Antara Tugu dan Bara


Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih empat puluh dua menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Segaris senyum terlukis saat ia membaca nama yang tertera. Bara.

Banguuun!!! Keretanya dah mau berangkat tuh. ayo buruan!

Tanpa berpikir, jari-jari Kikan menari lincah diatas layar, membalas cepat pesan dari Bara.

Sudah sampai stasiun kaliii! Kamu tumben sudah bangun.

Selang beberapa saat, Bara memanggilnnya di Lain Messenger, membalas SMS Kikan.

Bara : Aku kan selalu bangun pagi, Kay.

Bara : Emangnya kamu. Pasti kamu berangkat ga pake mandi pagi kan?

Kikan Ganarsih : ūüôā Aku dah mandi kemarin malam sebelum tidur. buat apa mandi lagi?

Bara : Ya… ya… ya…. *tutuphidung

Kikan Ganarsih : :-P.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam terlipat di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersenyum. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara : Kamu sudah sarapan, Kay?

Kikan Ganarsih : Belum. Kamu mau traktir yah?

Bara : Iya, sini aku traktir soto dekat rumahku. ūüėõ

Kikan Ganarsih : Kirim dong! masa aku yang kesana? :p

Bara : Ya sudah. Temui aku sekarang di loket yah

Kikan tercenung membaca pesan terakhir Bara. Tangannya bergerak cepat menelpon Bara.

“Halo” jawab Bara.

“Kamu ga di stasiun” Kikan menyatakan cepat.

“Aku sudah di depan loket.” Klik.¬†

Kikan bergegas menuju loket. Jantungnya berdetak cepat, segaris senyum terus terkembang di wajahnya.

Bara. Matanya segera menemukan sosok yang begitu dikenalnya.

“kamu ngapain kesini?”

“nraktir kamu sarapan”

“Baraaa….. aku kan sudah bilang… aku ga suka perpisahan. You shouldn’t come”

“And miss that sweet smile of you? No, thank you. Kikan Ganarsih, aku kasih tahu yah, sarapan paling enak di dunia itu adalah senyummu.”

“Bara. Kamu…” Kikan mengacungkan jari telunjuk di depan muka Bara, matanya melotot, jari telunjuknya kemudian turun memaku-maku dada bara. “GOMBAL!”

“I know you love me too” Bara memeluk Kikan sambil tertawa.

***

Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Tidak ada pesan baru. Rupanya getaran telpon genggamnya hanya perasaannya saja. Segaris senyum terbayang di wajahnya, tanpa sadar Kikan menggelengkan kepala. Menepis jauh-jauh. Bara.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam menumpuk di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersedan. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan bagai mantra. Setetes air mata meluncur perlahan di kedua pipinya.

Jogja tak berubah, Bara. Stasiun Tugu masih seperti dulu. Duniaku yang berubah. Duniaku tak lagi sama tanpamu.

Dan sekali lagi Kikan terpaku menyaksikan sekulumat-sekulumat kenangannya bersama Bara.

Bara, kamu tahu aku tidak pernah menyukai perpisahan… tidak pernah.

Kikan melipat kedua tangannya di depan dada. Memejamkan mata. Menarik nafas panjang. Segaris senyum berhasil dilukisnya di wajah. Pada bayangan Bara, Kikan tersenyum manis.

Selamat pagi, Bara.  Aku salah, rupanya selama ini aku bukan enggan pulang.  Kamulah rumahku. Kemanapun aku pergi tanpamu, aku enggan beranjak.  Jangan tinggalkan aku.

Semilir angin membelai wajah Kikan. Kikan bergetar, makin erat kedua tangannya saling memeluk.

Bara. Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan.

Kereta Kikan datang, tanpa terburu, Kikan memakai tas punggungnya. Beranjak dan melanjutkan hidupnya.

***

If you miss the train I’m on, you will know that I am gone
You can hear the whistle blow a hundred miles,
A hundred miles, a hundred miles, a hundred miles, a hundred miles,
You can hear the whistle blow a hundred miles.

Lord I’m one, Lord I’m two, Lord I’m three, Lord I’m four,
Lord I’m 500 miles from my home.
Away from home, away from home, away from home, away from home
Lord I’m five hundred miles from my home.

Bara


“Hal tergila apa yang pernah kau lakukan atas nama cinta?” tanyanya diantara langkah-langkah menuju Argo Dumilah. Dia bertanya tanpa menoleh dan tetap melangkah mantab di depanku, memimpin perjalanan. Aku menarik nafas panjang, sepuluh langkah kemudian aku menjawabnya.

“Hmm… Aku pernah…” terdiam lagi aku berpikir. Mencari. Hal tergila apa yang pernah kulakukan atas nama cinta?

