Arsip Kategori: Refleksi

Kala bercermin diri dalam kata-kata, menemukan yang sejati

The last


“Kay”
“Ya?”
“Saat aku menghembuskan nafas terakhirku…would you please hold my hand?”
“No,” kamu terkejut mendengar jawaban tanpa pikir panjangku.
“I won’t be there, Bara” lanjutku lagi.
“Why?”
“Because… I will die before you” jawabku mantab.
“No way!”
“Kamu pernah dengar ungkapan ladies first kan?”
“Ya kan, bukan untuk itu, Kay!” Protesmu.

Aku hanya menjulurkan lidah membalas protesmu. Kamu langsung mengacak-acak rambutku gemas.

“Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu, bara?”

“Tanteku, kemarin malam meninggal”

“Ooo… Sorry”

“Kanker. Sudah lama dia kesakitan. Tidak ada yang tahu persis kapan dia menghembuskan nafas terakhirnya. Dokter bilang mungkin sekitar jam 2 malam.”

“Kamu ga melayat?”

“Ntar sore.”

“Mau kutemani?”

“Kamu siap ketemu keluarga besarku?”

“Kamu siap aku ketemu keluarga besarmu?”

“Kamu, ya, kay. Ditanya bukannya menjawab malah nanya balik. Pertanyaanmu serupa lagi”

Bara juga tidak menjawab. Kami biarkan pertanyaan itu tidak terjawab.

“Kamu dekat sama tantemu, Bara?” Tanyaku memecah hening. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, pertanyaan itu terlontar begitu saja.

” Tidak juga, waktu kecil aku sering main saja ke rumahnya. Ingatanku bersamanya sebatas masakan – masakannya yang lezat. kue kacangnya, kay…ugh! sekali makan, aku jamin, kamu akan susah berhenti. Enak pake banget.” Kamu tersenyum sumringah mengingat jasa tantemu semasa kecil, membuatku tersenyum juga membayangkan Bara kecil makan kue kacang dengan lahap.

“She is one of the toughest woman i know.”

“Really?”

“Ya. Suaminya pergi meninggalkannya”

“Kenapa?”

Bara diam sejenak, “Tanteku tidak bisa melahirkan anak untuknya”

“Oh.”

“Ya. Pernikahannya hanya bertahan 3 tahun”

“Tiga tahun?”

“Ya. Mereka berusaha untuk punya anak, tetapi kemudian dokter memvonis bahwa tanteku tidak bisa mengandung. ”

“Oh.”

“Dia tidak pernah menikah lagi sejak itu. Tentang sakitnya pun disimpannya sendirian bertahun-tahun. Dia tidak ingin keluarganya khawatir.”

“It must be really tough”

“I guess so. Like I said before, i don’t really close to her. My mom told me”

“Bara, will you leave me if I can’t give you children?” ketakutan melintas dalam diriku.

Bara menatapku, “Aku bukan mantan suami tanteku, Kay”

“I know. But will you?”

“No.”

Aku menatap Bara, tidak yakin.

“Kamu ga percaya, Kay?”

“Ya. Why not? Kamu ga ngasih aku anak sekarang dan aku tidak meninggalkanmu.”

“Hmm… but you want children?”

“Ya, one day.”

“What if i can’t give what you want?”

“I want you more than i want children, kay”

“Kamu bisa bilang gitu sekarang. Suatu hari nanti, kamu akan bosan padaku dan keinginanmu untuk bersamaku perlahan mengecil, sedangkan keinginanmu untuk memiliki anak membesar. That time… you might leave me.”

“Memangnya kamu beneran ga bisa punya anak, Kay?”

“If, Bara”

“So… what if i stay with you, no matter what? Will you accept that?”

” Even, if i can’t give you children?”

“I will never let you walk alone.”

“Gombal?”

“Ya ga lah”

Aku menatap Bara, mencari kesungguhan.

“Ok?”

Aku mengangguk ragu. Bara tahu masih ada keraguan.

“Tapi Kay, gimana kalau aku yang ternyata tidak memberikan kamu anak?”

“Hah?”

“Iya,  gimana kalau ternyata masalah nanti kita ga bisa punya anak, ternyata dari aku? apakah kamu akan meninggalkanku?” ulang Bara.

