Sepotong malam


Kurebahkan kepalaku di pangkuanmu. Kurasakan tanganmu mulai membelai rambutku.

“ada apa, nduk?” tanyamu dengan lembut.

Kujawab kau dengan diam.

Sudah, jangan bertanya lagi. Aku hanya ingin bermanja.

 

Di pangkuanmu aku membeku. Tiada daya berlaku. Seperti layu, aku terkulai.

“mengapa kau mencintaiku?”

Tangannya berhenti membelai. Lalu semakin lembut dia membelai rambutku.

ah. Dijawabnya tanyaku dengan tangannya.

Aku bangkit dari pangkuannya. Aku tatap matanya. Dia menusukku dalam-dalam. Aku tak berpaling pun tak mampu menatapnya, tak ada kata yang keluar dari bibirku yang terbuka. Tanya menyangkut di tenggorokkanku. Tak kuasa aku memuntahkannya. Dia mengangkat jarinya, membelai pipiku dan tersenyum. Tersenyum manis. Ah. Tak kubalas senyumnya itu, yang ada malah darahku mendidih panas. Yang ada malah air mataku meleleh. Dentuman emosi meledak-ledak di sekujur tubuhku dan pecah sudah hening yang kupertahankan.

“BERHENTI! Tidakkah kau tahu cintamu itu membebaniku!” Teriakku, kutepis jarinya. “aku… kau. aku… tidak… tidak…. tidak bisa….” Bahkan aku belum  kuasa mengurai semua ini dan Dia sudah memelukku, membawaku ke dekapan tepat di jantung hatinya. Termangu aku terdiam. Terdengar detaknya aku terselubung hangat. Tak ada hal lain yang mampu kulakukan. Sedu sedan itu pecah. Aku menangis bagai bayi yang baru saja keluar dari rahim ibunya. Gelagapan menghirup udara.

“tak apa nduk, kau tidak perlu membalas cintaku” tangannya yang memelukku, membelai setiap helai rambut di kepalaku, “aku mencintaimu, bukankah itu saja cukup?”

Aku menolak mengerti dan menjauhkan diri dari pelukkannya. “bagaimana mungkin kamu tidak memerlukan balasan cinta dariku? Aku tidak bisa menerima Cintamu terus menerus, begitu saja. Aku butuh Kamu untuk butuh balasan cintaku. Karena… jika tidak… jika Kamu tidak membutuhkan cintaku ini…. aku…. aku… apa artinya aku?” air mata mengalir deras, mataku panas. Sekujur tubuhku gemetar menolak kesia-siaan. Belum pernah aku merasa hidup sedemikian menyakitkan. Dia masih saja diam, tangannya membelai punggungku perlahan. Menenangkan.

Kami berdua diam, terkadang aku terisak. Perasaan ini sudah lepas dari pikiranku, aku hanya merasa dan merasa. Tidak perlu menerjemahkan dalam kata, selain itu aku pun tidak mampu memecah hening.

Sekali lagi aku menatapnya. Dia masih tersenyum.

Cinta.

***

bagaimana mungkin aku diam tidak membalas cintaMu?

Tak banyak yang kupunya, tapi semoga ini cukup.

***

Cinta terwujud dalam saling memberi dari kedua belah pihak, artinya: yang mencintai memberi dan menyerahkan kepada yang dicintai apa yang dimiliki, atau sebagian dari milik atau yang dapat diberikan, begitu pula sebaliknya, yang dicintai kepada yang mencintai. Jadi, bila yang satu punya ilmu, dia memberi ilmu itu kepada lainnya yang tak punya, begitu juga mengenai kehormatan atan kekayaan. Demikian pula sebaliknya, yang lain itu terhadap dia.

– Latihan Rohani 231.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Sepotong malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s