“ya?” tanyanya lagi, mendorongku untuk meneruskan kalimat.

mendaki gunung tertinggi dan berdoa untuknya? menyelam lautan dan mengirim pesan cinta? menulis puisi untuknya? melipat seribu bintang demi terkabulnya keinginannya? membuat kue? menangisi kepergiannya? meninggalkan pekerjaan demi menemani dia yang sedang sakit? 

“Kay” panggilnya.

“Ya?”

“Jangan bengong”

“Aku gak bengong, hanya mencari?”

“Mencari apa?”

“Jawaban. Untuk pertanyaanmu.”

“Hal tergila apa yang pernah kau lakukan atas nama cinta?” tanyanya mengulang

“Ya”

“Apa yang sudah kau temukan?”

“Aku… pernah melakukan hal-hal yang cukup luar biasa, namun aku tidak yakin itu cukup gila”

“Contohnya?”

“Aku pernah melipat seribu bintang sebagai hadiah ulang tahun¬†gebetanku. Dulu aku yakin seribu bintang itu akan mengabulkan satu permintaan yang sangat-sangat diinginkannya. Jadi selama beberapa bulan, setiap hari aku menggunting dan melipat kertas warna-warni dan melipatnya menjadi bintang-bintang.”

“O ya?”

“Ya” jawabku.

Dia diam dan kami terus melangkah.

“Hmmm… aku rasa itu cukup gila dan romantis.”

“ya” jawabku lagi. “tapi rasanya bukan yang tergila. aku pun patah hati setelah itu”

“ok”

Kami akhirnya sampai di Argo Dumilah. Puncak. Langit cerah. Pertanyaan. Dia meletakkan tasnya dan segera bersandar di tangga tugu. Matanya liar menyaksikan awan-awan. Aku membuka tas dan mengambil botol minumku, lalu duduk di sebelahnya. Ini bukan pertama kalinya aku berada disini.

“Kay” panggilnya, meminta perhatianku.

“Ya?” aku menjawab sambil menghabiskan isi botol minumku.

“Menurutmu hal tergila apa yang pernah seseorang lakukan untukmu atas nama cinta?”

Dahiku berkerut. Belum juga aku selesai mencari jawaban pertanyaan sebelumnya, dia sudah melempar pertanyaan aneh lagi. Aku menyeka air yang tak berhasil masuk ke mulutku dan menjawab:

“Melahirkanku”

Dia terkejut akan jawabanku. Aku menatap diamnya. Wajahnya berubah, dia tersenyum kemudian terbahak.

“Kay!” tangannya lari membelai kepalaku.

“Itu gila lho. aku ga minta dilahirkan, tapi toh ibuku bersakit-sakit melakukannya atas nama cinta berbalut nafsu” tawanya semakin kencang.

“Jadi kamu ga mau lahir?”

Aku menarik nafas dan kembali menatap awan-awan. Tawanya mereda dan diam kembali menemani kami.

“Ga mau,” jawabku kemudian

“Kenapa?”

Aku berdiri dan menjauh.

“Kay…”

“Aku tidak tahu untuk apa aku dilahirkan. Untuk mendaki gunung? untuk dewasa? Menikah? Menjadi tua? lalu mati? untuk apa lahir kalau akhirnya mati juga?”

“Kay…”

“aku tidak minta dilahirkan”

“Kay…”

“Kay…” ulangnya lagi saat aku tak memberinya tanggapan.

“Kau dengar ini Tuhan, AKU TIDAK INGIN¬†DILAHIRKAN!” Aku berteriak sekuat tenaga membelakangi Bara, menghadap semesta. Kemudian aku berbalik kepada Bara dan mulai membrondongnya dengan kegelisahanku.

“Persetan dengan kehendak bebas. Manusia tidak punya kehendak bebas. Sejak lahir aku tidak bisa memilih dimana? kapan? di keluarga seperti apa? Apa itu yang namanya kehendak bebas? Bahkan bukan kehendakku aku lahir di dunia ini. Bukan inginku aku lahir, apalagi hidup. Apakah salah jika sekarang aku menginginkan kematian. aku tidak mau lagi hidup. Jika kehendak bebas itu ada, harusnya Dia mengabulkan keinginanku ini. HARUSNYA KAU MENGABULKAN KEMATIANKU, TUHAN!” Aku berteriak kembali padaNya.

“KAY!”

