Kamu tidak sendirian, Maria


” Yusuf, aku… mengandung,” Maria berbisik lirih, tangannya sibuk meremas-remas kain yang biasa dipakai untuk membungkus makanan. Maria menunduk, tidak berani menghadapi tatapan  Yusuf. Matanya terpejam dan hatinya berbisik… Tuhan, kuatkan aku.

“Apa?”  Yusuf tertegun, tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Tangannya sedang sibuk memberi makan perut kelaparannya. Masakan Maria adalah makanan terenak di muka bumi, tak sekatapun tertangkap telinga  Yusuf, apa yang baru saja dikatakan Maria. Maria sendiri terlihat begitu gugup dan ketakutan. Tangannya gemetar. Kepalanya tertunduk dalam. Lama Maria hanya diam.  Yusuf menunggu Maria mengulangi perkataannya, tangannya tak berhenti menyuap makanan. Sadar Maria tidak juga berkata-kata,  Yusuf berhenti makan dan duduk diam. Maria hendak mengatakan sesuatu yang penting.

“Maria…” panggil  Yusuf lembut, meyakinkan Maria untuk mengulangi perkataannya lagi.

“Aku mengandung,” akhirnya Maria mendapatkan kekuatan untuk memberitahu tunangannya dengan lebih jelas. Maria menangkap tatapan tak percaya  Yusuf, saat ia menengadah. Tidak yakin akan reaksi  Yusuf, Maria memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.

“Seorang malaikat Tuhan datang menghampiriku dan mengatakan bahwa Tuhan Allah berkenan mengaruniai aku seorang anak laki-laki. Dia adalah Anak Allah, dan akan dinamai Yesus,”  lanjut Maria tanpa terbata.  Yusuf menatapnya lekat, mencari jenaka dalam mata Maria. Menunggu Maria tersenyum dan tertawa menggodanya. Dahinya berkerut saat yang ditemukan hanyalah keteguhan dan kelembutan yang lain dari biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada tawa menggoda. Maria tidak berkelakar.

Mengandung? Maria? Mariaku mengandung? Anak Allah?  Yusuf mencerna lumat-lumat, informasi yang baru saja keluar dari bibir tunangannya. Mendadak kepalanya pening, dadanya seperti tertusuk dan badannya seakan lemas tak bertulang.  Yusuf merasa hidupnya sesaat direngut entah oleh siapa. Maria… Mariaku yang jelita mengandung.  Yusuf seketika kehilangan semua pengetahuan. Kehilangan kemampuan untuk berpikir. Segalanya tidak masuk akal. Siapa malaikat yang mendatangi Maria?  Mengandung Anak Allah? Bagaimana mungkin? Maria,  tunanganku tidak mungkin mengandung. Aku belum menjadi suaminya. Tidak. Siapa wanita yang sedang duduk di sebelahku ini? Dia bukan Mariaku. Sejuta pertanyaan timbul tenggelam berebut menguasai pikiran Yusuf.

Di tengah kebingungannya, Yusuf berusaha mencari Maria, gadis yang begitu dipuja dan dicintainya, bintang petunjuk hidupnya, Maria yang dikenalnya. Tapi Yusuf tidak mengenali sosok wanita yang duduk di sebelahnya. Ini bukan Marianya. Bukan Tunangannya. Wanita asing yang duduk di sebelahnya gemetar, tangannya sudah berhenti meremas kain pembungkus makanan, sekarang tangannya membelai perut seakan melindungi kandungannya, seakan yakin membentengi diri dari Yususf. Senyum pasrah terlukis di wajahnya. Tatapan Yusuf pelan-pelan membara, saat kemarahan merasuk kedalam kepalanya.  Yusuf merasa bodoh. Yusuf tidak menemukan Marianya, tidak menemukan tunanganya. Sebaliknya ia malah menemukan Maria yang mengandung, Maria yang sudah dimiliki orang lain. Entah oleh siapa. Persetan dengan malaikat. Yusuf tidak mempercayai apa yang dikatakan Maria. Mustahil Maria mengandung tanpa peran laki-laki lain.

Laki-laki lain. Kenyataan itu membuat dunia Yusuf berputar seratus delapan puluh derajat. Pagi tadi betapa rasa rindu menguasai dirinya, betapa hatinya menunggu-nunggu waktu makan siang, saat tunangannya akan datang dan membawakan makanan kesukaannya. Ia selalu merindukan Maria, gadis jelita ini tidak pernah hilang dari pikirannya. Yusuf jatuh cinta pada Maria sejak pertama kali ia melihatnya di keramaian pasar. Maria menerangi hatinya dalam sekejap, senyumannya melontarkan debar-debar bertalu di dadanya. Sejak saat itu, dia tahu Maria adalah segala yang dicari dalam hidupnya, Maria adalah hidupnya. Hidup Yusuf terasa sempurna saat Maria menerima pinangannya.  Sekarang, laki-laki lain telah merengut hidupnya. Yusuf sesaat lupa bernafas, kegelapan tinggal mencengkramnya. Debar-debar bertalu di dadanya tidak lagi membawa kegembiraan. Makin lama taluannya makin menyesakkan dan menyakitkan. Ada laki-laki lain yang memiliki Maria selain dirinya. Yusuf merasa dikhianati.

