Arsip Kategori: Uncategorized

Tangan-tangan bisu


“Kamu terlalu jujur” katanya. “dan itu menyakitkan” lanjutnya lagi.

Aku terdiam.

Dia terdiam.

Lama.

“Jadi… ” Aku menggelengkan kepalaku, ke kiri lalu ke kanan, ragu.

“Lebih baik begitu…” dia menghela nafas.

Aku terdiam.

Dia beranjak.

***

“Kay!”

Malas-malasan aku membuka mataku, wajah Bara tepat diatas wajahku. Tersenyum lebar.

“Bangun!” katanya rusuh. “Lihat matahari sudah mau terbit. Ayo!” Segera dia membuka tenda kami. Udara dingin menyerbu masuk, aku segera menutup wajahku, merapat dan meringkuk semakin masuk dalam kantung tidur. Aku masih mengantuk dan lelah.

“KAY!” Bara berteriak lagi memanggilku.

“Kay, ayo keluar!”

“Dingiiin….” sahutku malas.

Bara melongok dari pintu tenda, memanggilku lagi.

“Kay! Ayo keluar!” katanya lagi sambil menarik ujung kantong tidurku, membuka riseltingnya dan menangkap kakiku dengan tangan dinginnya.

Aku terkejut, tangannya sedingin es melingkar mantap di pergelangan kakiku.

“BARA! DINGIN!” teriakku padanya.

“Makanya ayo keluar, matahari sudah mau terbit, nanti hangat” katanya santai, tangannya masih melingkar di pergelangan kakiku, menarik-narik tanpa henti.

“You are so annoying! ga bisa lihat, aku senang bermalas-malasan” seruku menggerutu padanya. Aku menghentakkan kakiku dari tanganya dan bersiap keluar tenda.

***

“Bara”

“ya, Kay?”

“ini kabut” kataku melotot padanya. Aku berdiri di tepian jurang dan menatap bentangan abu – abu bercampur kegelapan malam. Tak banyak yang bisa ditangkap kedua mataku. Sekelebat cahaya lampu kota  agak kabur terlihat di kejauhan, selebihnya abu-abu gelap.

“I know”

“gimana kita mau lihat matahari terbit kalau kabut segini tebalnya” gerutuku.

“wait and see, kay. Wait and see.”

“dingin bara…” Aku sudah memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket,  kakiku mulai gemetar dan aku berlari-lari kecil di tempat, untuk menghangatkan tubuh.

“Kita jadi muncak?” tanyaku ragu , aku sangat tergoda untuk kembali masuk dalam tenda dan bersembunyi di balik kantong tidurku.

“Jadi dong” Bara berjongkok dan merogoh-rogoh tasnya, mengeluarkan senter, menyerahkannya padaku. “ini buatmu, kamu sudah masukkan semua yang kamu butuhkan ke dalam tasku ini kan?”

Aku mengangguk pelan dan kembali menatap bentangan abu-abu. dingin

“Kay?”

“apa?”

“udah kan?”

“Udah bara! kan tadi aku udah ngangguk”

“mana keliatan, bocah!” katanya sambil berdiri dan menyentuh pipiku dengan jari-jarinya yang dingin. Segera aku tepis dan menjulurkan lidahku padanya. Sebal.

“Ayo” Bara menangkap tangan kananku dan kami pun beranjak pergi.

Kami melangkah tanpa tergesa-gesa. Langit Gunung Merbabu masih setengah gelap, setangah terang. Kabut melingkupi kami, mengaburkan jarak pandang mata. Aku berjalan dalam diam, tertunduk, memperhatikan setiap langkah yang kuambil. Aku sudah melepaskan tangan Bara. Kami berjalan beriringan. Dia di depan, aku di belakang. Sesekali aku menatap punggungnya yang membawa daypack kecil berisi bekal perjalanan kami ke puncak.

Merbabu. Sudah ketiga kalinya aku mendaki gunung ini. Baru kali ini dia menunjukkan sisi muramnya.