“Apa bara? Buat apa hidup… semua yang ¬†kuharapkan terjadi tidak terjadi. Semua ingin¬†dan¬†mimpiku tidak juga beranjak nyata. Jangan kau bilang aku tidak berusaha… aku berusaha dengan segenap kemampuanku dan apa yang kudapatkan? Aku patah hati, orang tuaku bercerai, aku dipecat, Apa itu keinginanku? HIDUP MACAM INIKAH YANG KAU KEHENDAKI TERJADI UNTUKKU? Tuhan …macam …apa….yang menginginkan aku hidup seperti ini… ” Aku terisak, ¬†lututku lemas dan aku tersungkur berlutut. Dengan segenap emosi yang mendidih dalam darahku aku mulai memukul-mukul tanah. Amarah dan tangis kubiarkan menguasai diriku, tanganku berdarah melawan kerikil-kerikil kecil. Inilah usaha pemberontakkanku. Aku berkeras melawan ketidakadilan yang aku rasakan. “Tuhan macam apa….Haiks… hu hu hu…” Aku dengar diriku terisak dan kepalaku mulai kesemutan. Aku duduk mencium tanah, bisa kurasakan keras dan dinginnya kerikil di dahiku. Tanganku sudah berhenti memukul. Aku terus terisak dan menangis.¬†Apakah aku sudah gila? Mungkin inilah hal tergila yang pernah Kau lakukan untukkku atas nama cinta, Tuhan. Kau memberikan hidup dan kini sekujur tubuhku kesakitan mengharapkan cinta dan kebaikkannMu. Dimana Kau?

“Kay….” Panggil Bara lembut. Kurasakan Dia mengelus rambut kemudian¬†punggungku. Naik… turun… naik… turun… naik… turun… Lembut menenangkan. Isak tangisku mulai mereda. Aku terduduk memegang perutku erat-erat, berlindung entah dari apa. Perlahan Bara membawaku ke peluknya.

“Kay… aku mencintaimu…” Bisiknya di atas kepalaku. Mataku perlahan menutup dan tanganku menggenggam jaket hitamnya. Kupegang erat-erat hingga aku sadar, aku tidak lagi menginginkan kematian.

“Kay… mungkin akhir dari kehidupan bukanlah kematian.¬†Suatu hari nanti kita akan berhenti bernafas dan kita tidak akan tahu mengapa apalagi bisa memilih kapan, kita tidak akan pula mampu mengembalikan nafas itu. Dia memberikanNya pada kita. Hidup ini pemberianNya, kamu tidak ingin hidup pun tidak apa. Tuhan akan tetap memberikan nafas ini kepada kamu, saya, kita semua. Saya tidak mau kamu mati. Apalagi Tuhan, tentu saja Dia tidak akan mengabulkan kematianmu. Setidaknya aku tidak akan membiarkanmu menginginkan kematianmu. Tidak sekarang. Kamu harus hidup. Hidup bahagia.” Bara mencium puncak kepalaku.

“Gimana caranya Bara?”

“Kay…¬†Kamu memang tidak bisa memilih kapan dan dimana kamu dilahirkan. Terkadang ada hal-hal yang terjadi bukan karena kita menginginkan atau bahkan memilih semua itu terjadi. Ada hal-hal diluar kendali kita. Aku minta maaf untuk semua kejadian buruk yang membuatmu menginginkan kematian. Kamu boleh jatuh tersungkur, menangis hingga gila karena hidup yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Dan aku akan bersamamu melewati itu semua. Karena aku mencintaimu, Kay.”

***
Selesai. Maka aku biarkan saja tulisan ini selesai seperti itu. Dimulai dengan tanya, berakhir dengan alasan yang tak mampu aku nalar dengan baik. Mungkin naluri mencari-Mu pada akhirnya adalah usaha mengerti Bara. Bara yang katanya mencintaiku dan tak pernah berhenti menyelipkan kegilaanya disela-sela hidupku. 

 

2mostimportant

Sebaya Urip, Sebaya Pati


Tanganku pernah membunuhnya.
Dia mati dan bangkit.
Dia bilang‚Ķ ‚Äúinilah Cintaku padamu‚ÄĚ
Tak akan mati, meski kau tidak menginginkannya hidup.
Cintaku tidak bergantung pada keinginanmu.
Tetapi keinginanKu.

Tunggang langgang aku berlari
Aku yakin tidak menginginkan cintanya.
Tersesat aku berkelana
Aku masih yakin tidak menginginkan cintanya.
Hingga mati aku berlelah
meyakini ketidakinginanku.

pun demikian…
Ia ingin aku mengenal cintaNya
Ia ingin aku mencecap cintaNya
Ia ingin aku bahagia menginginkan cintaNya.

Katanya…
Percuma
kemanapun kau pergi
Tak bisa kau lari sembunyi dariku
Aku mencintaimu…
sehidup semati
Terimalah.