Tiada dan berada.


“Itu namanya lari dari masalah, Git!” Bara memotong cerita Gita seketika.

“Apa salahnya? Aku tidak punya alasan lagi untuk tinggal disini. I deserve to be happy, Ra. Ini jalan terbaik, aku tidak bisa tinggal disini dan … ” Gita menarik nafas lelah, “untuk apa… ” air mata Gita mengembang di kedua matanya. Gita mendongakkan kepalanya, menahan air mata jatuh. Jangan nangis lagi, Gita. Be strong.

“Kamu tahu rasanya tinggal di rumah yang di setiap sudutnya penuh dengan kenanganku bersamanya? Kamu tahu rasanya terbangun jam 3 pagi mendapatkan dia tidak lagi ada disampingku? Kamu tahu rasanya memandang … ” tidak bisa, air mata ini tidak bisa kutahan lagi. Gita terisak, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Terisak, matanya memejam dan disitulah ia menemukan Genta. Genta yang tersenyum, Genta yang kini hanya hadir saat kedua matanya terpejam. Genta yang tidak nyata.

Bara diam saja menampung tangis Gita.

“kamu yakin sudah memikirkan ini semua baik-baik?”

Gita menghapus tangisnya dan menarik nafas, sekali lagi menguatkan dirinya. “Ya, Bara. Aku sudah memikirkan semuanya.”

“Kenapa Git?” sekali lagi Bara berusaha mengerti jalan pikiran gadis yang dicintainya ini.

“Aku ga bisa, Ra. Genta…”

“Ada aku, Git” Bara memotong putus asa, dia tahu apa yang akan Gita katakan. Kamu tahu aku selalu ada disini untukmu.

Gita menangkap kedua mata Bara, ada kekhawatiran tergenang disana. Pria ini, aku akan merindukannya. Aku tidak bisa bermanja padamu terus Bara. Tidak adil. Gita menggelengkan kepalanya. “Ga bisa, Ra. Maaf…..” lanjutnya lirih.

“Kenapa, Git?” Bara mendesaknya. Gita tahu Bara tidak lagi mempertanyakan alasan kepindahannya ke Filipina. Bara mempertanyakan hatinya yang kini tertutup.

“Bara… seandainya aku punya jawaban yang akan memuaskanmu, aku akan memberikannya padamu. Aku tidak bisa melupakan Genta begitu saja. Dia … aku mencintainya.”

“Cinta? Jangan lemah, Git. Kamu tidak mau melupakannya, bukan karena tidak bisa, tapi karena egomu sendiri. Kamu sudah terlalu banyak menghabiskan waktumu menangisi cintamu itu. Keluarlah dari khayalanmu. Keluarlah dari masa lalu. Hadapi masa kini. Hadapi aku. Kalau kamu tidak bisa memiliki apa yang kamu cintai, belajarlah mencintai apa yang kamu miliki. Kamu pikir Genta akan bahagia melihat matamu bengkak menangisi kepergiannya? Kamu pikir Genta mengharapkan kamu berkabung seumur hidupmu? Kuatkan hatimu dan berhentilah berduka. Hidupmu tidak perlu mati sebelum waktunya dengan dalih cinta.”

Gita terdiam. Kata-kata Bara panas meradang di hati. Gita bangkit dari kursinya dan meninggalkan Bara.

“Gita… Tunggu…” Bara mengejar Gita dan menangkap lengannya.

“Lepas!”

“Nggak!”

“Bara, lepasin! Aku ga perlu duduk mendengarkanmu. Kamu ga ngerti!” Gita berteriak histeris.

“Kamu perlu mendengarkanku, Git! Kamu pikir aku ga ngerti rasanya merindukan orang yang paling kamu cintai? Kamu pikir aku ga ngerti rasanya kehilangan? Aku ngerti, Git. Setiap kali aku melihatmu menangis, aku kehilanganmu, Gita. Sadarlah. Genta sudah tiada. Berhentilah berduka.” dan cintai aku.

“Sadar, Ra? Kamu pikir selama ini aku ga sadar? Kamu pikir selama ini aku cuma mengkhayal? Aku ga bisa lagi tinggal disini karena aku terlalu sadar. Karena aku sadar kemanapun aku mencarinya, aku tidak akan lagi menemukannya. Aku sadar Genta sudah tiada. Justru karena itu aku tidak sanggup lagi tinggal disini. Justru karena aku selalu sadar dia tiada, aku tidak bisa bersamamu. Kamu bukan Genta.” Gita seketika menyesal telah mengucapkan kalimat terakhirnya. Bara melepaskan lengan Gita. Terdiam dan menatap Gita dengan pedih.

“Kamu benar, Git. Aku bukan Genta.” Bara berbalik, menerima jawaban Gita. Menerima fakta dan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang Bara yang tidak dicintai Gita. Genta. Gentalah yang Gita cintai. Genta yang sudah tiada namun masih saja berada di hati Gita.

“Bara… Maaf…” Gita berbisik pada punggung Bara sebelum akhirnya melangkah pergi, air mata mengalir pelan di kedua pipinya.

Mungkin aku sendiri harus keluar dari khayalanku bersamamu, Git. Mungkin aku sendiri harus berhenti mengatasnamakan cinta dan melepaskanmu… Bagaimanapun aku ingin kamu bahagia. Meski aku harus belajar bahwa bahagiamu ada, tanpa aku disisimu….

***

Sudah lama ga nulis. Tiba-tiba tangan ini ingin menari lagi. Kisah ini muncul begitu saja, tidak berencana akan menuliskannya, tidak berpikir akan mewujud dalam kata. Kisah ini mengalir begitu saja, mungkin karena selama ini kehilangan itu tersembunyi dan aku tak sanggup menelaahnya. Hingga hari ini, aku tidak bisa lagi menyembunyikan kehilanganku. Aku masih kehilanganmu. Aku masih belajar untuk menyadari bahwa hidupku masih berjalan meski tanpamu di sisiku lagi. Aku masih belajar… belum fasih apalagi ahli.

Ketahuilah… aku masih mendoakan kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi menjadi kebahagiaan kita bersama. Tetap saja… ini sebuah harapan bukan penyesalan. :D. Teruslah melangkah dan berbahagialah. 

Iklan

Satu pemikiran pada “Tiada dan berada.

  1. absen! 😀

    “Ketahuilah… aku masih mendoakan kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi menjadi kebahagiaan kita bersama. Tetap saja… ini sebuah harapan bukan penyesalan. :D. Teruslah melangkah dan berbahagialah. ”

    Gue juga ingin mengutarakan hal yang sama seperti paragraf terakhir di atas! hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s