Maria menangkap kesakitan di mata Yusuf, tunangannya itu. Seketika, insting melindungi menggerakkan tangan Maria untuk mencari tangan Yusuf. Yusuf menepisnya, seakan tersengat. Yusuf gagal mengenali Maria, gadis  satu-satunya yang sangat dicintai, tunangannya. Tanpa berkata dia beranjak, meninggalkan Maria seorang diri.

***

Sudah dua minggu lamanya, Yusuf tidak berbicara pada Maria. Setiap hari Maria masih datang ke tempatnya bekerja dan mengantarkan makanan. Maria menunggu beberapa lama, tapi Yusuf mengacuhkannya. Maria seakan tidak ada di hadapnya. Tidak mungkin menunggu terus, Maria kemudian pulang membiarkan Yusuf seorang diri. Setiap hari selama dua minggu begitulah yang terjadi. Yusuf tidak pernah lagi memakan masakan Maria. Makanan yang ditinggalkan Maria, selalu ditemukan teronggok basi keesokkan harinya, tidak berpindah tempat, tidak disentuh. Maria diam-diam menangis sedih dan kecewa. Dia tahu, Yusuf tidak mempercayai perkataannya.

Yusuf tak kunjung memberikan tanda-tanda mau berbicara dengan Maria. Maria tahu betapa Yusuf terluka mendengar bahwa dirinya mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami-istri. Betapa besar ingin Maria meyakinkan Yusuf bahwa hanya dialah laki-laki yang dicintainya, namun Maria tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa selama Yusuf menutup diri darinya. Maria akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Elisabet, sanaknya yang tinggal di sebuah kota di daerah Yehuda. Maria tinggal disana selama kurang lebih tiga bulan.

Sementara itu, janin dalam kandungannya bertumbuh. Maria suka sekali membelai perutnya, merasakan keajaiban hidup yang dibuat Tuhan Allah dalam dirinya. Setiap hari dia merasa terhibur dengan gelitik kecil dalam perutnya, apalagi jika mengingat apa yang dikatakan malaikat pada dirinya. Ah, betapa dia menantikan untuk bisa segera melihat wajah Putra Allah dalam kandungannya. Betapa Maria juga merindukan Yusuf, kekasihnya. Setiap hari, setiap malam, Maria berdoa meminta Tuhan menjaga Yusuf dan menyertai kekasihnya. Tak lupa ia berdoa juga agar Tuhan memberinya kekuatan untuk setia menjalani kehendak Tuhan Allah atas dirinya, apapun yang akan terjadi nanti. Entah dengan atau tanpa Yusuf di sisinya lagi.

***

Yusuf kehilangan Maria. Teramat sangat. Mulutnya enggan menerima makanan yang bukan masakan Maria, tetapi perutnya memberontak, memaksa Yusuf untuk makan. Sesuap, dua suap, tiga suap, Yusuf menelan hidup pelan-pelan, melumat pahit yang ditinggalkan Maria di lidahnya. Makanan apapun tidak ada nikmatnya jika bukan tangan Maria yang membuatnya. Ya Tuhan, betapa aku merindukan Maria, cintaku.

Senyum lugu Maria masih menghantui pikirannya bersamaan dengan sejuta pertanyaan dan skenario yang tak pernah berhenti menguasai pikirannya. Betapa ingin Yusuf bisa mempercayai apa yang dikatakan Maria padanya mentah-mentah. Begitu saja. Maria tidak pernah berbohong padanya. Tetapi nalar dan pengetahuannya tidak mungkin bisa menerimanya begitu saja. Seorang perawan tidak mungkin tiba-tiba mengandung seorang diri.

Yusuf menyimpan sendiri perkara dan pergelutannya. Konyol jika menceritakan ini semua pada orang lain, Yusuf akan dikira tidak waras. Apalagi jika orang lain tahu bahwa Maria sedang mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami – istri. Hatinya sedih dan merasa terkhianati oleh Maria yang mengandung. Namun demikian, tidak sedikitpun Yusuf memiliki keinginan untuk menyakiti Maria.

Aneh, bagaimana mungkin hatinya yang hancur masih sanggup mencintai Maria? Betapapun nalarnya mengatakan untuk membenci Maria yang telah mengkhianatinya. Bagaimana bisa Yusuf membenci Maria? Maria begitu manis, lugu dan tak bercela di mata Yusuf. Ah, kandungannya itulah celanya. Tapi Yusuf sadar, apa yang paling tidak bisa diterima olehnya adalah pikiran bahwa Maria menyerahkan diri, hati dan tubuhnya pada orang lain. Bukan kepada Yusuf. Pikiran inilah yang bertubi-tubi menyakiti hati dan jiwanya. Ada orang lain yang lebih dicintai oleh Maria, melebihi dirinya sendiri. Yusuf cemburu.