“Hmm… aku sesungguhnya tidak pernah memikirkannya sih Bara. Aku boleh mikir dulu?”

“ha5. Baiklah. Kamu boleh mikir dulu” Bara tertawa melihat aku kebingungan dan melihatnya tertawa, seketika aku tahu jawabannya.

“Aku ga akan meninggalkanmu.” jawabku disela tawanya.

Bara berhenti tertawa. “kamu yakin?”

“Sejujurnya… aku tidak yakin kalau nanti aku yakin tidak akan meninggalkanmu.” balasku. “tapi sekarang aku yakin aku tidak akan meninggalkanmu nanti.”

“he5. aku pun begitu, Kay,” jawab Bara. “Aku ga bisa benar-benar yakin berjanji padamu bahwa aku tidak akan meninggalkanmu nanti, entah karena alasan apa. Akan ada waktunya hubungan kita diuji oleh masalah-masalah besar. Tidak punya anak hanya salah satunya. Aku, kamu, kita perlu terus menerus berlatih, memperkuat apa yang kita punya sekarang. Semoga saat masalah-masalah besar itu datang, kita cukup kuat bertahan bersama. Tidak meninggalkan satu sama lain.”

“Amiiiin” Jawabku mengangguk kencang.

“Tapi aku akan tetap meninggalkanmu duluan, Bara. Jadi kamu harus siap juga ya nanti, mengenggam tanganku saat nafas terakhirku”

“Ogah!” Jawab Bara tegas, dia kemudian berdiri dan melangkah pergi dari sisiku.

Aku langsung mengejarnya “BARA! Koq kamu gitu sih!”

 

***

Genggam tangan, di nafas terakhir. 

Permintaanmu yang tak akan pernah aku kabulkan. Tak akan.

***

https://youtu.be/S4kzGhDEURA

Iklan

Tangan-tangan bisu


“Kamu terlalu jujur” katanya. “dan itu menyakitkan” lanjutnya lagi.

Aku terdiam.

Dia terdiam.

Lama.

“Jadi… ” Aku menggelengkan kepalaku, ke kiri lalu ke kanan, ragu.

“Lebih baik begitu…” dia menghela nafas.

Aku terdiam.

Dia beranjak.

***

“Kay!”

Malas-malasan aku membuka mataku, wajah Bara tepat diatas wajahku. Tersenyum lebar.

“Bangun!” katanya rusuh. “Lihat matahari sudah mau terbit. Ayo!” Segera dia membuka tenda kami. Udara dingin menyerbu masuk, aku segera menutup wajahku, merapat dan meringkuk semakin masuk dalam kantung tidur. Aku masih mengantuk dan lelah.

“KAY!” Bara berteriak lagi memanggilku.

“Kay, ayo keluar!”

“Dingiiin….” sahutku malas.

Bara melongok dari pintu tenda, memanggilku lagi.

“Kay! Ayo keluar!” katanya lagi sambil menarik ujung kantong tidurku, membuka riseltingnya dan menangkap kakiku dengan tangan dinginnya.

Aku terkejut, tangannya sedingin es melingkar mantap di pergelangan kakiku.

“BARA! DINGIN!” teriakku padanya.

“Makanya ayo keluar, matahari sudah mau terbit, nanti hangat” katanya santai, tangannya masih melingkar di pergelangan kakiku, menarik-narik tanpa henti.

“You are so annoying! ga bisa lihat, aku senang bermalas-malasan” seruku menggerutu padanya. Aku menghentakkan kakiku dari tanganya dan bersiap keluar tenda.

***

“Bara”

“ya, Kay?”

“ini kabut” kataku melotot padanya. Aku berdiri di tepian jurang dan menatap bentangan abu – abu bercampur kegelapan malam. Tak banyak yang bisa ditangkap kedua mataku. Sekelebat cahaya lampu kota  agak kabur terlihat di kejauhan, selebihnya abu-abu gelap.

“I know”

“gimana kita mau lihat matahari terbit kalau kabut segini tebalnya” gerutuku.

“wait and see, kay. Wait and see.”

