan momen.

“Tya, ayo pergi,  ga suka bau rokoknya neh” Kataku tegas  berdiri dan memanggil Tya. Lalu menarik tanganya, cepat meninggalkan kantin.

“Dagh semuanya” pamit Tya sambil cengengesan. Kami berjalan cepat dan sepuluh langkah kemudian aku dengar dia berteriak

“Lara, salam kenal yah!”

Norak banget sih, batinku. Senyum tipis menggaris berkhianat diwajahku.

“Cieee LARA!” Tya sumringah memelukku.

“iih… apaan sih!” Aku jengah dengan kejutan ini.

Sejak saat itu, Mas Rangga rajin makan siang di kantin itu, padahal dia tidak kuliah di Universitasku. Waktu itu dia memang hanya bertemu dengan teman karibnya semasa SMA yang kebetulan berkuliah di tempat yang sama denganku. Itu menurut pengakuannya.

Sejak saat itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Hingga sekarang.

***

Mas Rangga dan awal pertemuan kami.

Bagas dan awal pertemuan kami.

Rasanya semua itu sudah lama sekali. Aku kembali dari nostalgiaku. Menarik nafas dan kembali ke masa ini. Menghadapi masa sekarang. Di depanku ada Bagas. Di luar ada hujan yang masih turun menemani. Dan disinilah aku tiba, di tanda titik yang kupikir  sudah menutup kisahku dan mas Rangga; sekaligus tanda koma yang mencukupkan kisahku dan Bagas.

Ketakutan. Kata itulah yang menutup kisahku dengan Mas Rangga dan yang sedang kucoba urai dengan Bagas. Dua minggu yang lalu Mas Rangga mengirimkan satu pesan singkat.

Aku butuh waktu sendiri.

Aku tidak membalasnya. Tidak tahu harus membalas apa. Dan enggan bertanya. Untuk apa?

“Dia hanya butuh waktu sendiri, bukan berarti kalian putus,” Bagas mengisi kekosongan setelah dia tahu pesan singkat apa yang dikirimkan Mas Rangga ; yang membuatku berpikir bahwa hubunganku dan Mas Rangga sudah berakhir.

“Well… sudah terlalu lama komunikasi kami tidak berjalan lancar. Sekarang bahkan kami tidak berkomunikasi. Aku… Dia… well… terlalu banyak hal yang tak terkatakan diantara kami dan hening ini udah ga nyaman lagi. Aku lelah, Gas! Lelah terus menerus ketakutan. Kenapa? kenapa aku begitu penuh dengan ketakutan? aku tidak menginginkan semua takut ini. Aku tidak ingin semua cemburu ini. Kenapa Gas? kenapa semua rasa ini ada pada diriku. What is wrong with me?” Emosiku tak lagi dapat kutahan.

Dan aku pun terisak. Akhirnya.

Aku menutup mukaku dan menelungkup di meja. Entah berapa lama. Ketakutan itu terurai berderai-derai. Semua rasa berlarian keluar, meninggalkan kekosongan, menyakitkan hatiku. Ya Tuhan…

Bagas menarik tanganku yang terkulai, dengan lembut dia menarikku ke pelukkannya.

“Kamu hanya sedang menjadi dirimu sendiri, Ra. And it’s okay. It’s okay to be you. It’s okay to feel all those feelings. Nothing is wrong.”

” I love him, Gas…” aku terisak dalam pelukkannya.

“I know… I know,Ra” Bagas berbisik.

(bersambung)

Iklan

Satu pemikiran pada “(;) Titik Koma (8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s