Ada apa denganmu hari ini merbabu? batinku. Aku berhenti melangkah dan menatap sekelilingku. Langit semakin terang, namun terang matahari seakan kalah berperang, kesulitan menembus pertahanan kabut merbabu. Sekelilingku masih berwarna abu-abu. Aku berputar perlahan, menatap lekat satu per satu, batang-batang pohon yang berwarna hitam, jalan berkerikil, itu saja. Suram dan misterius sekali. Di kejauhan bisa kudengar burung-burung berkicau. Dinginnya angin menusuk menembus jaketku, kakiku gemetar dan tanganku dingin. Angin,  tangannya memainkan rambutku dan bisiknya mengiringi kicauan burung, dekat sekali terdengar di telingaku. Aku menengadah menatap langit, hamparan kabut berwarna abu.

“Kay!” Bara memanggilku, aku berbalik, mendapatkannya sudah jauh di depan dan hanya terlihat dalam siluet bayangan samar.

“Kamu cape?” tanya Bara sambil melangkah menghampiriku.

“Bara… aku tersesat, seperti ini” jawabku lambat-lambat. Aku kembali melihat sekelilingku dengan bingung.

“kay?” matanya mulai terlihat khawatir.

Pelupuk mataku kurasakan berat dan berair. Bara menjadi semakin kabur kulihat. Hatiku mendadak diremas realita. Pemandangan ini, terlalu tepat kurasakan di dalam diriku. Merbabu seperti sedang memperlihatkan apa yang selama ini hanya bisa kurasakan.

“Kay!” Panggil Bara lagi, tanpa kusadari dia sudah ada di dekatku. Dia mengambil tangan kananku dan menariknya.

“Jalan, kay! Sekarang” Bara tegas menggiringku, melanjutkan perjalanan.

Beberapa langkah kemudian, aku kembali fokus kepada langkah-langkah kaki kami. Kami berjalan dalam diam. Bara tidak bertanya apa-apa. Aku tidak bercerita apa-apa. Tangan Bara hangat mencengkram kuat. Dituntunnya aku melewati tanjakan berbatu.

Masih jauhkah puncak? Aku mulai kehabisan napas. Kakiku mulai berat melangkah. Bara masih menuntunku. Tangan kami berkeringat.

***

Sambil melangkah, selintas kenangan memasuki benakku.

Kay, kamu sudah lama tidak menulis?Aku hanya mengangguk dan  diam saja ketika pertanyaan itu terlontar.  Iya, saya sudah lama tidak menulis dan romo bukan orang pertama yang menanyakan itu kepada saya. 

kenapa?Lanjutnya lagi. Aku masih diam saja, sekelibat kenangan muncul.

‘kamu terlalu jujur’. ‘berhentilah menulis untuknya’. 

“Ntahlah, romo.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Cepat. Tidak menjawab.

Aku tidak bisa lagi menulis. ada kebenaran yang tak diinginkan, ada kenyataan yang tak boleh diketahui. bahkan oleh diriku sendiri. Maka aku tak lagi menulis. Mungkin dengan demikian aku tidak lagi melukai atau terluka. 

“Saya ingin bisa menulis lagi, romo. Maukah Romo membantu saya?” Aku menatap putus asa. Romo tersenyum mengangguk pelan. Memberi jeda.

“Saya kehilangan, mo.” Lanjutku.

“Apa yang hilang?”

Lagi -lagi aku diam. “Ntahlah, romo” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Hilang arah, mungkin.” Jawabku ragu. “Saya merasa tersesat, sendirian dan tidak mampu lagi melangkah. Berputar-putar di tempat, tidak berani menjelajah. Rasanya sangat gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kabut.”

“mungkin juga saya kehilangan diri saya sendiri juga. Saya tidak punya mimpi. Lagi” lanjutku.

“Baiklah, saya temani kamu. kita coba temukan lagi mimpi-mimpimu. Apa yang hilang, akan ditemukan kembali jika kita berusaha mencarinya” jawab romo kala itu.