“dingin bara…” Aku sudah memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket,  kakiku mulai gemetar dan aku berlari-lari kecil di tempat, untuk menghangatkan tubuh.

“Kita jadi muncak?” tanyaku ragu , aku sangat tergoda untuk kembali masuk dalam tenda dan bersembunyi di balik kantong tidurku.

“Jadi dong” Bara berjongkok dan merogoh-rogoh tasnya, mengeluarkan senter, menyerahkannya padaku. “ini buatmu, kamu sudah masukkan semua yang kamu butuhkan ke dalam tasku ini kan?”

Aku mengangguk pelan dan kembali menatap bentangan abu-abu. dingin

“Kay?”

“apa?”

“udah kan?”

“Udah bara! kan tadi aku udah ngangguk”

“mana keliatan, bocah!” katanya sambil berdiri dan menyentuh pipiku dengan jari-jarinya yang dingin. Segera aku tepis dan menjulurkan lidahku padanya. Sebal.

“Ayo” Bara menangkap tangan kananku dan kami pun beranjak pergi.

Kami melangkah tanpa tergesa-gesa. Langit Gunung Merbabu masih setengah gelap, setangah terang. Kabut melingkupi kami, mengaburkan jarak pandang mata. Aku berjalan dalam diam, tertunduk, memperhatikan setiap langkah yang kuambil. Aku sudah melepaskan tangan Bara. Kami berjalan beriringan. Dia di depan, aku di belakang. Sesekali aku menatap punggungnya yang membawa daypack kecil berisi bekal perjalanan kami ke puncak.

Merbabu. Sudah ketiga kalinya aku mendaki gunung ini. Baru kali ini dia menunjukkan sisi muramnya.

Ada apa denganmu hari ini merbabu? batinku. Aku berhenti melangkah dan menatap sekelilingku. Langit semakin terang, namun terang matahari seakan kalah berperang, kesulitan menembus pertahanan kabut merbabu. Sekelilingku masih berwarna abu-abu. Aku berputar perlahan, menatap lekat satu per satu, batang-batang pohon yang berwarna hitam, jalan berkerikil, itu saja. Suram dan misterius sekali. Di kejauhan bisa kudengar burung-burung berkicau. Dinginnya angin menusuk menembus jaketku, kakiku gemetar dan tanganku dingin. Angin,  tangannya memainkan rambutku dan bisiknya mengiringi kicauan burung, dekat sekali terdengar di telingaku. Aku menengadah menatap langit, hamparan kabut berwarna abu.

“Kay!” Bara memanggilku, aku berbalik, mendapatkannya sudah jauh di depan dan hanya terlihat dalam siluet bayangan samar.

“Kamu cape?” tanya Bara sambil melangkah menghampiriku.

“Bara… aku tersesat, seperti ini” jawabku lambat-lambat. Aku kembali melihat sekelilingku dengan bingung.

“kay?” matanya mulai terlihat khawatir.

Pelupuk mataku kurasakan berat dan berair. Bara menjadi semakin kabur kulihat. Hatiku mendadak diremas realita. Pemandangan ini, terlalu tepat kurasakan di dalam diriku. Merbabu seperti sedang memperlihatkan apa yang selama ini hanya bisa kurasakan.

“Kay!” Panggil Bara lagi, tanpa kusadari dia sudah ada di dekatku. Dia mengambil tangan kananku dan menariknya.

“Jalan, kay! Sekarang” Bara tegas menggiringku, melanjutkan perjalanan.

Beberapa langkah kemudian, aku kembali fokus kepada langkah-langkah kaki kami. Kami berjalan dalam diam. Bara tidak bertanya apa-apa. Aku tidak bercerita apa-apa. Tangan Bara hangat mencengkram kuat. Dituntunnya aku melewati tanjakan berbatu.

Masih jauhkah puncak? Aku mulai kehabisan napas. Kakiku mulai berat melangkah. Bara masih menuntunku. Tangan kami berkeringat.

***

Sambil melangkah, selintas kenangan memasuki benakku.

Kay, kamu sudah lama tidak menulis?Aku hanya mengangguk dan  diam saja ketika pertanyaan itu terlontar.  Iya, saya sudah lama tidak menulis dan romo bukan orang pertama yang menanyakan itu kepada saya. 

kenapa?Lanjutnya lagi. Aku masih diam saja, sekelibat kenangan muncul.

