Tanpa kepentingan


Udara panas menyambutku. Matahari Jakarta masih terik seperti biasanya. Menyengat dan membuat siapapun tidak kerasan berada diluar ruangan lama-lama. Maka terburu-buru aku melangkah, bukan hanya karena tak mau tersengat matahari lama-lama tapi juga karena aku butuh terburu-buru. Aku butuh bergerak dan fokus pada perjalanan singkatku ini. Tujuanku tidak jauh dan aku ingin cepat sampai. Segera.

Aku mengatur nafasku tepat di depan pintu kayu salah satu gereja tertua di Jakarta ini. Berhenti terburu-buru, berhenti tergesa-gesa. Perlahan aku mendorong pintu kayu dan tepat seperti harapanku, sunyi menyapaku. Aku lihat seorang ibu berlutut khusuk di depan patung Bunda Maria. Aku masuk, membuat tanda salib dan perlahan menuju tempat duduk agak di tengah deretan bangku kayu, menghadap altarNya. Aku letakkan dompet dan telepon genggamku di celah kursi, menarik napas panjang dan duduk. Di depan altar sosoknya berada, terpaku pada salib, tertunduk tak bernyawa.

Aku duduk diam, sebentar menatap salib dan pelan-pelan mengarahkan pandanganku, lekat dan berpindah-pindah menatap sekelilingku. Gereja ini sudah tua, interiornya sudah beberapa kali direnovasi. Kaca-kaca berpatri menghiasi sudut-sudut jendelanya. Sinar matahari sudah cukup menjadi penerang apalagi di siang yang terik, seperti saat ini. Warna-warni berkilauan menghias gambar-gambar rasul dan santo-santa yang mengelilingi gereja ini. Nuansa tua begitu terasa, anehnya gereja ini terasa lebih penuh saat ini daripada saat biasanya aku hadir bersama umat lain untuk merayakan ekaristi. Penuh doa? Mungkin. Yang pasti bukan doaku. Sudah lama aku tidak berdoa.

Gereja St. Theresia berada di tengah kota Jakarta, dibalik gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Saat berada di dalam, aku seperti berada dalam dimensi yang berbeda. Disini tidak ada ketergesaan, tidak ada waktu yang begitu terburu-buru dihabiskan, tidak ada Jakarta. Ya, ya, ya, aku tidak bisa menyatakan tidak ada Jakarta di dalam Gereja Theresia, saat gereja ini bahkan sebenarnya berada di Jakarta. Tapi begitulah yang aku rasakan, setiap kali aku menghabiskan sebagian waktu makan siangku untuk sekedar duduk dan menikmati cahaya yang masuk melalui wajah-wajah para santo-santa. Tidak, aku tidak berdoa. Aku hanya suka menikmati hadirnya gereja ini diantara rimba gedung pencakar langit. Aku hanya suka menikmati hadirnya hening diantara keserabutan rutinitas Jakarta.

Tidak berdoa. Ya, sekali lagi aku menegaskan, aku tidak berdoa, tidak bertekuk lutut merendahkan hati, memberi hormat. Aku tidak punya kepentingan apapun untuk dimohonkan dalam doa. Jadi aku tidak perlu basa-basi berdoa kan? Hanya karena aku berada di gereja, aku tidak lantas merasa harus berdoa.

Aku mengambil telepon genggamku, memasang earphone ke telingaku dan membuka sebuah aplikasi, tak lama suara Adam Lavine mengalir dalam telinga dan memasuki diriku.

Please don’t see just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me reaching out for someone I can’t see
Take my hand let’s see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I’d be damned Cupid’s demanding back his arrow
So let’s get drunk on our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we’re not careful turns into reality
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying
Just the same

God, give us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying

But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Selesai. Aku menunggu sebentar, tak lama kemudian Adam Levine sekali lagi mulai menyanyikan Lost Stars untukku. Lagu ini terngiang berkali-kali dalam diriku. Setiap kata dalam liriknya perlahan mendapatkan makna tersendiri bagiku. Aku tidak berdoa. Sudah lama aku sulit merangkai kata menyampaikan padaNya apa yang kurasakan. Maka hanya ini saja yang mampu kulakukan, mendengarkan sebuah lagu berulang kali di tengah-tengah diamNya.

Aku memejamkan mata, perlahan kurasakan mataku basah. Kubuka mataku dan kutatap lagi sosoknya yang terpaku tak bernyawa. Kematian. Mengapa Gereja Katolik begitu kejam, memahat kematian Tuhannya dan menempatkannya di depan altar sehingga mau tidak mau umat terpaksa memandang kematian saat beribadah? Pikiran ini mengalir diantara alunan suara Adam Levine.

Aku tak pernah sanggup berlama-lama menatap salib, tanpa merasa sedih, tanpa merasa terluka, tanpa merasa bersalah, tanpa merasa berdosa, tanpa merasa marah, tanpa merasa gelisah; tanpa merasa. Entah mengapa salib selalu membangkitkan perasaan-perasaan yang tak kuinginkan. Perasaan tak nyaman.

God, give us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying

But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Adam Levine sekali lagi mengakhiri lagunya dan tak lama kemudian, sekali lagi mulai bernyanyi untukku. Aku biarkan dia bernyanyi sepuasnya. Aku biarkan diriku mendengarkannya bernyanyi terus menerus. Melatunkan pertanyaan, menyatakan realita.

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we’re not careful turns into reality
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears…

Sudah pukul 12.43 saat aku melirik jam tanganku. Aku melepas earphone-ku dan bersiap untuk kembali hanyut dalam rutinitas pekerjaanku. Sekali lagi aku menatap salib di altar sebelum aku melangkah keluar. KematianMu. Untuk hidupku. 

Mantab aku melangkah keluar dari gereja. Kembali terburu-buru, kembali tergesa-gesa.

***

died

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. – Yoh 15:13

***

Ditulis untuk ikut merayakan ulang tahun ke-85  Gereja St. Theresia. AMDG.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tanpa kepentingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s