Aku terharu dan menangis. Hanya bisa mengangguk, membalas senyum romo.

***

“Sedikit lagi, Kay” kata-kata Bara mengembalikan lamunanku.

“Tuh sudah terlihat. satu tanjakan lagi” lanjutnya.

Aku mengangguk.

Tuhan, kuatkan aku. Aku masih ingin berjalan bersamaMu, puncak hanya tujuanku hari ini saja. Tapi tidak apa… setidaknya aku punya tujuan. Tidak diam. Tidak berhenti. Meski hanya untuk satu hari ini, tuntunlah aku pada tujuanku. Kuatkan aku. Hari ini berikanlah aku keberanian mempunyai tujuan, keberanian untuk setia menjalaninya sampai akhir dan kebahagiaan untuk bersyukur di setiap langkah yang aku ambil. Hari ini saja. Kuatkan aku.

***

Iklan

Toilet Blues – Antara Tuhan dan Manusia : Cinta dan Nafsu


Why can’t i be the only soul you saved? – Anjani

Dirmawan Hatta mengajak kita berangkat menyusuri kisah perjalanan Anggalih dan Anjani dengan sebuah doa. Doa kematian.

Agak aneh memang, sebuah film yang saya pikir bergenre drama dan bicara tentang cinta, malah dimulai dengan adegan mendoakan seorang laki-laki tak dikenal yang mati entah karena apa di pinggir rel kereta. Ternyata adegan ini bukan keanehan satu-satunya yang saya temukan selama menyaksikan “Toilet Blues“. Ada perasaan kecewa yang lalu muncul saat saya tengah menonton kisah Anggalih dan Anjani. Ternyata kisah mereka tidak diceritakan seperti harapan awal saya. Jujur saya bahkan agak bingung dan tidak begitu mengerti alur dalam film. Ketika selesai menonton, saya makin merasa aneh, gelisah dan bertanya-tanya. Film ini tidak memberikan jawaban yang tadinya saya pikir akan saya dapatkan dengan membayar tiket. Saya malah pulang dengan banyak pertanyaan, dugaan dan renungan untuk direfleksikan.

Dikisahkan  bahwa Anggalih bersahabat karib dengan Anjani semenjak kecil. Anggalih dan Anjani kemudian terpisah selama 3 tahun, karena Anggalih memutuskan untuk menempuh pendidikan di seminari mertoyudan, sebuah sekolah pendidikan calon imam Katolik. Anjani sendiri tumbuh sebagai gadis liar dan pemberontak. Mereka bersahabat.

Setengah film ini kemudian bicara tentang pergulatan Anggalih dan Anjani dalam memproses kemungkinan mereka menjadi sepasang kekasih. Anjani jelas menaruh hati pada Anggalih dan ingin hubungan yang lebih dari sahabat. Anggalih sendiri tidak sepenuhnya teguh dengan keinginannya menjadi Romo. Ada kebimbangan dan ketidakyakinan dalam dirinya. Satu hal yang saya catat, keinginan Anggalih menjadi Romo pertama-tama berasal dari keinginan ayahnya. Mungkin inilah yang membuatnya bimbang dan Anjani yang merupakan temannya semenjak kecil bisa melihat ketidakyakinan dalam diri Anggalih. Anjani yakin, keinginan hatinya tidak bertepuk sebelah tangan.

Sebagai seorang gadis katolik, saya tahu betapa langkanya film Indonesia yang bernuansa Katolik, apalagi yang bicara mengenai pergulatan muda mudi remaja dalam mengambil keputusan selibat atau menikah. Toilet blues menarik hati saya, pertama-tama karena ini. Apalagi pergulatan itu ditempatkan pada dua titik yang cukup ekstrem, Anggalih seorang pelajar di sekolah seminari yang berniat menyelamatkan banyak orang dan Anjani seorang pelajar di sekolah berasrama yang mengaku liar karena pubertas dan rajin melanggar aturan. Titik suci dan titik dosa di usia muda. Kedua titik ini bersitegang tidak hanya dalam percakapan dan adegan antara Anggalih dan Anjani, tetapi juga dalam kisah orang-orang yang mereka temukan di perjalanan. Anggalih dan Anjani berjalan menyusur jalan dimana kegelisahan mempertemukan mereka kembali. Anjani dengan berani mempertanyakan, menggugat dan menguji keputusan dan kesungguhan Anggalih mengambil jalan hidup yang tak banyak dipilih lelaki muda. Hidup tanpa seks. Tidak menikah. Selibat.

