Arsip Kategori: Catatan Perjalanan

Kaki melangkah,mata melihat,
Abadi dalam kata, Hidup yang hanya sesaat

Tangan-tangan bisu


“Kamu terlalu jujur” katanya. “dan itu menyakitkan” lanjutnya lagi.

Aku terdiam.

Dia terdiam.

Lama.

“Jadi… ” Aku menggelengkan kepalaku, ke kiri lalu ke kanan, ragu.

“Lebih baik begitu…” dia menghela nafas.

Aku terdiam.

Dia beranjak.

***

“Kay!”

Malas-malasan aku membuka mataku, wajah Bara tepat diatas wajahku. Tersenyum lebar.

“Bangun!” katanya rusuh. “Lihat matahari sudah mau terbit. Ayo!” Segera dia membuka tenda kami. Udara dingin menyerbu masuk, aku segera menutup wajahku, merapat dan meringkuk semakin masuk dalam kantung tidur. Aku masih mengantuk dan lelah.

“KAY!” Bara berteriak lagi memanggilku.

“Kay, ayo keluar!”

“Dingiiin….” sahutku malas.

Bara melongok dari pintu tenda, memanggilku lagi.

“Kay! Ayo keluar!” katanya lagi sambil menarik ujung kantong tidurku, membuka riseltingnya dan menangkap kakiku dengan tangan dinginnya.

Aku terkejut, tangannya sedingin es melingkar mantap di pergelangan kakiku.

“BARA! DINGIN!” teriakku padanya.

“Makanya ayo keluar, matahari sudah mau terbit, nanti hangat” katanya santai, tangannya masih melingkar di pergelangan kakiku, menarik-narik tanpa henti.

“You are so annoying! ga bisa lihat, aku senang bermalas-malasan” seruku menggerutu padanya. Aku menghentakkan kakiku dari tanganya dan bersiap keluar tenda.

***

“Bara”

“ya, Kay?”

“ini kabut” kataku melotot padanya. Aku berdiri di tepian jurang dan menatap bentangan abu – abu bercampur kegelapan malam. Tak banyak yang bisa ditangkap kedua mataku. Sekelebat cahaya lampu kota  agak kabur terlihat di kejauhan, selebihnya abu-abu gelap.

“I know”

“gimana kita mau lihat matahari terbit kalau kabut segini tebalnya” gerutuku.

“wait and see, kay. Wait and see.”

“dingin bara…” Aku sudah memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket,  kakiku mulai gemetar dan aku berlari-lari kecil di tempat, untuk menghangatkan tubuh.

“Kita jadi muncak?” tanyaku ragu , aku sangat tergoda untuk kembali masuk dalam tenda dan bersembunyi di balik kantong tidurku.

“Jadi dong” Bara berjongkok dan merogoh-rogoh tasnya, mengeluarkan senter, menyerahkannya padaku. “ini buatmu, kamu sudah masukkan semua yang kamu butuhkan ke dalam tasku ini kan?”

Aku mengangguk pelan dan kembali menatap bentangan abu-abu. dingin

“Kay?”

“apa?”

“udah kan?”

“Udah bara! kan tadi aku udah ngangguk”

“mana keliatan, bocah!” katanya sambil berdiri dan menyentuh pipiku dengan jari-jarinya yang dingin. Segera aku tepis dan menjulurkan lidahku padanya. Sebal.

“Ayo” Bara menangkap tangan kananku dan kami pun beranjak pergi.

Kami melangkah tanpa tergesa-gesa. Langit Gunung Merbabu masih setengah gelap, setangah terang. Kabut melingkupi kami, mengaburkan jarak pandang mata. Aku berjalan dalam diam, tertunduk, memperhatikan setiap langkah yang kuambil. Aku sudah melepaskan tangan Bara. Kami berjalan beriringan. Dia di depan, aku di belakang. Sesekali aku menatap punggungnya yang membawa daypack kecil berisi bekal perjalanan kami ke puncak.

