Bara


“Hal tergila apa yang pernah kau lakukan atas nama cinta?” tanyanya diantara langkah-langkah menuju Argo Dumilah. Dia bertanya tanpa menoleh dan tetap melangkah mantab di depanku, memimpin perjalanan. Aku menarik nafas panjang, sepuluh langkah kemudian aku menjawabnya.

“Hmm… Aku pernah…” terdiam lagi aku berpikir. Mencari. Hal tergila apa yang pernah kulakukan atas nama cinta?

“ya?” tanyanya lagi, mendorongku untuk meneruskan kalimat.

mendaki gunung tertinggi dan berdoa untuknya? menyelam lautan dan mengirim pesan cinta? menulis puisi untuknya? melipat seribu bintang demi terkabulnya keinginannya? membuat kue? menangisi kepergiannya? meninggalkan pekerjaan demi menemani dia yang sedang sakit? 

“Kay” panggilnya.

“Ya?”

“Jangan bengong”

“Aku gak bengong, hanya mencari?”

“Mencari apa?”

“Jawaban. Untuk pertanyaanmu.”

“Hal tergila apa yang pernah kau lakukan atas nama cinta?” tanyanya mengulang

“Ya”

“Apa yang sudah kau temukan?”

“Aku… pernah melakukan hal-hal yang cukup luar biasa, namun aku tidak yakin itu cukup gila”

“Contohnya?”

“Aku pernah melipat seribu bintang sebagai hadiah ulang tahun gebetanku. Dulu aku yakin seribu bintang itu akan mengabulkan satu permintaan yang sangat-sangat diinginkannya. Jadi selama beberapa bulan, setiap hari aku menggunting dan melipat kertas warna-warni dan melipatnya menjadi bintang-bintang.”

“O ya?”

“Ya” jawabku.

Dia diam dan kami terus melangkah.

“Hmmm… aku rasa itu cukup gila dan romantis.”

“ya” jawabku lagi. “tapi rasanya bukan yang tergila. aku pun patah hati setelah itu”

“ok”

Kami akhirnya sampai di Argo Dumilah. Puncak. Langit cerah. Pertanyaan. Dia meletakkan tasnya dan segera bersandar di tangga tugu. Matanya liar menyaksikan awan-awan. Aku membuka tas dan mengambil botol minumku, lalu duduk di sebelahnya. Ini bukan pertama kalinya aku berada disini.

“Kay” panggilnya, meminta perhatianku.

“Ya?” aku menjawab sambil menghabiskan isi botol minumku.

“Menurutmu hal tergila apa yang pernah seseorang lakukan untukmu atas nama cinta?”

Dahiku berkerut. Belum juga aku selesai mencari jawaban pertanyaan sebelumnya, dia sudah melempar pertanyaan aneh lagi. Aku menyeka air yang tak berhasil masuk ke mulutku dan menjawab:

“Melahirkanku”

Dia terkejut akan jawabanku. Aku menatap diamnya. Wajahnya berubah, dia tersenyum kemudian terbahak.

“Kay!” tangannya lari membelai kepalaku.

“Itu gila lho. aku ga minta dilahirkan, tapi toh ibuku bersakit-sakit melakukannya atas nama cinta berbalut nafsu” tawanya semakin kencang.

“Jadi kamu ga mau lahir?”

Aku menarik nafas dan kembali menatap awan-awan. Tawanya mereda dan diam kembali menemani kami.

“Ga mau,” jawabku kemudian

“Kenapa?”

Aku berdiri dan menjauh.

“Kay…”

“Aku tidak tahu untuk apa aku dilahirkan. Untuk mendaki gunung? untuk dewasa? Menikah? Menjadi tua? lalu mati? untuk apa lahir kalau akhirnya mati juga?”

“Kay…”

“aku tidak minta dilahirkan”

“Kay…”

“Kay…” ulangnya lagi saat aku tak memberinya tanggapan.

“Kau dengar ini Tuhan, AKU TIDAK INGIN DILAHIRKAN!” Aku berteriak sekuat tenaga membelakangi Bara, menghadap semesta. Kemudian aku berbalik kepada Bara dan mulai membrondongnya dengan kegelisahanku.