Anggalih tidak pernah terlihat berdoa, membaca alkitab apalagi berada dalam gereja. Tidak ada kegiatan agama/rohani yang lazim memperlihatkan seseorang “saleh” apalagi dengan niat menjadi romo seperti Anggalih. Saya sendiri, kemudian meragukan kesungguhan niat Anggalih menjadi seorang rohaniwan. Toilet Blues nampaknya sedikit sekali memperlihatkan sisi “religius” seorang Anggalih, selain pernyataan “ini yang gua mau, balik ke merto, gw akan masuk surga dan bawa cewe-cewe kaya lo untuk masuk surga” dan beberapa perbuatan kecil yang mencerminkan imannya, semisal memberikan pipi kiri saat pipi kanan ditampar.  Pemuda ini tidak terlihat duniawi tapi juga tidak terlihat serius beribadah, dia kelihatan tidak nyaman dengan dirinya dan dunia di sekitarnya. Saya bahkan kemudian menyimpulkan niat Anggalih hanyalah sekedar niat tipis dan angan-angan belaka. Pada akhirnya niat itu tergerus realita dan ketidakberdayaannya membawa cewe-cewe kaya Anjani untuk masuk surga.

Sebaliknya Anjani dan keliarannya sangat terlihat jelas jauh dari kesan “gadis katolik baik-baik” merokok, bertato, rambutnya dipangkas pendek dan pakaiannya serba terbuka. Ya, kita hapus sajalah label katolik itu, saya jadi jengah sendiri dengan label agama. Secara umum, beragama atau tidak, orang akan tetap meragukan ke”baik”kan Anjani dan dalam film ini, juga meragukan “kegadisan”-nya. Tapi sama halnya dengan Anggalih, Anjani juga terlihat tidak nyaman dengan dirinya dan dunia di sekitarnya. Dibalik pemberontakkan dan keliarannya, Anjani rindu kebebasan dan kejujuran menjadi diri sendiri dan terutama rindu dicintai karena menjadi diri sendiri. Bagi Anjani aturan membuat orang-orang menjadi munafik dan tidak jujur.

Apakah baik-jahatnya seseorang bisa dinilai dari apa yang terlihat? Dari apa yang terlihat diperbuat atau tidak diperbuatnya? Tapi mengapa pula dinilai? Apakah orang yang terlihat menaati aturan lebih baik dari orang yang melanggarnya? Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dalam benak saya dan ini hanyalah sebagian kecil. Pada akhirnya Toilet blues mengajak saya berefleksi dan ini beberapa hal yang bisa saya kritisi dan refleksikan

***

Saya pikir film ini jelas ingin menggambarkan bahwa seseorang yang hendak, sedang atau bahkan sudah memilih jalan selibat, tidak semerta-merta kehilangan nafsu manusianya, tidak serta-merta kehilangan minat terhadap seks. Begitu juga dengan Anggalih yang baru memulai perjalanannya menapaki jalan pemurnian diri mencapai kesucian, jalan spiritual. Maka saya kira wajar saja bahwa godaan pertama dari Anjani akan telak merasuki pikiran laki-lakinya. “Gimana kalo gw mau lo jadi cowo gw? kan lo bisa peluk gw, cium gw, grepe-grepe gw,” tanya Anjani, yang dijawab Anggalih dengan beranjak pergi.