Merbabu. Sudah ketiga kalinya aku mendaki gunung ini. Baru kali ini dia menunjukkan sisi muramnya.

Ada apa denganmu hari ini merbabu? batinku. Aku berhenti melangkah dan menatap sekelilingku. Langit semakin terang, namun terang matahari seakan kalah berperang, kesulitan menembus pertahanan kabut merbabu. Sekelilingku masih berwarna abu-abu. Aku berputar perlahan, menatap lekat satu per satu, batang-batang pohon yang berwarna hitam, jalan berkerikil, itu saja. Suram dan misterius sekali. Di kejauhan bisa kudengar burung-burung berkicau. Dinginnya angin menusuk menembus jaketku, kakiku gemetar dan tanganku dingin. Angin,  tangannya memainkan rambutku dan bisiknya mengiringi kicauan burung, dekat sekali terdengar di telingaku. Aku menengadah menatap langit, hamparan kabut berwarna abu.

“Kay!” Bara memanggilku, aku berbalik, mendapatkannya sudah jauh di depan dan hanya terlihat dalam siluet bayangan samar.

“Kamu cape?” tanya Bara sambil melangkah menghampiriku.

“Bara… aku tersesat, seperti ini” jawabku lambat-lambat. Aku kembali melihat sekelilingku dengan bingung.

“kay?” matanya mulai terlihat khawatir.

Pelupuk mataku kurasakan berat dan berair. Bara menjadi semakin kabur kulihat. Hatiku mendadak diremas realita. Pemandangan ini, terlalu tepat kurasakan di dalam diriku. Merbabu seperti sedang memperlihatkan apa yang selama ini hanya bisa kurasakan.

“Kay!” Panggil Bara lagi, tanpa kusadari dia sudah ada di dekatku. Dia mengambil tangan kananku dan menariknya.

“Jalan, kay! Sekarang” Bara tegas menggiringku, melanjutkan perjalanan.

Beberapa langkah kemudian, aku kembali fokus kepada langkah-langkah kaki kami. Kami berjalan dalam diam. Bara tidak bertanya apa-apa. Aku tidak bercerita apa-apa. Tangan Bara hangat mencengkram kuat. Dituntunnya aku melewati tanjakan berbatu.

Masih jauhkah puncak? Aku mulai kehabisan napas. Kakiku mulai berat melangkah. Bara masih menuntunku. Tangan kami berkeringat.

***

Sambil melangkah, selintas kenangan memasuki benakku.

Kay, kamu sudah lama tidak menulis?Aku hanya mengangguk dan  diam saja ketika pertanyaan itu terlontar.  Iya, saya sudah lama tidak menulis dan romo bukan orang pertama yang menanyakan itu kepada saya. 

kenapa?Lanjutnya lagi. Aku masih diam saja, sekelibat kenangan muncul.

‘kamu terlalu jujur’. ‘berhentilah menulis untuknya’. 

“Ntahlah, romo.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Cepat. Tidak menjawab.

Aku tidak bisa lagi menulis. ada kebenaran yang tak diinginkan, ada kenyataan yang tak boleh diketahui. bahkan oleh diriku sendiri. Maka aku tak lagi menulis. Mungkin dengan demikian aku tidak lagi melukai atau terluka. 

“Saya ingin bisa menulis lagi, romo. Maukah Romo membantu saya?” Aku menatap putus asa. Romo tersenyum mengangguk pelan. Memberi jeda.

“Saya kehilangan, mo.” Lanjutku.

“Apa yang hilang?”

Lagi -lagi aku diam. “Ntahlah, romo” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Hilang arah, mungkin.” Jawabku ragu. “Saya merasa tersesat, sendirian dan tidak mampu lagi melangkah. Berputar-putar di tempat, tidak berani menjelajah. Rasanya sangat gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kabut.”

“mungkin juga saya kehilangan diri saya sendiri juga. Saya tidak punya mimpi. Lagi” lanjutku.