‘kamu terlalu jujur’. ‘berhentilah menulis untuknya’. 

“Ntahlah, romo.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Cepat. Tidak menjawab.

Aku tidak bisa lagi menulis. ada kebenaran yang tak diinginkan, ada kenyataan yang tak boleh diketahui. bahkan oleh diriku sendiri. Maka aku tak lagi menulis. Mungkin dengan demikian aku tidak lagi melukai atau terluka. 

“Saya ingin bisa menulis lagi, romo. Maukah Romo membantu saya?” Aku menatap putus asa. Romo tersenyum mengangguk pelan. Memberi jeda.

“Saya kehilangan, mo.” Lanjutku.

“Apa yang hilang?”

Lagi -lagi aku diam. “Ntahlah, romo” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Hilang arah, mungkin.” Jawabku ragu. “Saya merasa tersesat, sendirian dan tidak mampu lagi melangkah. Berputar-putar di tempat, tidak berani menjelajah. Rasanya sangat gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kabut.”

“mungkin juga saya kehilangan diri saya sendiri juga. Saya tidak punya mimpi. Lagi” lanjutku.

“Baiklah, saya temani kamu. kita coba temukan lagi mimpi-mimpimu. Apa yang hilang, akan ditemukan kembali jika kita berusaha mencarinya” jawab romo kala itu.

Aku terharu dan menangis. Hanya bisa mengangguk, membalas senyum romo.

***

“Sedikit lagi, Kay” kata-kata Bara mengembalikan lamunanku.

“Tuh sudah terlihat. satu tanjakan lagi” lanjutnya.

Aku mengangguk.

Tuhan, kuatkan aku. Aku masih ingin berjalan bersamaMu, puncak hanya tujuanku hari ini saja. Tapi tidak apa… setidaknya aku punya tujuan. Tidak diam. Tidak berhenti. Meski hanya untuk satu hari ini, tuntunlah aku pada tujuanku. Kuatkan aku. Hari ini berikanlah aku keberanian mempunyai tujuan, keberanian untuk setia menjalaninya sampai akhir dan kebahagiaan untuk bersyukur di setiap langkah yang aku ambil. Hari ini saja. Kuatkan aku.

***

Tanpa kepentingan


Udara panas menyambutku. Matahari Jakarta masih terik seperti biasanya. Menyengat dan membuat siapapun tidak kerasan berada diluar ruangan lama-lama. Maka terburu-buru aku melangkah, bukan hanya karena tak mau tersengat matahari lama-lama tapi juga karena aku butuh terburu-buru. Aku butuh bergerak dan fokus pada perjalanan singkatku ini. Tujuanku tidak jauh dan aku ingin cepat sampai. Segera.

Aku mengatur nafasku tepat di depan pintu kayu salah satu gereja tertua di Jakarta ini. Berhenti terburu-buru, berhenti tergesa-gesa. Perlahan aku mendorong pintu kayu dan tepat seperti harapanku, sunyi menyapaku. Aku lihat seorang ibu berlutut khusuk di depan patung Bunda Maria. Aku masuk, membuat tanda salib dan perlahan menuju tempat duduk agak di tengah deretan bangku kayu, menghadap altarNya. Aku letakkan dompet dan telepon genggamku di celah kursi, menarik napas panjang dan duduk. Di depan altar sosoknya berada, terpaku pada salib, tertunduk tak bernyawa.

Aku duduk diam, sebentar menatap salib dan pelan-pelan mengarahkan pandanganku, lekat dan berpindah-pindah menatap sekelilingku. Gereja ini sudah tua, interiornya sudah beberapa kali direnovasi. Kaca-kaca berpatri menghiasi sudut-sudut jendelanya. Sinar matahari sudah cukup menjadi penerang apalagi di siang yang terik, seperti saat ini. Warna-warni berkilauan menghias gambar-gambar rasul dan santo-santa yang mengelilingi gereja ini. Nuansa tua begitu terasa, anehnya gereja ini terasa lebih penuh saat ini daripada saat biasanya aku hadir bersama umat lain untuk merayakan ekaristi. Penuh doa? Mungkin. Yang pasti bukan doaku. Sudah lama aku tidak berdoa.