Saya sendiri merasa jengah saat Anjani mengucapkan kalimat itu kepada Anggalih. Bukan, bukan karena Anggalih berniat menjadi seorang Romo dan kalimat godaan semacam itu tidak pantas diucapkan dihadapannya. Bukan itu.

Sama seperti Anjani, bagi sebagian besar orang, tantangan seorang calon imam yang berniat selibat memang melulu dikaitkan dengan ketidakbebasan berhubungan mesra dengan lawan jenis apalagi sesama jenis. Tidak bebas bukan berarti tidak bisa. Selibat  artinya memilih untuk tidak menikah, artinya juga tidak melakukan hubungan seks. Dalam Agama Katolik, hanya suami dan istri yang saling terikat janji pernikahan yang bisa bebas melakukan hubungan seks. Seks adalah salah satu konfirmasi cinta dan lambang kesatuan suami-istri, pemberian diri. Jadi diluar status menikah, penganut agama katolik (tua-muda, jomblo-pacaran, calon imam-awam, janda-duda, romo-suster) tentu saja tidak bebas melakukan hubungan mesra (peluk, cium, grepe-grepe) apalagi menjurus ke persetubuhan. Maka bisa disimpulkan mereka yang bukan calon imam dan sedang pacaran juga tidak memiliki kebebasan berhubungan mesra. Intinya saya cuma mau bilang godaan dan keharusan menahan nafsu berahi, ga cuma dihadapi oleh seminarian seperti Anggalih, tapi dihadapi oleh semua penganut agama katolik yang belum dan tidak menikah. Yang menikah pun harus menahan godaan dari orang yang bukan pasangannya karena pernikahan Katolik bersifat monogami dan tidak terceraikan manusia.

Ya, ya, ya. Jaman sekarang berapa banyak sih orang yang sanggup bertahan tidak melakukan hubungan seks di luar pernikahan.  Pasangan suami-istri selingkuh. Anak SMP belum juga lulus, sudah punya anak. Pasangan kekasih bukan pasutri seringkali ditemukan mesum di kamar kos, parkiran kampus, taman umum dan tempat-tempat sepi lainnya. Pelacuran pun marak ditemukan dimana-mana. Hal ini juga diperlihatkan Toilet Blues dalam adegan-adegan singkat orang-orang yang ditemui Anggalih dalam perjalananannya. Tidak banyak memang, tapi jelas terlihat, nafsu seks manusia tidak disembunyikan rapat-rapat atau ditutup-ditutupi dalam film ini. Semua diumbar dengan cukup berani. Nafsu seks itu manusiawi, ada dalam kodrat kita sebagai manusia. Bahkan niat baik Anggalih pun nampak gagal menahan nafsu ini. Rasanya itu yang bisa saya tangkap hendak disampaikan Toilet Blues, saat akhirnya ada adegan dimana Anggalih tidur bersama seorang pelacur.

Toilet-Blues-Still-2

Diantara umbaran nafsu berahi yang membuat saya jengah dan risih, Toilet Blues menyelipkan adegan-adegan simbolis khas agama Katolik. Sebut saja perjamuan terakhir semua tokoh menjelang akhir film. Awalnya saya bahkan bingung untuk apa adegan ini ada. Satu-satunya hal yang menyatukan tokoh dalam film ini adalah kejatuhan mereka dalam dosa, tidak mampu menahan nafsu berahi. Karena saya sendiri beragama Katolik, tentu saja adegan ini kemudian memberi makna mendalam, termasuk saat Anggalih mencuci kaki Anjani di depan toilet. Adegan ini bermakna demikian bagi saya : rasul-rasul Yesus yang hadir dalam perjamuan terakhir adalah orang-orang dipilih dan dipercaya Yesus untuk meneruskan ajaranNya tentang cinta kasih, disaat yang sama diantara rasul-rasul ini kemudian ada berkhianat bahkan mengingkari bahwa dia adalah pengikut Yesus. Mereka lari entah kemana saat Yesus akhirnya disalib. Hal ini membuktikan apa? Hal ini membuktikan seberapa pun dekatnya kita dengan Tuhan, pada akhirnya kita harus mengakui bahwa kita hanyalah manusia dengan keterbatasan dan seringkali tidak sanggup bertahan “hidup bersih” sesuai ajaranNya. Hanya karena rahmat dan kemurahan hatiNya-lah kita dimampukan “hidup bersih”.