“Baiklah, saya temani kamu. kita coba temukan lagi mimpi-mimpimu. Apa yang hilang, akan ditemukan kembali jika kita berusaha mencarinya” jawab romo kala itu.

Aku terharu dan menangis. Hanya bisa mengangguk, membalas senyum romo.

***

“Sedikit lagi, Kay” kata-kata Bara mengembalikan lamunanku.

“Tuh sudah terlihat. satu tanjakan lagi” lanjutnya.

Aku mengangguk.

Tuhan, kuatkan aku. Aku masih ingin berjalan bersamaMu, puncak hanya tujuanku hari ini saja. Tapi tidak apa… setidaknya aku punya tujuan. Tidak diam. Tidak berhenti. Meski hanya untuk satu hari ini, tuntunlah aku pada tujuanku. Kuatkan aku. Hari ini berikanlah aku keberanian mempunyai tujuan, keberanian untuk setia menjalaninya sampai akhir dan kebahagiaan untuk bersyukur di setiap langkah yang aku ambil. Hari ini saja. Kuatkan aku.

***

Unimagine dream (1)


Akhirnya aku tiba di Jalur Letter E. Jalur ini memang jalur yang dikata orang terberat saat mendaki Puncak Rinjani. Jalur dengan lebar kurang dari satu meter dan berkiri-kanan tebing jurang ini memang tantangan terakhir untuk mencapai puncak. Hatiku mencelos. Seketika keraguan besar jatuh di hatiku, membuat sekujur tubuhku gemetar bertambah dingin. Aku sudah mendengar cerita mereka, hanya saat itu susah untukku percaya, aku yakin keinginanku pasti lebih besar dan bisa mengalahkan ketakutanku. Makanya aku pun terkejut juga saat hatiku tiba-tiba mencelos. Kurasakan sendiri keraguan itu, kurasakan sendiri kepercayaan diriku yang pecah tat kala melihat medan Jalur letter E(dan).

Kulihat pendaki lain  mulai menuruni jalur ini dengan cepat. Rupanya mereka sudah mencapai puncak. Padahal kami mulai berjalan pada waktu bersamaan, tapi mereka sudah sampai terlebih dahulu bahkan sudah berjalan turun, hal ini semakin mengecilkan hatiku. Aku menunggu temanku yang berjalan tak jauh di belakangku. Ketika ia sampai di titik pemberhentianku, kulontarkan raguku.

“yakin kita mau naik? jalurnya begitu” kataku menunjuk jalur berkelikir itu.

“yakin. Jalan selangkah demi selangkah aja. Pelan tapi maju. nanti sampai” katanya meyakinkanku. Aku tertular keteguhannya. Aku mengulurkan tangan, kami bersalaman saling memberi kekuatan. Aku mulai melangkah terlebih dahulu. Kami tidak bisa berjalan berdampingan, karena jalur itu hanya cukup dilalui 2 orang,  sedangkan di sebelah kiri kami, masih ramai orang-orang turun setelah mencapai puncak. Aku berjalan melangkah, kerikil dan pasir berjatuhan setiap kali aku melangkah maju.

Kakiku melangkah tertatih, debu dan pasir bercampur dengan udara yang kuhirup. Nafasku tersengal nyaris sesak. Sementara orang-orang yang berjalan turun semakin sedikit, aku masih berusaha melangkah naik.  Aku mulai mengeluh, semangatku turun, tak yakin aku masih ingin berjalan. Tak yakin aku masih punya kekuatan untuk melangkah.

ah, mengapa tak juga aku sampai. Apa yang kulakukan disini? 

Aku teringat saat-saat aku berlatih mempersiapkan ini semua. Aku tahu aku telah berusaha jauh sebelum aku sampai di tempat ini. Aku bangun pagi beberapa kali dalam seminggu untuk melatih kakiku berlelah-lelah melangkah, sambil membayangkan Puncak Rinjani yang kata orang indah.  Dan memang keindahan saja yang tampak. Kupandangi sekelilingku, keindahan bahkan mulai nampak menjemukan. Seharusnya keraguan ini tidak menjamahku. Tapi tak ayal nyaliku ciut melihat medan yang tak pernah kusangka ini. Rupanya keinginanku dulu masih naif dan kusadari betapa butanya mimpiku. Dan aku menjadi lupa apa yang menjadi tujuanku disini.