Lalu apa artinya pertunangan mereka selama ini? Sungguhkah Maria bertunangan dengannya karena cinta bukan karena iba? Apa selama ini ia telah salah menilai Maria? Susah membayangkan Maria mengkhinatinya, Yusuf sendiri tahu betapa baik dan penuh kasihnya Maria pada dirinya. Yusuf pun selalu mencintai Maria, hanya Maria seorang. Yusuf rela memberikan segala-galanya untuk Maria, untuk bisa membahagiakan Maria.

Ya… Tuhan… betapa aku mencintai Maria. Maria jika memang engkau lebih berbahagia dan mencintai laki-laki yang dengannya engkau mengandung, biarlah aku tidak menjadi penghalangmu. 

Sadar bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain memutuskan pertunangannya dengan Maria, Yusuf pun tertidur. Senyum Maria membayangi pelupuk matanya. Demi kebahagiaanmu, Maria.

Cahaya terang membutakan mata Yusuf. Yusuf dikelilingi selubung terang dan matanya hanya mampu melihat putih, ketika dia berusaha sadar dan ingin bangun dari tidurnya. Seorang malaikat Tuhan datang dan berkata padanya:

” Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”

Suara itu terdengar begitu megah di telinga Yusuf hatinya bergetar dan mendadak meloncat dengan kegembiraan. Rasa haru membanjiri tanpa tendeng aling-aling. Hatinya dipenuhi cinta dan rasa syukur. Nalarnya tidak lagi menolak, Maria jujur mengatakan hal yang sebenarnya pada Yusuf. Tidak ada laki-laki lain. Tuhan Allah-lah yang dicintai Maria melebihi dirinya. Kepada Tuhan Allah-lah, Maria menyerahkan diri, hati dan tubuhnya. Maria terpujilah dirimu. Terima kasih Tuhan, aku boleh mencintai dan dicintai Maria. Terima kasih, aku boleh memperistrinya. Mata Yusuf terbuka dan membelalak. Bagai kesetanan, dia segera berlari mencari Maria ke rumahnya. Tanpa memakai alas kaki, Yusuf menyusur kota terburu-buru. Matahari baru saja mengintip dari celah langit, saat Yusuf mendapatkan Maria. Tanpa ragu dipeluknya Maria.

“Maria… Jadilah istriku. Aku mencintaimu. Kamu tidak sendirian, aku akan menyertaimu apapun yang terjadi. Aku tidak akan meninggalkanmu” Yusuf berbisik, penuh mendekap Maria di dadanya. Segala rasa menguasai dirinya, Yusuf teguh mencintai Maria.

Maria yang terkaget-kaget mendengar perkataan Yusuf, menangis haru. Yusuf, tunangannya, suaminya, tidak akan meninggalkannya seorang diri. Hatinya gembira mendapatkan kembali kekasihnya. Terima kasih, Tuhan, engkau mendengar kerinduanku.

Anak dalam kandungan Maria menendang-nendang, Yusuf seketika tersenyum dan melepas pelukannya dari Maria. Dibelainya perut sang istri. Berdua mereka tersenyum bahagia merasakan keajaiban cinta Tuhan Allah dalam perut Maria.

***

“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam”

Sepotong ayat inilah yang membawa pikiranku menjelajah pergulatan  Yusuf dan Maria saat menerima kabar dari Malaikat Tuhan.  Yusuf, seorang yang tulus hati.

Entah mengapa, aku langsung membayangkan betapa besarnya cinta Yusuf untuk Maria. Tidak banyak laki-laki yang mau bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan hasil perbuatannya. Maria dan  Yusuf bisa saja memilih untuk menolak kehendak Tuhan. Tetapi jika itu yang terjadi, mungkin kita tidak akan merayakan Natal. Kerelaan Tuhan Allah untuk bertanggung jawab mengambil-alih konsekuensi dosa manusia, sudah mulai terwujud nyatakan  dari kerelaan dan kesediaan Maria mengandung dan melahirkan Yesus. Diteguhkan lagi oleh kerelaan dan kesediaan Yusuf untuk menerima dan mendampingi Maria, meski dengan sejuta kebimbangan dan keraguannya. Buatku inilah contoh yang sempurna kerjasama Rahmat Tuhan dan  manusia yang menyerahkan kehendak bebasnya kepada Tuhan.

Jesus-is-Born

Selama ini, di kala Natal, aku tidak banyak memikirkan Yusuf, aku selalu berfokus pada Maria dan Bayi Yesus. Tetapi kali ini aku diingatkan betapa besar peran Yusuf dalam hidup Maria dan Yesus. Tidak mungkin mengenyampingkan cinta Yusuf begitu saja. Hadirnya Yusuf-lah yang meneguhkan keberanian dan memberikan kekuatan kepada Maria dalam menjalankan kehendak Tuhan Allah untuk melahirkan dan membesarkan Yesus.

joseph&mary

Iklan

2 pemikiran pada “Kamu tidak sendirian, Maria

  1. Baru kali ini gue membaca sepenggal bagian dari kisah Natal yang diceritakan secara berbeda. Good job, Moniq! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s