Anggalih mencuci kaki Anjani di depan sebuah toilet. Ini agak aneh juga, tapi lagi-lagi bagi saya adegan ini sarat makna. Toilet adalah ruang pribadi, kita masuk ke ruang ini setiap hari dan lebih banyak sendiri. Di Toilet kita buang hajat, buang kotoran dari hal-hal enak, tidak enak yang kita makan. Kita juga membersihkan diri di tempat ini. Yesus membasuh kaki para muridNya, tidak hanya untuk “membersihkan”. Malam itu setelah Yesus membasuh kaki para muridNya yang dikasihi, Dia berucap “tidak semua dari kamu bersih”. Dia tahu bahwa Ia akan dikhianati oleh orang terdekatNya. Kesimpulannya, seorang  rasul, imam, petinggi agama ataupun rohaniwan  tetap saja manusia biasa, sekalipun terlatih dan mengetahui ajaran-ajaran agamanya bahkan terlihat “dekat” dengan Tuhan dan sudah “dibasuh kakinya”, ia tidak luput dari godaan yang berasal dari nafsu dagingnya. Dengan demikian ia harus mampu mengendalikan nafsunya, mengendalikan diri tidak hanya di ruang publik tapi juga dan terutama dalam sekat-sekat kamar, saat yang ada hanyalah diri sendiri. Bahkan justru di dalam ruang-ruang tertutup dan tersembunyi itulah seharusnya kita rendah hati mengakui keterbatasan dan dosa-dosa kita di hadapanNya – “membersihkan diri” – bukan sebaliknya. Tidak ada orang yang ke toilet untuk sekedar mengotori dirinya sendiri, orang ke toilet justru untuk membersihkan diri dari kotoran-kotoran. Iya kan?

Saya kira semua orang setuju, nafsu manusia tidak hanya terdiri dari nafsu seks. Manusia mempunyai nafsu-nafsu daging lainnya seperti harta kekayaan dan kekuasaan. Tapi secara khusus Toilet Blues mengangkat nafsu seks, saya kira ini pilihan yang cukup baik untuk menunjukkan bahwa seringkali manusia dinilai bermoral atau tidak dari kemampuannya mengendalikan nafsu yang setara dengan nafsu binatang. Kita tahu skandal seks adalah senjata paling ampuh untuk menjatuhkan orang-orang berkuasa. Mampu mengendalikan nafsu seks artinya mampu mengendalikan diri dengan baik sehingga diharapkan mampu juga mengendalikan kekayaan dan kekuasaanya.

Selain itu ada makna lain yang ingin saya coba gali. Seks atau persetubuhan, bagi saya yang beragama Katolik  dan perempuan, tidak hanya sekedar kegiatan rekreasi yang menyenangkan atau olah raga. Seks adalah ekspresi cinta yang tertinggi, pemberian diri seutuhnya pada orang lain. Maka saya akan kembali menyoroti kalimat Anjani yang dilontarkan ke Anggalih. “Gimana kalo gw mau lo jadi cowo gw? kan lo bisa peluk gw, cium gw, grepe-grepe gw,” meski terasa dangkal namun pada kalimat itu juga tercermin pemberian diri Anjani pada Anggalih. Seorang perempuan yang bersedia dipeluk, dicium dan digrepe-grepe artinya bersedia memberikan dirinya, bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya. Bahkan konon seorang pelacur yang bisa dipeluk, digrepe-grepe bahkan disetubuhi tidak mencium bibir kliennya, hanya kepada kekasihnya ia bersedia mencium dan dicium. Seks tidak sama dengan cinta. Seorang wanita pelacur dan seorang Romo akan sangat mengerti kalimat tersebut. Manusia bedebah seringkali mengatasnamakan cinta untuk bisa memuaskan nafsunya, inilah dosa.