Aku berhenti, kedua kaki lelah terbenam kerikil. Aku melihat ke atas, tampak puncak masih juga terlihat jauh. Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengembalikan setiap tenagaku yang terkuras dan berhenti mengeluh dalam hati. Aku sudah berjalan cukup lama, tapi tidak juga aku sampai pada tujuanku. Tiba-tiba seseorang yang sedang turun dengan cepat, berhenti dan menyapaku:

“Mba, mau naik?”

Aku tertegun sebelum akhirnya menjawab “iya”

“ngapain?” Aku terdiam, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang daritadi juga kutanyakan sendiri ke diriku.

“Turun aja yuk!” Ajaknya tiba-tiba.

Aku kaget dan serta merta menggeleng.

“Cape kan?”

“iya…”

“Ngapain naik cape-cape, pemandangannya sama aja koq, kaya disini.”

“Tapi aku mau naik” Kataku dengan keyakinan yang entah darimana asalnya.

“Turun aja yuk sama saya, dari sini danaunya keliatan, diatas juga sama, ngapain cape-cape” Ajaknya lagi sambil tersenyum mengejek.

“Ga mau, aku mau naik” kataku berkeras.

“Masih jauh bisa sampe siang nanti sampai atas”

“Ga apa… aku mau naik!”

“Ya sudah mba, hati-hati yah, saya turun”

Dan dia pun kembali berlari turun dan dengan cepat meninggalkanku. Aku menoleh menyaksikan kepergiannya. Kutangkap mata temanku yang berjalan tak jauh di belakangku. Dia mengangguk, seakan menyetujui setiap langkah yang pelan-pelan kuambil. Aku balas mengangguk dan berbalik menatap puncak kemudian kulangkahkan kembali kakiku.

Selangkah. Selangkah lagi. Selangkah lagi.

Pikiranku melayang kepada kejadian barusan, hatiku dongkol bukan buatan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan si Guide dan godaan-godaannya yang mengajakku turun. Dongkol terutama karena apa yang dia lemparkan padaku adalah juga apa yang suara dalam diriku sendiri lemparkan sedari tadi. Aku meragu. Aku tak percaya pada kemampuanku. Akan mudah bagiku untuk menyerah dan memaklumi segala alasan. Dan jujur saja, kata-kata si guide tadi, sangat masuk akal. Segala alasan itu akan menyelamatkanku dari kesusahan melakukan perjalanan yang berat ini.

Aku pun terheran-heran sendiri dengan keteguhan dan kemantaban suaraku ketika menjawab ajakkannya. Suara siapa yang berbicara, mengapa kata-kata itu keluar dari mulutku? Kata-kata yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan saat ini. Dan bahkan setelah Guide itu pergi, aku masih kembali meragu dan mengaduh dalam setiap langkahku, tak percaya pada kata-kata yang aku sendiri ucapkan. Rasanya seperti bukan aku yang berbicara tadi. Aku tak tahu aku punya keinginan sebesar itu, tapi toh jawaban itu sedikit banyak menguatkanku, maka aku hanya ingat berdoa. Tak banyak yang aku doakan, aku hanya merapal doa bapa kami, sesekali salam maria, untuk sekedar mengalihkan diriku dari mengeluh. Tak berhenti aku berpikir, merasa, berdoa dan tak berhenti juga aku melangkah, sesekali berhenti untuk duduk dan menarik nafas keindahan.