Gereja St. Theresia berada di tengah kota Jakarta, dibalik gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Saat berada di dalam, aku seperti berada dalam dimensi yang berbeda. Disini tidak ada ketergesaan, tidak ada waktu yang begitu terburu-buru dihabiskan, tidak ada Jakarta. Ya, ya, ya, aku tidak bisa menyatakan tidak ada Jakarta di dalam Gereja Theresia, saat gereja ini bahkan sebenarnya berada di Jakarta. Tapi begitulah yang aku rasakan, setiap kali aku menghabiskan sebagian waktu makan siangku untuk sekedar duduk dan menikmati cahaya yang masuk melalui wajah-wajah para santo-santa. Tidak, aku tidak berdoa. Aku hanya suka menikmati hadirnya gereja ini diantara rimba gedung pencakar langit. Aku hanya suka menikmati hadirnya hening diantara keserabutan rutinitas Jakarta.

Tidak berdoa. Ya, sekali lagi aku menegaskan, aku tidak berdoa, tidak bertekuk lutut merendahkan hati, memberi hormat. Aku tidak punya kepentingan apapun untuk dimohonkan dalam doa. Jadi aku tidak perlu basa-basi berdoa kan? Hanya karena aku berada di gereja, aku tidak lantas merasa harus berdoa.

Aku mengambil telepon genggamku, memasang earphone ke telingaku dan membuka sebuah aplikasi, tak lama suara Adam Lavine mengalir dalam telinga dan memasuki diriku.

Please don’t see just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me reaching out for someone I can’t see
Take my hand let’s see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I’d be damned Cupid’s demanding back his arrow
So let’s get drunk on our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we’re not careful turns into reality
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying
Just the same

God, give us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying

But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Selesai. Aku menunggu sebentar, tak lama kemudian Adam Levine sekali lagi mulai menyanyikan Lost Stars untukku. Lagu ini terngiang berkali-kali dalam diriku. Setiap kata dalam liriknya perlahan mendapatkan makna tersendiri bagiku. Aku tidak berdoa. Sudah lama aku sulit merangkai kata menyampaikan padaNya apa yang kurasakan. Maka hanya ini saja yang mampu kulakukan, mendengarkan sebuah lagu berulang kali di tengah-tengah diamNya.

Aku memejamkan mata, perlahan kurasakan mataku basah. Kubuka mataku dan kutatap lagi sosoknya yang terpaku tak bernyawa. Kematian. Mengapa Gereja Katolik begitu kejam, memahat kematian Tuhannya dan menempatkannya di depan altar sehingga mau tidak mau umat terpaksa memandang kematian saat beribadah? Pikiran ini mengalir diantara alunan suara Adam Levine.

Aku tak pernah sanggup berlama-lama menatap salib, tanpa merasa sedih, tanpa merasa terluka, tanpa merasa bersalah, tanpa merasa berdosa, tanpa merasa marah, tanpa merasa gelisah; tanpa merasa. Entah mengapa salib selalu membangkitkan perasaan-perasaan yang tak kuinginkan. Perasaan tak nyaman.

God, give us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying

But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Adam Levine sekali lagi mengakhiri lagunya dan tak lama kemudian, sekali lagi mulai bernyanyi untukku. Aku biarkan dia bernyanyi sepuasnya. Aku biarkan diriku mendengarkannya bernyanyi terus menerus. Melatunkan pertanyaan, menyatakan realita.

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we’re not careful turns into reality
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears…

Sudah pukul 12.43 saat aku melirik jam tanganku. Aku melepas earphone-ku dan bersiap untuk kembali hanyut dalam rutinitas pekerjaanku. Sekali lagi aku menatap salib di altar sebelum aku melangkah keluar. KematianMu. Untuk hidupku. 

Mantab aku melangkah keluar dari gereja. Kembali terburu-buru, kembali tergesa-gesa.

***

died

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. – Yoh 15:13

***

Ditulis untuk ikut merayakan ulang tahun ke-85  Gereja St. Theresia. AMDG.