“Persetan dengan kehendak bebas. Manusia tidak punya kehendak bebas. Sejak lahir aku tidak bisa memilih dimana? kapan? di keluarga seperti apa? Apa itu yang namanya kehendak bebas? Bahkan bukan kehendakku aku lahir di dunia ini. Bukan inginku aku lahir, apalagi hidup. Apakah salah jika sekarang aku menginginkan kematian. aku tidak mau lagi hidup. Jika kehendak bebas itu ada, harusnya Dia mengabulkan keinginanku ini. HARUSNYA KAU MENGABULKAN KEMATIANKU, TUHAN!” Aku berteriak kembali padaNya.

“KAY!”

“Apa bara? Buat apa hidup… semua yang  kuharapkan terjadi tidak terjadi. Semua ingin dan mimpiku tidak juga beranjak nyata. Jangan kau bilang aku tidak berusaha… aku berusaha dengan segenap kemampuanku dan apa yang kudapatkan? Aku patah hati, orang tuaku bercerai, aku dipecat, Apa itu keinginanku? HIDUP MACAM INIKAH YANG KAU KEHENDAKI TERJADI UNTUKKU? Tuhan …macam …apa….yang menginginkan aku hidup seperti ini… ” Aku terisak,  lututku lemas dan aku tersungkur berlutut. Dengan segenap emosi yang mendidih dalam darahku aku mulai memukul-mukul tanah. Amarah dan tangis kubiarkan menguasai diriku, tanganku berdarah melawan kerikil-kerikil kecil. Inilah usaha pemberontakkanku. Aku berkeras melawan ketidakadilan yang aku rasakan. “Tuhan macam apa….Haiks… hu hu hu…” Aku dengar diriku terisak dan kepalaku mulai kesemutan. Aku duduk mencium tanah, bisa kurasakan keras dan dinginnya kerikil di dahiku. Tanganku sudah berhenti memukul. Aku terus terisak dan menangis. Apakah aku sudah gila? Mungkin inilah hal tergila yang pernah Kau lakukan untukkku atas nama cinta, Tuhan. Kau memberikan hidup dan kini sekujur tubuhku kesakitan mengharapkan cinta dan kebaikkannMu. Dimana Kau?

“Kay….” Panggil Bara lembut. Kurasakan Dia mengelus rambut kemudian punggungku. Naik… turun… naik… turun… naik… turun… Lembut menenangkan. Isak tangisku mulai mereda. Aku terduduk memegang perutku erat-erat, berlindung entah dari apa. Perlahan Bara membawaku ke peluknya.

“Kay… aku mencintaimu…” Bisiknya di atas kepalaku. Mataku perlahan menutup dan tanganku menggenggam jaket hitamnya. Kupegang erat-erat hingga aku sadar, aku tidak lagi menginginkan kematian.

“Kay… mungkin akhir dari kehidupan bukanlah kematian. Suatu hari nanti kita akan berhenti bernafas dan kita tidak akan tahu mengapa apalagi bisa memilih kapan, kita tidak akan pula mampu mengembalikan nafas itu. Dia memberikanNya pada kita. Hidup ini pemberianNya, kamu tidak ingin hidup pun tidak apa. Tuhan akan tetap memberikan nafas ini kepada kamu, saya, kita semua. Saya tidak mau kamu mati. Apalagi Tuhan, tentu saja Dia tidak akan mengabulkan kematianmu. Setidaknya aku tidak akan membiarkanmu menginginkan kematianmu. Tidak sekarang. Kamu harus hidup. Hidup bahagia.” Bara mencium puncak kepalaku.

“Gimana caranya Bara?”

“Kay… Kamu memang tidak bisa memilih kapan dan dimana kamu dilahirkan. Terkadang ada hal-hal yang terjadi bukan karena kita menginginkan atau bahkan memilih semua itu terjadi. Ada hal-hal diluar kendali kita. Aku minta maaf untuk semua kejadian buruk yang membuatmu menginginkan kematian. Kamu boleh jatuh tersungkur, menangis hingga gila karena hidup yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Dan aku akan bersamamu melewati itu semua. Karena aku mencintaimu, Kay.”

***
Selesai. Maka aku biarkan saja tulisan ini selesai seperti itu. Dimulai dengan tanya, berakhir dengan alasan yang tak mampu aku nalar dengan baik. Mungkin naluri mencari-Mu pada akhirnya adalah usaha mengerti Bara. Bara yang katanya mencintaiku dan tak pernah berhenti menyelipkan kegilaanya disela-sela hidupku. 

 

2mostimportant

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s