Sekali waktu seorang guide lain berpas-pasan denganku, dia berjalan menuntun seorang gadis asing. Aku berhenti untuk memberikan mereka jalan terlebih dahulu. Rupanya merekalah rombongan terakhir yang meninggalkan puncak ini. Guide itu menatap dalam mataku dan tanpa ekspresi mengucap “hati-hati”. Aku tersenyum dan mengangguk, merasakan kekuatan baru. Setelah mereka lewat aku kembali berjalan. aku kembali menunduk, berpikir, sambil melihat kakiku bergerak melangkah pelan, satu per satu, bertahan. Semakin keatas semakin angin kencang menerpa, seakan menguji setiap langkahku.

Selangkah. Selangkah lagi. Selangkah lagi.

Tanpa sadar, aku sampai di batu besar yang sedari tadi terlihat begitu jauh dimataku. Aku terkejut, melihat keatas dan betapa seketika sekelebat perasaaan berebutan menyesak dadaku. Kulihat ujung jalan berkerikil ini. Puncak! Mataku melebar dan segera kucari temanku dibelakang, aku berteriak padanya. Dia menggangguk lagi, merespon teriakkanku.

Tuhan! 

Tergagap aku melirih memanggil namaNya. tertatih aku kembali melangkah. Segala rasa masih berebutan dan berdesakkan dalam hatiku. Seisak haru pecah. Tanganku gemetar menyentuh batu besar itu. Aku rasakan sekujur tubuhku mulai gemetar.  Sedikit lagi. Sedikit lagi.

Tuhan! 

Tak ada kata yang mampu kuucapkan, hanya isak dan air mataku seketika berderai memeluk rasa-rasa yang membuncah tanpa bisa kucegah. Kakiku lemas seakan tak berdaya, aku berlutut, terkesiap. Pertama karena surga di depan mataku. Kedua karena aku sungguh berada di tempat ini. Diatas puncak rinjani. Puncak rinjani! Ya, Tuhan!

Aku terduduk seorang diri, angin bertiup membelai rambutku dan berbisik menyambut. Aku nikmati segala rasa syukur dan kagumku padaNya.  Keraguan yang berceceran di setiap langkahku, berhasil kumenangkan. Aku kini memiliki mimpi yang tak pernah terbesit sedikitpun sepuluh tahun yang lalu. Indah.  Tak berapa lama kulihat temanku datang, aku  berdiri dan menyambutnya.

“Puncak Rinjani! Proficiat, mas! Akhirnya kita sampai!” seruku mengulurkan tangan bersalaman. Tersenyum lebar.

Rasa lelah tak berdaya itu hilang menguap entah kemana. Inilah tempat yang kurindukan, inilah tanah tertinggi, tempat aku ingin memanjatkan doa-doaku untuk orang-orang yang kucintai dan berarti dalam hidupku. :). Terima kasih telah menguatkanku. Terima kasih telah bersamaku melalui semua ini. Terima kasih.

Puncak Rinjani. 14082012. Doaku padaNya yang telah menciptakan ini semua. Disinilah aku mengucap syukur untuk CintaNya dan memohon kemampuan untuk selalu  memilih tinggal dalam CintaNya. Teruntuk kalian keluarga dan sahabat-sahabatku, cintaNya yang indah.

Cita-cita Parangtritis


Foto ini diambil oleh Martinus P.J. Dengan Canon EOS 500d-nya Avo.Lokasi : Parangtritis. Jogjakarta.29 Oktober 2010

***

Gw… suka sekali dengan foto ini. (^^). Suka banget. Gw ceritanya lagi niru Michael Jackson lho gayanya. *just saying.

Btw… fun fact. untuk mendapatkan foto semacam ini tidak bisa di sembarang tempat lho. Ada setidaknya beberapa syarat supaya pasir pantai bisa menjadi cermin. (^^)>. Yang pasti pasirnya harus kehitaman dan basah. Terakhir tentu saja dukungan cahaya matahari terbit/terbenam. Lucu yah.daaannn… fenomena alam ini bisa kalian temukan salah satunya di Parangtritis. yup. Pantai yang terletak di selatan kota Jogjakarta. sampai saat ini, gw baru menemukannya disana. Ada lagi yang tahu pantai mana di Indonesia yang bisa menimbulkan efek ini? (^^)/.