Sebagai manusia Yesus, meninggal dalam keadaan telanjang di kayu salib, tak sehelai kain pun melekat di tubuhNya. Jika kita melihat salib-salib yang ada di gereja, Yesus memakai kain “seadanya” menutup kemaluannya itu demi kesopanan. Salib dan ketelanjanganNya adalah bukti pemberian diri- tubuh, hati dan jiwa – pernyataan cinta Allah kepada manusia. Begitu jugalah yang terjadi dalam pernikahan, seks memungkinkan laki-laki dan perempuan bersedia telanjang, memberikan dan menerima diri-tubuh, hati dan jiwa- pasangannya atas dasar dan oleh karena cinta. Hal ini sakral dan murni. Maka dari itu seks diluar pernikahan hanyalah “topeng cinta” yang dipakai nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

being-naked

Saya tidak mau mengagung-agungkan seks, seakan seks hanyalah satu-satunya cara untuk menunjukkan atau mengekspresikan cinta. Saya pun tidak mau memungkiri bahwa seks adalah salah satu kebutuhan jasmani seorang manusia. Saya tahu betapa sulitnya untuk menahan diri memeluk dan mencium seseorang yang kita sayang bahkan cinta. Namun kemurnian cinta juga diuji dari kemampuan kita menahan nafsu-nafsu itu. Pernikahan atas dasar cinta, memberikan gairah dan memampukan manusia merayakan cinta tersebut dengan melakukan hubungan seks. Pernikahan macam ini bisa bertahan meski keduanya tidak lagi bisa berhubungan seks. Ambil contoh, pasutri yang pasangannya jatuh sakit dan menjadi lumpuh. Pernikahan tanpa cinta bisa dipastikan juga tanpa hubungan seks, karena itu tidak akan bertahan lama. Seks tidak benar-benar nikmat tanpa cinta.

Nafsu manusia ada di dalam tubuh untuk memurnikan cinta dan ini akan selalu bertentangan dan menggoda rohani kita. Terkadang saya bertanya-tanya sendiri, mengapa Tuhan mengalirkan nafsu di dalam diri manusia disaat yang sama memberikan kebebasan? Terbukti kebebasan dan nafsu yang kebablasan seringkali menjatuhkan martabat kita sebagai manusia. Mungkin pada akhirnya cinta itu membebaskan dan sebegitu besarnyalah kepercayaan Tuhan kepada ciptaanNya. Manusia diberikan nafsu dan kebebasan, namun demikian kitapun dilengkapi dengan akal budi dan hati nurani.  Maka saya mau menutup tulisan ini dengan mengambil nasihat penjaga rel kereta api kepada Anjani di akhir film. “Kereta punya jalur rel yang membuatnya sampai pada tujuan. Hidup manusia tidak sama dengan kereta. Kita punya tujuan tapi tidak mempunyai jalur. Maka jagalah hati nurani dan pikiranmu karena hanya itulah yang menjaga manusia untuk tidak keluar dari jalur dan sampai pada tujuan”.

Yen ndas sepur itu gampang, kantun nuruti rel. Lha nek ndas menungsa, ngalor ngidul, menggok saknggen nggen. Lha nggih ati niku riling menungsa…

Kalau kepala kereta gampang. Ada relnya. Kalau kepala manusia bisa kemana-mana, kanan- kiri, utara-selatan, belok sekehendak hati. Hatinyalah yang seharusnya jadi rel untuk manusia.

 


I want to beg you, as much as I can, to be patient toward all that is unresolved in your heart and to try to love the questions themselves like locked rooms and like books that are written in a very foreign tongue. Do not seek the answers, which cannot be given to you because you would not be able to live them. And the point is to live everything. Live the questions now. Perhaps you will then gradually, without noticing it, live along some distant day into the answer.

– Rainer Maria Rilke