O ya… ngomong2 soal Parangtritis. Pantai ini kan menghadap langsung ke samudra hindia yah… jadi efek ombaknya bergulung-gulung. ada Tebing-tebing batu di sebelah timur pantai. Cocok banget untuk merenung dan berjalan-jalan menyisir pantai. Pantai ini cukup terkenal dan ramai dikunjungi. Untungnya pas gw pergi… keadaan sedang tidak terlalu ramai. jadi kami bisa menikmati suasana syahdu pantai ini dengan tenang. Ada juga hal seru lain yang langsung menyedot perhatian, dengan membayar 15ribu kita bisa menunggangi kuda untuk menyisir pantai. sayang, waktu itu gw gak lagi pake rok batik panjang jadi akhirnya gw tidak menyisir pantai dengan menunggang kuda. (I bet the photo will be fantastic). Jadi gw pun pulang dengan cita-cita baru. Suatu hari nanti gw harus foto menunggang kuda dengan rambut tergerai dan rok berkibar di pantai parangtritis. (*.*). Selain kuda, ada pilihan lain juga yakni bendi. yup… kereta kuda. (^^)>. pantainya memang agak2 romantis.

Setelah puas menyisir pantai ke arah timur sampai dengan matahari terbenam, kami pun sempat duduk menikmati menjelang malam di pantai parangtritis. Ditemani penjaja makanan. Seorang ibu, menyediakan tikar untuk kami duduk sembari dia membakar jagung. Duduk menyaksikan pantai dan mendengar racauan debur ombak di bawah langit senja, angin membelai, aroma jagung bakar berkelebat di udara.hmmm… Apa rasanya? Rasanya lebih sempurna kalau ada pacar di samping gw. (”p).  Juga cita-cita baru gw dari perjalanan parangtritis: Pacaran di tepi pantainya.

Sedikit obrolan dengan ibu-ibu penjual jagung, Ibu ini setiap hari menempuh perjalanan 1 1/2 jam hanya untuk berjualan jagung di pantai. Beliau bilang biasanya di hari sabtu-minggu, pantai sangat ramai dikunjungi, namun pada hari lainnya biasanya tidak seberapa yang dia dapat. Ibu berjualan jagung untuk membiayai keluarganya. termasuk untuk sekolah anaknya. Ya. Pantai cantik. Rakyat jelata. (T.T). Indonesia belum sekaya itu, kawan. Hal ini biasa dan umum terjadi di tanah air kita. Di setiap daerah pariwisata, selalu ada cerita unik sekaligus miris mengiris yang bisa dipetik.

O well… ini hanyalah satu lagi cerita yang bakal gw simpan untuk jadi persediaan amunisi agar gw selalu ingat untuk berbagi. Cita-cita lama yang dibarukan. (^^)>.

***

Just sharing : gw nulis ini dengan backsound lagu ini : Khaylila s Song oleh: Sheila On 7

Khaylila yang cantik Cepatlah kau besar Ajarkan dunia berbagi seperti yang Ku ajarkan kepadamu.. Khaylila yang mungil Bila kau jadi pemimpin Berikan hak mereka.. Bebas dari rasa takut Juga rasa tertindas Reff: Dengan senyummu senjata membeku Tantara bernyanyi ikuti tingkahmu Tak ada lagi naluri menguasai Perlahan berganti naluri berbagi Satu hal yang pasti.. Ajarkan anak kita.. Berbagi.. Memberi.. Lebih dari yang kita Lakukan untuk saat ini.. Back to reff .Dengan senyummu langit terpeluk Bintang bertakuk Ku butuh kau sentuh Tak ada lagi Yang ku takuti Ku terlindungi Dengan sentuhanmu… Back to reff

***
Cinta Merah Putih Parangtritis
Cita-cita Parangtritis : naik kuda menyusur pantai dengan rok berkibar (*.*)
Cita-cita Parangtritis : Pacaran di tepi pantainya.
Dari Jogjakarta sampai...
Parangtritis.